
Misi rombongan Haji itu…
(catatan ketika Abu Bakar menjadi ‘amirul Hajj pertama)
Setelah pulang dari perjalanan perang tabuk yang begitu melelahkan, Nabi dan kaum muslimin menghabiskan waktunya pada sisa bulan ramadhan tahun itu. Menjelang masuknya bulan Haji dzulhijjah tahun 9 H, Nabi SAW berkeinginan mengirim rombongan kaum muslimin untuk melakukan ibadah Haji perdana. Ibadah Haji yang sesuai dengan “versi” Islam., karena sampai tahun itu juga masih banyak kabilah-kabilah Arab yang mendatangi Makkah melakukan ibadah Haji dengan cara yang batil, diantaranya mereka bertawaf dalam keadaan tidak berpakaian. Padahal sejak paska penaklukan kota Makkah tahun 8 H, sebenarnya Nabi telah menguasai kota Makkah seluruhnya, bahkan patung-patung berhala sejumlah 360an dihancurkan langsung oleh beliau, tentu beliau sangat mudah memiliki hak untuk melarang praktek Haji seperti itu, namun Nabi belum melakukannya.
Maka, dengan penuh nasihat beliau melepas rombongan Haji perdana tersebut dan mengangkat Abu Bakar siddiq ra sebagai ‘amiirul Hajj atau ketua rombongan haji, disertai kurang lebih 300 sahabat yang membawa 20 ekor hadyu (hewan kurban). Abu bakar mendapat tugas khusus yang begitu istimewa karena beliau menjadi wakil Nabi untuk melakukan ibadah Haji dengan versi syariat Islam, tentu akan menjadi sebuah pemandangan yang kontras nanti dalam ibadah yang tersebut, kaum muslimin dengan versinya sedangkan orang musyrik dengan versinya sendiri. Itu adalah misinya Abu bakar.
Ketika rombongan Abu Bakar telah berangkat, maka turunlah permulaan surat at taubah ayat 1 sampai 6, dimana Allah SWT telah membuat sebuah garis penegasan dengan perintah untuk berlepas diri atau memutus semua hubungan dengan orang-orang musyrik dan semua bentuk perjanjian antara kaum muslimin dengan pihak musyrik pada saat itu, dan kaum musyrik yang belum memiliki hubungan perjanjian dengan kaum muslimin diberi tempo 4 bulan untuk berpikir. Sehingga ayat ini memeberikan misi baru kepada Nabi untuk segera menyampaikan kepada pihak musyrik makkah khususnya, maka mengangkat delegasi khusus dengan misi menyampaikan isi surat at taubah tersebut pada seluruh jama’ah Haji pada hari nahar atau hari melontar jumrah, maka Ali bin Abu Thaliblah orang yang ditunjuk Nabi untuk tugas ini.
Ketika Abu bakar melihat Ali menyusulnya, maka beliau mengatakan kepada Ali, “wahai Ali, apakah kedatanganmu ini untuk memimpin atau dipimpin?, maka Ali menjawab,”bahkan, aku dipimpin”, maka bergabunglah rombongan tersebut dengan 2 misi yang berbeda. Abu bakar berangkat dengan misi mencontohkan syiar-syiar Haji yang benar menurut Islam sedangkan Ali bin Abu thalib berangkat dengan misi menyampaikan keputusan Allah SWT yang terdapat dalam surat at taubah. Yang jelasnya bahwa misi ini dieksekusi oleh orang terbaik dari ummat ini setelah Nabi SAW, Abu bakar adalah orang yang paling dicintai Rasulullah SAW, ketikan seorang sahabat bertanya ,”man ahabba an naasa ilaika, ya Rasulallah? Siapakah dari kalangan manusia yang engkau cintai, ya Rasulullah ? Beliau menjawab,” ‘Aisyah, kemudian sahabat memperjelas lagi, minar rijaal? kalau dari kalangan laki-laki?, beliau ,menjawab ”Abuuha”, ayahnya ‘Aisyah (Abu bakar). Begitu juga dengan Ali bin Abu thalib seorang yang ‘alim dan faqih dari ummat ini, sehingga Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya Ali selalu bersama al quran dan al quran selalu bersama Ali, dan keduanya tidak akan berpisah sampai kematiannya”.
Keberhasilan sebuah misi
Rangkaian ibadah Haji berjalan sebagaimana keinginan Abu bakar, memang pada saat itu mayoritas jama’ah haji berasal dari kaum muslimin, sehingga menjadi arus dominan dibandingkan jamaah dari kabilah yang lain. Peletakan syariat syiar Haji begitu penting dalam kehidupan ibadah kaum muslimin waktu itu, apatah lagi Haji adalah merupakan rukun ke lima dalam Islam. Islam menghapus beberapa rangkaian kebiasaan orang musyrik pada waktu berhaji, diantaranya adalah jika mereka melakukan tawap dengan cara tidak memakai busana, bahkan diantara mereka ada yang bertawaf dengan telanjang bulat, mereka mengatakan, “ bahwa kami melakukan tawaf menghadap Allah dengan cara tidak berpakaian sebagaimana kami lahir dari perut ibu kami dalam keadaan telanjang”.
Ultimatum Ideologi
Ketika hari melakukan wukuf telah tiba, dan berkumpulah disana semua jama’ah haji, baik dari kaum muslimin maupun mereka yang masih musyrik, itulah kesempatan yang tepat bagi Ali bin Abu thalib yang juga ditugaskan untuk menyampaikan “misi” dari Rasulillah SAW. Dengan suara yang lantang dihadapan semuanya, beliau mengatakan , ”dengarkanlah kalian semua,” sesungguhnya orang kafir akan masuk kedalam neraka jahannam semuanya, setelah tahun ini tidak boleh lagi orang musyrik melaksanakan ibadah Haji dan melakukan tawaf dengan telanjang, bagi kabilah/suku yang masih terikat perjanjian dengan kaum muslimin diperbolehkan untuk dilanjutkan sampai waktu yang telah ditentukan bersama dan bagi kabilah/suku yang belum memiliki perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan dan jika mereka tetap memilih keyakinan lamanya, maka mohon segera meninggalkan kota makkah dan mencari tempat yang lebih aman”.
Singkat tapi padat, pendek tapi lugas, dia adalah pidato sekaligus keputusan. Kira-kira apa yang ada dalam benak jama’ah haji musyrikin pada saat itu, apa kemudian mereka melakukan kerusuhan tiba-tiba dalam rombongan haji tersebut? Kalimat itu kelihatannya ”keras” namun apa yang membuat mereka dengan lapang dada menerima itu semuanya.
”waktu untuk belajar”
Yang menarik disini adalah pada poin ”ikatan perjanjian”, bahwa kabilah atau suku yang masih berjalan waktu perjanjiannya dengan kaum muslimin tidak akan dibatalkan sampai batas waktu perjanjian tersebut, Nabi tidak membatalkan sepihak, walaupun posisi kaum muslimin sudah menjadi ”penguasa” saat itu. Ini sebuah bentuk pealajaran tersendiri bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan selalu umatnya untuk menjaga dan komitmen kepada semua kesepakatan bahkan kepada kaum musyrik sekalipun, berkuasa tidaklah mendorong beliau untuk menindas apalagi menzalimi orang lain, dan mereka dipersilahkan dengan keyakinan mereka.
Apakah ini adalah keputusan tanpa pilihan? mari kita lihat pada poin setiap suku/kabilah yang belum memiliki ikatan perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan untuk berpikir, dan maksud dibiarkan berpikir ini juga mengandung pelajaran bahwa aspek pemahaman begitu penting, jangan ada unsur pemaksaan kepada umat lain. Tidak ada pemaksaan untuk masuk kedalam ajaran Islam. Islam menhendaki setiap pemeluknya untuk menjadikan dasar-dasar bergabungnya dia kedalam Islam karena faktor pengetahuan dan pemahaman, bukan karena faktor lingkungan dan dorongan emosianal saja.
(catatan ketika Abu Bakar menjadi ‘amirul Hajj pertama)
Setelah pulang dari perjalanan perang tabuk yang begitu melelahkan, Nabi dan kaum muslimin menghabiskan waktunya pada sisa bulan ramadhan tahun itu. Menjelang masuknya bulan Haji dzulhijjah tahun 9 H, Nabi SAW berkeinginan mengirim rombongan kaum muslimin untuk melakukan ibadah Haji perdana. Ibadah Haji yang sesuai dengan “versi” Islam., karena sampai tahun itu juga masih banyak kabilah-kabilah Arab yang mendatangi Makkah melakukan ibadah Haji dengan cara yang batil, diantaranya mereka bertawaf dalam keadaan tidak berpakaian. Padahal sejak paska penaklukan kota Makkah tahun 8 H, sebenarnya Nabi telah menguasai kota Makkah seluruhnya, bahkan patung-patung berhala sejumlah 360an dihancurkan langsung oleh beliau, tentu beliau sangat mudah memiliki hak untuk melarang praktek Haji seperti itu, namun Nabi belum melakukannya.
Maka, dengan penuh nasihat beliau melepas rombongan Haji perdana tersebut dan mengangkat Abu Bakar siddiq ra sebagai ‘amiirul Hajj atau ketua rombongan haji, disertai kurang lebih 300 sahabat yang membawa 20 ekor hadyu (hewan kurban). Abu bakar mendapat tugas khusus yang begitu istimewa karena beliau menjadi wakil Nabi untuk melakukan ibadah Haji dengan versi syariat Islam, tentu akan menjadi sebuah pemandangan yang kontras nanti dalam ibadah yang tersebut, kaum muslimin dengan versinya sedangkan orang musyrik dengan versinya sendiri. Itu adalah misinya Abu bakar.
Ketika rombongan Abu Bakar telah berangkat, maka turunlah permulaan surat at taubah ayat 1 sampai 6, dimana Allah SWT telah membuat sebuah garis penegasan dengan perintah untuk berlepas diri atau memutus semua hubungan dengan orang-orang musyrik dan semua bentuk perjanjian antara kaum muslimin dengan pihak musyrik pada saat itu, dan kaum musyrik yang belum memiliki hubungan perjanjian dengan kaum muslimin diberi tempo 4 bulan untuk berpikir. Sehingga ayat ini memeberikan misi baru kepada Nabi untuk segera menyampaikan kepada pihak musyrik makkah khususnya, maka mengangkat delegasi khusus dengan misi menyampaikan isi surat at taubah tersebut pada seluruh jama’ah Haji pada hari nahar atau hari melontar jumrah, maka Ali bin Abu Thaliblah orang yang ditunjuk Nabi untuk tugas ini.
Ketika Abu bakar melihat Ali menyusulnya, maka beliau mengatakan kepada Ali, “wahai Ali, apakah kedatanganmu ini untuk memimpin atau dipimpin?, maka Ali menjawab,”bahkan, aku dipimpin”, maka bergabunglah rombongan tersebut dengan 2 misi yang berbeda. Abu bakar berangkat dengan misi mencontohkan syiar-syiar Haji yang benar menurut Islam sedangkan Ali bin Abu thalib berangkat dengan misi menyampaikan keputusan Allah SWT yang terdapat dalam surat at taubah. Yang jelasnya bahwa misi ini dieksekusi oleh orang terbaik dari ummat ini setelah Nabi SAW, Abu bakar adalah orang yang paling dicintai Rasulullah SAW, ketikan seorang sahabat bertanya ,”man ahabba an naasa ilaika, ya Rasulallah? Siapakah dari kalangan manusia yang engkau cintai, ya Rasulullah ? Beliau menjawab,” ‘Aisyah, kemudian sahabat memperjelas lagi, minar rijaal? kalau dari kalangan laki-laki?, beliau ,menjawab ”Abuuha”, ayahnya ‘Aisyah (Abu bakar). Begitu juga dengan Ali bin Abu thalib seorang yang ‘alim dan faqih dari ummat ini, sehingga Rasulullah SAW bersabda,” Sesungguhnya Ali selalu bersama al quran dan al quran selalu bersama Ali, dan keduanya tidak akan berpisah sampai kematiannya”.
Keberhasilan sebuah misi
Rangkaian ibadah Haji berjalan sebagaimana keinginan Abu bakar, memang pada saat itu mayoritas jama’ah haji berasal dari kaum muslimin, sehingga menjadi arus dominan dibandingkan jamaah dari kabilah yang lain. Peletakan syariat syiar Haji begitu penting dalam kehidupan ibadah kaum muslimin waktu itu, apatah lagi Haji adalah merupakan rukun ke lima dalam Islam. Islam menghapus beberapa rangkaian kebiasaan orang musyrik pada waktu berhaji, diantaranya adalah jika mereka melakukan tawap dengan cara tidak memakai busana, bahkan diantara mereka ada yang bertawaf dengan telanjang bulat, mereka mengatakan, “ bahwa kami melakukan tawaf menghadap Allah dengan cara tidak berpakaian sebagaimana kami lahir dari perut ibu kami dalam keadaan telanjang”.
Ultimatum Ideologi
Ketika hari melakukan wukuf telah tiba, dan berkumpulah disana semua jama’ah haji, baik dari kaum muslimin maupun mereka yang masih musyrik, itulah kesempatan yang tepat bagi Ali bin Abu thalib yang juga ditugaskan untuk menyampaikan “misi” dari Rasulillah SAW. Dengan suara yang lantang dihadapan semuanya, beliau mengatakan , ”dengarkanlah kalian semua,” sesungguhnya orang kafir akan masuk kedalam neraka jahannam semuanya, setelah tahun ini tidak boleh lagi orang musyrik melaksanakan ibadah Haji dan melakukan tawaf dengan telanjang, bagi kabilah/suku yang masih terikat perjanjian dengan kaum muslimin diperbolehkan untuk dilanjutkan sampai waktu yang telah ditentukan bersama dan bagi kabilah/suku yang belum memiliki perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan dan jika mereka tetap memilih keyakinan lamanya, maka mohon segera meninggalkan kota makkah dan mencari tempat yang lebih aman”.
Singkat tapi padat, pendek tapi lugas, dia adalah pidato sekaligus keputusan. Kira-kira apa yang ada dalam benak jama’ah haji musyrikin pada saat itu, apa kemudian mereka melakukan kerusuhan tiba-tiba dalam rombongan haji tersebut? Kalimat itu kelihatannya ”keras” namun apa yang membuat mereka dengan lapang dada menerima itu semuanya.
”waktu untuk belajar”
Yang menarik disini adalah pada poin ”ikatan perjanjian”, bahwa kabilah atau suku yang masih berjalan waktu perjanjiannya dengan kaum muslimin tidak akan dibatalkan sampai batas waktu perjanjian tersebut, Nabi tidak membatalkan sepihak, walaupun posisi kaum muslimin sudah menjadi ”penguasa” saat itu. Ini sebuah bentuk pealajaran tersendiri bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan selalu umatnya untuk menjaga dan komitmen kepada semua kesepakatan bahkan kepada kaum musyrik sekalipun, berkuasa tidaklah mendorong beliau untuk menindas apalagi menzalimi orang lain, dan mereka dipersilahkan dengan keyakinan mereka.
Apakah ini adalah keputusan tanpa pilihan? mari kita lihat pada poin setiap suku/kabilah yang belum memiliki ikatan perjanjian dengan kaum muslimin, maka diberikan waktu selama 4 bulan untuk berpikir, dan maksud dibiarkan berpikir ini juga mengandung pelajaran bahwa aspek pemahaman begitu penting, jangan ada unsur pemaksaan kepada umat lain. Tidak ada pemaksaan untuk masuk kedalam ajaran Islam. Islam menhendaki setiap pemeluknya untuk menjadikan dasar-dasar bergabungnya dia kedalam Islam karena faktor pengetahuan dan pemahaman, bukan karena faktor lingkungan dan dorongan emosianal saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar