Minggu, 02 Januari 2011

Jiwa-Jiwa Badar itu..

Padahal saat itu perang sudah didepan mata,
Antar Pasukan sudah saling menatap,
Aroma kesombongan musuh sudah tercium dekat.
Saat itu cuma ada 2 pilihan bagi para sahabat
Maju berperang untuk melawan atau
Mundur teratur mencari aman.

Ini bukan inti dari peperangan,
Namun cuplikan diatas adalah satu wilayah
Bertempur dalam cerita besar perang Badar.
Yaitu bertempur dimedan jiwa,
Yaitu bertempur melawan diri mereka sendiri.

Saat itu mereka sudah mendefinisikan kemenangan mereka,
Bahwa pulang ke madinah dengan jumlah lengkap adalah kemenangan.
Mereka sangat beralasan, karena pasukan ini tadinya bukan
Diniatkan untuk berperang, cuma ingin ''menakut-nakuti''.
Kelompok dagang abu sufyan agar bisa merebut 1000 unta.
Pasukan sejumlah 314 orang, hanya berbekal 2 ekor kuda perang
& 70 pasukan pemanah, belum pernah menyandang gelar menang
apa harus nekat berperang...?

''Apakah kita ingin menyetor nyawa kita ke sana,wahai Rasul ?''.
Kekalahan sudah di depan mata.
Gelar kalah sudah jelas menanti kita.
Beberapa sahabat sampai bertanya demikian.

Saudaraku,,,,
Ini tentang bunga jiwa yang memilih layu sebelum mekar
Ini tentang mentalitas jiwa yang terlalu
Mematerialkan sebab-sebab kemenangan.

''Berikan pendapat kalian, wahai sahabatku !?''
Rasulullah saw cuma ingin memecah suasana jiwa 314 sahabatnya.
Setiap kali Nabi mendengar jawaban sahabat,
Maka beliau selau mengulangi pertanyaan tersebut.
Ternyata nabi membaca isi jiwa beberapa sahabat, bahwa mereka
Belum satu frekuensi dalam jawaban.

''Sepertinya kami yang engkau minta menjawabnya, wahai Rasulullah?''
Tiba-tiba Saad bin Muadz berbicara, salah seorang petinggi Anshar.
''Benar, kalianlah yang aku tunggu''.

Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan jawaban seperti ini :
''Wahai Rasulullah berperanglah, maka kami akan menyertaimu,
Kami bukanlah pengikut Musa as yang mengatakan kepadanya,
Berangkatlah menuju Tuhan-Mu & berperanglah kalian yang
mengusulkan dan biarkan kami hanya duduk di sini,
jika engkau berperang ke dasar lautan maka kamipun akan
Menyertaimu''

terang wajah Rasul, gembira ria
Karena ini bukan sekedar jawaban lisan,
Namun ini adalah gelora iman di dalam jiwa.

Saudaraku...mengalahkan musuh didalam hati
Jauh lebih sulit daripada musuh yang kita lihat dialam fisik.
Bahwa memenangkan rasa optimismu dari rasa pesimismu
Bahwa memenangkan rasa percaya dirimu dari rasa takberdayamu
Adalah pertarungannya di medan jiwamu sendiri,
Itulah medan pertarungan tanpa batas,
Seluas ketidakterbatasanmu dalam bermimpi.
Sebab ...
menang & kalah,
Sukses & gagal
hanya bisa kita rasakan
Jika kita BERTEMPUR


Balikpapan, gang depag
Gelisah,''bangkitlah saudaraku....aku memiliki 1000 jiwa untukmu''

Nyanyian Jiwa para Pahlawan....

Nyanyian jiwa para pahlawan...

oleh Syukri Wahid pada 05 Oktober 2010 jam 14:43
Berita jatuh sakitnya menyebar begitu cepat
Keseluruh sudut kota dan wilayah di jazirah Arab.
Secepat angin yang berhembus  & bertiup mengisi seluruh ruang dalam kehidupan ini.
Tubuh tegar dan perkasanya kini harus mengalah dengan sakit.
Melemas dan lunglai terbaring di atas pembaringan.
Kini wajah segarnya sudah harus pamit dari raut wajahnya.
Otot perkasanya yang terbentuk dalam jawara kepahlawanan
Sudah kehilangan kekuatannya, hanya menggantung ditulangnya.

Namun ada yang tidak berubah dalam dirinya,
Dia masih tetap seperti yang dulu.
Tenaga jiwanya masih terlalu kuat bertengger di jiwanya.
Tubuh badannya sakit, namun tidak menular ke tubuh jiwanya.
Aroma kepahlawanannya masih bisa tercium darinya,
Sorot mata tajamnya masih bisa menggambarkan gelora jiwanya.

Hatinya selalu gelisah,
Karena ada satu cita-citanya yang belum tercapai
Yaitu mati syahid dalam laga tempur di medan jihad.
Begitulah Khalid bin Walid salah seeorang dari
Laki-laki spesial dalam sejarah Islam.
Nyanyian kepahlawanannya mengantarkan dirinya
Mendapat gelar langsung dari rasulullah saw, “si pedang Allah”.

“Hampir hari-hariku kulalui dengan pedang dan perang,
Baik dahulu aku dalam keadaan jahiliyyah dan dalam keadaan Islam,
Dan aku tidak pernah kalah. Kini yang aku kuatirkan dari diriku
Adalah justru meninggal di atas pembaringan ini”.

Inilah jiwa penggelisah,
Bahwa karya-karya besar kepahlawannya yang dibangun
sepanjang usianya justru tidak ditutup dalam syahid dimedan tempur.
Bagi jiwanya pantang seeorang pahlawan meninggal bukan dimedan tempur.
Laksana prajurit perang yang memang sudah menggadaikan jiwanya
Dalam setiap episode perang.

Ini tentang jiwa yang kuat
Ini cerita tentang jiwa penggelisah,
Ditengah sakitnya beliau mengatakan,
“Seandainyapun malam ini aku berada ditengah isteri cantik yang baru aku nikahi,
Maka aku lebih menyukai melewati dengan suatu malam yang sangat dingin ditengah
Barisan pasukan perang dalam sebuah kancah pertempuran.”
Begitulah jiwa sang penggelisah
Yang tak bisa dikalahkan oleh zaman
Tidak mudah takluk dengan umurnya sendiri.
Tekadnya selalui mendahului amalnya.


Gelisah


Balikpapan,”menakar ulang jiwa-jiwa kepahlawan kita”

Selasa, 11 Mei 2010

pesona sejarah: Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!

pesona sejarah: Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!: "jalasatuna
http://pksejahtera.multiply.com Blogger: Create your free blog"

Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!

“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”

Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.

Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,

“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.

Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.

Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…

Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”
Ijinkan aku ikut wahai Rasulullah..

“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”

Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.

Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,
“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.

Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.

Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…

Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”

Saldo kebaikan kita

Begitulah memang yang akan menimpa
Para pejuang kebenaran dan kebaikan
Bahwa kebaikan yang selama ini mereka
Lakukan tidak serta merta menjadi saldo
Dalam tabungan hati manusia.

Hari itu…
Dua belas algojo para perwakilan suku
Dari kabilah Quraisy sudah siap dengan
Pedang tajam yang terhunus.
Mereka sedang menggarap sebuah proyek sadis
Yaitu ingin membunuh seorang pribadi yang bersih
Jujur dan baik di Kotta Makkah

Mereka sadar bahwa , mereka tidak bisa menghadirkan satu alasanpun
Untuk membunuh Nabi Muhammad SAW
Dalam peristiwa episode Hijrah yang kita kenal.
Namun demikianlah rekayasa..
Bukan karena ada atau tidak ada alasan untuk membunuh beliau …
Karena tidaklah penting bagi mereka
apa alasan membunuh Muhammad bin Abdullah SAW
Jika ditanyakan oleh masyarakat Makkah nanti….

“ Biarkan darah Muhammad dan bani Hasyim
Tercecer disemua pedang-pedang kita,,,
Agar ahli warisnya tidak berani menuntu kita…”
Itulah jawaban yang paling ilmiah
Yang dikemukakan oleh Abu Jahal untuk meyakinkan para petinggi
Kabilah di parlemen darun nadwah saat itu.

Lelaki suci itu ditolong oleh Rabb-Nya
Dalam proses Hijrah dari Makkah ke Madinah
Sedih dan pilu,,bercampur jadi Satu dalam jiwa beliau
bahwa penduduk kota suci
Makkah telah memaksa beliau keluar dari
Kota yang sangat di cintainya

Lupakah mereka dengan kebaikan Rasulullah SAW?
Dimana akal sehat mereka semuanya,,,,!!
Lupakah mereka peristiwa 18 tahun yang silam
Bahwa nyaris terjadi “pertumpahan darah” besar di kota Makkah
Yang melibatkan semua suku kala itu
Tentang sengketa peletakan hajar aswad ketika
Mereka melakukan renovasi ka’bah.

Semua suku merasa paling berhak
Dua belas suku itu sudah mengasah pedangya
Bersiap untuk berperang demi Hajar aswad tersebut.
Siapakah pribadi yang menyelamtkan mereka saat itu..?
Siapakah pribadi yang berhasil menyarungkan pedang-pedang mereka..?
Siapakah lelaki yang berhasil mendamaikan mereka semua..?
Siapakah pribadi yang menyelamatkan nyawa-nyawa mereka..?
Yang nyaris melayang demi kesombongan Jahiliyah.

Yah…Rasulullah SAW
Beliaulah yang mereka ingin bunuh
Dengan pedang-pedang mereka sendiri.
Dahulu dimana Rasulullah menyelamatkan dua belas suku tersebut,
Namun kini mereka kehilangan akal sehat, justru
Dua belas suku tersebut datang untuk membunuh beliau.


Balikpapan, gedung rakyat


Gelisah,” menabung kebaikan di rekening ummat,,,ada saat kau memetiknya ??kita lihat nanti

Sang bunga mekar di taman jiwa...

Apa yang kurang pada mereka berdua,,,
Sang suami adalah salah seorang yang
Telah dijamin masuk ke dalam syurga,
Orang ke tiga yang masuk ke dalam Islam,
Seorang yang tinggal dan tumbuh dalam asuhan
Rumah tangga yang paling mulia Rasulullah SAW.

Sang istri adalah seorang wanita suci
Wanita yang terbaik di nasabnya
Selalu menjaga ‘iffahnya dalam pergaulan
Termasuk wanita-wanita awal yang
Mengimani da’wah Rasulullah SAW.

Namun begitulah adanya,
Diluar dugaan semuanya,
Rumah tangga mereke berujung pada perceraian,
Bagaimana tidak, sang suami adalah Zaid bin Tsabit
Dan sang istri adalah Zainab bint jahsy
Pernikahan mereka adalah rekomendasi dari Rasulullah SAW

Keduanya bukanlah orang biasa
Keduanya adalah manusia hebat
Keduanya adalah rujukan dalam keteladanan
Keduanya adalah pembela da’wah
Keduanya sama-sama memiliki kedekatan
Dengan Rasulullah SAW

Namun demikianlah cara kerja cinta
Tidak sederhana yang kita bayangkan
Rasulullah SAW sampai menasehati keduanya
Agar tetap mempertahankan rumah tangganya,
Namun tetap, perpisahan adalah jalan yang mereka putuskan

Ini balada bunga cinta rumah tangga sang sahabat
Yang gagal bunganya tumbuh mekar menjadi bunga
Belum sempat ia berkembang, namun sudah layu
Sulit dijelaskan dengan alasan apapun
Bukan karena kita adalah “saleh” maka rumah tangga akan bertahan

Cinta itu seperti bunga yang ingin tumbuh
Dan mekar di taman hati,
Bunga cinta tak akan mungkin tumbuh
Di kegersangan tanah jiwa
Kalaupun dia tumbuh di atas tanah jiwa yang gembur
Namun tetap saja ia membutuhkan air
Yang akan memberikan kesejukan padanya,
Sebagaimana ia juga membutuhkan cahaya
Yang akan memberikan gelora padanya.

kita para suami bukanlah orang yang
Lebih baik dari seorang Zaid bin tsabit
Dan para isteri kita pula bukanlah yang
Lebih baik dari seorang Zainab bintu Jahsy

Karena itulah…
Balada cinta kita akan berbeda
Tergantung dari situasi lapangan jiwa kita
Sekufu di awal belum tentu sekufu di akhir
Namun alangkah baiknya., semua kita berdoa
“Ya Allah aku telah ikhlas menikahi isteriku
Jadikanlah ia sebagai pasanganku di dunia
Dan juga pasanganku di akhirat”,

Seperti Jibril as yang datang kepada Rasulullah SAW
Atas pernikahan beliau dengan ‘Aisyah ra
“Ya Muhammad,, Hadzihi zaujuka fid dunya wal akhirah..”
Wahai Muhammad,,inilah pasanganmu di dunia dan di akhirat..”


Balikpapan, gang Depag

Gelisah,” ijinkan aku,,merawat dirimu…wahai bungaku”

Tunggui kami suatu saat nanti...!

Badan gagah itu berjalan kokoh
Memasuki perkampungan sukunya bani ‘Ady
Pandangan sinis tertuju matanya,
Padahal tadinya mereka melepas
Dengan senyuman harapan kepadanya.

Namun tetap saja,,,
Langkahnya pasti
Tatapannya tetap tajam
Semburat gelora jiwanya
Terpancar dari raut wajahnya
Ada kegembiraan yang
Tak mampu ia sembunyikan.

Umar bin Khattab baru saja
Menyatakan keislamannya,
Padahal tadi pagi ia berangkat dengan
Sebilah pedang yang tajam untuk
Mencari satu nama untuk menangkapnya
Hidup-hidup, yaitu Muhammad bin Abdullah SAW.

“Wahai Umar,,!!sihir apa gerangan yang mengenaimu”
“Wahai Umar,, Kenapa engkau permalukan keturunan kami”.
Kritikan tajam datang kepadanya,
Namun tetap dia adalah seorang Umar bin khattab
Seorang jawara Quraisy yang tak tertandingi.
Namanya selalu menjadi langganan di gantung di dinding ka’bah
Untuk menghargai para pemenang adu kuda dan perang
Yang diadakan setiap musim pasar tahunan.

“ Sebelum aku berangkat, Muhammad adalah orang yang paling aku benci
Namun kini setelah aku datang kepada kalian,
Tidak ada orang yang paling akun cintai diatas bumi ini
Kecuali Muhammad SAW “.
Demikian jawaban sederhana beliau
Namun cukup bertenaga untuk mengatakan
Kepada mereka semuanya.

Hari esoknya adalah hari yang pahit bagi beliau
Spontan semua laki-laki dari kampong Bani ‘Ady
Memukul dan mengeroyok beliau, mulai pagi hingga siang
Dan dari siang sampai sore giliran Umar yang memukul mereka.
Walhasil jasilnya seri…., namun diatas napas lelah
Umar bin Khattab mengatakan kepada mereka,
“Tunggu kalian, kalian jumlah kami sudah mencapai 300 orang”.
Ini bukan mengancam
Ini bukan terror,
Namun ini adalah kekuatan jiwa yang berselimut tekad yang tinggi.
Yah itulah Umar,,,selalu keindahan yang kita temukan
Dalam pesona dirinya.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ada apa dengan hatimu,,,wahai sahabat Ansar??



"Sepertinya Rasulullah SAW sudah kembali menemukan kaumnya...",,ini cerita tentang suasana jiwa, sebuah situasi perasaan yang sedang dilanda ujian cinta dan harta pada sebagian sahabat senior, yaitu sahabat ansar di akhir episode perang Hunain & bani hawazin tahun 8 Hijriah.Tidak ada ganimah yang tersisa disisi Rasulullah SAW kecuali semuanya habis dibagikan kepada hampir 2000 para muallaf dari penduduk Makkah yang ikut dalam perang tersebut, yang usia keislamannya baru seumur jagung.240.000 ekor unta dibagikan kepada mereka semuanya, bahkan Abu sufyan mendapatkan 100 unta,dan ketika dia meminta jatah juga untuk anaknya muawiyyah, maka Nabipun memberikan 100 unta . Semuanya berebut, Sampai-sampai mereka mengerumuni Nabi dan beliau terdesak sampai menyandar diuntanya, dan beliau mengucapkan tidak akan ada yang aku sisakan kecuali akan kuberikan kepada kalian semua.Mulailah 'penyakit hati' itu datang, pelan, cepat dan berhembus sangat dahsyat menghinggapi relung jiwa sahabat Ansar. Mereka merasa Nabi telah melupakan "jasa" mereka selama ini, sepertinya Nabi telah condong kepada kaumnya Quraisy di Makkah, hingga tak satupun harta ganimah itu dibagikan kepada sahabat Ansar,,,tak satupun.kasak kusukpun terjadi, para sahabat Ansar berkumpul dikemah mereka, membicarakan pemandangan yang membuat hati mereka teriris sembilu. Kabar itupun sampai ketelinga Rasulullah SAW, dan beliau mendatangi tokoh sahabat Ansar Sa'ad bin Mua'dz,,terjadillah dialog pertanyaan antara beliau dgn Sa'ad."Wahai Sa'ad aku mendengar perihal diriku oleh kaummu tentang begini dan begini,,,apa betul itu wahai Sa'ad?", betul, Ya Rasulullah. "Lantas, bagaimana menurut pendapatmu?",,,terdiam Sa'ad dan kembali menjawab,"Aku tidak mungkin menyalahi kaumku,aku sependapat dengan mereka".Bagi Nabi jawaban Sa'ad sudahlah cukup mewakili yang lain,,betapa sedihnya Nabi mendengar jawaban Sa'ad.Kemudian beliau bersabda,,"Wahai Sa'ad setelah sholat Isya kumpulkanlah semua sahabat Ansar dibelakang kandang kambig ini".Wajah mereka semuanya dinginditambah tiupan angin malam,,yang menepis tipiswajah dan badan mereka ditengah kegelapan malam.Kemudian nabi muncul ditengah mereka,,,beliau menatap semua sahabat ansar yang ada saat itu.Mereka diam seribu bahasa tidak ada yang mau mulai bicara. Kemudia Rasulullah SAW berkata dengan suaranya yang khas:"Dengarkanlah semua wahai sahabat Ansar, jika kalian bisa mengatakan sekarang kepadaku, maka kalian bisa saja mengatakan seperti ini kepadaku, "wahai Muhammad disaat engkau diusir dari Makkah, kamilah yang menerimamu, disaat engkau diingkari oleh kaummu, maka kamilah yang mengimanimu, disaat engkau dimusuhi kaummu maka kamilah yang menolongmu !",,Subhanallah,,,Allah Akbar,,betapa beliau memulai dengan bahasa komunikasi yang seolah-olah orang Ansar yang bicara,,mulai air mata sahabat Ansar bercucuran..,.Wahai Sahabat Ansar!!! aku telah ridho atas keimanan kalian, aku tidak pernah ragu kepada kalian, apakah kalian rela melihat mereka pulang ke Makkah membawa unta dan harta,padahal dengan harta itu aku ingin menjinakkan mereka, sedangkan kalian pulang ke Madinah membawa Allah dan Rasul-NYa!!"suara tangisan semakin keras,, sahabat Muhajirin dari kejauhan hanya mendengar seperti suara lebah yang bergemuruh."Ya Allah muliakanlah orang Ansar,,sekiranya ada satu golongan yang berjalan melewati sebuah bukit dan satu golongan ansar melewati bukit yang lain,maka demi Allah,,aku akan mengikuti jalannya orang Ansar".Sa'ad bin Mu'adz menangis air matanya mengalir deras membasahi janggutnya, betapa mereka telah berburuk sangka dengan Rasulullah SAW,,betapa tertipunya mereka dengan harta disaat da'wah sudah memperlihatkan buahnya...Balipapan,,tempat praktekgelisah,"karena mungkin senior memiliki penyakit senioritas"

Rabu, 08 Juli 2009

Menatap masa depan da'wah pasca Pilpres 2009


Dari sini kita memandang,,, dari da’wah
Alhamdulillah, tanpa bermaksud mendahului ketetapan Allah SWT, sepertinya aura kemenangan pasangan SBY-Budiono sudah tercium, setidaknya itu yang bisa kita lihat dari hasil perhitungan cepat disemua stasiun TV, semuanya diatas 50%, itu semua adalah Ni’mat dari Allah SWT kepada kita, dan keinginan untuk menyudahi pilpres ini dengan satu putaran akan terwujid Insya Allah. Ikhwah fillah akhirnya kita mampu menyelesaikan sebuah tahapan yang sulit dan krusial dalam kehidupan kita berpolitik secara khusus dan kehidupan berjama’ah didalam da’wah secara umum melalui musyarakah siyasiyah pada PILPRES 2009 ini. Kita selalu memandangnya seperti itu, bukan semata-mata sebagai hubungan saling membutuhkan antara politik dan da’wah, namun diatas segalanya kita lebih memandang bahwa “as siyasah juz’um minadda’wah”, politik adalah cabang dari da’wah , bahkan sebagian masyaikh da’wah kita mengatakannya dengan istilah , “as siyasah khadiimatud da’wah” atau politik itu adalah sebagai “pembantunya da’wah”. Itulah filosofi yang menyebabkan partai ini hadir dengan literatur baru sebagai partai da’wah, bukan semata-mata sebagai partai politik dalam arti an sich, sehingga ikhwatifillah semua sepak terjang kebijakan parta ini, membuat kita selalu harus memandangnya dari kaca mata da’wah yang bersifat integral dan sempurna, menyeluruh dengan kaidah-kaidah islam yang luas dan luwes dan ada ruang dalam nilainya yang bersifat ats tsaabit dan mutaghayyiraat atau (kokoh dan bisa berubah), bukanlah darikaca mata politik yang terlalu spesifik dan khusus yang hanya diukur dari kacamata kepentingan jangka pendek dan bersifat teknis.

Politik dan kepentingan
Memang politik itu diantara perilakunya adalah kepentingan, apatahlagi dalam praktek musyarakah siyasiyah atau koalisi politik, dimana unsur perekatnya adalah “kepentingan”, maka kitapun masuk dan ikut terlibat didalamnya dengan membawa paket “agenda kepentingan”, namun yang kita bawa dan perjuangkan adalah kepentingan da’wah kita bukan kepentingan pribadi atau elit, sebagaimana itu yang umum dilakukan oleh yang lain, memang tipis batas antara keduanya. Namun agar bisa membedakannya, maka partai kita membuat sebuah alat kontrol internal, apakah keputusan yang keluar itu adalah kepentingan pribadi atau da’wah, yaitu lewat sebuah alat yang bernama musyawarah atau syura, itulah alat yang bisa mejamin dan menjaga orisinalitas kepentingan da’wah kita. Dan sudah barang tentu mereka yang ada didalamnya adalah orang-orang yang memiliki kapasitas mumpuni, karena mereka juga sadar bahwa “pikiran dan suara” yang keluar dalam forum itu adalah perwakilian semua kader. Mereka yang duduk dalam forum itu, lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai “ahlu halli wal ‘aqdi” dalam terminologi politik Islam, dari istilahnya saja sudah memberikan arti adalah mereka yang diserahkan untuk melonggarkan dan mengikat suatu urusan , itu makna bahasanya.
Merekalah yang merumuskan kepentingan da’wah kita untuk dititipkan melalui perjuangan politik. Jadi politik itu semacam pintu masuk bagi da’wah untuk nanti dimana dia bisa masuk kedalam rumah besar kekuasaan dan bisa berbuat banyak disitu untuk menjalankan agendanya membenahi ummat ini. Jadi jangan terlalu takut dengan istilah “kepentingan politil”, substansinya bukan disitu, namun lebih subtantif untuk menyoal adalah “apa kepentingan da’wah kita sekarang”. Sama sajalah dengan istilah kekuasaan, kekuasaan itu benda netral, yang paling penting adalah untuk apa kekuasaan itu, bukan berarti kita mengejar kekuasaan an sich, namun kita justru sudah memiliki jawaban yang lebih jauh yaitu, untuk apa kekuasaan itu? Kalau kekuasaan jatuh ke tangan orang buruk, kira-kira untuk apa kekuasaannya itu, tergantung apa kepentingannya terhadap kekuasaannya itu, kira-kira seperti itulah sederhananya.

Investasi itu bernama waktu
Pepatah Arab mengatakan al waqtu juz’un minal ‘ilaaj atau waktu adalah bagian dari proses perbaikan. Kita selalu sadar bahwa semua agenda da’wah kita berjalan diatas waktu. Sejak memutuskan diri masuk kedalam pintu politik tahun 1998, maka sejak itu kita memiliki “umur politik” dan kita sangat paham betul ma’na umur itu bagi kita, sehingga sebelum mendirikan partai, kita justru menguatkan keyakinan kita, “apa alasan kita untuk hidup sebagai sebuah partai?”, ini makna umur yang paling dalam, semua umur punya ajalnya, jadi kekuatan misi kita dan karya dari kesadaran itulah yang akan memperpanjang umur politik kita, jika itu semuanya tidak ada, visi,misi dan sebagainya tidak ada,,maka inilah mulai saatnya kita menghitung umur politik kita.
Sudah tiga pemilu legislatif dan dua pemilihan presiden kita lewati dalam rentang umur kita yang baru 11 tahun. Tanpa bermaksud memuji diri sendiri, saya kira hampir semua pengamat mengatakan kita adalah sebuah fenomena baru dalam kehidupan berpolitik di Tanah air, dengan usia belia dan kini menginjak masa remaja sudah cukup meberikan saham politik di Indonesia ini. Performa politik kita dari tiga musim pemilu memberikan tren naik, kendati dipemilu april lalu naik sangat kecil, namun perolehan kursi da’wah meningkat di DPR-RI. Kita masih memiliki peluang waktu yang lebih panjang Insya Allah, anggaplah sejak masa reformasi dan sekaligus memasuki masa transisinya sampai sekarang, mudah-mudahan di tahun 2014 Bangsa ini sudah menumkan formula yang tepat baginya untuk berdemokrasi. Dimasa transisi itulah kita banyak seali belajar, belajar apa saja dengan cepat, pembiakan tokoh-tokoh da’wah sudah kita lakukan dimasa tersebut. Ustad Anis Matta mengatakan di rentang waktu tahun 1998 sampai dengan sekarang setidaknya kita menyaksikan banyak musim gugur para tokoh politik dan partai politik, karena memang mereka mengalah dengan tantangan zamannya dan yang pasti ditengah musim gugur tersebut ada sekelompok generasi baru sedang tekun belajar kuat untuk menyiapkan dirinya nanti kelak, sehingga pada akhirnya kita bisa melampaui masalah kita, keluar dari rasa tidak percaya diri, dan biarlah nanti Indonesia mengatakan , “sepertinya memang andalah yang kami tunggu selama ini”.

Kemenangan ini untuk da’wah masa depan
Pilpres tahun 2009 ini menjadi hal yang strategis dimata da’wah kita sekarang, secara historis sebenarnya SBY dengan kita sudah lama bekerja sama, setidaknya dari putaran kedua ketika pilpres tahun 2004. Kita pun sadar setelah angka 8% yang kita peroleh dari legislatif kemarin, menjadi sinyal bagi posisi da’wah kita dalam politik tanah air. Mungkin jika kita berguman dalam hati, seperti inilah ungkapan menggambarkan psikis angka itu, “Kita ini baik namun belum banyak pengikut, kita mungkin sholeh namun kesholehan kita belum bisa menggoda orang untuk menjatuhkan pilihannya kepada kita, seperti ungkapan Arab, “ thayyib walakin miskiin “,atau juga ungkapan seperti ini,” kalau sholeh okelah, tapi kalau ngurusin Negara nanti dululah”, atau kita hanya diposisikan sebagai pembaca doa dalam sebuah kepanitiaan besar, belum saatnyalah menjadi pembicara utama”.
Ketika da’wah Nabi Muhammad SAW telah memasuki tahun ke-10 kenabian, berapa pengkiut beliau, berapa masyarakat kota Arab yang bergabung? Apakah mereka tidak kenal dengan pribadi Muhammad SAW, lupakah mereka dengan jasa beliau ketika konflik hajar aswad membuat nyaris perang suku-suku di Arab dan beliaulah yang memberikan solusinya dan menghindarkan mereka dari konflik berdarah tersebut. Pelajaran sirah memberikan kita satu pesan mendasar, bahwa memang beliau telah mendapat “misdaqiyyah ijtima’iyyah” atau pengakuan publik bahwa beliau adalah orang yang jujur,adil dan lurus . Tapi apakah beliau bisa mendapatkan payung politik bernama Negara di Makkah? Justru beliau bernegara ketika di Madinah. Ternyata kita membutuhkan modal tambahan lain diluar modal nilai tersebut, yaitu kekuatan.
Setelah itu rasulullah SAW “diprogramkan” oleh Allah SWT dengan Isra’ mi’raj ditahun sepuluh kenabiannya, karena ada gejala dari Nabi ketika gagal di Thaif beliau menangis, karena kondisi da’wah yang stagnan dan tidak memberikan hasil yang memuaskan, dan itu direkam Allah SWT dalam surat al kahfi ayat ke 6 :
6. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).

Demikian suasana jiwa Rasulullah SAW, merasa sedih dan tidak berdaya karena program da’wah yang dilaksanakan selama ini tidak berujung kepada dukungan masyarakat kepada nilai kebenaran. Jadi Isra’ mi’raj adalah terapi fisik dan mental atas diri Nabi agar jangan terjadi disorientasi dalam nilai dan semangat perjuangan, karenanya Alah memperlihatkan Syurga dan neraka, supaya beliau menjadi yakin terhadap perjuangan selama ini. Beberapa Mufassirin ketika mentafsirkan kalimat ,” Subahalladzii asroo bi ‘abdihii…..” , adalah kemauan Allah agar jangan “berdiam diri dengan realitas yang ada saat itu”, karena itu kalimatnya , “Maha suci Allah yang telah menjalankan…”, jadi harus bergerak, jalan, terus jangan meratapi kondisi saat itu, da’wah harus bergerak.
Mungkin kita dan termasuk saya, sedikit terpana memandang perolehan suara kita di legislatif kemarin, ada ikhwah yang terdiam dan kecewa. Setelah itu kita langsung Ria’yah tarbawiyyah,para asaatidz kita turun ke lapangan untuk memberikan taujih penyegaran, yah anggaplah proses “isra mi’raj” dalam versi kita. Dimana disana dibangun kembali nilai-nilai dasar perjuangan kita, hubungan dengan Allah SWT diperbaiki dengan memperbanyak amal yaumiyan dsb. Ikhwatifillah, apa yang terjadi setelah isra’ mi’rajnya Rasulullah SAW, adalah gelora iman dan semangat beliau kembali muncul, menatap masa depan yang lebih baik, gelora iman membakar semangat, da’wah beliau menjadi kencang, walhasil tahun kesepulu sampai ke tigabelas kenabian, beliau mendapatkan cikal bakal kekuatan dimadinah dengan masuknya orang-orang yastrib dalam musim Haji tahun itu dan puncaknya adalah Hijrah, sebagai sebuah metamorphosis gerakan da’wah beliau menjadi gerakan Negara.
Saya berkumpul dengan beberapa ikhwah ditempat tabulasi suara di salah satu DPC, setiap sms dan telpon yang masuk, spontan kami bertakbir, karena suara pasangan SBY-Budiono menang, bahkan menang telak. Seyum dan wajah ceria begitu menghiasi para kader, beda ketika kami menatap hasil suara legislative kemarin (he..he…). Saya berfikir “kemenangan” ini adalah sinyal yang Allah berikan kepada kita Insya Allah, boleh jadi ini awal hijrah. Dan yang saya maksudkan disini adalah “hijrah performa politik da’wah” kita,, selangkah lagi kita bernegara bung,,,tahun 2014 adalah masanya. Anggap saja “kemenangan SBY” ini adalah payung da’wah kita, sebagimana Rasulullah SAW ketika pulang dari Thaif, tidak berani karena masyrakat Arab telah mengusirnya, antum tahun dengan apa beliau masuk. Yaitu dengan menggunakan “payung jiwar”, atau memakai perlindungan salah seorang petinggi Quraisy yang masih musyrik yaitu bernama Muth’im bin ‘Ady, yang memiliki pasukan dan dukungan sukunya saat itu, dan ketika Rasulullah SAW datang ke Makkah, Muth’im bin Ady berteriak di depan Ka’bah,” wahai Quraisy, sungguh Muhammad berada dalam jaminanku, maka barang siapa yang menyentuhnya maka dia berarti menyentuhku, memerangi dirinya berarti memerangi diriku.
Tanpa bermaksud mendramatisir penggalan sejarah diatas, ketika Golkar dan PDIP ingin bergabung dengan SBY saat itu, mereka katakan, kami mau bergabung asal PKS dikeluarkan dari koalisi, namun SBY mengatakan, “ PKS bagi saya adalh tulang punggunya”, kita 8 % namun seharga dengan 30 % (PDIPdan GOLKAR), untuk sementara pemerintahan SBY adalah “payung” untuk melindungi da’wah kita. Setidaknya tirani Golkar dan PDIP berakhir disini, Insya Allah.Allahu Akbar,,sabar ikhawtifillah sebentar lagi kita hijrah,,sebentar lagi kita menuju “Negara”.

Balikpapan,gang Depag
17 Rajab 1430 H/8 Juli 2009

Kini tidak gelisah,,akhirnya kau tersenyum

Senin, 01 Juni 2009

Mengukur harga diri da'wah dalam pilpres 2009

Assalamu alaikum wr wb
Ikhwah fillah,,,,sekarang saya tidak sedang menulis sebuah puisi , namun ini adalah refleksi jiwa dan pikiran saya dan tulisan ini sekedar untuk turut berpartisipasi pikiran dalam menjelaskan apa yang sedang terjadi disekitar dunia da’wah, lebih khusus lagi adalah “ijtihad siyasi” partai kita.
Akhirnya teka-teki arah koalisi kita sudah jelas, sejelas kita melihat matahari dan rembulan dimalam hari, Insya Allah. Seminggu yang lalu adalah masa-masa penuh dengan ketegangan, ketika harapan kita belum terjawab dan semua kita merasakannya, baik pengurus, kader dan simpatisan dirundung penyakit “gelisah” dalam ketidakpastian. Dan dalam skala politik yang lebih luas bukan cuma PKS saja, namun semua partai sedang mengalami hal yang sama, yaitu kemana “menentukan pijakan koalisi”.
Tensi semakin meningkat, ketika SBY menentukan pasangannya “Boediono” seorang ekonom sejati, SBY tidak mengambil pasangannya dari peserta partai yang berkoalisi, tidak satupun nama yang diajukan peserta koalisimenggoda SBY untuk menyandingkanya di kursi “pelaminan” wapres. Kemudian semua partai koalisi merespon dengan sikap dan gaya yang berbeda. Ada yang “malu-malu kucing” , tidak memperlihatkan secara tegas ketidaksetujuannya dan penerimaannya, ada yang “diam seribu bahasa”, namun aura kekecawaan tidak mampu dia sembunyikan, dan Kita adalah satu-satunya peserta koalisi yang meresponnya dengan “jelas, tegas & terusterang”, para ustadz kita “sedang menegakkan” prinsip jika ingin berkoalisi, karena napas dari koalisi adalah komunikasi dua arah yang elegan dan berkualitas dan setara. karena ini adalah institusi kita sebagai kekuatan partai politik.
Beberapa “kader” atau simpatisan sms ke saya atau menelpon , bahwa kurang sreg dengan “kelakuan” beberapa ustad kita, seperti ustad Fahri dan ust Anis, yang menurutnya terlalu menggebu-gebu dan terlalu merendahkan harga diri. Spontan kita ada yang mengatakan “demi harga diri kita, sudahlah tinggalkan SBY”, masih ada calon yang lain, yang lebih islami (setidaknya itu yang kelihatan dari symbol calon yang lain). Kemudian muncul beberapa gangguan ketsiqohan kita terhadap kebijakan para Qiyadah dan personal qiyadahnya. Latar belakang itulah yang mendorong saya untuk sedikit menuangkan “kegelisahan” didalam jiwa.
Maka ijinkan dari penjelasan singkat ini saya sampaikan, sebagai bagian dari cara memandang ijtihad dan ini bukanlah bayanat dari partai
a. Karena kita ber “musyawarah”
Sebenarnya jika kita sederhanakan persoalan ini, maka apa yang membuat kita mengeluarkan kebijakan ini, maka jawabannya karena kita bermusyawarah atau syura’, maka itu sudah cukup bagi kita yang menegakkan prinsip kehidupan berjama’ah. Arah koalisi sesuai dengan keputusan sidang majlis syuro XI PKS terakhir, para asatidz yang duduk disana adalah “penjelmaan” kader . Karena tidak mungkin semua kader rapat bersamaan disatu tempat, bayangkan saja 1 juta kader rapat kayak apa tuh,,,jadinya rapat, mungkin malah tidak efektif, maka disitulah kita menyerahkan kewajiban musyawarah kolektif kita kepada musyawarah perwakilan, yang istilah syariat “ahlu halli wal ‘aqdi”, Jadi kita semua telah menjalankan kewajiban musyawarah dengan cara “menitip” kewajiban kita tersebut kepada “wakil” kita yang bersuara di forum tersebut, kalau dari kaltim (1 suara) adalah beliau fadhilatul ustadz Hadi Mulyadi. Mereka adalah orang yang kita pilih secara sadar karena pertimbangan-pertimbangan kualitas mereka, jumlahnya sekitar 90an orang. Sekarang Mungkinkah para asatidz kita dalam musyawarah itu bersepakat untuk menjerusmuskan kita dalam kebathilan, mungkinkah para asatidz kita juga sepakat untuk bermaksiat dalam politik? Mengeluarkan kebijakan tanpa pertimbangan demi maslhat da’wah?, semua yang keluar pasti melewati kaidah-kaidah syariat yang ketat dan panjang. Setidaknya yang saya sampaikan disini adalah salah satu prinsip musyarokah tersebut adalah “ muhtamal roojih fauzuhuu” mengutamakan siapa yang lebih kuat peluangnya untuk menang. Kenapa harus memilih yang menang??? karena memang kita pada posisi “harus memilih” dan yang kedua kalau berada dipusat kekuasaan dan melakukan kebaikan didalamnya lebih utama dari pada 5 tahun kita tidak berpartisipasi untuk ummat ini. Karena kita 8 persen, maka kita harus “sadar” mencari peluang untuk masuk ke pusat kekuasaan. Menebar keadilan melalui kompetensi kepemimpinan itu jauh lebih berharga. “sehari bersama pemimpin atau penguasa yang adil lebih baik daripada bersama seorang ‘abid selama 60 tahun” dalam sebuah hadits. Para generasi salaf mengatakan, “jika kami para ulama memiliki satu doa yang pasti dijawab oleh Allah SWT, maka kami akan meminta pemimpin yang Adil”. Jadi berada dipusat kekuasaan lebih afdhal ikhwah fillah. Sebagaimana Allah SWT menceritakan “kebijakan” politik da’wah Nabiullah Yusuf as.
Nabi Yusuf as, melakukan musyarokah dengan raja Aziz di Mesir. Jangan lihat “tidak islaminya” raja Aziz saat itu, istrinya aja menggoda nabi Yusuf as, namun lihatlah “kerajaan” yang telah memasukannya kedalam penjara tidak menyebabkan dendan dan bahkan beliau turut berpasrtisipasi dalam menyelamatkan Negara dan rakyat dari krisis pangan berkepanjangan ”, jadi berbuat kebaikan lebih diutamakan dalam semua kesempatan. Bukankah Nabi Yusuf ngotot minta jabatan “perdana menteri & keuangan”,(coba lihat kisahnya di surat yusuf). Bukti telah terjadi terjadi bargaining politik antar raja dan yusuf as.

b. Harga diri kita sesungguhnya ada disini
Mungkin ada diantara kita yang mengatakan, wah segitukah kualitasnya harga diri partai Islam terbaik di Indonesia? Akhirnya mau juga, setelah ngotot-ngotot…setidaknya itu salah satu sms yang saya terima dari seseorang. Saya terfokus dengan kalimat harga diri, lantas ada apa dengan harga diri kita? Apakah jatuh? Apakah hina? Apa itu semua yang antum rasakan???. Saya justru merasa bangga dan memiliki ‘izzah harga diri partai kita mulia, Allahumma amiin.. Kenapa…..ikhwahfillah
1. Membagun “izzah politik juga bagian dari ‘izzah da’wah.
Ustad Fahri Hamsah, Ust Mahfudz siddiq dan ust Anis Matta, mengkritik pola interaksi komunikasi SBY atau Demokrat yang tidak elegan dan selalu bersifat satu arah dalam forum komunikasi koalisi, dan ini memberikan efek “pelecehan” hak dan isntitusi politik kita, tidak dianggaplah bahasa kasarnya. Ikhwah fillah Saat Nabi Yusuf as didalam penjara,,,ketika ada dua pidana yang sedang menunggu hasil vonis Negara dan tinggal bersama satu sel dengan Nabi Yusuf, terjadilah interaksi da’wah disana, suatu saat mereka berdua bermimpi, kemudian mereka ceritakan mimpinya itu kepada Nabi Yusuf as. Dijelaskan oleh Yusuf as tentang makna dari ta’wil mimipinya dan benar terjadi sesuai “ramalan” Nabi Yusuf atas dua orang tersebut, maka sampailah informasi ini kepada sang raja, kemudian sang raja “mengutus” beberapa negosiator untuk menghadap Nabi Yusuf perihal mimpi sang raja, Nabi yusuf as menyampaikan biarkan rajamu ketemu denganku? Dan itulah yang terjadi bertemunya beliau dengan sang Raja dengan kedudukan yang sama secara politik. Dan disitu juga sudah ada “take and give”, antara raja dan Nabi Yusuf as.
Bukankah itu adalah karena sebuah harga diri. Saya berpendapat , bahwa lebih tepat “kemarahan” ustad kita adalah bagian dari hisbah atau kontrol “da’wah” kepada SBY dan PD, pesan yang ingin kita sampaikan adalah, “jangan seperti itulah pola komunikasi anda?? “.
Hari kamis DPP “menolak” utusan SBY di gedung DPP, (Hadi P,Sudi S dan Hatta Rajasa). Disinilah kita menghormati harga diri partai kita ,, “bilang sama SBY, kami ingin ketemu langsung”, kalau tidak yah cukup sampai disini. Ini setidaknya yang saya tangkap,pesan harga diri kita. Dan bisa antum bayangkan esoknya Jum’at sore jam 5 sore,, SBY langsung datang menemui para ustad kita di Bandung.
Ikhwah fillah,,,coba renungkanlah,,,kita Cuma 8 % suara dan 10 % kursi,, itu kecil secara kekuatan politik, namun apa yang bisa kita lakukan ikhwah fillah, seorang “SBY” harus DATANG ke PKS,, bukankan itu adalah bukti harga diri kita begitu tinggi. Didalam “siasat perundingan”, pihak yang datang dan yang mendatangi juga bagian dari kemenangan politik. Pesan yang ingi kita bangun adalah jangan samakan PKS dengan yang lain, partai lain mungkin bisa datang dengan utusannya, dijelaskan kemudian kasih jatah menteri, selesai masalah. Tidak,,,tidak sesederhana itu kita berkoalisi, ini bukan masalah kita dapat apa dan SBY dapat apa dari kita. SBYlah yang “mengalah” ikhwah fillah,,,karena Cuma PKS yang perlu dia datangi dan menjelaskannya langsung atas permintaan kita, tanpa perantara. Sedangkan PAN cukup menurunkan Anas dan akhirnya SB mau menandatanganinya, walaupun Amin Rais menolak cawapresnya, namun apakah SBY perlu mendatangi Amin Rais???? Muhaimin Iskandar juga demikian, senyumannya sudah meperlihatkan kursi menteri yang bakal PKB dapat.
Lantas apa alasan kita merasa dilecehkan harga diri partai? Berarti dimata SBY dan PD, kita adalah kekuatan, itu yang harus kita lihat, itulahyang terjadi di perjanjian Hudaibiyyah, ada pertemuan sejajar dan dua arah antara QUraisy Makkah dengan Muhammad SAW. Itu baru 8%, dan jika PKS keluar dari koalisi tersebut toh juga tidak mempengaruhi “tiket koalisi” SBY-Boediono sebagai kandidat. Kita ada atau tidak ada tetap mereka jalan.

2. Jika kita telah ber’azam
Terus ada sms masuk ke HP saya , “ kenapa petinggin PKS datang ke acara deklarasi di Bandung,,,kenapa tidak seperti partai lain saja, minimal kirim wakilnya sajalah”. Ikhwah fillah, tidak ada yang menjadi sorotan dalam acara malam itu, melainkan semua mata menuju PKS, bahkan salah satu pembawa acara televis mengatakan, seolah-olah gedung ini adalah acaranya PKS, kenapa ikhwah fillah, Seminggu media menyoroti PKS yang terkesan menyerang SBY dan koalisi, namun malam itu hadir usta Hilmi (ketua Majlis syura), pak tifatul dan p anis matta. Itu adalah representasi PKS, mereka disambut dengan “senyuman” dan tepukan “kehormatan”, karena memang kita layak mendapatkannya. . Apa hikmah untuk SBY dan PD malam itu, “wahai SBY dan PD, anda melihat kami yang garang mengkritisi dasar koalisi kita, namun harga diri kami mengatakan, jika kami sudah mendukung, maka luar dan dalam kami menerima semuanya, semua akan all out memenangkan anda ”. Begitulah Islam mengajarkan,kalau sudah muswawarah, maka berazam dan bertsawakkal. Begitu terhormatnya kita secara institusi dihadapan mereka, ini baru koalisi yang berkualitas. Ada beberapa partai yang sekjennya yang datang, bahkan menghadiri juga deklarasi pasangan yang lain. Apakah itu harga sebuah harga diri????. Justru dimata SBY dan PD mereka dianggap “tidak punya” komitmen dan harga diri dijual kesemua pasangan.

3. Melatih ketaatan dan ketsiqohan
Jangankan kita, Rasulullah dan para sahabat pernah mengalamai erosi ketsiqohan terhadap kebijakan Rasulullah di perjanjian Hudaibiyyah. Umar bin Khattanb secara emosi selam tiga hari bahkan dalam riwayat mnegkritisi kebijakan Rasul, sampai keluar statmen “bukankah engkau Rasul???”, kenapa harus menghinakan diri kepada mereka???!!!. Sambil menyodorkan naskah perjanjian yang 4 butir, menurut umar “tidak” tepat semuanya. Kenapa engkau menerima poin yang mengatakan “jika ada penduduk Makkah yang pindah dan bergabung ke Madinah, maka dia harus dipulangkan ke Makkah kembali, namun jika dari Madinah ke Makkah, maka dia tidak boleh dikembalikan”.
Dengan kedalaman analisa politik Rasulullah SAW, Syaikh Munir ghadban menjelaskan, “ Apa urgensinya kalimat itu ada atau tidak ada ditulis, apakah ada dari kalangan para sahabat yang telah beriman kepada Rasulullah SAW di Madinah akan memilih kekufuran???dan dia akan bergabung ke Makkah??? Mungkinkah itu akan terjadi bagi orang yang telah beriman???, jadi kalaupun ada, maka itu tidak akan terjadi, lantas kenapa engkau marah???. Sebaliknya justru poin ini akan mempermalukan Quraisy, karena justru banyak yang ingin kepada keimanan menuju Madinah, artinya itu akan mencitrakan buruk secara politis, ternyata mereka tidak solid. Insya Allah kebijakan ini terbaik menurut hasil ijtihad masyaikh kita, jangan ragu apa lagi sampai hengkang,,,,Na’udzubillah min dzaalik. Jadi ikhwah fillah,,,mari kita kembali mengedapankan “tsiqoh ilal qiyadah wal qororoot”, karena bagaimana jika posisi para qiyadah itu kita yang gantikan,,,kira-kira apa yang kita lakukan.

4. SBY akan mengedepankan “system presidensial”, posisi wapres murni sebagi pembantu dan dalam beberapa hal sesuai komitmennya, wapres hanya akan menjadi ban serep saja. Jika kita menganut prinsip amal yang berkualitas, maka sisana salah satu faktornya adalah “pengaruh amal atau kebijakan” kepada orang sebanyak-banyaknya, karena itu antum pilih mana, wapres tapi menteri dikit, atau menteri banyak tanpa wapres. Tidak ada kepwapres , yang ada Cuma keppres dan juga kepmen (keputusan mentrei), jadi apalah artinya satu wapres kedepan “yang hanya” berfungsi sebagai ban serep, lebih baik menteri yang banyak terutama kementerian departemen,yang pengaruhnya ke orang banyak, contoh mentan, betapa kebhijakannya dirasakan orang banyak. Jadi saya berpendapat untuk saat ini lebih baik kita mengambil menteri yang banyak, karena disanalah lebih riil kontribusi kita terhadap rakyat. Koalisi Islam dan nasionalis tidak terjadi di formulasi Capres dan Cawapres, namun terjadi di koalisi cabinet, jadi cabinet kedepan “islam-Nasionalis” akan terbentuk, PKS, PAN, PPP dan PKB akan memberikan kadernya untuk menteri. Ini belum tentu kita dapatkan ke calon lain. Yah semoga kita bisa ambil menteri yang departemen yah,,,minimal Deptan, Menkominfo, Menag, Mendiknas, Mensos, Menristek dll….denger-denger itu sih. Namun yang ini jangan dibawa kedalam hati yah..

Mencintai cinta

Apa jadinya….
Ketika cinta kehilangan pijakan
Untuk memaknai dirinya sendiri
Maka dia akan tumbuh liar
Dalam halaman jiwa

Apa jadinya,,,
Jika cinta kehilangan pigura
Untuk membingkai dirinya
Maka potret jiwa tidak bisa kau pandang
Menjadi abstrak seribu tanda Tanya

Seberapa besar ruang
Yang engkau sediakan dalam
Jiwamu….untuk sebuah cinta, wahai sobat???
Karena baik saya, engkau dan semua kita
Ada disini karena sebuah cinta.
Karena cinta itu adalah amanah
Dia adalah titipan dari Maha yang Mencintai.
Kalaulah bukan karena sebuah cinta
Maka ,, kita tidak akan bersama disini

“…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan
dan menjadikan iman itu indah didalam hati kalian. Serta
menjadikan kamu tidak suka kepada kekafiran, kefasikan
dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus”. (al hujurat : 7)

karena,,, itu wahai diri
Jangan biarkan cinta kehilangan tenaganya untuk mencintai.
Jangan biarkan cinta kehilangan rindunya”.


Balikpapan, gang Depag


Gelisah,,”membangkitkan tenaga cinta”

Indah pada waktunya...

Aku minta setangkai bunga segar
Namun Allah beri kaktus berduri
Aku minta binatang kecil nan cantik
Namun Allah beri seekor ulat bulu..
Aku sedih dan kecewa,,,,
Betapa tidak adilnya ini..

Namun suatu saat,,,
Kaktus itu berbunga,,,sangat indah
Ulat itupun tumbuh & berubah menjadi
Kupu-kupu yang sangat cantik…
Itulah jalan Allah,,,”INDAH PADA WAKTUNYA”

Allah tidak memberi apa yang kita harapkan, tapi
Allah member i apa yang kita perlukan.
Kadang kita sedih, kecewa dan terluka
Tapi diatas segalanya, Allah sedang merajut
Sesuatu yang terbaik buat kita
Sesuatu yang indah
Sesuatu yang terbaik
Yang sedang menanti kita dipenghujung pintu ujian sana….


Balikpapan, gang Depag

Gelisah,” dari bisikan seorang teman, katanya mari bersyukur…”

Selasa, 05 Mei 2009

"Akulah...sejarah!!!"



Akulah sejarah….
Aku datang membawa ”kanvas waktuku”
Mencari siapa yang akan melukis “pesona peradaban”
Diatasnya…?
Kanvas sejarahku hanya bisa dilukis dengan
Tinta darah pengorbanan
Sapuan kuas keikhlasan

Wahai para pahlawan
Dimana kini engkau berada..?
Sepertinya rahim bumi
Sudah pelit melahirkanmu

Wahai para pahlawan
Akulah sejarah…
Karena bukan sejarah yang membuat pahlawan
Namun para pahlawanlah yang membuat sejarah


Balikpapan, gang DEPAG

Gelisah, “jangan biarkan sejarah menganggur…?”

Rabu, 29 April 2009

"Aku mau jualan kepasar,,,untuk menafkahi keluargaku"

Pagi itu, buru-buru Abu bakar ra
Keluar dari rumahnya, sambil membawa
Beberapa potongan kain yang akan
Dibawanya ke pasar untuk dijual saat itu.
Sepintas hal yang dilakukannya
Tidak ada yang aneh, itu layak
Dilakukan oleh siapa saja…
Namun,,,,
Itu menjadi “aneh” dimata beberapa sahabat
Terutama Umar bin khattab ra
Apa masalahnya…?
Ternyata, ini masalah mendasar bagi umar
Karena baru saja kemarin
Usai sholat jum’at dimasjid Nabawi
Abu bakar diambil sumpahnya
Untuk menjadi Khalifah pertama Rasulillah SAW

Sebuah amanah besar sudah diamanahkan
Dipundak beliau, untuk melanjutkan
Fungsi dan tugas kepemimpinan Agama dan Negara
Sepeninggalan Rasulullah SAW
Dan itu sudah jelas akan menyita semua
Waktu dan tenaga seorang Abu bakar ra.
Karena itu adalah “suksesi” pertama
Dalam sejarah pemerintahan Islam,
Maka itu merupakan “masa transisi”,
Dalam sejarah bernegara kaum muslimin.

Umar bin Khattab ra, berjumpa dengan khalifah
Tanpa sengaja di depan kepintu pasar,,,,
Dengan nada bertanya, beliau mengatakan :
“ wahai, khalifah Rasulillah
Apa yang engkau lakukan dengan
Kain-kain itu..?”
Dengan santai, Khalifah Abu bakar berkata :
“wahai umar,dirumahku ada beberapa tanggunganku
Yang harus kuberi makan setiap harinya, dan saya harus berjualan hari ini agar bisa mendapatkan uang Untuk menafkahi mereka”.

Perasaan sedih muncul dalam diri Umar
karena rasa cintanya terhadap diri Abu bakar
“Pulanglah,,wahai khalifah dan uruslah ummatmu”

Bagi Umar,,ini adalah masalah harus segera diselesaikan
Ini bukan hanya masalah “administrasi Negara”, namun
Juga masalah “fokus kerja dan harga diri seorang khalifah”
Segera beliau membentuk tim yanglangsung beliau pimpin
Dan segera mendatangi rumah Abu bakar,
Ternyata ada hal yang luput mereka
Pikirkan, setelah “menyelesaikan pengangkatan Khalifah”
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, yaitu “gaji seorang khalifah”.

Pertanyaan tanpa sungkan dan ragu kemudian keluar dari
Sahabat Umar bin Khattab ra:
“berapa kebutuhan keluargamu wahai Khalifah Rasulillah ..?”
Kemudian Abu bakar, menjawab :
“Sehari pengeluaranku sebesar harga 1/4 ekor kambing”

Sejak itu, baitul maal menetapkan gaji untuk beliau
Agar bisa konsentrasi sepenuhnya untuk ummat dan
Tidak lagi disibukkan untuk keperluan dapur rumah tangganya.
Gaji itu bukan untuk dialokasikan untuk “keperluan tambahan”,
Sang khalifah , namun ternyata untuk menjaga kestabilan
“keperluan dasar”.

Khalifahnya adalah orang yang ‘Iffahnya sangat tinggi
Pantang “meminta uang” atas kompensasi status jabatannya dan
Dan disana juga ada tipe pendamping dari kalangan
Pengambil kebijakan yang “sensitif” membaca semua
Ruang kehidupan yang tak terlihat dalam pergaulan
Sampai kemasalah “dapur” rumah tangga sang khalifah.

Alangkah indahnya jika kita bergaul dan mengelola
Kehidupan berjama’ah ini dengan “manusia-manusia” yang
Memiliki ketinggian ‘Iffah dan kedalaman rasa simpati.
Dua kutub yang akan bertemu, jika dirajut dengan kebenaran iman


Balikpapan, gang Depag

Gelisah, teringat sebait nasyid,”…ambilah dia sebatas yang engkau perlukan”

Piala Kemenangan...

Barisan pasukan itu, kini
Pulang kembali ke Madinah
Jalannya melemah
Wajahnya tertunduk
Luka-luka masih membasah
Aroma kekalahan tercium
Sepanjang perjalanan mereka
700 pasukan uhud baru saja
Menguburkan para syuhada
Yang gugur dalam perang tersebut

“Bukankah kita beriman kepada Allah
“dan mereka adalah penyembah berhala”
“Kenapa mereka yang menang !!!
Setidaknya itu segundah pernyataan yang keluar
Dari beberapa sahabat kepada sang pemimpin,Rasulullah SAW.
Bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang sedang mereka alami
Bahwa “nostalgia kemenangan diperang badar” tidak lagi terulang
Diperang uhud kali itu.
Sulit….memang sulit menerima kenyataan itu

Benar dan salah
al haq dan al bathil, itu adalah wilayah nilai,
namun…
menang dan kalah
kekuatan dan kelemahan, itu adalah wilayah manajerial
Karena itulah,,,,
Bukan semata-mata karena kita benar maka kita akan jadi kuat
Bukan karena kita adalah barisan “al haq” maka kita menjadi pemenangnya
Dan sebaliknya bukan karena “mereka” yang bathil maka otomatis akan kalah begitu saja
Itu dua wilayah yang berbeda.
Mungkin itulah yang pernah dikatakan oleh imam Ali ra
Bahwa,”kemenangan yang tidak dikelola dengan baik
Akan dikalahkan oleh kebatilan yang dikelola dengan baik”.
Jadi……..
Kita cuma diminta untuk mempertemukan
Antara kebenaran dengan kekuatan
Antara al haq dengan kemenangan

Kalaupun orang-orang benar itu “kalah”
Itu hanyalah belum “jadual” mereka untuk menang
Jika ditanya,,mengapa mereka “gagal”??
Karena mungkin juga masih ada “syarat-syarat untuk menang” yang belum lengkap
Menyertai perjuangan “nilai” mereka.
Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan sekitar
80 ayat lebih dalam surat ali imran untuk
Menjelaskan ulang arti sebuah perjuangan
Kepada pasukan Uhud kala itu.
Allah SWT sedang menghibur duka-duka mereka :

“Walaa tahinuu wala tahzanuu, wa antumul a’launa inkuntum mu’miniin”
Dan janganlah kalian merasa lemah dan bersedih, dan kalianlah yang lebih tinggi karena beriman.

Saudaraku.,…hari ini
kita tidak menemukan alasan untuk bersedih
Apalagi merasa kalah…..
Kemenangan kita adalah karena keimanan kita.
Iman yang masih membara, menyemburat api da’wah
Iman yang menggelombang menjadi kekuatan cita
Iman yang meniup menjadi topan-topan kebaikan
Yang kelak akan menyingkirkan kebathilan.

Lihatlah…tidak ada yang hilang disekeliling kita
Kita masih beriman
Kita masih berukhuwah
Kita masih ber’amal
Seperti itulah sahabat,,,,walau kalah
Kota madinah tetap utuh ditangan mereka
Tidak ada yang menjadi tawanan perang musuh.
Ini belum giliran kita,,,,karena
Menang itu adalah piala bergilir
Yang akan senantiasa mencari “siapa yang layak”
Memegangnya……
Kita Cuma berusaha agar bisa menawan dihadapannya
Dan biarkanlah kelak, dia jatuh kepangkuan kita
Allah Akbar!!!
“kalau hari ini kalian mendapatkan luka (kalah) maka ingatlah juga
Bahwa musuh-musuhmu pernah juga mendapatkan luka (kalah) pada waktu yang lalu,
Demikianlah hari-hari (kemenangan & kekalahan) akan senantiasa Kami pergilirkan
Diantara manusia,……”

Balikpapan, gang Depag

Gelisah,”menatap hasil…”