napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Selasa, 07 Oktober 2008

Saat-saat kritis dalam sejarah (1)

Saat-saat kritis dalam sejarah 1
( Suksesi kepemimpinan pertama kali paska wafatnya Rasulullah SAW)
drg.Syukri Wahid

Wafatnya Rasulullah SAW meninggalkan sebuah permasalahan tersendiri bagi para sahabat pada waktu itu, mengapa para pembaca sekalian? karena tidak satupun dari wasiat Nabi SAW kepada para sahabat yang menyatakan untuk menunjuk seseorang dari kalangan sahabat untuk menjadi pengganti (khalifah) beliau. Situasi seperti ini menjadi sebuah pengalaman perdana bagi kaum Muslimin , yah sebuah pergantian kepemimpinan dalam tubuh kaum muslimin dan sebuah kepemimpinan baru akan muncul ,setelah kurang lebih 23 tahun lamanya Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul dan pemimpin bagi mereka. Suksesi ini menjadi ujian berat bagi kaum muslimin pada saat itu, sehingga jenazah Rasulullah tertunda proses pemakamannya lantaran peristiwa tersebut.
Fiksi Politik pertama kali?
Sebuah kenyataan realitas pada saat itu, terjadinya perbedaan cara pandang para sahabat mengenai ”kondisi” tersebut, setidaknya ada beberapa arus pandangan yang ingin saya kemukakan disini, sebagaimana juga yang ditulis oleh beberapa penulis siroh, seperti imam as suyuthi dalam bukunya tarikh khulafa’. Penulis siroh dari kalangan syiah terang-terangan menyebutkan terjadinya 3 fiksi besar dalam masalah ini, yaitu ahlul bait (keluarga Rasulullah SAW), sahabat Anshar yang mengadakan pertemuan di Bani saidah dan kubu sahabat muhajirin Abu bakar yang dipelopori oleh Umar bin khattab ra.
Saya sendiri tidak terlalu nyaman menyebutkannya dengan istilah ”fiksi” diatas, namun yang tepat mungkin adalah keberagaman untuk mencapapai ijma’. Alasan sederhana yang memungkinkan hal itu terjadi adalah karena memang tidak ada satupun petunjuk dari al quran maupun sunnah berkenaan dengan persoalan kepemimpinan paska wafatnya Nabi Muhammad SAW. Jadi ini juga sekaligus pengalaman ijma’ perdana para sahabat terutama pada masalah politik, dan masalahnya bukan pada fikih ibadah mahdhah (khusus), namun tidak tanggung-tanggung yaitu masalah fikih daulah (negara).
Pertemuan bani saidah.
Para sahabat dari kalangan anshar mengadakan sebuah pertemuan di perkampungan bani saidah, yang hadir merupakan representasi dari kaum anshar secara umum pada waktu itu, agenda pertemuan sangat jelas yaitu tentang mencari siapa sosok pengganti Nabi Muhammad SAW untuk mengurus masalah kaum muslimin. Rapat tersebut menghasilkan satu nama dari sahabat anshar untuk diajukan sebagai khalifah, yaitu Sa’ad bin ubadah, seorang tokoh senior anshar dari bani khajraz.
Pertemuan sahabat-sahabat anshar di bani saidah tidak diketahui oleh sahabat muhajirin, seperti Abu bakar dan Umar bin Khattab, sehingga datanglah salah seorang dari kalangan anshar untuk memberitahukan pertemuan yang sedang berlangsung kepada keduanya. Mendapat laporang langsung, bergegaslah Abu bakar ditemani umar bin khattab, thalhah bin ubaidillah dan sahabat-sahabat muhajirin menuju perkampungan bani saidah. Dalam situasi seperti ini, memang bisa menjadi pemicu konflik antara sesama kaum muslimin, sebagai seorang sahabat utama & senior Abu bakar adalah tokoh terbaik setelah Nabi SAW ingin mencairkan suasana dan ingin mencari solusi yang tepat.
Ketika rombongan muhajirin datang, mereka disambut oleh sahabat-sahabat anshar, dan terjadilah dialog kedua belah pihak, sahabat Anshar mengatakan, ” wahai sahabat kami kaum muhajirin, sungguh kalian telah mengetahui bahwa kami ini adalah kaum yang menolong Nabi Muhammad SAW, karena itu biarkanlah kami mengurus urusan ini”. Pendapat kaum anshar ini merupakan pertanda bahwa merekalah yang berhak mewarisi urusan kekhalifahan selanjutnya. Abu bakar menjawab ungkapan sahabat anshar,” tentang kebaikan kalian adalah benar saudaraku, namun kami adalah kaum Quraisy yang mewarisi urusan ini, jika kalian mau maka akan aku tunjukkan kepada kalian dua orang terbaik dan pilihlah satu dari keduanya yaitu antara Umar bin Khattab dan Thalhah bin Ubaidillah.!!?
Ijtihad politik beliau ini lahir dari sebuah ma’rifah maidaniyyah atau pemahaman lapangan yang baik, kenapa..? jika sa’ad bin ubadah yang diangkat menjadi khalifah, sedangkan beliau adalah petinggi bani khazraj dari kalangan anshar, maka ini akan memicu orang-orang yang memiliki penyakit hati dikemudian hari untuk menjadikannya sebagai sumber konflik, dengan cara memprovokasi sahabat dari kalangan aus untuk bisa juga mengambil posisi kalifah atau setidaknya mempermasalahkan tentang posisi kekhalifahan, prediksi-prediksi seperti ini menjadi salah satu pertimbangna Abu bakar, apalagi sudah ada pengalaman pertengkaran antara sahabat aus dan khazraj ketika seorang tokoh senior yahudi yang mencoba memprovokasi keduanya untuk saling berperang lagi, padahal Rasulullah SAW masih ada diantara mereka dan bagaimana jika Rasulullah SAW sudah tidak ada lagi bersama mereka, peristiwa tersebut direkam Allah SWT dalam surat ali imran : 103, ”dan berpegangteguhlah kalian semuanya pada tali Allah dan janganlah kalian berpecah, dan ingatlah kalian atas nikmat Allah kepadamu, ketika itu kalian berpecah maka kami satukan hati diantara kalian dan kami berikan nikmat-Ku berupa persaudaraan.......”.
Pendapat Abu bakar ini menjadi sebuah penentu dalam upaya menyatukan kaum muslimin paska meninggalnya Rasulillah SAW, beliau mengajukan dengan penuh kerendahan hati, menyebutkan dua nama dari sahabat Nabi yang mulia yang termasuk saabiquuna al awwaliin , mendapat pertanyaan seperti itu,” tiba-tiba Umar bin khattab maju dihadapan kaum muslimin, dan langsung memegang tangan Abu bakar ra dan membaiat beliau sebagai khalifah, dengan suara yang lantang beliau berkata,” wahai kaum muslimin aku membaiat Abu bakar sebagai khalifah, aku tidak menemukan orang terbaik setelah Rasulillah kecuali Abu bakar, beliaulah yang mengganti Nabi menjadi imam shalat ketika sakit, beliau pula yang menemani Nabi SAW dalam perjalanan hijrah”. Sikap umar tersebut disambut spontan oleh para sahabat baik dari muhajirin dan anshar, bahkan salah seorang sahabat anshar langsung membaiat abu bakar dengan tangannya, cairlah suasana yang sempat memanas tadi, lewatlah saat yang kritis itu.

Pidato Pencerahan
Para ahli sejarah mencatat bahwa peristiwa pengambilan sumpah (baiat) Abu bakar ra adalah ”baiat khassah (khusus)”, maka keesokan harinya Abu bakar ra menyampaikan khutbahnya dikalangan seluruh kaum muslimin dan mengambil baiat atau sumpah setia kaum muslimin yang tidak hadir pada pertemuan bani saidah , sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan legitimasi publik dan hal itu merupakan modal besar dalam sebuah kepemimpinan apapun.
Dalam pidato yang singkat tersebut, beliau menyampaikan poin-poin yang sangat substansial dalam konsep kepemimpinan baru yang baru saja terbentuk, dihadapan kaum muslimin beliau menyampaikan sebagai berikut,” Wahai kaum muslimin, saya bukanlah seorang yang terbaik diantara kalian, saya adalah orang yang kalian berikan amanah untuk memimpin kalian, jika dalam kepemimpinanku aku berbuat benar, maka dukunglah diriku, namun jika dalam memimpin aku melakukan kesalahan, maka tolong luruskan diriku. Berbuat jujur adalah amanah dan berbuat dusta adalah khianat, sesungguhnya orang yang lemah diantara kalian akan menjadi kuat dihadapanku sampai aku bisa mengembalikan haknya, sedangkan orang yang kuat diantara kalian akan menjadi lemah dihadapanku sampai hak orang lain yang ada padanya dia lepaskan. Bertakwalah kalian kepada Allah, tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mentaatiku jika aku bermaksiat kepada Allah SWT”.
Demikianlah pidato pencerahan sang khalifah Rasulilah SAW, pidato yang hadir bagaikan simpul baru bagi kaum muslimin disaat benang ukhuwah hampir saja putus. Beliau sadar persis bahwa beliau tengah melewati situasi yang sangat kritis yang bisa mengancam integrasi keum muslimin yang sudah dibangun sekial lama oleh Rasulillah SAW. Menjadi unsur perekat bagi kaum muslimin pada saat itu adalah istilah yang tepat bagi khalifah Abu bakar ra, dari sanalah beliau memulai langkah kepemimpinannya, yaitu menyatukan kaum muslimin dari sebab-sebab desintegrasi.

Tidak ada komentar: