napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Jumat, 28 November 2008

Pengorbanan


,KETAATAN & KETUNDUKAN TOTAL
HAMBA KEPADA ALLAH SWT
( Sebuah reflkasi hikmah kisah Nabi Ibrahim as & Ismail as )
drg.Syukri Wahid





Setiap kali kita memasuki hari Iedul Adha maka seketika itu pula pikiran kita melayang jauh kebelakang mengenang potongan sejarah sekitar 5000 tahun yg lalu, yaitu kisah keteladanan seorang Hamba Allah Nabi Ibrahim as & keluarganya. Ibadah Haji yang dilakukan oleh kaum Muslimin hari ini pada hakikatnya merekonstruksi kejadian yang dialami oleh keluarga Ibrahim as.
Kisah Ibrahim as & keluarganya oleh Allah SWT dijadikan sebagai contoh tauladan bagi Rasulullah SAW & kita Ummatnya, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-mumtahanah : 4 ; ( “Sungguh, telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim & orang-orang yang bersamanyam). Maka tidak heran jika dalam doa Tasyahud Sholat kita, nama beliau kita sebut selain menyebut nama Nabi Muhammad SAW. Sehingga didalam Al-qur’an cerita tentang Nabi Ibrahim as terdapat di 14 surat, bahkan secara khusus ada satu surat bernama Ibrahim,
Kisah keteladanan tersebut didalam Al-quran secara gamblang Allah sampaikan dalam surat As-saffat : 99-111 & surat Ibrahim : 37. kita tidak akan pernah menceritakan beliau kecuali kita hanya mendapi beliau sebagai perintis jalan Tauhid & bapak pengorbanan , hingga Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dlm surat Ali Imran ; 95 : “ katakan (Muhammad), “benarlah (segala apa yg difirmankan) Allah, Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus & dia tidak termasuk orang yang Musyrik”.

Beberapa Hikmah yang bisa kita petik dalam peristiwa tersebut
a. Ketika Ibrahim meninggalkan hajar & Ismail disuatu lembah yang tandus & tidak ada pepohonan, beliau berdo’a kepada Allah ( ibrahim;37 :..Ya Tuhan, sungguhnya Aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yg dihormati. Ya Tuhan, agar mereka dapat mendirikan Salat, & jadukanlah hati sebagian manusia condong kepadanya & berilah mereka Rezki dari buah-buahan agar mereka bersukur.)
Inilah bukti bahwa kekuatan Orientasi keyakinan kepada Allah begitu kuat sehingga mengalahkan permintaan yang berbau materi ( makanan ), adalah wajar kalau dalam kondisi yg sangat gersang itu Nabi Ibrahim meminta doa yg paling pertama adalah permintaan makanan, tapi justru yang beliau minta agar mereka dapat menegakkan salat, bukti beliau lebih khawatir kalau keluarganya sudah tidak salat daripada tidak punya makanan & harta . Kehadiran mereka ditempat itu memberikan pengaruh sosial yang baik, karena beliau tidak menempatkan keluarganya disembarang lingkungan, tapi beliau menempatkan dekat Baitullah, Jadilah keluarganya sebagai “magnet kebaikan” sehingga ketandusan & kegersangan lokasi itu bermuara kepada kemakmuran. Coba lihatlah Negeri kita Indonesia adalah negeri yang kaya akan SDA & kesuburan tanahnya, tetapi keterpurukan & kemiskinan melanda kita, tapi uniknya Negara kita berprestasi dalam Korupsinya memang tidak ada satupun ayat dalam Al-quran yang menghubungkan antara kesuburan dengan kemakmuran, antara kesuburan dengan kesejahteraan, artinya negeri yang subur tidak otomatis menjadi makmur, bahkan sebaliknya kesuburan suatu negeri jika tidak disukuri akan menjadi malapetaka, An-nahl :112, “ Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) suatu negeri yg dahulunya aman lagi tentram, Rezeki dating kepadanya berlimpah ruah dari segenap tempat, Tetapi (penduduknya) mengingkari Nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana Kelaparan & ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat”.

Setelah meninggalkan dalam waktu yg lama Ibrahim as datang untuk menjenguk keluarganya, sebuah kerinduan yang amat sangat tentunya, tetapi ditengah kerinduannya kepada isteri & anak semata wayangnya, Allah kembali menguji keimanannya, apakah kecintaannya kepada harta yg paling berharga yang dimiliki yaitu putranya mengalahkan kecintaannya kepada Allah. Surat as-saffat :102 : maka ketika anakm itu telah sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata : Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi, melihat menyembelih dirimu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”. Diluar dugaan jawaban yang sangat takjub dari Ismail as, seraya mengatakan, “Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang bersabar.

Inilah gambaran, baik ayah maupun anak telah membuktikan kecintaan kepada Allah yang paling dalam, mereka sanggup meninggalkan cinta yang semu kepada cinta yang hakiki, mengorbankan apa yang ada dimiliknya
Sepertinya sulit kita mendapatkan struktur keluarga seperti ini ditengah arus Modernisasi, mungkin ada sang anak yang menghabiskan waktunya untuk bermain play station sampai lupa waktu salat & mengaji, atau ada seorang istri yg berat membangunkan suaminya yang kelelahan bekerja hingga tidak salat ashar, atau mungkin juga ada para suami yang tidak menegur istrinya menghabiskan waktu magribnya karena asyik nonton sinetron kesayangannya, Bagaimana mungkin kita bisa mengorbankan yang terbaik untuk Allah kalau hati kita masih berat ke Dunia.

Ketika proses penyembelihan itu akan dilaksanakan, ada permintaan ismail kepada ayahnya, Wahai ayahku, sebelum engkau menyembelihku aku minta 4 hal
Ikatlah tubuhku dengan tali kuat-kuat, agar ketika engkau menyembelihku aku tidak berontak yg justru menghambatmu
Bukalah pakaianku, agar darahku tidak mengotorimu yg membuat pahalaku berkurang
Tajamkanlah parangmu & dipercepat kematianku, agar aku tidak lama menahan sakit
sampaikan salamku pada ibuku, dan berikanlah bajuku agar sewaktu-waktu dia rindu kepadaku dia bisa melihat bajuku
dalam Surat as-saffat : 103 : “ ketika, keduanya telah berserah diri & dia Ibrahim membaringkan anaknya diatas pelipisnya, Lalu Allah memanggil, ya Ibrahim. Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu, sungguh demikinalah kami memberi balasan bagi orang-orang yang berbuat baik”., lantas Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing yang gemuk.
· Hikmah digantinya Ismail as dengan seekor kambing gemuk, memberikan isyarat kepada kita bahwa Allah SWT tidak ingin seorang hamba yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya harus mengorbankan orang lain apalagi sampai adanya darah yang tumpah. Allah ingin mengatakan kepada kita jangan kalian mengatasnamakan beribadah kepada-Ku dengan cara mengorbankan orang lain, Allah tidak ingin dikotori perbuatan-perbuatan seperti itu, tetapi mengapa manusia sekarang begitu gampang mengorbankan satu ismail. Dua, sepuluh, ratusan bahkan mungkin ribuan ismail untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Tidak ada komentar: