Antara Makkah dan Madinah
Oleh : Syukri Wahid,drg
Jika kita membahas sejarah perkembangan Islam, maka kita akan selalu membahas dari dua tempat yang bersejarah yaitu kota Makkah dan Madinah, karena memang disanalah Islam dan pembawa risalah ini lahir dan pertamakali tumbuh , berkembang dan kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia, sampai Islam itu masuk kepersada Nusantara ini. Dua tempat ini pula yang kemudian menjadi model “alas” dimana pertama kali Islam dan syariatnya dibumikan.Di tempat ini pulalah sebagian besar atau hampir semuanya Firman Allah SWT diturunkan, karenanya kota ini pulalah yang kemudian mendorong para ulama al qur’an terdahulu mengklasifikasikan ayat-ayat yang turun salah satunya berdasarkan tempat diturunkannya, ayat makkiyah dan ayat madaniyah.
Karena Tahapan Da’wah
Dua tempat ini juga yang menjadikan tahapan da’wah Nabi Muhammad SAW menjadi dua periode besar, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Sebagaimana tema-tema ayat al quran yang turun di kedua tempat sangat berbeda, ayat-ayat Makkah bersifat doktrin yang sangat ketat, motifasi-motifasi langit begitu kuat disini, kisah umat terdahulu sebagai bahan referensi peradaban banyak turun disini, maka ayat-ayat Madinah lebih bersifat hukum dan aturan, kaidah-kaidah sosial muamalah dan lain-lainnya. Begitu juga dengan tahapan da’wah Nabi, tahapan da’wah Makkah tidak lepas dari tema-tema ayat makkah, maka judul da’wah Islam di Makkah adalah “ta’siis ad da’wah atau peletakan basis da’wah, tahapan ini lebih fokus kepada “binaa syakhsiyah Islamiyyah wa dda’iyyah“ atau fokus terbesar da’wah Nabi adalah mencetak generasi terbaik yang Islami dan menyiapkannya menjadi “agen perubah” masyarakat.
Ciri lainnya adalah “nasrul fikrah” atau penyebaran nilai-nilai luhur Islam dengan cara yang santun dan menjauhi konfrontatif langsung dengan musuh-musuh da’wah pada saat itu, yah itulah makkah, namun judul da’wah Nabi di Madinah adalah era “melembagakan da’wah” dalam bentuk institusi kekuatan yang bernama Negara, dimana Negara ini akan berfungsi sebagai alat untuk menjalankan “kehendak-kehandak Allah SWT” atau syariat diatas bumi ini, karena itu pulalah distribusi kader da’wah untuk mengisi pos-pos Negara menjadi niscaya disini. Sehingga ustadz Anis matta dalam bukunya “dari gerakan ke Negara” mengatakan bahwa da’wah di Makkah adalah dimana Islam mengindividu dan memasyarakat namun da’wah di Madinah adalah dimana Islam telah menegara. Hal ini sekaligus mengatakan kepada kita bahwa Islam bukanlah agama yang hanya tegak dalam nilai-nilai pribadi namun juga harus tegak dalam nilai-nilai kekuasaan kenegaraan.
Dari rahim dua kota ini juga telah melahirkan dua generasi emas yang menjadi buah bibir sejarah selama 1 milenium lebih sebelum runtuhnya kekhilafahan Utsmani di Turki, yah… itulah mereka generasi Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Yastrib (sebelum dirubah menjadi madinah) yang menampung orang muslim Quraisy dikota mereka, madinah. Dua komunitas ini disatukan oleh Nabi Muhammad SAW dari komunitas nasab antara Quraisy & Yastrib menjadi komunitas ideologi yaitu Muhajirin dan Anshar, dari sekedar ikatan suku menjadi ikatan agama, tanpa menghilangkan karakter suku masing-masing tentunya, namun begitulah adanya bahwa dua generasi dari dua kota yang berbeda ini bertemu menjadi satu dan berhasil membentuk pola interaksi sinergi positif dalam segala hal.
Kaum Muhajirin sebagian besar mereka adalah “pebisnis” yang handal, mereka juga adalah marketer yang unggul, sehingga Allah mengabadikan perilaku bisnis mereka dalam surat al Quraisy ayat dua, ”iilaa fihim rihlatassyitaai wa sshoif”, yaitu kebiasaan mereka (Quraisy) berpergian bisnis pada musim dingin dan panas. Kota Makkah tidak memiliki produk unggulan, satu-satunya yang menguntungkan kota Makkah adalah sebagai kota jasa dan kedudukannya sebagai “kota wisata spiritual” dimana tiap musim haji dipastikan banyak orang dari penjuru Arab mendatangi Makkah untuk melakukan ritual Haji, hal ini berkonsekuensi kepada hadirnya pasar-pasar tahunan yang membangkitkan ekonomi Makkah.
Sebaliknya kota Madinah adalah kota agraris, sebagian besar penduduknya adalah petani gandum dan kurma. Sehingga sahabat Anshar juga sebagian besar adalah petani, karakter masyarakat petani tentulah tidak sama dengan masyarakat pedagang. Hijrah berhasil mempertemukan dua potensi ekonomi besar yaitu, bertemunya petani dengan penjual, bertemunya produk dengan pasar, sehingga sahabat Anshar yang selama ini kesulitan dalam hal jalur penjualan hasil panen mereka, maka sahabat muhajirinlah yang akan menjualkan hasil panen mereka, tidak mengherankan jika dalam waktu satu bulan Nabi di Madinah, sahabat muhajirin berhasil membangun pasar baru dan para petani anshar tidak tergantung lagi dengan pasar kaum Yahudi pada saat itu. Antara Makkah dan Madinah dihubungkan dan disatukan secara erat oleh Nabi lewat momentum Hijrah beliau yang terkenal itu, namun secara nasab dan psikis beliau dihubungkan lewat silsilah ayah beliau, Abdullah bin Abdul muthalib yang lahir dikota yastrib, dan rajin “transit” dikota madinah dalam setiap perjalanan bisnis ke negeri Syam, bahkan ayah Nabi SAW tersebut meninggal di daerah Quba, yastrib dan dimakamkan disana. Sehingga ketika beliau hijrah ke madinah.
Ketika penaklukkan kota Makkah tahun dan perang Hunain pada tahun 8 H, Nabi Muhammad SAW mendapatkan harta ganimah (rampasan perang) yang sangat banyak, dan beliau membagikan semuanya kepada penduduk Makah, khususnya kepada mereka yang baru masuk kepada Islam (mu’allaf), pada saat itu tidak satupun sahabat Anshar kebagian ganimah, mulailah mereka mengatakan, “ bahwa kini Nabi sudah kembali ke kaumnya(penduduk makkah)”, mungkin Nabi tidak lagi ke madinah, itu ungkapan hati penduduk madinah. Kemudian Nabi mengatakan kepada sahabat Anshar, “ wahai sahabat Anshar, apakah kalian ridho jika mereka pulang ke makkah membawa unta & kuda, sedangkan kalian pulang membawa diriku ke madinah?, sekiranya bukan karena Hijrah aku bukanlah bagian dari orang Anshar, ketahuilah jika disebuah bukit yang bercelah ada dua kaum yang berjalan, dan satu adalah jalannya kaum Anshar, demi Allah aku akan memilih jalan yang dilalui oleh orang Anshar, Ya Allah ampunilah orang Anshar, rahmatilah mereka dan keturunannya”.
Oleh : Syukri Wahid,drg
Jika kita membahas sejarah perkembangan Islam, maka kita akan selalu membahas dari dua tempat yang bersejarah yaitu kota Makkah dan Madinah, karena memang disanalah Islam dan pembawa risalah ini lahir dan pertamakali tumbuh , berkembang dan kemudian menyebar keseluruh penjuru dunia, sampai Islam itu masuk kepersada Nusantara ini. Dua tempat ini pula yang kemudian menjadi model “alas” dimana pertama kali Islam dan syariatnya dibumikan.Di tempat ini pulalah sebagian besar atau hampir semuanya Firman Allah SWT diturunkan, karenanya kota ini pulalah yang kemudian mendorong para ulama al qur’an terdahulu mengklasifikasikan ayat-ayat yang turun salah satunya berdasarkan tempat diturunkannya, ayat makkiyah dan ayat madaniyah.
Karena Tahapan Da’wah
Dua tempat ini juga yang menjadikan tahapan da’wah Nabi Muhammad SAW menjadi dua periode besar, yaitu periode Makkah dan periode Madinah. Sebagaimana tema-tema ayat al quran yang turun di kedua tempat sangat berbeda, ayat-ayat Makkah bersifat doktrin yang sangat ketat, motifasi-motifasi langit begitu kuat disini, kisah umat terdahulu sebagai bahan referensi peradaban banyak turun disini, maka ayat-ayat Madinah lebih bersifat hukum dan aturan, kaidah-kaidah sosial muamalah dan lain-lainnya. Begitu juga dengan tahapan da’wah Nabi, tahapan da’wah Makkah tidak lepas dari tema-tema ayat makkah, maka judul da’wah Islam di Makkah adalah “ta’siis ad da’wah atau peletakan basis da’wah, tahapan ini lebih fokus kepada “binaa syakhsiyah Islamiyyah wa dda’iyyah“ atau fokus terbesar da’wah Nabi adalah mencetak generasi terbaik yang Islami dan menyiapkannya menjadi “agen perubah” masyarakat.
Ciri lainnya adalah “nasrul fikrah” atau penyebaran nilai-nilai luhur Islam dengan cara yang santun dan menjauhi konfrontatif langsung dengan musuh-musuh da’wah pada saat itu, yah itulah makkah, namun judul da’wah Nabi di Madinah adalah era “melembagakan da’wah” dalam bentuk institusi kekuatan yang bernama Negara, dimana Negara ini akan berfungsi sebagai alat untuk menjalankan “kehendak-kehandak Allah SWT” atau syariat diatas bumi ini, karena itu pulalah distribusi kader da’wah untuk mengisi pos-pos Negara menjadi niscaya disini. Sehingga ustadz Anis matta dalam bukunya “dari gerakan ke Negara” mengatakan bahwa da’wah di Makkah adalah dimana Islam mengindividu dan memasyarakat namun da’wah di Madinah adalah dimana Islam telah menegara. Hal ini sekaligus mengatakan kepada kita bahwa Islam bukanlah agama yang hanya tegak dalam nilai-nilai pribadi namun juga harus tegak dalam nilai-nilai kekuasaan kenegaraan.
Dari rahim dua kota ini juga telah melahirkan dua generasi emas yang menjadi buah bibir sejarah selama 1 milenium lebih sebelum runtuhnya kekhilafahan Utsmani di Turki, yah… itulah mereka generasi Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Quraisy yang hijrah dari Makkah ke Madinah, sedangkan Anshar adalah kata yang menggantikan kaum muslimin Yastrib (sebelum dirubah menjadi madinah) yang menampung orang muslim Quraisy dikota mereka, madinah. Dua komunitas ini disatukan oleh Nabi Muhammad SAW dari komunitas nasab antara Quraisy & Yastrib menjadi komunitas ideologi yaitu Muhajirin dan Anshar, dari sekedar ikatan suku menjadi ikatan agama, tanpa menghilangkan karakter suku masing-masing tentunya, namun begitulah adanya bahwa dua generasi dari dua kota yang berbeda ini bertemu menjadi satu dan berhasil membentuk pola interaksi sinergi positif dalam segala hal.
Kaum Muhajirin sebagian besar mereka adalah “pebisnis” yang handal, mereka juga adalah marketer yang unggul, sehingga Allah mengabadikan perilaku bisnis mereka dalam surat al Quraisy ayat dua, ”iilaa fihim rihlatassyitaai wa sshoif”, yaitu kebiasaan mereka (Quraisy) berpergian bisnis pada musim dingin dan panas. Kota Makkah tidak memiliki produk unggulan, satu-satunya yang menguntungkan kota Makkah adalah sebagai kota jasa dan kedudukannya sebagai “kota wisata spiritual” dimana tiap musim haji dipastikan banyak orang dari penjuru Arab mendatangi Makkah untuk melakukan ritual Haji, hal ini berkonsekuensi kepada hadirnya pasar-pasar tahunan yang membangkitkan ekonomi Makkah.
Sebaliknya kota Madinah adalah kota agraris, sebagian besar penduduknya adalah petani gandum dan kurma. Sehingga sahabat Anshar juga sebagian besar adalah petani, karakter masyarakat petani tentulah tidak sama dengan masyarakat pedagang. Hijrah berhasil mempertemukan dua potensi ekonomi besar yaitu, bertemunya petani dengan penjual, bertemunya produk dengan pasar, sehingga sahabat Anshar yang selama ini kesulitan dalam hal jalur penjualan hasil panen mereka, maka sahabat muhajirinlah yang akan menjualkan hasil panen mereka, tidak mengherankan jika dalam waktu satu bulan Nabi di Madinah, sahabat muhajirin berhasil membangun pasar baru dan para petani anshar tidak tergantung lagi dengan pasar kaum Yahudi pada saat itu. Antara Makkah dan Madinah dihubungkan dan disatukan secara erat oleh Nabi lewat momentum Hijrah beliau yang terkenal itu, namun secara nasab dan psikis beliau dihubungkan lewat silsilah ayah beliau, Abdullah bin Abdul muthalib yang lahir dikota yastrib, dan rajin “transit” dikota madinah dalam setiap perjalanan bisnis ke negeri Syam, bahkan ayah Nabi SAW tersebut meninggal di daerah Quba, yastrib dan dimakamkan disana. Sehingga ketika beliau hijrah ke madinah.
Ketika penaklukkan kota Makkah tahun dan perang Hunain pada tahun 8 H, Nabi Muhammad SAW mendapatkan harta ganimah (rampasan perang) yang sangat banyak, dan beliau membagikan semuanya kepada penduduk Makah, khususnya kepada mereka yang baru masuk kepada Islam (mu’allaf), pada saat itu tidak satupun sahabat Anshar kebagian ganimah, mulailah mereka mengatakan, “ bahwa kini Nabi sudah kembali ke kaumnya(penduduk makkah)”, mungkin Nabi tidak lagi ke madinah, itu ungkapan hati penduduk madinah. Kemudian Nabi mengatakan kepada sahabat Anshar, “ wahai sahabat Anshar, apakah kalian ridho jika mereka pulang ke makkah membawa unta & kuda, sedangkan kalian pulang membawa diriku ke madinah?, sekiranya bukan karena Hijrah aku bukanlah bagian dari orang Anshar, ketahuilah jika disebuah bukit yang bercelah ada dua kaum yang berjalan, dan satu adalah jalannya kaum Anshar, demi Allah aku akan memilih jalan yang dilalui oleh orang Anshar, Ya Allah ampunilah orang Anshar, rahmatilah mereka dan keturunannya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar