napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Selasa, 24 Maret 2009

Orang-orang besar itu…!!

Aneh, heran dan menakjubkan, setidaknya
Itulah dirasakan oleh seorang utusan Raja Persia
Ketika dia memasuki kota Madinah dan ingin
Bertemu dengan seorang khalifah yang namanya
Sudah “mendunia” kala itu, Umar bin Khattab.
Ketika dia tiba dipintu gerbang kota Madinah
Tiba-tiba saja semua bangunan didalam pikirannya
Tentang kaum muslimin runtuh berantakan.

Sulit dia terima kenyataan itu, bahwa kaum muslimin
yang telah mengalahkan “negaranya” itu
dan juga telah menaklukkan negera sebesar Romawi,
membuka Mesir sebagai pintu gerbang benua Afrika dan sebagainya itu,
Pasti berasal dari “kota” yang bagus infrastrukturnya.
Pasti memiliki istana yang megah dan mahkota sang rajanya terbuat dari emas berlapis-lapis dan terbungkus oleh pakaian indah sang raja.
Pasti bagus bangunan-bangunan rumahnya.
Pasti canggih sisitem pengamanan berlapisnya
Pasti amat sulit dan birokratif menemui “sang Rajanya”
Dan sudah pasti para pasukannya memiliki “barak-barak” militer yang kuat.

Itu…semua menjadi sirna,iya…semuanya sirna
Semua kesan itu menjadi paradoks dalam benak pikirannya.
Sedikit berguman dia didalam hatinya…seranya bertanya.
Apa betul….ini adalah Madinah yang bisa mengalahkan Roma itu…?
Apa iya….ini adalah Madinah yang menaklukkan Persia itu..?
Dimana wajah-wajah prajurit yang sangat sangar kala itu..?
Kemana para pasukan yang pernah mengatakan kepada kami
Ketika perang Qadhisiyyah itu terjadi :
“wahai Rustuum, kami datang kepada kalian
dengan para tentara, yang sangat mencintai kematian
sebagaimana kalian mencintai kehidupan”
Semuanya itu menjadi pertanyaan dalam dirinya.


Ketika dengan pakaian kemewahan sang utusan itu
Dia ingin menemui sang khalifah Umar bin khattab
Tidak ada protokoleran yang dilaluinya
Tidak ada sambutan yang melambungkan hati
Tidak ada tepuk tangan yang menyambutnya.
Seraya dia bertanya,,,”bagaimana caranya aku bisa
Bertemu dengan raja kalian?
Diantara sahabat ada yang menjawabnya,
“jika engkau ingin bertemu khalifah Umar
dia ada di bawah pohon kurma disamping masjid sana !”.

Sang utusan itu, terdiam, hening, dan seribu bahasa
Kini dia sedang berhadapan dengan seseorang
Yang sedang tertidur pulas dalam dan damai
Tidak ada tanda-tanda masalah besar dalam raut wajah tidurnya,
berbantalkan tangan kanan yang dilipat
Diatas permadani padang pasir, ditiup angin sepoi-sepoi
Dibawah rindangnya pelepah kurma.
Inikah,,,orang itu yang menaklukkan
Persia dan Romawi itu?, bagaiman bisa orang seperti
Ini tidur nyaman tanpa ada yang mengawalnya.

Kini dia sadar, bahwa sedang berhadapan dengan
Sebuah peradaban besar yang berisi orang-orang besar
Dia sedang melihat pemandangan di Madinah
Bahwa mereka adalah orang-orang pilihan
Yaitu, mereka adalah orang-orang
yang menyembuniyikan keberaniannya dibalik kelemahlembutannya
yang menyembunyikan kecerdasannya dibalik ketawadhuannya
yang menyembunyikan keperkasaannya dibalik kerendahandirinya
yang menyembunyikan Izzahnya dibalik kebersahajaannya.


Balikpapan, Gang Depag


“paradox kejiwaan”

Minggu, 22 Maret 2009

Pribadi-pribadi yang gelisah...

Semua yang ada didepan kita akan berubah
Yah,,,akan berubah semuanya,
kecuali perubahan itu sendiri.
Perubahan adalah benda netral
Tergantung ditangan siapa dia berada
Skala perubahannya bisa kecil, sedang ataupun besar
Pengaruhnya bisa singkat terlupakan
atau lama yang membekas
Sekali lagi,,,semuanya itu tergantung
ditangan siapa perubahan itu berada

Perubahan selalu memiliki yang namanya “jadual perubahan”
Dan tidak semua orang bisa mengambil jadual perubahannya
Perubahan selalu membutuhkan orang-orangnya.
Ada orang-orang yang bersama dengannya
Mereka semuanya berjalan diatas waktu.
Siapakah orang yang dilirik oleh perubahan..?
Mereka adalah orang-orang yang sedang gelisah.
Tidak banyak memang orang seperti mereka
Namun mereka tetap ada ditengah komunitasnya.
Kegelisahan mereka lahir dari fitrah dan ilmu.
Semakin besar kadar kegelisahannya
Maka akan semakin dekat jaraknya dengan perubahan.

Apa yang mendorong Rasulullah SAW
Melakukan aktivitas unik “tahannuts” atau
Menyendiri diatas gua Hira. Apa yang mendorong
Beliau melakukannya selama hampir 5 tahun,
bolak balik dari rumah menuju Gua Hira bermalam disana?
Gelisah,,,,iya,, kegelisahanlah yang mendorong beliau melakukannya.
Gelisahnya beliau terhadap kenyataan masyarakatnya yang
Jauh dari nilai-nilai fitrah kebaikan, mereka menyembah berhala
Penindasan, mereka larut dalam kehidupan sosial yang amburadul
Beliau gelisah melihat itu semuanya.
Dari atas ketinggian gua hira, beliau menatap pasti dibawah sana
Masyarakat jahiliyyah kota Makkah.

Banyak laki-laki disana
Banyak anak muda disana
Banyak orang kuat disana
Banyak orang pintar disana
Banyak orang kaya disana
Namun sedikit orang yang gelisah
Sedikit orang yang meratapi keadaan
Sedikit orang yang melihat ada jarak terbentang
antara realitas kehidupan dan idealitas kehidupan.
Ditengah masyarakat Arab Jahiliyyah
hanya ada seorang Muhammad bin Abdullah
Adalah seorang lelaki yang terpilih untuk memperbaiki
Keadaan masyarakatnya.
Karena sebuah kegelisahan yang tinggi dalam dirinya.
Kini perubahan telah menemukan orangnya,
Orang yang layak memikulnya yaitu Nabi Muhammad SAW .

Maka mari kita mengukur sejauhmana
Barang kegelisahan itu ada dirongga hati kita,
Dimana dia kita tempatkan dalam jiwa kita.
Bergelisahlah sebagaimana gelisahnya Rasulullah SAW.
Karena kegelisahan adalah rahim perubahan.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh
Malik bin Nabi “alhumuum bidayati kulli syaiin harokah”
“kegelisahan adalah awal dari semua pergerakan”.
Selamat bergelisah.



Balikpapan,
Gang Depag

Karena sebuah kegelisahan

Rabu, 18 Maret 2009

"Beginilah para mujahid bermimpi"

Beginilah para mujahid bermimpi

Jika ada orang yang sangat berambisi meraih cita-citanya, itulah para mujahid.
Cita-cita mereka besar. Yah,,,sebesar jiwa-jiwa mereka.
Mereka bekerja untuk mimpi-mimpi besarnya. Mimpi yang lahir dari rahim iman.
Mereka adalah “para pemimpi”,
Namun mereka bisa menjembatani mimpinya menjadi kenyataan.
Azam yang kuat adalah “Jembatan mimpi” yang mereka bangun
untuk mengubah mempinya menjadi kenyataan, merubah sesuatu yang mereka pikirkan
menjadi sesuatu yang mereka rasakan.
semua ‘amal mereka seberat apapun, mampu berjalan diatas “jembatan mimpi” ,
karena pondasinya terbuat dari campuran pemahaman & keikhlasan.

Cita-cita mereka telah menguras semua yang ada dalam dirinya,,,
Bagi mereka, tidak ada keringat yang menetes dari tubuhnya, walaupun hanya setetes
Kecuali itu dalam rangka meraih mimpinya.
Mimpi mereka dapat dibaca oleh siapapun , itu dapat dilihat dari raut wajahnya,
Dari pikiran-pikiran yang keluar dari kepalanya dan dari perbuatan yang keluar dari badannya.
Mereka adalah orang yang tidak tidur seluas kelopak matanya, tidaklah makan seluas mulutnya
Dan tidaklah ketawa seluas bibirnya.
Kaki mereka kokoh menapaktilasi jalan cita-citanya
Waktu-waktu mereka sangat efektif & berkualitas
Pandangannya jauh kedepan, dan tidak mau disibukkan dengan
Ocehan-ocehan orang dipinggir jalan .

Mereka tidak pernah merasa puas dengan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan.
Karena itu musuh yang utama bagi mereka adalah “merasa puas” dalam beramal.
Jika kalian bertanya kepadanya, mengapa kalian tidak pernah merasa puas !?
Maka mereka menjawab, “ karena , kami tidak tahu kebaikan kami yang manakah akan mengantarkan
Kami menuju surga”.Mereka sadar…bahwa surga terlalu luas untuk menampung kebaikan-kebaikan
mereka, yah…seluas ketidakterbatasan mereka dalam beramal saleh.
Mereka bukan tipe orang spekulatif dalam kebaikan, bagi mereka menanam saham kebaikan
Disemua proyek “amal-amal surga” diatas bumi ini. sadar bahwa kebaikan mereka belum layak untuk mengetuk pintu Syurga.

Balikpapan,jelang dhuhur
Gang Depag, “kegelisahan disaat bermimpi”





















Selasa, 27 Januari 2009

sepucuk surat dari Gaza





Untuk saudaraku di Indonesia
Saya tidak tahu, mengapa saya harus
menulis dan mengirim surat ini untuk
kalian di Indonesia,,???
namun , jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa…?
Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki
Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim
Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku???

disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah
Saya sempat berkenalan dengan salah seorang “aktivis da’wah” dari
Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku,”setiap tahun musim haji, ada sekitar
205 ribu jama’ah haji ber asal dari Indonesia datang ke Baitullah ini…!!!”.
Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum,
Lalu saya mengatakan kepadanya, “sauadaraku,,,,jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987
Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji
Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja”.
Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah…
Wah….wah…pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah.

Wahai saudaraku di Indonesia
Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini
Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah….pasti sangat indah dan mengagumkan yah.
Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui
Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah
Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian
dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan
mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
Ini…yang membuatku iri kepadamu saudaraku

Tidak seperti di negeri kami ini….saudaraku,
anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian.
Bahkan tidak jarang tentara
Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami
Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah,
Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!!
Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu,
Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya
Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.

Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,,,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah.
Ada apa dengan kalian..???
Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut….!!!, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini.

Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati,
Namun, bukanlah diselokan-selokan ,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah…saudaraku!!!,
Mereka mati syahid,,,saudaraku…
mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan
rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel,

Saudaraku,,,,bagi kami nilai seorang bayi adalah
Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi
Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini
Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin
Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami
Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru
Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan
banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!!

Wahai saudaraku di Indonesia
Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah,
Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar,,,,
Apa karena kalian sulit mencari rezki disana..? apa negeri kalian sedang di blokade juga..?
Perlu kalian ketahui,,,saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita
kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan,,,walau sudah lama kami di blokade.
Kalian terlalu manja…!?

Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas
Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda
Baru saja melangsungkan pernikahan,,,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel,
Mereka mengucapkan akad nikah,,,,diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku.
Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan
Bagi semua keluarga baru tersebut .

Wahai Saudaraku di Indonesia
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan “pengajian” atau halaqoh pembinaan
Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut,,,,
Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan
Buku-buku pasti kalian telah lahap,,,kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku…
Satu jam,,,yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh
Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang
Telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut
Walau Cuma satu jam saudaraku,,,,
Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh,
Seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana.

Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami,,,
Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai
“nyanyian perang” kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang ,,, bagaimana
Dengan kalian…?
Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur’an, umurnya baru 10 tahun ,
Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang.
Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tyanahnya sudah
Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma,,,, yah ditempat itulah mereka belajar
Saudaraku…., bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel…
Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal,,,karena memang didepan mereka “tafsirnya” langsung
Mereka rasakan.

Wahai Saudaraku di Indonesia
Oh…iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah,,,,,kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini , termasuk kalian di Indonesia
Namun,,,bukan tangisan kalianj yang kami butuhkan saudaraku
Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai
Bukti ukhuwah kalian kepada kami.
Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.

Kami lah yang berterima kasih,,parta kami yaitu Hamas sejak berjuang melalui demokrasi
Sejak tahun 2006, terinspirasi oleh kemenangan partai da’wah kalian di Indonesia, yah,,, temanku
Itu adalah aktivis PKS, kalian lah yang mengajarkan kepada kami, karena kalian yang lebih dahulu
Berjuang lewat pintu ini, kami baca semua tentang kalian. SUngguh kalianlah yang mengajarkan bagaimana mengelola partai yang baik, dekat dengan masyarakat, melayani mereka, mulai baksos sampai dengan DS, murni kami jiplak dari kalian semua.
Dan hasilnya saudaraku…. Kami menang dengan angkan 67 % suara..Allahu Akbar!!!
Tahun 2010 kami juga akan pemilu disini,,,kami tetap mengurus partai seperti yang kami belajar dari kalian, tetap membina para kader kami, dengan dengan masyarakat dan satu lagi kami juga tetap mengangkat senjata untuk mengusir tentara Israel dari bumi palestina.

Saya dengar bulan April ini kalian akan pemilu, dan katanya targetnya 20 % saja
Sebenarnya sebagai seorang “murid” kami malu, kenapa? Karena angka tersebut terlalu kecil untuk seorang “guru” seperti kalian.
Kalian tidak sedang mengangkat senjata , seperti kami disini, kader kalian banyak,,,,,
Apalagi yang kurang dari kalian.
Saya Cuma bisa berdoa semoga kalian bisa memenangkan pemilu nanti,,,,
Oh,,,iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya
Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk
Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi
Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.


Akhhuka…..di Gaza

(Balikpapan, gang depag , jelang azan Maghrib :”sebuah kegelisahan dialam pikiran”)

"Karena engkaulah yang di pilih"



"Karena Engkaulah yang di pilih"




Jika sedikit yang engkau lihat
karena memang dirimulah yang dipanggil
engkau datang sebelum
teriakanku berakhir,,,,
kupanggil engkau dengan Syurga
kau datang memebawa harta dan jiwa
ketika kutanya,,,mengapa engkau datang...?!!
kau jawab,,,karena Syurga balasannya

Jika sedikit yang mau memikul
karena memang dirimulah yang dipilih
engkau tiba sebelum beban diberikan
Tidak perlu melihat kesana kemari
karena cuman engkau yang ada disini
ketika kubertanya,,,mengapa engkau yang dipilih...??!!
kau jawab,,karena aku adalah orang yang sedikit itu.
kau kutip doa lelaki terbaik setelah Rasulullah SAW
Abu bakar as siddiq,"Allahummaj 'alni minal qaliil"
"Ya Tuhanku jadikanlah aku dari golongan orang yang sedikit"

Jika banyak yang engkau lihat terduduk
karena memang permadani dunia terlalu empuk untuk di duduki
namun engkau berdiri diantara kerumunan orang-orang yang duduk
engkau buang permadani empukmu, ketika kutanya
mengapa engkau membuangnya..??!!
Lalu kau jawab, "karena aku ingin permadani yang terbuat dari sutera emas
dikelilingi batu intan permata, yang dibentang ditepi telaga Al kautsar di taman
firdaus nanti dan ingin duduk bersama Rasulullah SAW dipermadani tersebut"

kini kusadari
Aku berada diantara orang-orang yang sedikit
diantara mereka yang berdiri
mereka adalah orang-orang yang terpilih

engkau lihat mereka bekerja seperti air laut yang luas
tenang diatasnya memang, namun didasarnya mereka sangat keras bergerak
engkau lihat orang ini bekerja seperti angin
memang engkau sulit melihatnya, namun engkau rasakan
dahsyat pengaruhnya
Merekalah air terjun, yang terus menerus bekerja
tanpa henti, deras, kencang, laju dan menerobos apa yang ada didepannya
mereka adalah halilintar, keras ditengah keheningan, menggentarkan
namun membawa kesejukan
mereka adalah permadani yang selalu siap untuk di duduk siapa saja

napas mereka adalah Jihad
Umur mereka adalah da'wah
Obsesinya adalah Syahid
yang dikejar adalah syurga

Inilah jiwa yang dirindukan syurga
mereka adalah pilihan-pilihan langit
kaki mereka dibumi, namun hati mereka dilangit

Tidak banyak yang memang menjadi seperti mereka
sebagaimana mereka yang terjun dilapangan jihad
mengirimkan surat-suratnya kepada ahli ibadah
seperti abu Abdurahman kepada Abdullah ibnu mubarak

"Wahai para ahli ibadah di al haramain
kalau kalian menyaksikan kami,
maka kamu akan mengetahui
bahwa sesungguhnya kamu
sedang bermain-main dalam ibadah!!!
Kalau orang-orang membasahi pipinya dengan air mata yang mengalir deras
maka dengan pengorbanan kami
kami mengucurkan darah yang lebih deras
kalau kuda-kuda kalian penat dalam melakukan perkara-perkara duniawi
maka sungguh kuda-kuda kami penat dalam melakukan
penyerbuan dan peperangan sepanjang hari.
Bau wewangian menjadi milikmu sedangkau bau wewangian kami adalah debu-debu jalanan dan debu-debu ini lebih wangi bagi kami
telah datang kepada kami Sabda
Nabi kami, Sabda yang benar, jujur dan tiada dusta
"tidaklah sama debu-debu kuda Allah dihidung seseorang dengan asap yang menyala-nyala, Inilah kitab Allah yang berbicara kepada kami, bahwa
Orang yang mati syahid tidak diragukan lagi tidak sama dengan orang yang mati biasa"
Allahu Akbar!!!

Balikpapan, "jelang Isya"
Gang Depag

Jumat, 28 November 2008

Melihat Kasih Sayang Rasulullah SAW



Drg.Syukri Wahid


“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan & keselamatan) bagimu, amat belas asihan
lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”
(at taubah : 128)

Menjelang tanggal 14 Februari memang sebagian besar para remaja dan anak muda di dunia tidak terkecuali di Indonesia sedang dilanda wabah “penyakit merah jambu”, yah... sebuah penyakit yang datang menjelang hari Valentine, mereka menyebutnya dengan hari kasih sayang. Fenomena tersebut adalah sebuah gambaran suramnya potret para remaja kita saat ini, dan sebagian besar yang menyiapkan diri dan merayakannya adalah para generasi muda Islam kita, selera mereka belum sejalan dengan Islam. Tanpa sadar mereka telah menghidupkan syiar yang tidak berdasar dalam literatur ajaran Islam dan yang kedua mereka sedang mengambil contoh tauladan dari orang selain al qudwah Rasulillah SAW.
Jika kita ingin membandingkan makna cinta dan kasih sayang Nabi SAW yang diajarkan oleh beliau, adalah cinta yang bagaikan sinaran mentari yang memberikan gelora pada bunga & tumbuhan, dan sekaligus cinta beliau bagaikan siraman air yang memberikan kesejukan pada bunga. Yah, itulah ..cinta beliau, cinta yang menumbuh kembangkan sekaligus cinta yang melindungi dan menjaga kefitrahan. Begitu amat sangat cinta beliau kepada da’wah & ummatnya, sehingga beliau telah mewakafkan seluruh hidup dan matinya untuk da’wah dan ummat, disaat sakratul maut ucapan terakhir yang keluar dari lisan beliau meurut hadits ’Aisyah adalah beliau mengucapkan ummatii, ummatii, ummatii (ummatku 3 kali) mungkin inilah yang membuat Nabi Musa as cemburu ketika Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW, beliau berkata,” aku cemburu, karena setelah diriku ada seorang Nabi yang lebih mencintai ummatnya dan ummatnya paling banyak masuk kedalam surga dibandingkan dengan ummatku”.
Semua kehidupan beliau senantiasa ditabur dengan rasa cinta (mahabbah), sehingga siapapun yang berinteraksi dengan beliau akan dapat meresapi aura cinta tersebut, pada tulisan singkat ini saya menyebutkan beberapa rasa cinta beliau dalam interaksi kehidupan.
a. Cinta & Kasih sayang seorang Suami, Ayah dan kakek
Orang yang mungkin mendapatkan langsung cinta Nabi Muhammad SAW adalah anggota keluarga beliau. Beliau adalah sosok seorang suami, ayah dan kakek yang paling sukses, bagaimana peran-peran cinta tersebut terdistribusi dengan proposional oleh seluruh anggota keluarganya. Istri beliau yang bernama Khadijah binti khuwailid yang paling bersyukur karena menemani bahtera rumah tangga Rasul selama 25 tahun, yah.. setara dengan ”:pernikahan perak” kalau kita, namun kualitasnya berlian. Betapa cintanya Nabi kepada khadijah dapat dilihat dari sebuah catatan siroh ar rahiiqul makhtum, ketika itu khadijah telah wafat, dan khadijah memiliki saudara perempuan yang mirip dengannya, suatu hari saudara khadijah ini datang ke rumah Rasul, dan ketika itu beliau sedang bersantai bersama ’Aisyah, ketika mendengar bunyi slop sepatu saudaranya khadijah, beliau langsung berdiri dan langsung mengingat khadijah yang cara jalannya mirip dengan saudaranya tersebut”, saya tidak tahu apa kita sekarang dapat mendeteksi istri kita dari bunyi sepatunya? dan dapat juga kita lihat betapa beliau sering memberikan infak dan sedekah bagi keluarga-keluarga khadijah setelah wafatnya khadijah.
Semua istri beliau pernah ”berdemo” dihadapan Beliau, apa pasal? Ternyata masalah cinta para pembaca sekalian, semua istri beliau merasa yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW, jadi ini masalah klaim siapa yang paling dicintai oleh Nabi diantara kita?, saya tidak yakin sejarah yang satu ini akan kembali terulang,namun coba anda perhatikan bagaimana beliau menyelesaikannya, beliau menyuruh semua istrinya kembali ke bilik rumah masing-masing, dan mengatakan kepada mereka nanti 3 hari lagi saya umumkan siapa yang paling saya cintai diantara kalian?. Karena ini masa “seleksi” semua istri beliau menampilkan penampilan yang paling aduhai. Nabi satu persatu mendatangi mereka dan berbicara sangat lembut, dan mengatakan,” wahai istriku, kepadamu kuberikan sebuah cincin dan tolong jangan sekali-kali engkau bicarakan pemberianku ini kepada istriku yang lainna”, istri beliau tentu pede saat itu, namun bukan Hafsah saja yang dibuat begitu, semua istri beliau mendapat perlakuan hal yang sama, dan tibalah hari pengumuman, beliau mengumumkan dihadapan isteri-isterinya,”yang paling aku cinta diantara kalian adalah yang kuberikan cincin”, bagaimana bayangan anda semua, yah..isteri-isteri Nabi diam menyembunyikan seyum sipu kegembiraan dihati mereka masing-masing, mereka tidak tahu kalau ternyata Nabi mampu mendistribusikan cintanya 100% kesemua isterinya.
Terhadap anak-anak dan cucu beliau, kasih cintanya tiada tandingannya, ketika anak laki-laki beliau yang bernama Qasim meninggal beliau menangis tersedu-sedu sebagai perlambang betapa belahan hatinya sangat dicintainya, dan ada yang menegur beliau dengan menangis seperti itu, dan beliau mencela orang yang menegur beliau. Beliau suka main bersama cucu-cucunya bahkan di dalak sholat sekalipun beliau membiarkan cucunya tersebut untuk menikmati bermainnya.
Ada sahabat yang memiliki banyak anak, dan ketika sahabat ini melihat Nabi mencium pipi cucu beliau Hasan dan Husain, sahabat ini mengatakan, ”Ya..Rasulallah, aku memiliki banyak anak, namun aku belum pernah mencium mereka sekalipun”. Apa reaksi Nabi, beliau memerah wajahnya, dan menegur sahabat yang satu ini dengan kalimat, ”barang siapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan sayang kepadanya”, sejak itu sahabat ini menjadi orang yang selalu mencium dan menyayangi anak-anaknya.

b. Cinta & kasih sayang sebagai Da’i
Ayat diatas sudah cukup jelas dan tegas bahwa jalan hidup da’wah beliau berdiri diatas prinsip cinta dan kasih sayang, beliau sadar kehadirannya dibumi ini bukan saja untuk manusia namun juga untuk menjadi ”rahmat bagi seluruh alam”. Aura pesona cinta dan kasih sayang terpancar dari wajah beliau, senyumnya, sapanya, diamnya dan marahnya semua adalah cinta, semuanya adalah kasih sayang. Ditengah penderitaannya sebagai Nabipun tetap sayang kepada ”lawan-lawannya”.
Saya ingin menceritakan bagaimana gambaran cintanya beliau kepada ummat, walaupun beliau mendapatkan tekanan fidsik dan mental, yaitu pada saat beliau hijrah ke kota thaif bersama Zaid bin hariitsah untuk berda’wah dan meminta perlindungan bani tsaqiifah pada tahun ke Sepuluh kenabian. Selama sepuluh hari disana berda’wah menemui petinggi bani tsaqifah dan para tokoh-tokohnya, namun semuanya menolak bahkan yang paling menyedihkan beliau dilempar batu oleh penduduk thaif, darah mengucur segar dari kepala hingga kaki beliau. Ketika beliau berhenti disebuah tempat antara makkah dan thaif, datanglah malaikat Jibril membawa malaikat penjaga bukit, seraya berkata, ” Wahai Muhammad jika engkau mau, maka aku akan menimpakan dua bukit ini kepada penduduk kota thaif ?” Apa gerangan jawaban beliau, ketika ada fasilitas pamungkas seperti ini, hampir semua Nabi terdahulu ketika sudah di tolak mentah-mentah kaumnya dan ketika ada tawaran ”fasilitas” seperti itu maka diambil semuanya, namun jawaban Nabi SAW,” Tidak, jangan sesungguhnya mereka lakukan itu semuanya karena tidak mengetahui siapa sebenarnya diriku, sungguh aku sangat berharap kelak dari keturunan mereka nanti ada yang mengucapkan kalimat syahadat”.
Jumlah sahabat yang berinteraksi dengan beliau menurut imam ibnul qayyim ada sekitar 120 ribu orang, tentu dengan berbagai level derajat sahabat yang beragam, tidaklah sama sahabat yang as saabiqunal awwalun dengan at tulaqaa (masuk ketika fathuh makkah), semua sahabat merasa yang paling dicintai oleh Nabi, pernah Muadz bin Jabal ra memberanikan diri untuk bertanya kepada Nabi ,” man uhibbuuka ilaika ya Rasulallah ? siapa orang yang paling engkau cintai wahai Rasul? Pertanyaan ini lahir karena setiap kali Rasul memberikan ceramahnya, seolah-olah kata Muadz pandangan Nabi dan perkataan nahi hanya untuk diriku. Jadi cinta Nabi mengalir ke hati-hati sahabatnya, cinta beliau tertampat dipelabuhan jiwa sahabat-sahabats semuanya.
Ketika Nabi marahpun itu adalah bagian dari cinta, Kaab bin Malik tidak ikut perang karena lalai, ketika beliau jujur dihadapan Nabi dan terus terang mengatakan tidak ada alasan bagiku untuk tidak berangkat, maka Nabi mengatakan,”keluarlah engkau kaab, tunggu sampai Allah memutuskan perkara bagimu”, Dua sahabat lainnya menangis terus-menerus karen tidak tahan di isolasi, namun kaab tetap sholat di Masjid, beliau bercerita ,”ketika aku sholat, aku memperhatikan bahwa pandangan Nabi menuju kearahku, begitu setelah aku sholat, maka aku melihat Nabi, namun Nabi langsung memalingkan wajahnya dariku”. Marahnya Nabi adalah potongan cinta yang diberikan kepada sahabat, tiada marah nabi yang membekas menjadi luka, tiada kata beliau yang menggores dinding jiwa sahabat. Itulah sang pencinta sejati, jadi kenapa harus valentine.

Pengorbanan


,KETAATAN & KETUNDUKAN TOTAL
HAMBA KEPADA ALLAH SWT
( Sebuah reflkasi hikmah kisah Nabi Ibrahim as & Ismail as )
drg.Syukri Wahid





Setiap kali kita memasuki hari Iedul Adha maka seketika itu pula pikiran kita melayang jauh kebelakang mengenang potongan sejarah sekitar 5000 tahun yg lalu, yaitu kisah keteladanan seorang Hamba Allah Nabi Ibrahim as & keluarganya. Ibadah Haji yang dilakukan oleh kaum Muslimin hari ini pada hakikatnya merekonstruksi kejadian yang dialami oleh keluarga Ibrahim as.
Kisah Ibrahim as & keluarganya oleh Allah SWT dijadikan sebagai contoh tauladan bagi Rasulullah SAW & kita Ummatnya, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-mumtahanah : 4 ; ( “Sungguh, telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim & orang-orang yang bersamanyam). Maka tidak heran jika dalam doa Tasyahud Sholat kita, nama beliau kita sebut selain menyebut nama Nabi Muhammad SAW. Sehingga didalam Al-qur’an cerita tentang Nabi Ibrahim as terdapat di 14 surat, bahkan secara khusus ada satu surat bernama Ibrahim,
Kisah keteladanan tersebut didalam Al-quran secara gamblang Allah sampaikan dalam surat As-saffat : 99-111 & surat Ibrahim : 37. kita tidak akan pernah menceritakan beliau kecuali kita hanya mendapi beliau sebagai perintis jalan Tauhid & bapak pengorbanan , hingga Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dlm surat Ali Imran ; 95 : “ katakan (Muhammad), “benarlah (segala apa yg difirmankan) Allah, Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus & dia tidak termasuk orang yang Musyrik”.

Beberapa Hikmah yang bisa kita petik dalam peristiwa tersebut
a. Ketika Ibrahim meninggalkan hajar & Ismail disuatu lembah yang tandus & tidak ada pepohonan, beliau berdo’a kepada Allah ( ibrahim;37 :..Ya Tuhan, sungguhnya Aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yg dihormati. Ya Tuhan, agar mereka dapat mendirikan Salat, & jadukanlah hati sebagian manusia condong kepadanya & berilah mereka Rezki dari buah-buahan agar mereka bersukur.)
Inilah bukti bahwa kekuatan Orientasi keyakinan kepada Allah begitu kuat sehingga mengalahkan permintaan yang berbau materi ( makanan ), adalah wajar kalau dalam kondisi yg sangat gersang itu Nabi Ibrahim meminta doa yg paling pertama adalah permintaan makanan, tapi justru yang beliau minta agar mereka dapat menegakkan salat, bukti beliau lebih khawatir kalau keluarganya sudah tidak salat daripada tidak punya makanan & harta . Kehadiran mereka ditempat itu memberikan pengaruh sosial yang baik, karena beliau tidak menempatkan keluarganya disembarang lingkungan, tapi beliau menempatkan dekat Baitullah, Jadilah keluarganya sebagai “magnet kebaikan” sehingga ketandusan & kegersangan lokasi itu bermuara kepada kemakmuran. Coba lihatlah Negeri kita Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDA & kesuburan tanahnya, tetapi keterpurukan & kemiskinan melanda kita, tapi uniknya Negara kita berprestasi dalam Korupsinya memang tidak ada satupun ayat dalam Al-quran yang menghubungkan antara kesuburan dengan kemakmuran, antara kesuburan dengan kesejahteraan, artinya negeri yang subur tidak otomatis menjadi makmur, bahkan sebaliknya kesuburan suatu negeri jika tidak disukuri akan menjadi malapetaka, An-nahl :112, “ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) suatu negeri yg dahulunya aman lagi tentram, Rezeki dating kepadanya berlimpah ruah dari segenap tempat, Tetapi (penduduknya) mengingkari Nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana Kelaparan & ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat”.

Setelah meninggalkan dalam waktu yg lama Ibrahim as datang untuk menjenguk keluarganya, sebuah kerinduan yang amat sangat tentunya, tetapi ditengah kerinduannya kepada isteri & anak semata wayangnya, Allah kembali menguji keimanannya, apakah kecintaannya kepada harta yg paling berharga yang dimiliki yaitu putranya mengalahkan kecintaannya kepada Allah. Surat as-saffat :102 : maka ketika anakm itu telah sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata : Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi, melihat menyembelih dirimu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”. Diluar dugaan jawaban yang sangat takjub dari Ismail as, seraya mengatakan, “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang bersabar.

Inilah gambaran, baik ayah maupun anak telah membuktikan kecintaan kepada Allah yang paling dalam, mereka sanggup meninggalkan cinta yang semu kepada cinta yang hakiki, mengorbankan apa yang ada dimiliknya
Sepertinya sulit kita mendapatkan struktur keluarga seperti ini ditengah arus Modernisasi, mungkin ada sang anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain play station sampai lupa waktu salat & mengaji, atau ada seorang istri yg berat membangunkan suaminya yang kelelahan bekerja hingga tidak salat ashar, atau mungkin juga ada para suami yang tidak menegur istrinya menghabiskan waktu magribnya karena asyik nonton sinetron kesayangannya, Bagaimana mungkin kita bisa mengorbankan yang terbaik untuk Allah kalau hati kita masih berat ke Dunia.

Ketika proses penyembelihan itu akan dilaksanakan, ada permintaan ismail kepada ayahnya, Wahai ayahku, sebelum engkau menyembelihku aku minta 4 hal
Ikatlah tubuhku dengan tali kuat-kuat, agar ketika engkau menyembelihku aku tidak berontak yg justru menghambatmu
Bukalah pakaianku, agar darahku tidak mengotorimu yg membuat pahalaku berkurang
Tajamkanlah parangmu & dipercepat kematianku, agar aku tidak lama menahan sakit
sampaikan salamku pada ibuku, dan berikanlah bajuku agar sewaktu-waktu dia rindu kepadaku dia bisa melihat bajuku
dalam Surat as-saffat : 103 : “ ketika, keduanya telah berserah diri & dia Ibrahim membaringkan anaknya diatas pelipisnya, Lalu Allah memanggil, ya Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, sungguh demikinalah kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”., lantas Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing yang gemuk.
· Hikmah digantinya Ismail as dengan seekor kambing gemuk, memberikan isyarat kepada kita bahwa Allah SWT tidak ingin seorang hamba yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya harus mengorbankan orang lain apalagi sampai adanya darah yang tumpah. Allah ingin mengatakan kepada kita jangan kalian mengatasnamakan beribadah kepada-Ku dengan cara mengorbankan orang lain, Allah tidak ingin dikotori perbuatan-perbuatan seperti itu, tetapi mengapa manusia sekarang begitu gampang mengorbankan satu ismail. Dua, sepuluh, ratusan bahkan mungkin ribuan ismail untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

"Mengapa Zakat"


Mengapa Zakat..?
(sebuah tinjauan sejarah mengapa Allah SWT mewajibkan Zakat)
drg.Syukri Whaid, ketua DPD PKS Balikpapan



Zakat tidak dapat dipisahkan dari Islam itu sendiri, dia adalah bagian dari prinsip bangunan ajaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “bunniyatul islaam ‘alal khamsin…”, Islam itu dibangun diatas 5 perkara, satu diantaranya adalah menunaikan zakat. Allah SWT menyebut kalimat zakat dikurang lebih 30 tempat dan 26 diantaranya disebut bergandengan dengan perintah shaolat. Tidaklah mengherankan ketika Abu bakar siddiq menjadi khalifah sepeninggalan Rasulullah SAW, beliau memerangi seorang muslim yang tidak mengeluarkan zakat.
Perintah Zakat pertama kali diwajibkan dari Allah SWT ditandai turunnya firman-Nya dalam surat at taubah ayat:60 pada tahun ke 2 Hijriah di kota Madinah, setelah perintah ijin berjihad dan puasa ramadhan. Sehingga dalam silsilah rukun Islam perintah berzakat berada dalam urutan ke-4. Perintah Syahadatain atau dua kalimat syahadat sejak awal beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, sedangkan perintah Sholat sejak turunnya surat al muzammil, juga diawal keNabian beliau, kemudian pada saat Isra Mi’raj adalah penyempurnaan perintah sholat pada 5 waktu saja, perintah berpuasa ramadhan turun pada tahun 2 Hijriah, baru zakat dan setelah itu perintah menunaikan Haji tahun 9 Hijriah. Runtutan turunnya kewajiban ini tentunya memiliki beberapa hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil.

Filosofi Ayat
Dalam kaidah asbabul nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat) ada yang disebut turun karena sebuah sebab atau istilah ’ulumul qur’annya nuzul bis syabaab , maka ayat tentang zakat turun dikarenakan sebuah sebab pada saat itu. Sebuah ketetapan hukum syara’ pun demikian akan ditetapkan karena ada sebab-sebab khusus, ada ’illat (sebab-sebab diterapkannya sebuah hukum), jika ’illat hukum ini tidak ada maka tidak ada penerapan hukum tersebut, sebagai contoh, menjama’ dan mengqashar sholat hanya dilakukan jika ’illat hukumnya adalah melakukan safar atau perjalanan, jika tidak melakukan safar otomatis tidak bisa dilakukan jama’ dan qashar
Ayat yang mewajibakannya zakat terdapat dalam surat at taubah,” khudzmin amwaalihim shadaqatan an tuthohhirum wa tuzakkihim bihaa”, artinya ambilah zakat dari harta-harta mereka, agar dapat membersihkan dan mensucikannya. Siapa saja yang boleh ”diambil” hartanya, siapa yang ”mengambil”, kriteria dan syarat-syaratnya dapat terlihat dari sejarah turunnya, juga termasuk dalam filosofi ayat ini adalah proaktif mengambil, bukan pasif menunggu.

Hubungan ayat & realitas
Ayat ini diturunkan dimadinah, karena itu tidak bisa kita lepaskan dari realitas para sahabat pada waktu tahun 2 Hijriah pada saat itu. Filosofi dari zakat hanya terkhusus pada orang yang ”berlebih” dan ”memiliki”, atau dalam istilah zakat melebihi nishab dan cukup 1 tahun memilikinya, maka dia wajib dikenakkan zakat. Pada saat itu sudah banyak kaum muslimin yang telah memiliki harta diatas nishab, maka turunlah perintah zakat.
Kota madinah adalah kota dengan penduduk heterogen baik ras dan agama, sebagian besar mereka adalah masyarakat agraris (bertani), mereka bertani kurma dan gandum yang menjadi makanan pokok masyarakat madinah. Sebelum ada institusi Islam dalam bentuk Negara dibawah pemerintahan langsung Rasulullah, madinah adalah kota yang kurang produktif dan ekonomis, sebagai bukti madinah bukanlah kota tujuan dagang, melainkan adalah kota transit para pedagang menuju syam atau damaskus pada saat itu. Pasar sebagai tempat berputarnya uang dikuasai oleh minoritas yahudi, contoh pasar bani qainuqa adalah satu-satunya pasar dipusat kota madinah. Yahudi dengan kekuasaannya menetapkan hukum pasar yang merugikan masyarakat madinah, sistim riba, sistim sewa gadai dan tengkulak dimana semua petani mulai modal dipinjamkan oleh yahudi dan pada akhirnya hasil panenpun dibeli oleh yahudi, sehingga petani ”tidak bisa kaya” saat itu.

Hijrah & kebangkitan Ekonomi
Ketika Hijrah, dimana kaum Muhajirin dari Makkah pindah ke Madinah, sebagian besar mereka adalah para sahabat yang ”ahli dagang dan bisnis”. Sehingga dalam kacamata ekonomi hijrah dapat memberikan dampak nilai ekonomis, dimana bertemunya ”petani” sahabat madinah dan ”pedagang” sahabat Makkah. Proyek persaudaraan anshar dan muhajirin oleh Nabi SAW mampu menggairahkan aktivitas ekonomi di Madinah.
Hanya dalam waktu satu bulan Nabi menetap di Madinah, beliau menyuruh sahabat muhajirin untuk mendirikan pasar sendiri, sehingga sejak itu uang tidak lagi beredar hanya dikalangan pasar yahudi. Adanya pasar kaum muslimin tentunya berimplikasi terhadap aktivitas ekonomi ummat, dimana produk para petani dapat langsung dijual dipasar tanpa ada hambatan sistim yang merugikan mereka, bahkan, Nabi melarang jika ada pedagang yang menjual sebelum masuk pasar. Pendek kata mulailah ekonomi ummat bergairah dan salah satu indikatornya adalah harta mereka telah ”berkembang” .
Semua produk industri hulu banyak dihasilkan oleh sahabat Ansar, namun mereka tidak cukup handal untuk memasarkan barang tersebut ke pasar lokal maupun regional pada saat itu. Hijrah menjawab masalah itu, karena sahabat muhajirin quraisy adalah para ”marketer” yang handal, pengalaman berdagang dipasar lokal maupun regional lintas Negara sudah diakui, Allah SWT sendiri menceritakan tabiat bisnis mereka dalam al quran pada surat al Quraisy, ”Ilaa fihim rihlatass syitaa’i wa shaiif”.
Pada tahun 5 H setelah perang bani quraizah, perang terhadap kaum yahudi yang berkhianat. Perang ini menghasilkan harta rampasan yang banyak, maka mulaialah Allah juga mengatur alur distribusi harta agar merata disemua kalangan. Turunlah surat al Hasyr dimana Allah SWT berfirman ,” kaila yakuuna duulatam bainal aghniyaai minhum...”, artinya ”agar jangan harta itu cuma beredar dikalangan orang yang kaya diantara kalian”. Oleh sebab itu Rasulullah membagi harta tersebut sebagai modal para fuqara. Maka dari sini juga lahir sebuah prinsip ekonomi yaitu mengenai distribusi.

Maka ambillah...
Salah satu alasan sederhana mengapa dalam harta kita perlu dikeluarkan dalam bentuk zakat, karena dalam harta kita tersebut semuanya milik Allah SWT, Dialah yang memiliki saham penuh pada harta kita, sebagaimana Allah berfirman,”Huwalladzii kholaqolakum maa fil ardhi jamii’an..” .Dialah Allah yang telah menciptakan semua yang ada dibumi ini untuk kalian, Dialah yang menundukkan semua yang ada dibumi ini agar kita dapat memanfaatkannya sebagai khalifah, dan output sederhananya adalah harta yang kita miliki.
Zakat yang dikeluarkan sahabat pada waktu itu meliputi, zakat harta, fitrah, pertanian & perkebunan, hewan ternak, rikaz (barang temuan) & hadiah dengan kisaran pesentase berbeda-beda. Jika ada sahabat yang telah memiliki harta dengan cukup haulnya melebihi 85 gr emas, maka mereka mengeluarkan 2,5%, kalau kita coba konversikan dengan mata uang rupiah, para sahabat rata-rata telah memiliki harta diatas 14 juta pada saat itu. Kalau ada sahabat yang panen kebunnya baik gandum atau kurma, jika total jumlah panennya melebihi 520 kg, maka juga dikeluarkan, kira-kira berapa hektar luas kebun sahabat pada waktu itu.
Sehingga jangan perlu takut ketika harta kita berkurang karena zakat, tapi justru menurut Allah justru akan berkembang dan bahkan dapat mensucikan jiwa kita. Harta filosifinya adalah ”memiliki”, namun rezeki filosofinya adalah ”menikmati”, karena tidak semua yang kita miliki akan kita nikmati, harta yang kita zakat dan infakkan itulah yang menjadi rezeki kita, dan ingat ketika zakat baru kita keluarkan kita belum dianggap orang yang ”dermawan”, karena yang baru kita keluarkan adalah ”hak orang lain” dalam harta kita, namun jika kita sudah melebarkan kewilayah infak dan sedekah, nah itulah wilayah kedermawanan.

Rabu, 08 Oktober 2008

Puasa & penaklukkan Makkah (Fathuh Makkah)


“Puasa & sejarah Fathuh Makkah”
Oleh: Syukri Wahid,drg



Dari semua serial pembahasan siroh nabawiyyah, boleh jadi sejarah “fathuh Makkah” atau penaklukkan kota Makkah adalah pembahasan yang paling menarik sekaligus dramatis, mengapa demikian para pembaca sekalian?. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa kita kemukakan disini, yang pertama adalah bahwa dari sekian banyak janji Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah berupa kemenangan dalam perjuangan da’wahnya, bahwa kelak Islam yang dibawa oleh beliau akan mewarnai bumi ini dan kemudian akan memimpin peradabannya.
Salah satu janji Allah SWT tersebut adalah berupa “fathan mubiina” atau kemenangan yang nyata, kabar kemenangan ini terdapat pada ayat pertama surat al fath, Allah SWT berfirman,” Inna faathna laka fathan mubiina” artinya “sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”, ayat ini turun pada tahun 6 Hijriah pada saat peristiwa terjadinya perjanjian Hudaibiyah antara Rasulullah SAW dengan pihak musyrikin Makkah, ketika rombongan Umrah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW terpaksa kandas di lembah Hudaibiyyah, karena pihak musyrikin Quraisy melarang kaum muslimin memasuki kota Makkah, walaupun tujuan Nabi bukanlah perang, tapi murni ingin menunaikann ibadah umrah, tujuan beribadah. Perjanjian Hudaibiyah adalah sebuah perjanjian yang meliputi gencatan senjata antara keduabelah pihak selama 10 tahun, semua suku di jazirah Arab dipersilahkan bergabung dengan pihak muslimin atau ke pihak musyrikin Quraisy , kaum muslimin tidak boleh masuk ke kota Makkah tahun itu dan hanya boleh masuk ke kota Makkah tahun depannya itupun dibatasi hanya 3 hari saja dan jika ada orang Makkah yang ke Madinah, walaupun dengan ijin walinya, maka dia harus dikembalikan ke Makkah, namun jika ada orang Madinah yang ke Makkah maka dia tidak boleh dikembalikan ke Madinah.
Mayoritas sahabat tidak bisa menerima keputusan yang diambil oleh Beliau, mengapa Nabi Muhammad SAW mau “duduk berdamai, mengalah dan menyetujui” perjanjian dengan musyrikin Makkah saat itu, para sahabat mengatakan ini adalah kekalahan, namun Nabi Muhammad SAW mengatakan justru ini adalah pintu kemenangan, terjadilah perbedaan cara pandang antara Nabi dan para sahabat, maka turunlah ayat diatas, yaitu surat al fath yang berarti “kemenangan”. Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kemenangan yang nyata itu adalah “kelak Makkah akan jatuh kepangkuanku”, apa yang terjadi pembaca sekalian bahwa ternyata dua tahun setelah turunnya ayat ini barulah Allah SWT membuktikannya kepada kaum muslimin, yah…penaklukan kota Makkah dan itu terjadi tepat pada bulan puasa dibulan Ramadhan tahun 8 Hijriah.
Alasan kedua adalah sebagaimana janji Allah SWT juga pada ayat yang lain, pada akhir ayat delapanbelas dan ayat sembilanbelas, bahwa Allah SWT berfirman,”…….., maka Allah mengetahui apa yang ada didalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil.Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “. Jika pada tahun perjanjian hudaibiyah tersebut pada akhirnya memaksa kaum muslimin harus rela kembali ke Madinah dan akhirnya membatalkan niat umrah mereka ke kota Makkah saat itu, maka itu bukanlah kekalahan, itu bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin diantara para sahabat telah mendefinisikan kemenangan saat itu adalah jika kita bisa masuk ke kota Makkah dan melakukan ibadah umrah, dan mereka pun telah mendefinisikan kekalahan adalah jika kita tidak bisa masuk ke Makkah dan harus pulang ke Madinah, gara-gara orang Makkah tidak mengijinkan mereka masuk kedalam kota Makkah, titik seperti itu. Padahal menurut Allah SWT ini hanya persoalan “umrah yang tertunda” , kelak mereka akan umrah tanpa tekanan, kelak mereka akan umrah tanpa adanya intimidasi dari pihak musyrikin, jadi ini yang mungkin kita sebut “kemenangan yang tertunda”. Dan Allah menghibur kaum muslimin diayat tersebut dengan kata “fathan qoriiba” atau kemenangan yang sudah dekat waktunya, jadi ini masalah momentum saja.
Tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriah, ketika sedang berpuasa kaum muslimin meninggalkan Madinah menuju kota Makkah, dengan kekuatan 10 ribu pasukan, apa pasal yang menyebabkan kaum muslimin mengerahkan pasukan sebesar itu? Ternyata perjanjian hudaibiyah hanya berumur 19 bulan saja, pihak Quraisy melanggar perjanjian, dimana bani bakar sekutu dari Quraisy membunuh dan memerangi bani khuzaah yang merupakan sekutu Rasulullah SAW, karenanya Nabi SAW mengambil sikap tegas terhadap para pelanggar perjanjian, yaitu memerangi mereka.
Sekarang saya ingin mengajak anda semua menduga-duga seperti ini, kira-kira apa yang ada dalam benak sahabat yang ada dalam pasukan besar tersebut, tiga ribu diantaranya adalah mereka yang pernah “gagal umrah” pada perjanjian hudaibiyah. Kejadian hari itu dimaknai oleh sebagian dari mereka adalah ajang “balas dendam”, sebagaimana diungkapkan oleh sahabat Sa’ad bin ubadah, pembawa bendera kaum Anshar, “ hari ini adalah hari pembantaian, hari ini kesucian ka’bah dihalalkan. Hari ini Allah akan merendahkan kaum Quraisy”. Teriakan keras sahabat ini terdengar oleh Abu sufyan yang sedang melihat dari puncak bukit, dibenaknya Abu sufyan sudah menduga bahwa kaum muslim sudah “marah besar”, bahwa kaum muslimin akan memerangi mereka semuanya.
Apa reaksi Rasulullah SAW, ternyata ungkapan Sa’ad dijawab oleh Rasul dan bahkan diluruskan, beliau bersabda,” Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang, hari ini, Ka’bah diagungkan. Hari ini dimana Allah memuliakan kaum Quraisy”. Dan setelah itu Nabi mencopot jabatan Sa’ad dan diganti oleh anaknya Qais bin Sa’ad. Sebuah pemandangan yang indah pembaca sekalian, bahwa disaat Nabi memiliki semua alasan untuk membalas dan memerangi kaum Quraisy, justru yang keluar adalah kelemahlembutan. Jadi inilah yang kita sebut dengan “orang kuat yang memaafkan”, kalau orang lemah memaafkan itu biasa. Puasa itu mampu melahirkan kekuatan jiwa seperti itu, mampu mengendalikan nafsu, jiwa-jiwa pemaaf itu lahir dari rahim Ramadhan. Ketika semua penduduk Makkah terduduk lemah didepan Ka.bah dihadapan Rasulullah SAW, mereka menyatakan menyerah dan kini mereka sedang menunggu-nunggu apa yang bakal mereka terima dari Sang pemimpin Nabiullah Muhammad SAW, memecah keheningan itu, Nabi mengajukan satu pertanyaan singkat,”yaa ma’syaral Quraisy!!!, maadza tarauna anni faa’ilun bikum???”, wahai orang Quraisy, apa yang akan saya lakukan kepada kalian sekarang?. Apa makna ucapan ini bagi Hindun yang pernah memakan hati paman Nabi, Hamzah diperang uhud? Mereka menjawab seraya merayu, engkau adalah saudara kami yang baik. “Pergilah kalian semua, kalian aku maafkan…” tiba-tiba Nabi mengatakan demikian. Mungkinkah kita sekarang lahir seperti jiwa-jiwa yang juga mengatakan hal yang sama diatas???,,,,tergantung puasa kita.

Selasa, 07 Oktober 2008

Saat-saat kritis dalam sejarah (3)

Saat-saat kritis dalam sejarah 3
(keputusan-keputusan Abu bakar ketika memerintah)
drg.Syukri Wahid

Jika kita ingin menjelaskan 3 tahun masa kekhilafaan Abu bakar, maka kita hanya mendapatkan bahwa masalah-masalah datang berganti dalam pemerintahan beliau adalah ingin menguji nyali dan sekaligus ijtihad beliau, mungkin 3 tahun yang beliau lalui tidak terlalu fokus kepada ekspansi da’wah yang lebih luas menjangkau daerah-daerah di bumi ini, namun 3 tahun itu adalah pondasi yang belaiu siapkan untuk kepemimpinan berikutnya, karenanya Umar bin khattab bisa mensejahterakan rakyatnya selama 13 tahun kepemimpinannya adalah buah dari pondasi yang dibangun Abu bakar. Tema pemerintahan Abu bakar adalah konsolidasi sedangkan tema pemerintahan umar adalah ekspansi dan distribusi.
Sekarang saya ingin menceritakan salah satu keputusan sulit yang diambil oleh Abu bakar yang berbeda dengan sebagian besar sahabat, termasuk umar bin khattab saat itu, apa masalahnya?. Saya ingin mengajak kita mengingat satu dari tiga wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu memberangkatkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Sejatinya pasukan berjumalh 700an sahabat ini telah diberangkatkan oleh Nabi SAW sebelum jatuh sakit, dengan misi memerangi pasukan Romawi disekitar Syam, misi ini sekaligus ingin membalas gugurnya sahabat utama dalam perang mu’tah tahun 7 H, dimana syahidnya Zaid bin haritsah, Ja’far bin Abu thalib dan Abdullah bin rawahah, karenanya tidak mengherankan panglima perang dalam satuan ini adalah Usamah bin Zaid yang tidak lain adalah anak kandung dari sahabat Zaid bin haritsah.
Ketika pasukan ini telah sampai ke daerah dzi khayasf, terdengarlah kabar jatuh sakitnya Rasulullah SAW dan semakin parah sakit beliau, akhirnya pasukan ini memutuskan untuk kembali ke Madinah. Sampai akhirnya seluruh pasukan masih mendapat saat-saat menjelang wafatnya Rasulullah SAW dan kali itu seluruh musim berkabung atas meninggalnya manusia terbaik didunia ini.

Merealisasikan Amanat Rasulullah SAW
Hari-hari awal kepemimpinan Abu bakar dilewati penuh dengan dinamika internal, setelah menyelesaikan transisi kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW ke beliau, dan itupun sudah ada ”gejala” perbedaan yang masih dalam batas kewajaran yanag alamiah. Maka beliau akhirinya segera kembali mengkonsolidasikan pasukan yang pernah dikirim oleh Nabi tersebut, beliau memanggil Usamah bi Zaid dan segera memerintahkan untuk menyiapkan pasukannya. Bukan tanpa alasan beliaun melakukannya itu, apatah lagi itu adalah satu dari tiga pesan Rasulullah SAW sebelum wafatnya.
Beberapa sahabat memberikan masukan kepada Abu bakar berkenaan dengan kebijakannya tersebut, tersebutlah Umar bin khattab yang paling depan dalam masalah ini. Umar bin khattab mencoba memberikan pandangan lain tentang situasi negara ini, tentang bagaimana skala prioritas untuk mengatasinya. Umar bin khattab menyampaikan bahwa mengapa khalifah memutuskan untuk mengirim kembali pasukannya usamah, padahal di beberapa daerah yang dekat dengan pusat Islam telah menyatakan keluar dari Islam (murtad) dan sebagian juga ada yang enggan membayar zakat. Menurut Umar khalifah harus lebih mendahulukan masalah ini, bagaimana penanganannya. Jika murtad maka para sahabat tidak berselisih terhadapanya, karena sudah jelas bagaimana status hukum terhadap orang-orang yang murtad dari agama ini, namun tentang zakat mereka masih butuh keyakinan, tentang solusinya, apakah juga harus diperangi?, dan beliau berijtihad, ”saya akan memerangi siapa yang ,memisahkan shalat dan zakat, walaupun zakat itu hanya berupa seutas tali dari kuda”. Bagi Abu bakar murtaddin dan keengganan membayar zakat memang masalah yang harus segera juga diselesaikan, namun beliau lebih mendahulukan pengiriman pasukan usamah ke medan pertempuaran, beliau mengatakan kepada Umar, bahwa pasukan ini bukan saya yang bentuk, namun pendauluku (Rasulullah SAW) dan saya tidak akan melalaikan amanah beliau, maka tetap aku akan berangkatkan mereka. Umar bin khattab mungkin berpikir, bahwa jika pasukan ini berangkat, siapa yang akan memerangi para murtaddin tesebut.

Hikmah berangkatnya pasukan Usamah
Sebuah kenyataan sejarah yang ditulis oleh imam as syuyuti dalam bukunya ”tarikh khulafa”, bahwa ketika pasukannya Usamah bin zaid yang berjumlah 700 orang itu berangkat menuju Syam ternyata mampu menyelesaikan masalah yang kedua, setidaknya memberikan efek ”psi war” kepada kaum yang murtad tadi, apa pasal?. Ternyata pembaca sekalian, pasukan yang gagah berani tersebut dalam perjalanannya menuju Syam ternyata melewati beberapa kampung-kampung atau daerah yang dimana disanalah para kaum murtad dan yang enggan berzakat itu berada.
Mereka para murtaddin ini berkata, pasukan siapa itu dan hendak kemanana mereka?, dan mereka pulalah yang menjawab , bahwa itu adalah pasukannya Usamah bin Zaid yang menuju Syam untuk memerangi orang-orang Romawi. Para petinggi mereka mengatakan, ”jika khalifah Abu bakar mengirm pasukan ini untuk melawan Romawi (negara adidaya saat itu), maka sudah barang tentu dia masih punya pasukan yang cukup untuk melawan kita” Jika kaum muslimin sanggup melawan pasukan Romawi yang besar itu, maka bagaimana lagi dengan kita. Jadi jauh sebelum pasukan-pasukan Islam yang dibentuk sebanyak 12 satuan perang untuk menumpas mereka, maka kekalahan itu sudah ada dalam jiwa dan pikiran mereka, setidaknya nyali mereka sudah jatuh, ketika menyaksikan pasukannya usamah lewat didepan mereka, mungkin kalau bahas kita sekarang, seakan-akan usamah mengatakan, maaf yah,,,,kalian tidak selevel dengan kami.
Bagaimana dengan tanggapan dunia internasional saat itu, seperti Romawi, yah,,,mereka mengatakan bahwa ”kematian Muhammad tidaklah mematikan semangat juang para pengikutnya”, walhasil pembaca sekalian, pasukan Usamah ini hanya membutuhkan sekitar 15 hari untuk memenangkan pertempuran tersebut, dan tidak cukup sampai disini, bahwa itulah record baru bahwa pasukan ini bisa memenangkan melawan Romawi dan tak satupun yang gugur, mereka kembali utuh semuanya. Sudah barang tentu dalam perjalanan pulang ke Madinah, pasukan ini kembali melewati daerah yang murtad, saya mencoba menyerap makna pasukan yang melewati kaum murtad tersebut, dengan ungkapan yang bisa diterima oleh para kaum murtaddin, seakan-akan pasukan Islam mengatakan,”melihat kalian semua....siapa takut”.

Saat-Saat kritis dalam sejarah (2)

Saat-saat kritis dalam sejarah 2
(ujian pemerintahan Abu bakar ra)
drg.Syukri Wahid

Dari sekian banyak permasalahan pemerintahan yang melanda sebuah bangsa , tidak ada yang lebih sulit dari mengatasi masalah yang mengancam integrasi kedaulatan bangsa tersebut, sebab umur sebuah pemerintahan salah satunya diukur dari intergritas politik & kewilayahannya, desintegrasi mengancam kewibawaan sebuah pemerintahan. Semakin solid sebuah bangsa mempertahankan keutuhannya, maka semakin berwibawa dia dihadapan pergaulan dunia. Masalah inilah yang pernah dialami oleh khalifah Abu bakar sebagai khalifah pertama dalam mata rantai pemerintahan Rasulillah SAW, sebuah ujian tengah melanda kepemimpinan baru yang beliau pimpin, ancaman tersebut datang ingin menguji “nyali” khalifah Abu bakar sebagai seorang pemimpin.
Dalam setiap pergantian kepemimpinan biasanya akan terjadi kegoncangan dalam masyarakat, belum lepas ujian yang pertama menimpa khalifah abu bakar tentang , siapa yang berhak menjadi pengganti Rasulullah SAW, maka kini ujian yang lebih sulit lagi yaitu, adanya gerakan dari beberapa daerah yang melakukan murtad (keluar dari Islam) dan keengganan kaum muslimin untuk membayar zakat. Murtad memberikan konsekuensi tentang lepasnya ikatan ideologis pada tubuh pemerintahan Abu bakar, dan ini adalah awal dari lepasnya simpul teritorial. Beliau menyadari betul akan konsekuansi dari masalah ini, apalagi konsekuensi masalah ini akan membangun image yang negative pemerintahan beliau dan jika belia tidak segera menyelesaikannya, maka akan mengundang intervensi negara lain pada waktu itu seperti Romawi dan Persia untuk menyerang jantung pemerintahan Islam saat itu, jadi instabilitas dalam negeri akan mengundang pihak luar untuk melakukan serangan.
Selain itu muncul dibeberapa tempat tokoh-tokoh yang menyatakan dirinya adalah Nabi, dan ini terjadi hamper disebelas tempat, nama yang terkenal adalah Musaillamah al kadzaab. Tokoh ini bisa menjadi magnet perlawanan didaerahnya masing-masing, padahal sebelumnya daerah tersebut adalah penduduk yang tealah menyatakan keislamannya dan komitmennya bersama da’wah Rasulullah SAW, maka wibawa pemerintahan harus ditegakkan terhadap semua upaya untuk melakukan tindakan makar yang mengancam integrasi wilayah sebuah Negara.

Komitmen dalam tekad
Setelah menganalisa dan menimbang masalah ini, maka beliau memanggil sahabat dekatnya yaitu Umar bin Khattab untuk sharing pendapat, pembaca sekalian, apa yang disampaikan Abu bakar kepada sahabat Umar saat itu, adalah keinginan beliau untuk mengangkat senjata dan memerangi para murtaddin (kaum yang murtad) serta mereka yang enggan membayar Zakat, dengan ungkapan beliau,”bahwa aku akan tegas memerangi otang yang coba memisahkan antara sholat dan zakat”.
Setelah mendengar penjelasan Abu Bakar, reaksi Umar bin khattab justru bertolak belakang, ternyata Umar tidak setuju dengan pendapat sang Khalifah Abu bakar, Umar mengatakan,” Wahai,,,Abu bakar, menagapa engkau tidak bermurah hati dan berhati lembut bagi mereka, karena kita mengetahui mereka itu bagaikan binatany buas”. Seketika itu juga Abu bakar menjawab ungkapan Umar sebagai berikut,” Aku datang kesini untuk meminta bantuanmu, namun aku melihat pengkhianatan dirimu wahai Umar,,” dengan ungkapan berani beliau mengatakan, kepada Umar, “Wahai,,,Umar mengapa engkau yang dahulu terkenal kuat/jawara/jagoan/pemberani dijaman jahiliyyah, kini tiba-tiba menjadi pengecut di zaman Islam”, seraya diatas kuda dan memegang jenggot Umar saat itu, Abu bakar berkata lagi dengan nada tinggi, ” jika tidak ada kaum muslimin yang berangkat, maka aku seorang dirilah yang akan mengangkat memerangi mereka”. “Fawallahi maa huwa illa an raiyyatu an qad sarahallahu shadraha Abi bakrin lilqitaal, arraftu innahu al haq”. Demi Allah, seketika itu juga aku melihat apa yang ada pada dirinya kecuali Allah telah melapangkan dada Abu bakar untuk berjihad, saya sungguh mengetahui bahwa kebenaran ada bersama dia.
Dan beliau membuktikan kata-kata tersebut, diujung kota Madinah Abu bakar sudah menyiapkan dirinya, maka buru-burulah para sahabat untuk mencegah keberangkatannya, kali itu sayyidina Ali merayu beliau, “wahai khalifah, cukuplah dirimu bagi kami, karena sarungkanlah pedangmu dan biarkanlah kami yang berangkat”. Maka dari sikap beliau itulah dibentuk 12 tim pasukan yang dikirim ke daerah-daerah yang terjadi gerakan murtad dan keengganan membayar zakat, diantara panglima-panglima yang diangkat beliau adalah ‘amru bin ash, ikrimah bin abu jahal ke wilayah daerah yaman , serta Khalid bin Walid yang sampai ke wilayah yamamah dan pasukannya berhasil membunuh Musaillamah al kadzaab.
Sikap beliau untuk senantiasa memiliki komitmen dengan keputusan, sepertinya didapat dari sang guru beliau dan ummat ini, yaitu baginda Nabi Muhammad SAW, masih ingatkah kita ketika hasil keputusan musyawarah untuk menetapkan agar kaum Muslimin berperang diluar kota Madinah pada perang uhud tahun 3 Hijriyah, mayoritas sahabat, terutama kalangan anak muda ingin offensive, agar menyambut musuh diluar kota, dan Nabi mengikuti pendapat mayoritas saat itu. Apa yang terjadi besok paginya, para utusan anak muda mendatangi Nabi dirumahnya, dan kali itu para anak muda meminta maaf karena rapat tadi malam seolah-olah merekalah yang memaksa Nabi sehingga harus berperang di luar kota Madinah, padahal Nabi sejak awal meminta agar perang dilakukan didalam kota saja. Pembaca sekalian,,,apa jawaban Nabi saat itu,” ketahuilah sahabatku, tidaklah pantas bagi seorang Nabi yang telah memakai baju perangnya kemudian dia melepasnya lagi, demi Allah aku akan menyongsong musuh-musuhku diluar kota Madinah”, yah itulah jawaban yang melambangkan kemauan, tekad sekaligus keistiqomahan.

Saat-saat kritis dalam sejarah (1)

Saat-saat kritis dalam sejarah 1
( Suksesi kepemimpinan pertama kali paska wafatnya Rasulullah SAW)
drg.Syukri Wahid

Wafatnya Rasulullah SAW meninggalkan sebuah permasalahan tersendiri bagi para sahabat pada waktu itu, mengapa para pembaca sekalian? karena tidak satupun dari wasiat Nabi SAW kepada para sahabat yang menyatakan untuk menunjuk seseorang dari kalangan sahabat untuk menjadi pengganti (khalifah) beliau. Situasi seperti ini menjadi sebuah pengalaman perdana bagi kaum Muslimin , yah sebuah pergantian kepemimpinan dalam tubuh kaum muslimin dan sebuah kepemimpinan baru akan muncul ,setelah kurang lebih 23 tahun lamanya Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul dan pemimpin bagi mereka. Suksesi ini menjadi ujian berat bagi kaum muslimin pada saat itu, sehingga jenazah Rasulullah tertunda proses pemakamannya lantaran peristiwa tersebut.
Fiksi Politik pertama kali?
Sebuah kenyataan realitas pada saat itu, terjadinya perbedaan cara pandang para sahabat mengenai ”kondisi” tersebut, setidaknya ada beberapa arus pandangan yang ingin saya kemukakan disini, sebagaimana juga yang ditulis oleh beberapa penulis siroh, seperti imam as suyuthi dalam bukunya tarikh khulafa’. Penulis siroh dari kalangan syiah terang-terangan menyebutkan terjadinya 3 fiksi besar dalam masalah ini, yaitu ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW), sahabat Anshar yang mengadakan pertemuan di Bani saidah dan kubu sahabat muhajirin Abu bakar yang dipelopori oleh Umar bin khattab ra.
Saya sendiri tidak terlalu nyaman menyebutkannya dengan istilah ”fiksi” diatas, namun yang tepat mungkin adalah keberagaman untuk mencapapai ijma’. Alasan sederhana yang memungkinkan hal itu terjadi adalah karena memang tidak ada satupun petunjuk dari al quran maupun sunnah berkenaan dengan persoalan kepemimpinan paska wafatnya Nabi Muhammad SAW. Jadi ini juga sekaligus pengalaman ijma’ perdana para sahabat terutama pada masalah politik, dan masalahnya bukan pada fikih ibadah mahdhah (khusus), namun tidak tanggung-tanggung yaitu masalah fikih daulah (negara).
Pertemuan bani saidah.
Para sahabat dari kalangan anshar mengadakan sebuah pertemuan di perkampungan bani saidah, yang hadir merupakan representasi dari kaum anshar secara umum pada waktu itu, agenda pertemuan sangat jelas yaitu tentang mencari siapa sosok pengganti Nabi Muhammad SAW untuk mengurus masalah kaum muslimin. Rapat tersebut menghasilkan satu nama dari sahabat anshar untuk diajukan sebagai khalifah, yaitu Sa’ad bin ubadah, seorang tokoh senior anshar dari bani khajraz.
Pertemuan sahabat-sahabat anshar di bani saidah tidak diketahui oleh sahabat muhajirin, seperti Abu bakar dan Umar bin Khattab, sehingga datanglah salah seorang dari kalangan anshar untuk memberitahukan pertemuan yang sedang berlangsung kepada keduanya. Mendapat laporang langsung, bergegaslah Abu bakar ditemani umar bin khattab, thalhah bin ubaidillah dan sahabat-sahabat muhajirin menuju perkampungan bani saidah. Dalam situasi seperti ini, memang bisa menjadi pemicu konflik antara sesama kaum muslimin, sebagai seorang sahabat utama & senior Abu bakar adalah tokoh terbaik setelah Nabi SAW ingin mencairkan suasana dan ingin mencari solusi yang tepat.
Ketika rombongan muhajirin datang, mereka disambut oleh sahabat-sahabat anshar, dan terjadilah dialog kedua belah pihak, sahabat Anshar mengatakan, ” wahai sahabat kami kaum muhajirin, sungguh kalian telah mengetahui bahwa kami ini adalah kaum yang menolong Nabi Muhammad SAW, karena itu biarkanlah kami mengurus urusan ini”. Pendapat kaum anshar ini merupakan pertanda bahwa merekalah yang berhak mewarisi urusan kekhalifahan selanjutnya. Abu bakar menjawab ungkapan sahabat anshar,” tentang kebaikan kalian adalah benar saudaraku, namun kami adalah kaum Quraisy yang mewarisi urusan ini, jika kalian mau maka akan aku tunjukkan kepada kalian dua orang terbaik dan pilihlah satu dari keduanya yaitu antara Umar bin Khattab dan Thalhah bin Ubaidillah.!!?
Ijtihad politik beliau ini lahir dari sebuah ma’rifah maidaniyyah atau pemahaman lapangan yang baik, kenapa..? jika sa’ad bin ubadah yang diangkat menjadi khalifah, sedangkan beliau adalah petinggi bani khazraj dari kalangan anshar, maka ini akan memicu orang-orang yang memiliki penyakit hati dikemudian hari untuk menjadikannya sebagai sumber konflik, dengan cara memprovokasi sahabat dari kalangan aus untuk bisa juga mengambil posisi kalifah atau setidaknya mempermasalahkan tentang posisi kekhalifahan, prediksi-prediksi seperti ini menjadi salah satu pertimbangna Abu bakar, apalagi sudah ada pengalaman pertengkaran antara sahabat aus dan khazraj ketika seorang tokoh senior yahudi yang mencoba memprovokasi keduanya untuk saling berperang lagi, padahal Rasulullah SAW masih ada diantara mereka dan bagaimana jika Rasulullah SAW sudah tidak ada lagi bersama mereka, peristiwa tersebut direkam Allah SWT dalam surat ali imran : 103, ”dan berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian berpecah, dan ingatlah kalian atas nikmat Allah kepadamu, ketika itu kalian berpecah maka kami satukan hati diantara kalian dan kami berikan nikmat-Ku berupa persaudaraan.......”.
Pendapat Abu bakar ini menjadi sebuah penentu dalam upaya menyatukan kaum muslimin paska meninggalnya Rasulillah SAW, beliau mengajukan dengan penuh kerendahan hati, menyebutkan dua nama dari sahabat Nabi yang mulia yang termasuk saabiquuna al awwaliin , mendapat pertanyaan seperti itu,” tiba-tiba Umar bin khattab maju dihadapan kaum muslimin, dan langsung memegang tangan Abu bakar ra dan membaiat beliau sebagai khalifah, dengan suara yang lantang beliau berkata,” wahai kaum muslimin aku membaiat Abu bakar sebagai khalifah, aku tidak menemukan orang terbaik setelah Rasulillah kecuali Abu bakar, beliaulah yang mengganti Nabi menjadi imam shalat ketika sakit, beliau pula yang menemani Nabi SAW dalam perjalanan hijrah”. Sikap umar tersebut disambut spontan oleh para sahabat baik dari muhajirin dan anshar, bahkan salah seorang sahabat anshar langsung membaiat abu bakar dengan tangannya, cairlah suasana yang sempat memanas tadi, lewatlah saat yang kritis itu.

Pidato Pencerahan
Para ahli sejarah mencatat bahwa peristiwa pengambilan sumpah (baiat) Abu bakar ra adalah ”baiat khassah (khusus)”, maka keesokan harinya Abu bakar ra menyampaikan khutbahnya dikalangan seluruh kaum muslimin dan mengambil baiat atau sumpah setia kaum muslimin yang tidak hadir pada pertemuan bani saidah , sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan legitimasi publik dan hal itu merupakan modal besar dalam sebuah kepemimpinan apapun.
Dalam pidato yang singkat tersebut, beliau menyampaikan poin-poin yang sangat substansial dalam konsep kepemimpinan baru yang baru saja terbentuk, dihadapan kaum muslimin beliau menyampaikan sebagai berikut,” Wahai kaum muslimin, saya bukanlah seorang yang terbaik diantara kalian, saya adalah orang yang kalian berikan amanah untuk memimpin kalian, jika dalam kepemimpinanku aku berbuat benar, maka dukunglah diriku, namun jika dalam memimpin aku melakukan kesalahan, maka tolong luruskan diriku. Berbuat jujur adalah amanah dan berbuat dusta adalah khianat, sesungguhnya orang yang lemah diantara kalian akan menjadi kuat dihadapanku sampai aku bisa mengembalikan haknya, sedangkan orang yang kuat diantara kalian akan menjadi lemah dihadapanku sampai hak orang lain yang ada padanya dia lepaskan. Bertakwalah kalian kepada Allah, tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mentaatiku jika aku bermaksiat kepada Allah SWT”.
Demikianlah pidato pencerahan sang khalifah Rasulilah SAW, pidato yang hadir bagaikan simpul baru bagi kaum muslimin disaat benang ukhuwah hampir saja putus. Beliau sadar persis bahwa beliau tengah melewati situasi yang sangat kritis yang bisa mengancam integrasi keum muslimin yang sudah dibangun sekial lama oleh Rasulillah SAW. Menjadi unsur perekat bagi kaum muslimin pada saat itu adalah istilah yang tepat bagi khalifah Abu bakar ra, dari sanalah beliau memulai langkah kepemimpinannya, yaitu menyatukan kaum muslimin dari sebab-sebab desintegrasi.

Antara makkah dan Madinah

Antara Makkah dan Madinah
Oleh : Syukri Wahid,drg


Jika kita membahas sejarah perkembangan Islam, maka kita akan selalu membahas dari dua tempat yang bersejarah yaitu kota Makkah dan Madinah, karena memang disanalah Islam dan pembawa risalah ini lahir dan pertamakali tumbuh , berkembang dan kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia, sampai Islam itu masuk kepersada Nusantara ini. Dua tempat ini pula yang kemudian menjadi model “alas” dimana pertama kali Islam dan syariatnya dibumikan.Di tempat ini pulalah sebagian besar atau hampir semuanya Firman Allah SWT diturunkan, karenanya kota ini pulalah yang kemudian mendorong para ulama al qur’an terdahulu mengklasifikasikan ayat-ayat yang turun salah satunya berdasarkan tempat diturunkannya, ayat makkiyah dan ayat madaniyah.

Karena Tahapan Da’wah
Dua tempat ini juga yang menjadikan tahapan da’wah Nabi Muhammad SAW menjadi dua periode besar, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Sebagaimana tema-tema ayat al quran yang turun di kedua tempat sangat berbeda, ayat-ayat Makkah bersifat doktrin yang sangat ketat, motifasi-motifasi langit begitu kuat disini, kisah umat terdahulu sebagai bahan referensi peradaban banyak turun disini, maka ayat-ayat Madinah lebih bersifat hukum dan aturan, kaidah-kaidah sosial muamalah dan lain-lainnya. Begitu juga dengan tahapan da’wah Nabi, tahapan da’wah Makkah tidak lepas dari tema-tema ayat makkah, maka judul da’wah Islam di Makkah adalah “ta’siis ad da’wah atau peletakan basis da’wah, tahapan ini lebih fokus kepada “binaa syakhsiyah Islamiyyah wa dda’iyyah“ atau fokus terbesar da’wah Nabi adalah mencetak generasi terbaik yang Islami dan menyiapkannya menjadi “agen perubah” masyarakat.
Ciri lainnya adalah “nasrul fikrah” atau penyebaran nilai-nilai luhur Islam dengan cara yang santun dan menjauhi konfrontatif langsung dengan musuh-musuh da’wah pada saat itu, yah itulah makkah, namun judul da’wah Nabi di Madinah adalah era “melembagakan da’wah” dalam bentuk institusi kekuatan yang bernama Negara, dimana Negara ini akan berfungsi sebagai alat untuk menjalankan “kehendak-kehandak Allah SWT” atau syariat diatas bumi ini, karena itu pulalah distribusi kader da’wah untuk mengisi pos-pos Negara menjadi niscaya disini. Sehingga ustadz Anis matta dalam bukunya “dari gerakan ke Negara” mengatakan bahwa da’wah di Makkah adalah dimana Islam mengindividu dan memasyarakat namun da’wah di Madinah adalah dimana Islam telah menegara. Hal ini sekaligus mengatakan kepada kita bahwa Islam bukanlah agama yang hanya tegak dalam nilai-nilai pribadi namun juga harus tegak dalam nilai-nilai kekuasaan kenegaraan.
Dari rahim dua kota ini juga telah melahirkan dua generasi emas yang menjadi buah bibir sejarah selama 1 milenium lebih sebelum runtuhnya kekhilafahan Utsmani di Turki, yah… itulah mereka generasi Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Yastrib (sebelum dirubah menjadi madinah) yang menampung orang muslim Quraisy dikota mereka, madinah. Dua komunitas ini disatukan oleh Nabi Muhammad SAW dari komunitas nasab antara Quraisy & Yastrib menjadi komunitas ideologi yaitu Muhajirin dan Anshar, dari sekedar ikatan suku menjadi ikatan agama, tanpa menghilangkan karakter suku masing-masing tentunya, namun begitulah adanya bahwa dua generasi dari dua kota yang berbeda ini bertemu menjadi satu dan berhasil membentuk pola interaksi sinergi positif dalam segala hal.
Kaum Muhajirin sebagian besar mereka adalah “pebisnis” yang handal, mereka juga adalah marketer yang unggul, sehingga Allah mengabadikan perilaku bisnis mereka dalam surat al Quraisy ayat dua, ”iilaa fihim rihlatassyitaai wa sshoif”, yaitu kebiasaan mereka (Quraisy) berpergian bisnis pada musim dingin dan panas. Kota Makkah tidak memiliki produk unggulan, satu-satunya yang menguntungkan kota Makkah adalah sebagai kota jasa dan kedudukannya sebagai “kota wisata spiritual” dimana tiap musim haji dipastikan banyak orang dari penjuru Arab mendatangi Makkah untuk melakukan ritual Haji, hal ini berkonsekuensi kepada hadirnya pasar-pasar tahunan yang membangkitkan ekonomi Makkah.
Sebaliknya kota Madinah adalah kota agraris, sebagian besar penduduknya adalah petani gandum dan kurma. Sehingga sahabat Anshar juga sebagian besar adalah petani, karakter masyarakat petani tentulah tidak sama dengan masyarakat pedagang. Hijrah berhasil mempertemukan dua potensi ekonomi besar yaitu, bertemunya petani dengan penjual, bertemunya produk dengan pasar, sehingga sahabat Anshar yang selama ini kesulitan dalam hal jalur penjualan hasil panen mereka, maka sahabat muhajirinlah yang akan menjualkan hasil panen mereka, tidak mengherankan jika dalam waktu satu bulan Nabi di Madinah, sahabat muhajirin berhasil membangun pasar baru dan para petani anshar tidak tergantung lagi dengan pasar kaum Yahudi pada saat itu. Antara Makkah dan Madinah dihubungkan dan disatukan secara erat oleh Nabi lewat momentum Hijrah beliau yang terkenal itu, namun secara nasab dan psikis beliau dihubungkan lewat silsilah ayah beliau, Abdullah bin Abdul muthalib yang lahir dikota yastrib, dan rajin “transit” dikota madinah dalam setiap perjalanan bisnis ke negeri Syam, bahkan ayah Nabi SAW tersebut meninggal di daerah Quba, yastrib dan dimakamkan disana. Sehingga ketika beliau hijrah ke madinah.
Ketika penaklukkan kota Makkah tahun dan perang Hunain pada tahun 8 H, Nabi Muhammad SAW mendapatkan harta ganimah (rampasan perang) yang sangat banyak, dan beliau membagikan semuanya kepada penduduk Makah, khususnya kepada mereka yang baru masuk kepada Islam (mu’allaf), pada saat itu tidak satupun sahabat Anshar kebagian ganimah, mulailah mereka mengatakan, “ bahwa kini Nabi sudah kembali ke kaumnya(penduduk makkah)”, mungkin Nabi tidak lagi ke madinah, itu ungkapan hati penduduk madinah. Kemudian Nabi mengatakan kepada sahabat Anshar, “ wahai sahabat Anshar, apakah kalian ridho jika mereka pulang ke makkah membawa unta & kuda, sedangkan kalian pulang membawa diriku ke madinah?, sekiranya bukan karena Hijrah aku bukanlah bagian dari orang Anshar, ketahuilah jika disebuah bukit yang bercelah ada dua kaum yang berjalan, dan satu adalah jalannya kaum Anshar, demi Allah aku akan memilih jalan yang dilalui oleh orang Anshar, Ya Allah ampunilah orang Anshar, rahmatilah mereka dan keturunannya”.

Dibalik misi rombongan Haji itu...


Misi rombongan Haji itu…
(catatan ketika Abu Bakar menjadi ‘amirul Hajj pertama)




Setelah pulang dari perjalanan perang tabuk yang begitu melelahkan, Nabi dan kaum muslimin menghabiskan waktunya pada sisa bulan ramadhan tahun itu. Menjelang masuknya bulan Haji dzulhijjah tahun 9 H, Nabi SAW berkeinginan mengirim rombongan kaum muslimin untuk melakukan ibadah Haji perdana. Ibadah Haji yang sesuai dengan “versi” Islam., karena sampai tahun itu juga masih banyak kabilah-kabilah Arab yang mendatangi Makkah melakukan ibadah Haji dengan cara yang batil, diantaranya mereka bertawaf dalam keadaan tidak berpakaian. Padahal sejak paska penaklukan kota Makkah tahun 8 H, sebenarnya Nabi telah menguasai kota Makkah seluruhnya, bahkan patung-patung berhala sejumlah 360an dihancurkan langsung oleh beliau, tentu beliau sangat mudah memiliki hak untuk melarang praktek Haji seperti itu, namun Nabi belum melakukannya.
Maka, dengan penuh nasihat beliau melepas rombongan Haji perdana tersebut dan mengangkat Abu Bakar siddiq ra sebagai ‘amiirul Hajj atau ketua rombongan haji, disertai kurang lebih 300 sahabat yang membawa 20 ekor hadyu (hewan kurban). Abu bakar mendapat tugas khusus yang begitu istimewa karena beliau menjadi wakil Nabi untuk melakukan ibadah Haji dengan versi syariat Islam, tentu akan menjadi sebuah pemandangan yang kontras nanti dalam ibadah yang tersebut, kaum muslimin dengan versinya sedangkan orang musyrik dengan versinya sendiri. Itu adalah misinya Abu bakar.
Ketika rombongan Abu Bakar telah berangkat, maka turunlah permulaan surat at taubah ayat 1 sampai 6, dimana Allah SWT telah membuat sebuah garis penegasan dengan perintah untuk berlepas diri atau memutus semua hubungan dengan orang-orang musyrik dan semua bentuk perjanjian antara kaum muslimin dengan pihak musyrik pada saat itu, dan kaum musyrik yang belum memiliki hubungan perjanjian dengan kaum muslimin diberi tempo 4 bulan untuk berpikir. Sehingga ayat ini memeberikan misi baru kepada Nabi untuk segera menyampaikan kepada pihak musyrik makkah khususnya, maka mengangkat delegasi khusus dengan misi menyampaikan isi surat at taubah tersebut pada seluruh jama’ah Haji pada hari nahar atau hari melontar jumrah, maka Ali bin Abu Thaliblah orang yang ditunjuk Nabi untuk tugas ini.
Ketika Abu bakar melihat Ali menyusulnya, maka beliau mengatakan kepada Ali, “wahai Ali, apakah kedatanganmu ini untuk memimpin atau dipimpin?, maka Ali menjawab,”bahkan, aku dipimpin”, maka bergabunglah rombongan tersebut dengan 2 misi yang berbeda. Abu bakar berangkat dengan misi mencontohkan syiar-syiar Haji yang benar menurut Islam sedangkan Ali bin Abu thalib berangkat dengan misi menyampaikan keputusan Allah SWT yang terdapat dalam surat at taubah. Yang jelasnya bahwa misi ini dieksekusi oleh orang terbaik dari ummat ini setelah Nabi SAW, Abu bakar adalah orang yang paling dicintai Rasulullah SAW, ketikan seorang sahabat bertanya ,”man ahabba an naasa ilaika, ya Rasulallah? Siapakah dari kalangan manusia yang engkau cintai, ya Rasulullah ? Beliau menjawab,” ‘Aisyah, kemudian sahabat memperjelas lagi, minar rijaal? kalau dari kalangan laki-laki?, beliau ,menjawab ”Abuuha”, ayahnya ‘Aisyah (Abu bakar). Begitu juga dengan Ali bin Abu thalib seorang yang ‘alim dan faqih dari ummat ini, sehingga Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya Ali selalu bersama al quran dan al quran selalu bersama Ali, dan keduanya tidak akan berpisah sampai kematiannya”.

Keberhasilan sebuah misi
Rangkaian ibadah Haji berjalan sebagaimana keinginan Abu bakar, memang pada saat itu mayoritas jama’ah haji berasal dari kaum muslimin, sehingga menjadi arus dominan dibandingkan jamaah dari kabilah yang lain. Peletakan syariat syiar Haji begitu penting dalam kehidupan ibadah kaum muslimin waktu itu, apatah lagi Haji adalah merupakan rukun ke lima dalam Islam. Islam menghapus beberapa rangkaian kebiasaan orang musyrik pada waktu berhaji, diantaranya adalah jika mereka melakukan tawap dengan cara tidak memakai busana, bahkan diantara mereka ada yang bertawaf dengan telanjang bulat, mereka mengatakan, “ bahwa kami melakukan tawaf menghadap Allah dengan cara tidak berpakaian sebagaimana kami lahir dari perut ibu kami dalam keadaan telanjang”.

Ultimatum Ideologi
Ketika hari melakukan wukuf telah tiba, dan berkumpulah disana semua jama’ah haji, baik dari kaum muslimin maupun mereka yang masih musyrik, itulah kesempatan yang tepat bagi Ali bin Abu thalib yang juga ditugaskan untuk menyampaikan “misi” dari Rasulillah SAW. Dengan suara yang lantang dihadapan semuanya, beliau mengatakan , ”dengarkanlah kalian semua,” sesungguhnya orang kafir akan masuk kedalam neraka jahannam semuanya, setelah tahun ini tidak boleh lagi orang musyrik melaksanakan ibadah Haji dan melakukan tawaf dengan telanjang, bagi kabilah/suku yang masih terikat perjanjian dengan kaum muslimin diperbolehkan untuk dilanjutkan sampai waktu yang telah ditentukan bersama dan bagi kabilah/suku yang belum memiliki perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan dan jika mereka tetap memilih keyakinan lamanya, maka mohon segera meninggalkan kota makkah dan mencari tempat yang lebih aman”.
Singkat tapi padat, pendek tapi lugas, dia adalah pidato sekaligus keputusan. Kira-kira apa yang ada dalam benak jama’ah haji musyrikin pada saat itu, apa kemudian mereka melakukan kerusuhan tiba-tiba dalam rombongan haji tersebut? Kalimat itu kelihatannya ”keras” namun apa yang membuat mereka dengan lapang dada menerima itu semuanya.

”waktu untuk belajar”
Yang menarik disini adalah pada poin ”ikatan perjanjian”, bahwa kabilah atau suku yang masih berjalan waktu perjanjiannya dengan kaum muslimin tidak akan dibatalkan sampai batas waktu perjanjian tersebut, Nabi tidak membatalkan sepihak, walaupun posisi kaum muslimin sudah menjadi ”penguasa” saat itu. Ini sebuah bentuk pealajaran tersendiri bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan selalu umatnya untuk menjaga dan komitmen kepada semua kesepakatan bahkan kepada kaum musyrik sekalipun, berkuasa tidaklah mendorong beliau untuk menindas apalagi menzalimi orang lain, dan mereka dipersilahkan dengan keyakinan mereka.
Apakah ini adalah keputusan tanpa pilihan? mari kita lihat pada poin setiap suku/kabilah yang belum memiliki ikatan perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan untuk berpikir, dan maksud dibiarkan berpikir ini juga mengandung pelajaran bahwa aspek pemahaman begitu penting, jangan ada unsur pemaksaan kepada umat lain. Tidak ada pemaksaan untuk masuk kedalam ajaran Islam. Islam menhendaki setiap pemeluknya untuk menjadikan dasar-dasar bergabungnya dia kedalam Islam karena faktor pengetahuan dan pemahaman, bukan karena faktor lingkungan dan dorongan emosianal saja.

Sabtu, 04 Oktober 2008

Fikih Kemenangan dalam Hijrah


Fikih Kemenangan dalam HIJRAH
Oleh : Syukri Wahid,drg (ketua DPD PKS Balikpapan)




Hari itu para petinggi Quraisy menggelar rapat tinggi di tempat pertemuan mereka yang bernama “daarun nadwah”, suatu tempat dimana mereka sering melakukan musyawarah untuk mengambil keputusan-keputusan resmi berkenaan dengan semua permasalahan kota makkah. Pada tahun itu, usia dakwah Nabi telah memasuki tahun ke 13 dari awal kenabian. Arus da’wah nabi yang berpijak kepada Tauhid, dari tahun ketahun memperlihatkan perkembangan yang signifikan, semakin banyak putra putri terbaik Makkah yang masuk kedalam pangkuan Islam, sehingga pada waktu itu semua klan suku Quraisy sudah ada pemeluk agama Islamnya.
Bagi Quraisy, hal tersebut adalah ancaman besar bagi eksistensi peradaban mereka. Usaha mereka untuk membendung da’wah beliau selama ini tidak memperlihatkan hasil yang sesuai dengan harapan mereka, berbagai cara sudah ditempuh, mulai dengan teror psikis, fisik serta cara-cara lembut seperti “merayu” beliau dengan harta, tahta dan wanita tidak membuat beliau bergeser dari da’wah. Karena itu puncaknya mereka menggelar rapat tinggi untuk mencari “senjata ampuh” untuk menghentikan dakwah beliau.

Konpirasi Pembunuhan
Beberapa usulan berkembang dalam rapat tersebut, ada usulan untuk ”mengusir” Muhammad ke luar kota madinah, namun dibantah oleh beberapa petinggi mereka, bahwa jika kita usir maka secara politis kita kalah, karena mungkin saja muhammad akan membangun basis dakwahnya dikota lain dan jika sudah besar dia akan menyerang kita, dan juga secara citra kita (orang-orang makkah) akan diangggap oleh publik sebagai kota yang sektarian dan tertutup, hanya karena berbeda paham dengan mayoritas masyarakat langsung diusir dari Makkah, bukankah makkah tiap tahunnya terbuka untuk seluruh bangsa Arab untuk melaksanakan ibadah haji, semua bisa datang kesana tanpa ada penindasan.
Usulan kedua menginginkan Muhammad dipenjara saja, agar dia tidak bisa melakukan da’wahnya kemasyarakat. Usulan inipun ditolak karena dengan dipenjara akan mengundang simpati orang lain, sehingga akan menambah banyak orang yang mendukung dakwahnya, apalagi Muhammad sudah terlanjur dikenal pribadi yang jujur oleh publik.
Dalam buku-buku tentang siroh nabawiyah, diriwayatkan dalam pertemuan tersebut tiba-tiba hadir iblis yang menjelma dalam bentuk manusia tua renta, dia mengusulkan agar Muhammad dibunuh saja, alasannya sederhana untuk bisa menghentikan risalah Islam, bunuhlah pembawa risalahnya. Pendapat ini diaminkan oleh Abu Jahal, sehingga dia mengusulkan agar tiap kabilah mengutus seorang jawaranya dan membunuh Muhammad secara bersama-sama, agar darah Muhammad tercecer disemua kabilah, dengan demikian bani Hasyim (suku Nabi Muhammad SAW) tidak akan sanggup melawan kita semua.

Makar musuh vs Makar Allah
Makar keji kafir quraisy tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam surat al anfal ayat 30, sekaligus Allah SWT memberitahukan rencana makar quraisy ini kepada Nabi, dimana Allah SWT berfirman,:”dan ingatlah ketika orang-orang kafir membuat makar keji/tipu daya terhadapmu untuk meangkap & memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membatalkan tipu daya itu. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya”. Jika para musuh Allah SWT memiliki planing strategis membunuh Nabi sebagai pemimpin risalah Islam, maka Allah SWT juga memiliki perencanaan yang lebih jitu untuk menyelamatkan Nabi-Nya dari rencana pembunuhan tersebut. Semua prosedural penyelamatan Nabi SAW ini kita kenal dengan peristiwa Hijrah.
Bukti pertama kekalahan makar para kafir quraisy adalah hilangnya secara tiba-tiba kaum muslimin dari interaksi pergaulan sosial kota Makkah, ternyata sebelum para petinggi quraisy rapat, Nabi SAW sudah terlebih dahulu mengistruksikan semua para sahabat untuk segera meninggalkan kota Makkah dan berhijrah menuju Madinah, kecuali beberapa sahabat saja yang ditunjuk beliau untuk tetap tinggal di Makkah untuk tugas-tugas tertentu, sehingga para petinggi quraisy sudah menduga terjadi kebocoran pada rencana mereka.
Kemudian seluruh jawara Quraisy berkumpul mengepung rumah Rasulullah SAW, sehingga pada waktu yang disepakati mereka langsung membunuh beliau, apa yang terjadi para pembaca sekalian, ternyata Rasulullah SAW menyuruh Ali bin Abu Thalib untuk menggantikan beliau untuk tidur diatas ranjangnya. Kemudian atas ”makar” atau tipu daya Allah SWT beliau keluar dari rumah melewati para jawara Quraisy tanpa terlihat, beliau pun sempat menabur pasir diatas kepala seorang musuh pada saat itu. Hal tersebut tidak disadari oleh mereka, sehingga salah satu dari mereka berkata,”sungguh Muhammad telah meninggalkan kalian, dan dia menaburi pasir diatas kepala kalian”, terkaget mereka, tak ayal mereka langsung masuk ke kamar Rasulullah SAW dan sungguh terkejutnya mereka karena yang tidur diatas ranjang adalah Ali bin Abu Thalib.

Fikih Tamkin (Kemenangan) dalam Perjalanan Hijrah
Proses Hijrahnya Nabi SAW merupakan ”seni berperang” tersendiri,disana banyak terdapat siyasah syar’iyah (politik yang syar’i) menurut DR.Said Ramadhan dalam buku fiqhussirahnya .Ketika orang kafir Quraisy memastikan Muhammad telah lolos dari upaya pembunuhan yang mereka lakukan, maka mereka menginstruksikan agar status makkah menjadi siaga satu, semua sipil dan militer makkah dikerahkan untuk menangkap hidup-hidup Muhammad bahkan mereka menggoda semua orang dengan cara membuat sayembara berhadiah ,jika ada yang sanggup menangkap Muhammad maka akan diberi hadiah 1000 ekor unta.
Sekali lagi Allah SWT adalah sebaik-baik pembuat tipu daya, namun tipu daya ini diturunkan Allah melalalui tahap-tahap prosedural manusiawi artinya bagaimana Allah menyelamatkan Nabinya itu tidaklah terlepas dari ikhtiar maksimal dari Nabi untuk menyusun rencana penyelamatan dirinya sendiri.

a. Menjaga kerahasiaan Perjalanan
Bukti nabi mengelola kemenangan ditempuh dengan ikhtiar manusiawi adalah menjaga kerahasian perjalanan, bahkan terhadap keluarga dekat beliau dan Abu bakarpun tidak diberitahu. Hal ini dalam rangka memastikan perjalanan beliau aman dan tidak terdeteksi oleh pihak musuh, dan hanya memberitahu kepada orang-orang tertentu saja, karena seringkali kegagalan sebuah operasi politik karena sudah ”bocor” terlebih dahulu.

b. Menghilangkan jejak perjalanan
Pasukan musuh menduga kuat bahwa Muhammad lari menuju madinah, maka mereka mengejar kearah utara kota makkah, namun diluar dugaan Nabi dan Abu bakar justru berjalan ke arah selatan, ini bukti Nabi menempuh ”siyasah” atau siasat perang dengan cara mengecoh musuh. Beliau bersembunyi di gua tsuur selama 3 hari. Bisa kita bayangkan kepanikan orang quraisy, bagaimana bisa muhammad dalam hitungan jam tidak dapat terdeteksi keberadaannya.

c.orang yang tepat untuk pekerjaan yang tepat pula
Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada sahabat,”ketahuilah sesungguhnya perang itu adalah tipu daya”, dan dalam proses hijrah itu nabi benar-benar mempraktekkannya, yaitu memakai ”orang-orangnya” untuk sebuah tugas khusus. Tiga hari digua tsuur tentu Nabi SAW butuh makanan dan minuman, bagaimana cara Nabi SAW mendapatkan suplai logistik tersebut? Adalah dengan cara melibatkan dua orang, pertama adalah Asma’ binti Abu Bakar yang tiap siang membawa makanan, dimana dalam hamil tua beliau berjalan sejauh 5 mil untuk membawa makanan, orang kedua adalah Amir bin fuhairah, seorang mantan budak yang sengaja mengembala kambing yang gemuk dekat dari gua tsuur agar air susunya bisa diminum oleh Rasulullah SAW dan Abu Bakar, sekaligus juga kambing-kambing itu akan menghapus jejak kaki dari Asma’ binti abu bakar sepanjang perjalanan.
Itu dari sisi logistik, karena ini adalah perang politik, maka akses data informasi sangat berharga disini, namun bagaimanakah cara agar Nabi bisa mengetahui seluruh gerak-gerik musuhnya walau beliau berada didalam gua tsuur sekalipun . Orang yang tepat untuk merekam semua aktivitas Quraisy adalah Abdullah bin Abu bakar, setiap sore menjelang malam, Abdullah berangkat menuju gua tsuur untuk melaporkan semua informasi yang didapatkannya kepada Nabi, ini yang dalam dunia intelejen disebut dengan spionase atau mata-mata. Mungkin kita bisa bertanya kenapa tidak Asma’ saja yang membawa informasi ini sekaligus pada saat membawa rantangan makan? Inilah nilai siyasah (politik) diantaranya yang beliau lakukan.
Masih ada satu lagi, yaitu akses jalan ke Madinah, Nabi SAW sadar persis bahwa semua akses jalan ke Madinah pasti akan dijaga ketat oleh pihak musuh, karena itu Nabi SAW memerlukan orang yang bisa menuntun jalan ke Madinah dengan menggunakan jalur jalan yang tidak lazim, dan orang yang dipakai Nabi SAW adalah Abdullah bin Uraiqith, seorang yang masih beragama jahiliyah, namun disini babnya bukan bab akidah, bahwa dalam perang sarana yang bisa memenangkan da’wah harus dimaksimalkan, walau itu harus memanfaatkan ”seorang” dari kalangan mana saja, yang jelasnya Nabi memberi upah setimpal kepadanya, dan Abdullah berkewajiban menuntun nabi sampai ke madinah, jadi ini murni bisnis jasa juga. Ulama sejarah lebih sering menyebutnya dengan istilah ”intifa’” (seni memanfaatkan musuh).

d.Usaha dulu baru tawakkal
Memang tipis antara ruang ikhtiar atau usaha dengan tawakkal, usaha adalah wilayah manusia namun tawakkal adalah wilayah Allah SWT. Proses hijrah ini memadukan keduanya dalam proposianal yang sebenarnya. Perencanaan Nabi yang begitu matang, mulai dari waktunya, orang-orang yang dilibatkan, sarana yang dipakai, antisipasi resiko perjalanan, pendek kata semua itu lahir dari wilayah ikhtiar kemanusiaan Nabi.Yang jelas Nabi mengeluarkan semua potensi bashariyah (kemanusiaan) untuk merencanakan kemenangan tersebut, intinya disitu.
Cobalah perhatikan, ketika beliau dan Abu Bakar bersembunyi digua tsuur, dan sehebat-hebatnya beliau merencanakan semua dengan matang, ketika hari ketiga persembunyian, tiba-tiba ada sekelompok pasukan berkuda musuh yang sampai juga memantau ke gua tsuur, ketika mereka telah berada dimulut gua untuk melihat kedalam, Abu Bakar berkata kepada Nabi Muhammad SAW,”Ya, Rasulullah sekiranya mereka melihat dan menunduk kebawah, niscaya kita akan ketahuan”?, Nabi menjawab, ”la,tahzaan, innallaha ma’ana ”, janganlah engkau takut karena Allah bersama kita. Inilah yang kita sebut tawakkal, dimana ketika kita telah mengeluarkan seluruh ikhtiar kita dan tidak ada lagi akal diatas itu, barulah jurus yang paling ampuh adalah tawakkal, dan disitulah nanti Allah menurunkan pertolongan-Nya, sehingga tawakkal adalah cara kita ”menggoda” Allah agar mau menolong kita.
Para pakar manajemen modern selalu mengatakan bahwa, kita memang percaya dengan ”perencanaan”, namun kita lebih yakin dengan ”ketidakpastian” . Semoga pelajaran hijrah dalam perpektif politik akan semakin mengantarkan kita kepada sebuah kesimpulan utama bahwa, memang kemenangan itu harus dimimpikan, kita punya banyak mimipi-mimpi kemenangan ditahun ini, namun yang pasti kita harus kita lakukan adalah mendatangkan semua faktor-faktor kemenangan tersebut dalam ikhtiar kita, nanti biar Allah yang menentukan bahwa kita memang layak untuk ditolong, memang layak untuk diberi kemenangan. SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1429 H