“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”
Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.
Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,
“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.
Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.
Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…
Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”
Ijinkan aku ikut wahai Rasulullah..
“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”
Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.
Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,
“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.
Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.
Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…
Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar