
Drg.Syukri Wahid
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan & keselamatan) bagimu, amat belas asihan
lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”
(at taubah : 128)
Menjelang tanggal 14 Februari memang sebagian besar para remaja dan anak muda di dunia tidak terkecuali di Indonesia sedang dilanda wabah “penyakit merah jambu”, yah... sebuah penyakit yang datang menjelang hari Valentine, mereka menyebutnya dengan hari kasih sayang. Fenomena tersebut adalah sebuah gambaran suramnya potret para remaja kita saat ini, dan sebagian besar yang menyiapkan diri dan merayakannya adalah para generasi muda Islam kita, selera mereka belum sejalan dengan Islam. Tanpa sadar mereka telah menghidupkan syiar yang tidak berdasar dalam literatur ajaran Islam dan yang kedua mereka sedang mengambil contoh tauladan dari orang selain al qudwah Rasulillah SAW.
Jika kita ingin membandingkan makna cinta dan kasih sayang Nabi SAW yang diajarkan oleh beliau, adalah cinta yang bagaikan sinaran mentari yang memberikan gelora pada bunga & tumbuhan, dan sekaligus cinta beliau bagaikan siraman air yang memberikan kesejukan pada bunga. Yah, itulah ..cinta beliau, cinta yang menumbuh kembangkan sekaligus cinta yang melindungi dan menjaga kefitrahan. Begitu amat sangat cinta beliau kepada da’wah & ummatnya, sehingga beliau telah mewakafkan seluruh hidup dan matinya untuk da’wah dan ummat, disaat sakratul maut ucapan terakhir yang keluar dari lisan beliau meurut hadits ’Aisyah adalah beliau mengucapkan ummatii, ummatii, ummatii (ummatku 3 kali) mungkin inilah yang membuat Nabi Musa as cemburu ketika Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW, beliau berkata,” aku cemburu, karena setelah diriku ada seorang Nabi yang lebih mencintai ummatnya dan ummatnya paling banyak masuk kedalam surga dibandingkan dengan ummatku”.
Semua kehidupan beliau senantiasa ditabur dengan rasa cinta (mahabbah), sehingga siapapun yang berinteraksi dengan beliau akan dapat meresapi aura cinta tersebut, pada tulisan singkat ini saya menyebutkan beberapa rasa cinta beliau dalam interaksi kehidupan.
a. Cinta & Kasih sayang seorang Suami, Ayah dan kakek
Orang yang mungkin mendapatkan langsung cinta Nabi Muhammad SAW adalah anggota keluarga beliau. Beliau adalah sosok seorang suami, ayah dan kakek yang paling sukses, bagaimana peran-peran cinta tersebut terdistribusi dengan proposional oleh seluruh anggota keluarganya. Istri beliau yang bernama Khadijah binti khuwailid yang paling bersyukur karena menemani bahtera rumah tangga Rasul selama 25 tahun, yah.. setara dengan ”:pernikahan perak” kalau kita, namun kualitasnya berlian. Betapa cintanya Nabi kepada khadijah dapat dilihat dari sebuah catatan siroh ar rahiiqul makhtum, ketika itu khadijah telah wafat, dan khadijah memiliki saudara perempuan yang mirip dengannya, suatu hari saudara khadijah ini datang ke rumah Rasul, dan ketika itu beliau sedang bersantai bersama ’Aisyah, ketika mendengar bunyi slop sepatu saudaranya khadijah, beliau langsung berdiri dan langsung mengingat khadijah yang cara jalannya mirip dengan saudaranya tersebut”, saya tidak tahu apa kita sekarang dapat mendeteksi istri kita dari bunyi sepatunya? dan dapat juga kita lihat betapa beliau sering memberikan infak dan sedekah bagi keluarga-keluarga khadijah setelah wafatnya khadijah.
Semua istri beliau pernah ”berdemo” dihadapan Beliau, apa pasal? Ternyata masalah cinta para pembaca sekalian, semua istri beliau merasa yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW, jadi ini masalah klaim siapa yang paling dicintai oleh Nabi diantara kita?, saya tidak yakin sejarah yang satu ini akan kembali terulang,namun coba anda perhatikan bagaimana beliau menyelesaikannya, beliau menyuruh semua istrinya kembali ke bilik rumah masing-masing, dan mengatakan kepada mereka nanti 3 hari lagi saya umumkan siapa yang paling saya cintai diantara kalian?. Karena ini masa “seleksi” semua istri beliau menampilkan penampilan yang paling aduhai. Nabi satu persatu mendatangi mereka dan berbicara sangat lembut, dan mengatakan,” wahai istriku, kepadamu kuberikan sebuah cincin dan tolong jangan sekali-kali engkau bicarakan pemberianku ini kepada istriku yang lainna”, istri beliau tentu pede saat itu, namun bukan Hafsah saja yang dibuat begitu, semua istri beliau mendapat perlakuan hal yang sama, dan tibalah hari pengumuman, beliau mengumumkan dihadapan isteri-isterinya,”yang paling aku cinta diantara kalian adalah yang kuberikan cincin”, bagaimana bayangan anda semua, yah..isteri-isteri Nabi diam menyembunyikan seyum sipu kegembiraan dihati mereka masing-masing, mereka tidak tahu kalau ternyata Nabi mampu mendistribusikan cintanya 100% kesemua isterinya.
Terhadap anak-anak dan cucu beliau, kasih cintanya tiada tandingannya, ketika anak laki-laki beliau yang bernama Qasim meninggal beliau menangis tersedu-sedu sebagai perlambang betapa belahan hatinya sangat dicintainya, dan ada yang menegur beliau dengan menangis seperti itu, dan beliau mencela orang yang menegur beliau. Beliau suka main bersama cucu-cucunya bahkan di dalak sholat sekalipun beliau membiarkan cucunya tersebut untuk menikmati bermainnya.
Ada sahabat yang memiliki banyak anak, dan ketika sahabat ini melihat Nabi mencium pipi cucu beliau Hasan dan Husain, sahabat ini mengatakan, ”Ya..Rasulallah, aku memiliki banyak anak, namun aku belum pernah mencium mereka sekalipun”. Apa reaksi Nabi, beliau memerah wajahnya, dan menegur sahabat yang satu ini dengan kalimat, ”barang siapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan sayang kepadanya”, sejak itu sahabat ini menjadi orang yang selalu mencium dan menyayangi anak-anaknya.
b. Cinta & kasih sayang sebagai Da’i
Ayat diatas sudah cukup jelas dan tegas bahwa jalan hidup da’wah beliau berdiri diatas prinsip cinta dan kasih sayang, beliau sadar kehadirannya dibumi ini bukan saja untuk manusia namun juga untuk menjadi ”rahmat bagi seluruh alam”. Aura pesona cinta dan kasih sayang terpancar dari wajah beliau, senyumnya, sapanya, diamnya dan marahnya semua adalah cinta, semuanya adalah kasih sayang. Ditengah penderitaannya sebagai Nabipun tetap sayang kepada ”lawan-lawannya”.
Saya ingin menceritakan bagaimana gambaran cintanya beliau kepada ummat, walaupun beliau mendapatkan tekanan fidsik dan mental, yaitu pada saat beliau hijrah ke kota thaif bersama Zaid bin hariitsah untuk berda’wah dan meminta perlindungan bani tsaqiifah pada tahun ke Sepuluh kenabian. Selama sepuluh hari disana berda’wah menemui petinggi bani tsaqifah dan para tokoh-tokohnya, namun semuanya menolak bahkan yang paling menyedihkan beliau dilempar batu oleh penduduk thaif, darah mengucur segar dari kepala hingga kaki beliau. Ketika beliau berhenti disebuah tempat antara makkah dan thaif, datanglah malaikat Jibril membawa malaikat penjaga bukit, seraya berkata, ” Wahai Muhammad jika engkau mau, maka aku akan menimpakan dua bukit ini kepada penduduk kota thaif ?” Apa gerangan jawaban beliau, ketika ada fasilitas pamungkas seperti ini, hampir semua Nabi terdahulu ketika sudah di tolak mentah-mentah kaumnya dan ketika ada tawaran ”fasilitas” seperti itu maka diambil semuanya, namun jawaban Nabi SAW,” Tidak, jangan sesungguhnya mereka lakukan itu semuanya karena tidak mengetahui siapa sebenarnya diriku, sungguh aku sangat berharap kelak dari keturunan mereka nanti ada yang mengucapkan kalimat syahadat”.
Jumlah sahabat yang berinteraksi dengan beliau menurut imam ibnul qayyim ada sekitar 120 ribu orang, tentu dengan berbagai level derajat sahabat yang beragam, tidaklah sama sahabat yang as saabiqunal awwalun dengan at tulaqaa (masuk ketika fathuh makkah), semua sahabat merasa yang paling dicintai oleh Nabi, pernah Muadz bin Jabal ra memberanikan diri untuk bertanya kepada Nabi ,” man uhibbuuka ilaika ya Rasulallah ? siapa orang yang paling engkau cintai wahai Rasul? Pertanyaan ini lahir karena setiap kali Rasul memberikan ceramahnya, seolah-olah kata Muadz pandangan Nabi dan perkataan nahi hanya untuk diriku. Jadi cinta Nabi mengalir ke hati-hati sahabatnya, cinta beliau tertampat dipelabuhan jiwa sahabat-sahabats semuanya.
Ketika Nabi marahpun itu adalah bagian dari cinta, Kaab bin Malik tidak ikut perang karena lalai, ketika beliau jujur dihadapan Nabi dan terus terang mengatakan tidak ada alasan bagiku untuk tidak berangkat, maka Nabi mengatakan,”keluarlah engkau kaab, tunggu sampai Allah memutuskan perkara bagimu”, Dua sahabat lainnya menangis terus-menerus karen tidak tahan di isolasi, namun kaab tetap sholat di Masjid, beliau bercerita ,”ketika aku sholat, aku memperhatikan bahwa pandangan Nabi menuju kearahku, begitu setelah aku sholat, maka aku melihat Nabi, namun Nabi langsung memalingkan wajahnya dariku”. Marahnya Nabi adalah potongan cinta yang diberikan kepada sahabat, tiada marah nabi yang membekas menjadi luka, tiada kata beliau yang menggores dinding jiwa sahabat. Itulah sang pencinta sejati, jadi kenapa harus valentine.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar