Saat-saat kritis dalam sejarah 3
(keputusan-keputusan Abu bakar ketika memerintah)
drg.Syukri Wahid
Jika kita ingin menjelaskan 3 tahun masa kekhilafaan Abu bakar, maka kita hanya mendapatkan bahwa masalah-masalah datang berganti dalam pemerintahan beliau adalah ingin menguji nyali dan sekaligus ijtihad beliau, mungkin 3 tahun yang beliau lalui tidak terlalu fokus kepada ekspansi da’wah yang lebih luas menjangkau daerah-daerah di bumi ini, namun 3 tahun itu adalah pondasi yang belaiu siapkan untuk kepemimpinan berikutnya, karenanya Umar bin khattab bisa mensejahterakan rakyatnya selama 13 tahun kepemimpinannya adalah buah dari pondasi yang dibangun Abu bakar. Tema pemerintahan Abu bakar adalah konsolidasi sedangkan tema pemerintahan umar adalah ekspansi dan distribusi.
Sekarang saya ingin menceritakan salah satu keputusan sulit yang diambil oleh Abu bakar yang berbeda dengan sebagian besar sahabat, termasuk umar bin khattab saat itu, apa masalahnya?. Saya ingin mengajak kita mengingat satu dari tiga wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu memberangkatkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Sejatinya pasukan berjumalh 700an sahabat ini telah diberangkatkan oleh Nabi SAW sebelum jatuh sakit, dengan misi memerangi pasukan Romawi disekitar Syam, misi ini sekaligus ingin membalas gugurnya sahabat utama dalam perang mu’tah tahun 7 H, dimana syahidnya Zaid bin haritsah, Ja’far bin Abu thalib dan Abdullah bin rawahah, karenanya tidak mengherankan panglima perang dalam satuan ini adalah Usamah bin Zaid yang tidak lain adalah anak kandung dari sahabat Zaid bin haritsah.
Ketika pasukan ini telah sampai ke daerah dzi khayasf, terdengarlah kabar jatuh sakitnya Rasulullah SAW dan semakin parah sakit beliau, akhirnya pasukan ini memutuskan untuk kembali ke Madinah. Sampai akhirnya seluruh pasukan masih mendapat saat-saat menjelang wafatnya Rasulullah SAW dan kali itu seluruh musim berkabung atas meninggalnya manusia terbaik didunia ini.
Merealisasikan Amanat Rasulullah SAW
Hari-hari awal kepemimpinan Abu bakar dilewati penuh dengan dinamika internal, setelah menyelesaikan transisi kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW ke beliau, dan itupun sudah ada ”gejala” perbedaan yang masih dalam batas kewajaran yanag alamiah. Maka beliau akhirinya segera kembali mengkonsolidasikan pasukan yang pernah dikirim oleh Nabi tersebut, beliau memanggil Usamah bi Zaid dan segera memerintahkan untuk menyiapkan pasukannya. Bukan tanpa alasan beliaun melakukannya itu, apatah lagi itu adalah satu dari tiga pesan Rasulullah SAW sebelum wafatnya.
Beberapa sahabat memberikan masukan kepada Abu bakar berkenaan dengan kebijakannya tersebut, tersebutlah Umar bin khattab yang paling depan dalam masalah ini. Umar bin khattab mencoba memberikan pandangan lain tentang situasi negara ini, tentang bagaimana skala prioritas untuk mengatasinya. Umar bin khattab menyampaikan bahwa mengapa khalifah memutuskan untuk mengirim kembali pasukannya usamah, padahal di beberapa daerah yang dekat dengan pusat Islam telah menyatakan keluar dari Islam (murtad) dan sebagian juga ada yang enggan membayar zakat. Menurut Umar khalifah harus lebih mendahulukan masalah ini, bagaimana penanganannya. Jika murtad maka para sahabat tidak berselisih terhadapanya, karena sudah jelas bagaimana status hukum terhadap orang-orang yang murtad dari agama ini, namun tentang zakat mereka masih butuh keyakinan, tentang solusinya, apakah juga harus diperangi?, dan beliau berijtihad, ”saya akan memerangi siapa yang ,memisahkan shalat dan zakat, walaupun zakat itu hanya berupa seutas tali dari kuda”. Bagi Abu bakar murtaddin dan keengganan membayar zakat memang masalah yang harus segera juga diselesaikan, namun beliau lebih mendahulukan pengiriman pasukan usamah ke medan pertempuaran, beliau mengatakan kepada Umar, bahwa pasukan ini bukan saya yang bentuk, namun pendauluku (Rasulullah SAW) dan saya tidak akan melalaikan amanah beliau, maka tetap aku akan berangkatkan mereka. Umar bin khattab mungkin berpikir, bahwa jika pasukan ini berangkat, siapa yang akan memerangi para murtaddin tesebut.
Hikmah berangkatnya pasukan Usamah
Sebuah kenyataan sejarah yang ditulis oleh imam as syuyuti dalam bukunya ”tarikh khulafa”, bahwa ketika pasukannya Usamah bin zaid yang berjumlah 700 orang itu berangkat menuju Syam ternyata mampu menyelesaikan masalah yang kedua, setidaknya memberikan efek ”psi war” kepada kaum yang murtad tadi, apa pasal?. Ternyata pembaca sekalian, pasukan yang gagah berani tersebut dalam perjalanannya menuju Syam ternyata melewati beberapa kampung-kampung atau daerah yang dimana disanalah para kaum murtad dan yang enggan berzakat itu berada.
Mereka para murtaddin ini berkata, pasukan siapa itu dan hendak kemanana mereka?, dan mereka pulalah yang menjawab , bahwa itu adalah pasukannya Usamah bin Zaid yang menuju Syam untuk memerangi orang-orang Romawi. Para petinggi mereka mengatakan, ”jika khalifah Abu bakar mengirm pasukan ini untuk melawan Romawi (negara adidaya saat itu), maka sudah barang tentu dia masih punya pasukan yang cukup untuk melawan kita” Jika kaum muslimin sanggup melawan pasukan Romawi yang besar itu, maka bagaimana lagi dengan kita. Jadi jauh sebelum pasukan-pasukan Islam yang dibentuk sebanyak 12 satuan perang untuk menumpas mereka, maka kekalahan itu sudah ada dalam jiwa dan pikiran mereka, setidaknya nyali mereka sudah jatuh, ketika menyaksikan pasukannya usamah lewat didepan mereka, mungkin kalau bahas kita sekarang, seakan-akan usamah mengatakan, maaf yah,,,,kalian tidak selevel dengan kami.
Bagaimana dengan tanggapan dunia internasional saat itu, seperti Romawi, yah,,,mereka mengatakan bahwa ”kematian Muhammad tidaklah mematikan semangat juang para pengikutnya”, walhasil pembaca sekalian, pasukan Usamah ini hanya membutuhkan sekitar 15 hari untuk memenangkan pertempuran tersebut, dan tidak cukup sampai disini, bahwa itulah record baru bahwa pasukan ini bisa memenangkan melawan Romawi dan tak satupun yang gugur, mereka kembali utuh semuanya. Sudah barang tentu dalam perjalanan pulang ke Madinah, pasukan ini kembali melewati daerah yang murtad, saya mencoba menyerap makna pasukan yang melewati kaum murtad tersebut, dengan ungkapan yang bisa diterima oleh para kaum murtaddin, seakan-akan pasukan Islam mengatakan,”melihat kalian semua....siapa takut”.
(keputusan-keputusan Abu bakar ketika memerintah)
drg.Syukri Wahid
Jika kita ingin menjelaskan 3 tahun masa kekhilafaan Abu bakar, maka kita hanya mendapatkan bahwa masalah-masalah datang berganti dalam pemerintahan beliau adalah ingin menguji nyali dan sekaligus ijtihad beliau, mungkin 3 tahun yang beliau lalui tidak terlalu fokus kepada ekspansi da’wah yang lebih luas menjangkau daerah-daerah di bumi ini, namun 3 tahun itu adalah pondasi yang belaiu siapkan untuk kepemimpinan berikutnya, karenanya Umar bin khattab bisa mensejahterakan rakyatnya selama 13 tahun kepemimpinannya adalah buah dari pondasi yang dibangun Abu bakar. Tema pemerintahan Abu bakar adalah konsolidasi sedangkan tema pemerintahan umar adalah ekspansi dan distribusi.
Sekarang saya ingin menceritakan salah satu keputusan sulit yang diambil oleh Abu bakar yang berbeda dengan sebagian besar sahabat, termasuk umar bin khattab saat itu, apa masalahnya?. Saya ingin mengajak kita mengingat satu dari tiga wasiat Nabi Muhammad SAW, yaitu memberangkatkan pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Sejatinya pasukan berjumalh 700an sahabat ini telah diberangkatkan oleh Nabi SAW sebelum jatuh sakit, dengan misi memerangi pasukan Romawi disekitar Syam, misi ini sekaligus ingin membalas gugurnya sahabat utama dalam perang mu’tah tahun 7 H, dimana syahidnya Zaid bin haritsah, Ja’far bin Abu thalib dan Abdullah bin rawahah, karenanya tidak mengherankan panglima perang dalam satuan ini adalah Usamah bin Zaid yang tidak lain adalah anak kandung dari sahabat Zaid bin haritsah.
Ketika pasukan ini telah sampai ke daerah dzi khayasf, terdengarlah kabar jatuh sakitnya Rasulullah SAW dan semakin parah sakit beliau, akhirnya pasukan ini memutuskan untuk kembali ke Madinah. Sampai akhirnya seluruh pasukan masih mendapat saat-saat menjelang wafatnya Rasulullah SAW dan kali itu seluruh musim berkabung atas meninggalnya manusia terbaik didunia ini.
Merealisasikan Amanat Rasulullah SAW
Hari-hari awal kepemimpinan Abu bakar dilewati penuh dengan dinamika internal, setelah menyelesaikan transisi kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW ke beliau, dan itupun sudah ada ”gejala” perbedaan yang masih dalam batas kewajaran yanag alamiah. Maka beliau akhirinya segera kembali mengkonsolidasikan pasukan yang pernah dikirim oleh Nabi tersebut, beliau memanggil Usamah bi Zaid dan segera memerintahkan untuk menyiapkan pasukannya. Bukan tanpa alasan beliaun melakukannya itu, apatah lagi itu adalah satu dari tiga pesan Rasulullah SAW sebelum wafatnya.
Beberapa sahabat memberikan masukan kepada Abu bakar berkenaan dengan kebijakannya tersebut, tersebutlah Umar bin khattab yang paling depan dalam masalah ini. Umar bin khattab mencoba memberikan pandangan lain tentang situasi negara ini, tentang bagaimana skala prioritas untuk mengatasinya. Umar bin khattab menyampaikan bahwa mengapa khalifah memutuskan untuk mengirim kembali pasukannya usamah, padahal di beberapa daerah yang dekat dengan pusat Islam telah menyatakan keluar dari Islam (murtad) dan sebagian juga ada yang enggan membayar zakat. Menurut Umar khalifah harus lebih mendahulukan masalah ini, bagaimana penanganannya. Jika murtad maka para sahabat tidak berselisih terhadapanya, karena sudah jelas bagaimana status hukum terhadap orang-orang yang murtad dari agama ini, namun tentang zakat mereka masih butuh keyakinan, tentang solusinya, apakah juga harus diperangi?, dan beliau berijtihad, ”saya akan memerangi siapa yang ,memisahkan shalat dan zakat, walaupun zakat itu hanya berupa seutas tali dari kuda”. Bagi Abu bakar murtaddin dan keengganan membayar zakat memang masalah yang harus segera juga diselesaikan, namun beliau lebih mendahulukan pengiriman pasukan usamah ke medan pertempuaran, beliau mengatakan kepada Umar, bahwa pasukan ini bukan saya yang bentuk, namun pendauluku (Rasulullah SAW) dan saya tidak akan melalaikan amanah beliau, maka tetap aku akan berangkatkan mereka. Umar bin khattab mungkin berpikir, bahwa jika pasukan ini berangkat, siapa yang akan memerangi para murtaddin tesebut.
Hikmah berangkatnya pasukan Usamah
Sebuah kenyataan sejarah yang ditulis oleh imam as syuyuti dalam bukunya ”tarikh khulafa”, bahwa ketika pasukannya Usamah bin zaid yang berjumlah 700 orang itu berangkat menuju Syam ternyata mampu menyelesaikan masalah yang kedua, setidaknya memberikan efek ”psi war” kepada kaum yang murtad tadi, apa pasal?. Ternyata pembaca sekalian, pasukan yang gagah berani tersebut dalam perjalanannya menuju Syam ternyata melewati beberapa kampung-kampung atau daerah yang dimana disanalah para kaum murtad dan yang enggan berzakat itu berada.
Mereka para murtaddin ini berkata, pasukan siapa itu dan hendak kemanana mereka?, dan mereka pulalah yang menjawab , bahwa itu adalah pasukannya Usamah bin Zaid yang menuju Syam untuk memerangi orang-orang Romawi. Para petinggi mereka mengatakan, ”jika khalifah Abu bakar mengirm pasukan ini untuk melawan Romawi (negara adidaya saat itu), maka sudah barang tentu dia masih punya pasukan yang cukup untuk melawan kita” Jika kaum muslimin sanggup melawan pasukan Romawi yang besar itu, maka bagaimana lagi dengan kita. Jadi jauh sebelum pasukan-pasukan Islam yang dibentuk sebanyak 12 satuan perang untuk menumpas mereka, maka kekalahan itu sudah ada dalam jiwa dan pikiran mereka, setidaknya nyali mereka sudah jatuh, ketika menyaksikan pasukannya usamah lewat didepan mereka, mungkin kalau bahas kita sekarang, seakan-akan usamah mengatakan, maaf yah,,,,kalian tidak selevel dengan kami.
Bagaimana dengan tanggapan dunia internasional saat itu, seperti Romawi, yah,,,mereka mengatakan bahwa ”kematian Muhammad tidaklah mematikan semangat juang para pengikutnya”, walhasil pembaca sekalian, pasukan Usamah ini hanya membutuhkan sekitar 15 hari untuk memenangkan pertempuran tersebut, dan tidak cukup sampai disini, bahwa itulah record baru bahwa pasukan ini bisa memenangkan melawan Romawi dan tak satupun yang gugur, mereka kembali utuh semuanya. Sudah barang tentu dalam perjalanan pulang ke Madinah, pasukan ini kembali melewati daerah yang murtad, saya mencoba menyerap makna pasukan yang melewati kaum murtad tersebut, dengan ungkapan yang bisa diterima oleh para kaum murtaddin, seakan-akan pasukan Islam mengatakan,”melihat kalian semua....siapa takut”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar