napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Selasa, 07 Oktober 2008

Saat-Saat kritis dalam sejarah (2)

Saat-saat kritis dalam sejarah 2
(ujian pemerintahan Abu bakar ra)
drg.Syukri Wahid

Dari sekian banyak permasalahan pemerintahan yang melanda sebuah bangsa , tidak ada yang lebih sulit dari mengatasi masalah yang mengancam integrasi kedaulatan bangsa tersebut, sebab umur sebuah pemerintahan salah satunya diukur dari intergritas politik & kewilayahannya, desintegrasi mengancam kewibawaan sebuah pemerintahan. Semakin solid sebuah bangsa mempertahankan keutuhannya, maka semakin berwibawa dia dihadapan pergaulan dunia. Masalah inilah yang pernah dialami oleh khalifah Abu bakar sebagai khalifah pertama dalam mata rantai pemerintahan Rasulillah SAW, sebuah ujian tengah melanda kepemimpinan baru yang beliau pimpin, ancaman tersebut datang ingin menguji “nyali” khalifah Abu bakar sebagai seorang pemimpin.
Dalam setiap pergantian kepemimpinan biasanya akan terjadi kegoncangan dalam masyarakat, belum lepas ujian yang pertama menimpa khalifah abu bakar tentang , siapa yang berhak menjadi pengganti Rasulullah SAW, maka kini ujian yang lebih sulit lagi yaitu, adanya gerakan dari beberapa daerah yang melakukan murtad (keluar dari Islam) dan keengganan kaum muslimin untuk membayar zakat. Murtad memberikan konsekuensi tentang lepasnya ikatan ideologis pada tubuh pemerintahan Abu bakar, dan ini adalah awal dari lepasnya simpul teritorial. Beliau menyadari betul akan konsekuansi dari masalah ini, apalagi konsekuensi masalah ini akan membangun image yang negative pemerintahan beliau dan jika belia tidak segera menyelesaikannya, maka akan mengundang intervensi negara lain pada waktu itu seperti Romawi dan Persia untuk menyerang jantung pemerintahan Islam saat itu, jadi instabilitas dalam negeri akan mengundang pihak luar untuk melakukan serangan.
Selain itu muncul dibeberapa tempat tokoh-tokoh yang menyatakan dirinya adalah Nabi, dan ini terjadi hamper disebelas tempat, nama yang terkenal adalah Musaillamah al kadzaab. Tokoh ini bisa menjadi magnet perlawanan didaerahnya masing-masing, padahal sebelumnya daerah tersebut adalah penduduk yang tealah menyatakan keislamannya dan komitmennya bersama da’wah Rasulullah SAW, maka wibawa pemerintahan harus ditegakkan terhadap semua upaya untuk melakukan tindakan makar yang mengancam integrasi wilayah sebuah Negara.

Komitmen dalam tekad
Setelah menganalisa dan menimbang masalah ini, maka beliau memanggil sahabat dekatnya yaitu Umar bin Khattab untuk sharing pendapat, pembaca sekalian, apa yang disampaikan Abu bakar kepada sahabat Umar saat itu, adalah keinginan beliau untuk mengangkat senjata dan memerangi para murtaddin (kaum yang murtad) serta mereka yang enggan membayar Zakat, dengan ungkapan beliau,”bahwa aku akan tegas memerangi otang yang coba memisahkan antara sholat dan zakat”.
Setelah mendengar penjelasan Abu Bakar, reaksi Umar bin khattab justru bertolak belakang, ternyata Umar tidak setuju dengan pendapat sang Khalifah Abu bakar, Umar mengatakan,” Wahai,,,Abu bakar, menagapa engkau tidak bermurah hati dan berhati lembut bagi mereka, karena kita mengetahui mereka itu bagaikan binatany buas”. Seketika itu juga Abu bakar menjawab ungkapan Umar sebagai berikut,” Aku datang kesini untuk meminta bantuanmu, namun aku melihat pengkhianatan dirimu wahai Umar,,” dengan ungkapan berani beliau mengatakan, kepada Umar, “Wahai,,,Umar mengapa engkau yang dahulu terkenal kuat/jawara/jagoan/pemberani dijaman jahiliyyah, kini tiba-tiba menjadi pengecut di zaman Islam”, seraya diatas kuda dan memegang jenggot Umar saat itu, Abu bakar berkata lagi dengan nada tinggi, ” jika tidak ada kaum muslimin yang berangkat, maka aku seorang dirilah yang akan mengangkat memerangi mereka”. “Fawallahi maa huwa illa an raiyyatu an qad sarahallahu shadraha Abi bakrin lilqitaal, arraftu innahu al haq”. Demi Allah, seketika itu juga aku melihat apa yang ada pada dirinya kecuali Allah telah melapangkan dada Abu bakar untuk berjihad, saya sungguh mengetahui bahwa kebenaran ada bersama dia.
Dan beliau membuktikan kata-kata tersebut, diujung kota Madinah Abu bakar sudah menyiapkan dirinya, maka buru-burulah para sahabat untuk mencegah keberangkatannya, kali itu sayyidina Ali merayu beliau, “wahai khalifah, cukuplah dirimu bagi kami, karena sarungkanlah pedangmu dan biarkanlah kami yang berangkat”. Maka dari sikap beliau itulah dibentuk 12 tim pasukan yang dikirim ke daerah-daerah yang terjadi gerakan murtad dan keengganan membayar zakat, diantara panglima-panglima yang diangkat beliau adalah ‘amru bin ash, ikrimah bin abu jahal ke wilayah daerah yaman , serta Khalid bin Walid yang sampai ke wilayah yamamah dan pasukannya berhasil membunuh Musaillamah al kadzaab.
Sikap beliau untuk senantiasa memiliki komitmen dengan keputusan, sepertinya didapat dari sang guru beliau dan ummat ini, yaitu baginda Nabi Muhammad SAW, masih ingatkah kita ketika hasil keputusan musyawarah untuk menetapkan agar kaum Muslimin berperang diluar kota Madinah pada perang uhud tahun 3 Hijriyah, mayoritas sahabat, terutama kalangan anak muda ingin offensive, agar menyambut musuh diluar kota, dan Nabi mengikuti pendapat mayoritas saat itu. Apa yang terjadi besok paginya, para utusan anak muda mendatangi Nabi dirumahnya, dan kali itu para anak muda meminta maaf karena rapat tadi malam seolah-olah merekalah yang memaksa Nabi sehingga harus berperang di luar kota Madinah, padahal Nabi sejak awal meminta agar perang dilakukan didalam kota saja. Pembaca sekalian,,,apa jawaban Nabi saat itu,” ketahuilah sahabatku, tidaklah pantas bagi seorang Nabi yang telah memakai baju perangnya kemudian dia melepasnya lagi, demi Allah aku akan menyongsong musuh-musuhku diluar kota Madinah”, yah itulah jawaban yang melambangkan kemauan, tekad sekaligus keistiqomahan.

Tidak ada komentar: