Sebab Ummat ini harus kembali bangkit dengan cara sebagaimana dahulu Rasulullah saw mengelola para Sahabatnya untuk menjemput kejayaan peradabannya dan pada akhirnya mereka menjadi buah bibir sejarah panjang kehidupan
napak tilas
by Syukri Wahid
Kamis, 16 April 2009
Jabatan...oh....jabatan
Bagi para prajurit-prajurit perang,
Tidak ada amanah dan Sekaligus
godaan yang paling berat menantang mereka
Kecuali menjadi seorang “panglima” perang.
Mungkin bagi seorang “prajurit karir”
Rangkaian prestasi perang demi perang
Adalah “anak tangga” yang satu demi Satu
Mereka susun untuk sampai kepuncaknya
Yaitu menjadi seorang Panglima.
Tahun 16 Hijriah,
Sepucuk surat sampai ketangan
Seorang Panglima besar Islam, Khalid ibnu Walid
Nama besarnya lahir dari rahim prestasi-prestasi
Heroik dilapangang tempur
tidak pernah mengalami kekalahan dalam
Setiap peperangan yang dipimpinnya
Ketika dia dalam keadaan muslim maupun dalam
Keadaan masih musyrik.
“kalah” adalah kosa kata yang tidak dia kenal
Dalam kamus kepribadiannya
“Jika surat ini telah sampai ke tanganmu, maka
Jabatannmu aku turunkan menjadi prajurit biasa
Dan segera kembali ke Madinah sekarang juga!”
Isi surat itu sangat singkat dan jelas dari khalifah Umar bin Khattab
Tidak ada logika ilmiah manajemen kepemimpinan
Yang bisa menjelaskan, kenapa justru dipuncak karir
Seseorang dalam menunaikan amanah, justru malah ia dicopot
dari jabatnnya.
Ketika Umar ra ditanya, apa yang mendorong
Sang khalifah mengganti panglima perang Khalid bin walid
Disaat Negara sedang butuh pertahanan miter yang kuat.
Khalifah tawadhu’ itu cuma memberikan jawaban :
“Aku justru ingin menyelamatkan dirinya dari kehancuran,
Diriku khawatir dengan prestasinya tersebut membuat
Banyak orang yang memujinya dan kelak bisa memujanya.
Kelak jabatannya akan memenjarakan dirinya
Sehingga dia bisa menjadi lupa diri dengan jabatannya.
Semoga Allah SWT merahmati dirinya”.
Masalah dan godaan
Adalah dua hal yang selalu datang kepada para pemimpin
Masalah datang dengan rentetan persoalan kecil sampai besar
Dia datang Menyerang akal cerdasnya
Apakah masalah itu jauh lebih cerdas dari akalnya
Sehingga masalah itu mampu menaklukkan pikiran-pikiran cerdasnya
Namun,,,,
Jabatan datang dengan sejuta rayuan manis dan indah
Dia berusaha menggoda dan mencuri hatinya
Apakah godaan harta dan tahta itu jauh menariknya meninggalkan “hati sehatnya”
Kalau dulu kita menerima amanah itu dengan “senyuman”
Kenapa kini ketika kita tinggalkan amanah itu dengan “tangisan”
Kalau dulu kita menerima jabatan itu dengan kalimat “selamat”
Kenapa kini kita tinggalkan jabatan itu dengan kalimat “kasihan”
Maka ada baiknya kita merenungi yang diucapkan
Oleh sang panglima yang baru melepaskan jabatannya
Setelah beberapa prajurit memprovokasinya untuk
Mempertanyakan apa alasan dia diturunkan…
“saya ini adalah mujahid, saya berperang dan bertempur
Bukan untuk Umar, namun saya berjuang di jalan Allah SWT
Untuk Tuhannya Umar bin Khattab,,,,
Saya menerima amanah itu dahulu dengan tangisan,,,,
Khawatir jika diriku tidak bisa amanah,,,dan kini aku lepaskan
Jabatanku dengan hati yang gembira,,,setidaknya bebanku
diakhirat akan berkurang,,,”.
Balikpapan,gang Depag
Gelisah,”lantas kenapa harus kita bersedih…?”
Rabu, 15 April 2009
"Jabatan...oh...jabatan?!"
Siang itu langit kota Madinah
Sangat cerah, birunya langit turut
Menjadi saksi pelantikan
Khalifah baru, Umar bin Abdul aziz.
Seorang nama yang terlukis indah
Dalam dinding sejarah manusia-manusia besar
Yang pernah hadir dipunggung bumi ini..
Setelah pengambilan sumpahnya,
Tubuh gagah itu segera beranjak
ayunan langkah kakinya segera
melangkah keluar menuju halaman masjid
“,,,dimana kendaraanku..?”
Pegawai kenegeraan keheranan, dan mengatakan :
“wahai…khalifah,, Ini adalah kendaraanmu..”
“bukan,,,bukan,,,bukan yang itu kendaraanku”
Sambil menatap didepannya ada seekor kuda hitam
Yang sangat terawat baik, mulus, kokoh, tegap, dan nyawan
Seekor kuda kelas satu terbaik dizamannya yang
Telah disediakan oleh negara
Dari sudut masjid, tampak seorang suruhan sang khalifah
Datang tergopoh-gopoh, seutas tali kekang dipegangnya
Sambil menuntun seekor himar atau keledai jantan
Berwarna hitam.
“Nah,,,ini adalah kendaraanku”
Sambil berguman dengan perkataan yang lembut
Dihadapan mereka yang hadir,
Lisan jujurnya mengatakan,
“tempatku dihati ummat bukan diukur dari sini…
(sambil menunjuk seekor kuda menawan tersebut)
Namun ditentukan sejauh mana aku mampu melayani mereka”
Sambil mengutip sabda Rasulullah SAW :
“Sayyidul qaum khadimuhum”
pemimpin sebuah kaum adalah pelayan bagi mereka”
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”ada apa dengan jabatanmu,,wahai saudaraku???”
Sangat cerah, birunya langit turut
Menjadi saksi pelantikan
Khalifah baru, Umar bin Abdul aziz.
Seorang nama yang terlukis indah
Dalam dinding sejarah manusia-manusia besar
Yang pernah hadir dipunggung bumi ini..
Setelah pengambilan sumpahnya,
Tubuh gagah itu segera beranjak
ayunan langkah kakinya segera
melangkah keluar menuju halaman masjid
“,,,dimana kendaraanku..?”
Pegawai kenegeraan keheranan, dan mengatakan :
“wahai…khalifah,, Ini adalah kendaraanmu..”
“bukan,,,bukan,,,bukan yang itu kendaraanku”
Sambil menatap didepannya ada seekor kuda hitam
Yang sangat terawat baik, mulus, kokoh, tegap, dan nyawan
Seekor kuda kelas satu terbaik dizamannya yang
Telah disediakan oleh negara
Dari sudut masjid, tampak seorang suruhan sang khalifah
Datang tergopoh-gopoh, seutas tali kekang dipegangnya
Sambil menuntun seekor himar atau keledai jantan
Berwarna hitam.
“Nah,,,ini adalah kendaraanku”
Sambil berguman dengan perkataan yang lembut
Dihadapan mereka yang hadir,
Lisan jujurnya mengatakan,
“tempatku dihati ummat bukan diukur dari sini…
(sambil menunjuk seekor kuda menawan tersebut)
Namun ditentukan sejauh mana aku mampu melayani mereka”
Sambil mengutip sabda Rasulullah SAW :
“Sayyidul qaum khadimuhum”
pemimpin sebuah kaum adalah pelayan bagi mereka”
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”ada apa dengan jabatanmu,,wahai saudaraku???”
Selasa, 14 April 2009
Mengetuk pintu sejarah....
Wahai…. pintu sejarah
Kami tahu engkau adalah panggung waktu
Tempat dimana kami berdiri disana
Untuk sebuah peran peradaban
Wahai…. pintu sejarah
Kenapa dirimu terlalu pelit untuk menerima kami
Karena tidak semua orang bermain dipanggungmu
Bisa membuatmu “tersenyum” suka
Wahai…. pintu sejarah
Berapa “tangan” yang kau butuhkan
Untuk mengetuk pintumu
Berapa tenaga yang kau butuhkan
Agar engkau bisa mendengar ketukan
tangan-tangan peradaban kami
Wahai….pintu sejarah
Kami tahu ruanganmu terlalu sempit
Untuk menampung semua “orang” didalamnya
Pita rekamanmu terlalu pendek
Untuk menyanyikan semua lagu peradaban
Wahai….pintu sejarah
Kami juga tahu bahwa…..
Memorimu terlalu kecil untuk menyimpan semua nama orang
Yang pernah pentas diatas panggung waktumu
Karena memang itu adalah tanggung jawab moralmu
Kepada “sang sutradara” waktu.
Wahai…. pintu sejarah
Kini kami berdiri tepat didepan pintumu
Yang terlalu pelit kau buka untuk semua orang.
Ingin kuberitahu kepadamu!!!
Kini kau sedang berhadapan dengan
Orang-orang yang kau butuhkan.
Engkau yang membuatkan panggung
Maka kamilah pemain terbaikmu,
Kami lahir dari “rahim” peradaban
Yang kau butuhkan untuk mengisi ruang waktumu
Kami adalah “pemain-pemain” yang bisa
Kau handalkan, agar engkau bisa
Menceritakan kepada manusia-manusia
Setelah kami.
Karena dari atas panggungmu,,,engkau membutuhkan “tepukan” para penonton
Karena memang engkau menginginkan “selalu” agar panggungmu menjadi buah bibir sejarah
Karena memang engkau menginginkan agar panggungmu selalu dikunjungi orang sepanjang masa
Wahai…pintu sejarah
Karena itu kamilah orang yang kau butuhkan sekarang!!!
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”malam tanggal 8 April”,
Kami tahu engkau adalah panggung waktu
Tempat dimana kami berdiri disana
Untuk sebuah peran peradaban
Wahai…. pintu sejarah
Kenapa dirimu terlalu pelit untuk menerima kami
Karena tidak semua orang bermain dipanggungmu
Bisa membuatmu “tersenyum” suka
Wahai…. pintu sejarah
Berapa “tangan” yang kau butuhkan
Untuk mengetuk pintumu
Berapa tenaga yang kau butuhkan
Agar engkau bisa mendengar ketukan
tangan-tangan peradaban kami
Wahai….pintu sejarah
Kami tahu ruanganmu terlalu sempit
Untuk menampung semua “orang” didalamnya
Pita rekamanmu terlalu pendek
Untuk menyanyikan semua lagu peradaban
Wahai….pintu sejarah
Kami juga tahu bahwa…..
Memorimu terlalu kecil untuk menyimpan semua nama orang
Yang pernah pentas diatas panggung waktumu
Karena memang itu adalah tanggung jawab moralmu
Kepada “sang sutradara” waktu.
Wahai…. pintu sejarah
Kini kami berdiri tepat didepan pintumu
Yang terlalu pelit kau buka untuk semua orang.
Ingin kuberitahu kepadamu!!!
Kini kau sedang berhadapan dengan
Orang-orang yang kau butuhkan.
Engkau yang membuatkan panggung
Maka kamilah pemain terbaikmu,
Kami lahir dari “rahim” peradaban
Yang kau butuhkan untuk mengisi ruang waktumu
Kami adalah “pemain-pemain” yang bisa
Kau handalkan, agar engkau bisa
Menceritakan kepada manusia-manusia
Setelah kami.
Karena dari atas panggungmu,,,engkau membutuhkan “tepukan” para penonton
Karena memang engkau menginginkan “selalu” agar panggungmu menjadi buah bibir sejarah
Karena memang engkau menginginkan agar panggungmu selalu dikunjungi orang sepanjang masa
Wahai…pintu sejarah
Karena itu kamilah orang yang kau butuhkan sekarang!!!
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”malam tanggal 8 April”,
Piala Kemenangan….
Barisan pasukan itu, kini
Pulang kembali ke Madinah
Jalannya melemah
Wajahnya tertunduk
Luka-luka masih membasah
Aroma kekalahan tercium
Sepanjang perjalanan mereka
700 pasukan uhud baru saja
Menguburkan para syuhada
Yang gugur dalam perang tersebut
“Bukankah kita beriman kepada Allah
“dan mereka adalah penyembah berhala”
“Kenapa mereka yang menang !!!
Setidaknya itu segundah pernyataan yang keluar
Dari beberapa sahabat kepada sang pemimpin,Rasulullah SAW.
Bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang sedang mereka alami
Bahwa “nostalgia kemenangan diperang badar” tidak lagi terulang
Diperang uhud kali itu.
Sulit….memang sulit menerima kenyataan itu
Benar dan salah
al haq dan al bathil, itu adalah wilayah nilai,
namun…
menang dan kalah
kekuatan dan kelemahan, itu adalah wilayah manajerial
Karena itulah,,,,
Bukan semata-mata karena kita benar maka kita akan jadi kuat
Bukan karena kita adalah barisan “al haq” maka kita menjadi pemenangnya
Dan sebaliknya bukan karena “mereka” yang bathil maka otomatis akan kalah begitu saja
Itu dua wilayah yang berbeda.
Mungkin itulah yang pernah dikatakan oleh imam Ali ra
Bahwa,”kemenangan yang tidak dikelola dengan baik
Akan dikalahkan oleh kebatilan yang dikelola dengan baik”.
Jadi……..
Kita cuma diminta untuk mempertemukan
Antara kebenaran dengan kekuatan
Antara al haq dengan kemenangan
Kalaupun orang-orang benar itu “kalah”
Itu hanyalah belum “jadual” mereka untuk menang
Jika ditanya,,mengapa mereka “gagal”??
Karena mungkin juga masih ada “syarat-syarat untuk menang” yang belum lengkap
Menyertai perjuangan “nilai” mereka.
Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan sekitar
80 ayat lebih dalam surat ali imran untuk
Menjelaskan ulang arti sebuah perjuangan
Kepada pasukan Uhud kala itu.
Allah SWT sedang menghibur duka-duka mereka :
“Walaa tahinuu wala tahzanuu, wa antumul a’launa inkuntum mu’miniin”
Dan janganlah kalian merasa lemah dan bersedih, dan kalianlah yang lebih tinggi karena beriman.
Saudaraku.,…hari ini
kita tidak menemukan alasan untuk bersedih
Apalagi merasa kalah…..
Kemenangan kita adalah karena keimanan kita.
Iman yang masih membara, menyemburat api da’wah
Iman yang menggelombang menjadi kekuatan cita
Iman yang meniup menjadi topan-topan kebaikan
Yang kelak akan menyingkirkan kebathilan.
Lihatlah…tidak ada yang hilang disekeliling kita
Kita masih beriman
Kita masih berukhuwah
Kita masih ber’amal
Seperti itulah sahabat,,,,walau kalah
Kota madinah tetap utuh ditangan mereka
Tidak ada yang menjadi tawanan perang musuh.
Ini belum giliran kita,,,,karena
Menang itu adalah piala bergilir
Yang akan senantiasa mencari “siapa yang layak”
Memegangnya……
Kita Cuma berusaha agar bisa menawan dihadapannya
Dan biarkanlah kelak, dia jatuh kepangkuan kita
Allah Akbar!!!
“kalau hari ini kalian mendapatkan luka (kalah) maka ingatlah juga
Bahwa musuh-musuhmu pernah juga mendapatkan luka (kalah) pada waktu yang lalu,
Demikianlah hari-hari (kemenangan & kekalahan) akan senantiasa Kami pergilirkan
Diantara manusia,……”
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”menatap hasil…”
Barisan pasukan itu, kini
Pulang kembali ke Madinah
Jalannya melemah
Wajahnya tertunduk
Luka-luka masih membasah
Aroma kekalahan tercium
Sepanjang perjalanan mereka
700 pasukan uhud baru saja
Menguburkan para syuhada
Yang gugur dalam perang tersebut
“Bukankah kita beriman kepada Allah
“dan mereka adalah penyembah berhala”
“Kenapa mereka yang menang !!!
Setidaknya itu segundah pernyataan yang keluar
Dari beberapa sahabat kepada sang pemimpin,Rasulullah SAW.
Bahwa mereka tidak percaya dengan apa yang sedang mereka alami
Bahwa “nostalgia kemenangan diperang badar” tidak lagi terulang
Diperang uhud kali itu.
Sulit….memang sulit menerima kenyataan itu
Benar dan salah
al haq dan al bathil, itu adalah wilayah nilai,
namun…
menang dan kalah
kekuatan dan kelemahan, itu adalah wilayah manajerial
Karena itulah,,,,
Bukan semata-mata karena kita benar maka kita akan jadi kuat
Bukan karena kita adalah barisan “al haq” maka kita menjadi pemenangnya
Dan sebaliknya bukan karena “mereka” yang bathil maka otomatis akan kalah begitu saja
Itu dua wilayah yang berbeda.
Mungkin itulah yang pernah dikatakan oleh imam Ali ra
Bahwa,”kemenangan yang tidak dikelola dengan baik
Akan dikalahkan oleh kebatilan yang dikelola dengan baik”.
Jadi……..
Kita cuma diminta untuk mempertemukan
Antara kebenaran dengan kekuatan
Antara al haq dengan kemenangan
Kalaupun orang-orang benar itu “kalah”
Itu hanyalah belum “jadual” mereka untuk menang
Jika ditanya,,mengapa mereka “gagal”??
Karena mungkin juga masih ada “syarat-syarat untuk menang” yang belum lengkap
Menyertai perjuangan “nilai” mereka.
Itulah sebabnya Allah SWT menurunkan sekitar
80 ayat lebih dalam surat ali imran untuk
Menjelaskan ulang arti sebuah perjuangan
Kepada pasukan Uhud kala itu.
Allah SWT sedang menghibur duka-duka mereka :
“Walaa tahinuu wala tahzanuu, wa antumul a’launa inkuntum mu’miniin”
Dan janganlah kalian merasa lemah dan bersedih, dan kalianlah yang lebih tinggi karena beriman.
Saudaraku.,…hari ini
kita tidak menemukan alasan untuk bersedih
Apalagi merasa kalah…..
Kemenangan kita adalah karena keimanan kita.
Iman yang masih membara, menyemburat api da’wah
Iman yang menggelombang menjadi kekuatan cita
Iman yang meniup menjadi topan-topan kebaikan
Yang kelak akan menyingkirkan kebathilan.
Lihatlah…tidak ada yang hilang disekeliling kita
Kita masih beriman
Kita masih berukhuwah
Kita masih ber’amal
Seperti itulah sahabat,,,,walau kalah
Kota madinah tetap utuh ditangan mereka
Tidak ada yang menjadi tawanan perang musuh.
Ini belum giliran kita,,,,karena
Menang itu adalah piala bergilir
Yang akan senantiasa mencari “siapa yang layak”
Memegangnya……
Kita Cuma berusaha agar bisa menawan dihadapannya
Dan biarkanlah kelak, dia jatuh kepangkuan kita
Allah Akbar!!!
“kalau hari ini kalian mendapatkan luka (kalah) maka ingatlah juga
Bahwa musuh-musuhmu pernah juga mendapatkan luka (kalah) pada waktu yang lalu,
Demikianlah hari-hari (kemenangan & kekalahan) akan senantiasa Kami pergilirkan
Diantara manusia,……”
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,”menatap hasil…”
LELAH....
Ada lelaki yang mengeluh….
Merasa jenuh
Lalu terjatuh, seraya berkata :
“LELAH!!!”
Ada lelaki yang lelah…..
Tubuhnya merah berdarah-darah,..
Namun wajahnya sangat cerah
Dan semangatnya tetap melimpah…
Ia berkata :
“LILLAH!!!” Ayuhal ikhwah
Jadilah lelaki yang gagah dalam berda’wah!!!
Balikpapan, gang depag
Gelisah,”dari seorang murid”!@?#
Minggu, 05 April 2009
Izinkan kami menang Ya Allah....
Malam itu, tiba-tiba saja
rasa mengantuk datang
Menyelimuti semua pasukan perang Badar
Tidak ada yang luput dari “serangan ngantuk”
Hebat tersebut.
Padahal besok mereka semua akan berperang
Melawan pasukan musyrikin Quraisy.
Wajah-wajah lelah mereka berubah
Menjadi wajah-wajah syahdu, mereka tenang
Dalam tidurnya. Mereka sedang
Menikmati pertolongan Allah SWT yang bernama
“mengantuk”
Diam-diam, Rasulullah SAW keluar dari kemahnya
Ditengah keheningan malam yang sejuk
Beliau melewati dan menatap satu-persatu sahabatnya yang
Sedang damai dalam tidurnya.
Beliau menatap sayang dan cinta
Semua sahabatnya yang sudah lelah
Berjalan kaki pada bulan Ramadhan
Dimana itu adalah puasa perdana mereka lakukan.
Ayunan langkah kaki beliau
Berakhir disebuah gundukan pasir yang agak tinggi
Dibawah sebuah pohon yang rindang
Tempat itu menjadi saksi
Sujud-sujud panjang
Dan lantunan doa’ dari seorang
Pemimpin mulia, Rasulullah SAW
“Ya Allah,,,,aku menagih janji-Mu kepadaku”
“Ya Allah,,,,berikanlah kepada kami kepastian Janji-Mu”
“Besok kami semua akan berperang melawan musuh-musuh-Mu
“Jika kami semua besok mati, maka jangan pernah Engkau
“Berharap diri-Mu akan disembah lagi diatas bumi ini!!”
Dalam tangisan cinta & munajat syahdu
Kali itu tangan beliau menengadah dengan
Tinggi…setinggi-tingginya
Sampai-sampai, selempang beliau terjatuh ke tanah
Abu bakar ra menghampirinya, seraya berkata
“cukup,,,cukup,,,cukuplah wahai Rasulullah
“Rabb-Mu pasti mendengarkan”
Sambil beliau menangis juga dan mengembalikan
Selendang Rasulullah ke pundaknya
Wahai…jiwa-jiwa badar
Wahai…jiwa-jiwa kader sejati
Wahai…jiwa-jiwa pemburu surga
Mari kita berkumul di lapangan jihad ini
Saksiksan kami duhai Allah
Tidak ada yang kami cari kecuali Ridho-Mu
Kami butuh kemenangan atas perjuangan ini, Ya Allah
Bukan karena kemenangan itu semata,
Namun kemenangan itu adalah pengakuan-Mu
Atas benarnya iman dan ‘amal kami Ya Allah.
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,’’malam-malam yang tenang”
rasa mengantuk datang
Menyelimuti semua pasukan perang Badar
Tidak ada yang luput dari “serangan ngantuk”
Hebat tersebut.
Padahal besok mereka semua akan berperang
Melawan pasukan musyrikin Quraisy.
Wajah-wajah lelah mereka berubah
Menjadi wajah-wajah syahdu, mereka tenang
Dalam tidurnya. Mereka sedang
Menikmati pertolongan Allah SWT yang bernama
“mengantuk”
Diam-diam, Rasulullah SAW keluar dari kemahnya
Ditengah keheningan malam yang sejuk
Beliau melewati dan menatap satu-persatu sahabatnya yang
Sedang damai dalam tidurnya.
Beliau menatap sayang dan cinta
Semua sahabatnya yang sudah lelah
Berjalan kaki pada bulan Ramadhan
Dimana itu adalah puasa perdana mereka lakukan.
Ayunan langkah kaki beliau
Berakhir disebuah gundukan pasir yang agak tinggi
Dibawah sebuah pohon yang rindang
Tempat itu menjadi saksi
Sujud-sujud panjang
Dan lantunan doa’ dari seorang
Pemimpin mulia, Rasulullah SAW
“Ya Allah,,,,aku menagih janji-Mu kepadaku”
“Ya Allah,,,,berikanlah kepada kami kepastian Janji-Mu”
“Besok kami semua akan berperang melawan musuh-musuh-Mu
“Jika kami semua besok mati, maka jangan pernah Engkau
“Berharap diri-Mu akan disembah lagi diatas bumi ini!!”
Dalam tangisan cinta & munajat syahdu
Kali itu tangan beliau menengadah dengan
Tinggi…setinggi-tingginya
Sampai-sampai, selempang beliau terjatuh ke tanah
Abu bakar ra menghampirinya, seraya berkata
“cukup,,,cukup,,,cukuplah wahai Rasulullah
“Rabb-Mu pasti mendengarkan”
Sambil beliau menangis juga dan mengembalikan
Selendang Rasulullah ke pundaknya
Wahai…jiwa-jiwa badar
Wahai…jiwa-jiwa kader sejati
Wahai…jiwa-jiwa pemburu surga
Mari kita berkumul di lapangan jihad ini
Saksiksan kami duhai Allah
Tidak ada yang kami cari kecuali Ridho-Mu
Kami butuh kemenangan atas perjuangan ini, Ya Allah
Bukan karena kemenangan itu semata,
Namun kemenangan itu adalah pengakuan-Mu
Atas benarnya iman dan ‘amal kami Ya Allah.
Balikpapan, gang Depag
Gelisah,’’malam-malam yang tenang”
Jumat, 03 April 2009
Terminal Negara...menantimu.
Seberapa akuratkah kita
Mendefenisikan “kemenangan” perjuangan ini
Seberapa kuatkah kita
Merintis jalan kemenangan tersebut
Dan seberapa yakinkah kita
Dengan arah perjuangan kereta yang kita tumpangi ini?
Kereta da’wah yang kita tumpangi kini
Sudah banyak melewati terminal-terminalnya
Banyak yang naik dan tidak sedikit pula turun
Disetiap terminalnya….
Didepan mata sana sudah terlihat
“Stasiun Negara” menunggu kedatangan kereta kita,
Diujung hamparan sana, sudah siap
Menanti lahan yang bernama “taman Indonesia”
Taman itu melambaikan tangannya, seraya dia berkata
“sepertinya kalian adalah para pekebun yang kami nanti-nantikan”
Pekebun-pekebun ulet itu cuma meminta doa
“Ya Allah izinkan kami menata ulang taman ini”
Balikpapan,gang Depag
gelisah,,,sudah berapa terminal?
Mendefenisikan “kemenangan” perjuangan ini
Seberapa kuatkah kita
Merintis jalan kemenangan tersebut
Dan seberapa yakinkah kita
Dengan arah perjuangan kereta yang kita tumpangi ini?
Kereta da’wah yang kita tumpangi kini
Sudah banyak melewati terminal-terminalnya
Banyak yang naik dan tidak sedikit pula turun
Disetiap terminalnya….
Didepan mata sana sudah terlihat
“Stasiun Negara” menunggu kedatangan kereta kita,
Diujung hamparan sana, sudah siap
Menanti lahan yang bernama “taman Indonesia”
Taman itu melambaikan tangannya, seraya dia berkata
“sepertinya kalian adalah para pekebun yang kami nanti-nantikan”
Pekebun-pekebun ulet itu cuma meminta doa
“Ya Allah izinkan kami menata ulang taman ini”
Balikpapan,gang Depag
gelisah,,,sudah berapa terminal?
Rabu, 01 April 2009
Mereka berada diantara kita...
Apakah yang dirasakan oleh para
generasi da’wah pertama “sabiquunal awwaluun”
ketika gerakan da’wah mereka sudah
memasuki tahun keduapuluh saat itu…
Saat da’wah mereka sudah “menguasai” negara
Saat dimana jumlah kaum muslimin sudah 120 ribuan
Saat orang “berbondong-bondong” masuk kedalam barisan da’wah
Ada yang karena sadar atas dorongan ilmu,
Ada yang karena “kagum” dengan jumlah kaum muslimin
Ada yang ingin “mendapatkan” cipratan ganimah harta
atau mereka yang terpaksa karena tidak punya pilihan lain
Kader awal terbaik Rasulullah SAW
Kini menjadi “minoritas” diantara kaum muslimin
Kini mereka “segelintir” dari yang banyak itu
Dimanakah……kira-kira??
83 sahabat Muhajirin
314 sahabat ahlu Badar
700 sahabat ahlu Uhud,,,, diantara ratusan ribu itu..?
Kini “siapa yang mempengaruhi siapa”!!
Apa yang ada dibenak kita ,,,,sekarang
Dimanakah kita berada sekarang?
Sekarang wajah siapa yang banyak kita lihat
Apa wajah “mereka yang bersama kita dari dahulu”
Atau wajah baru, yang barusan saja menaiki kereta Da’wah ini,,,”
Apakah kita hanya “menginginkan kamar”
Sedang mereka melihat kita membangun “istana yang besar”
Apakah kita hanya “membuat teras kecil”
Sedang mereka melihat kita sedang membangun “ taman besar”
Apakah kita hanya “menaiki kendaraan kecil”
Sedang mereka melihat kita “menaiki kereta api nan panjang”
Yang bisa mereka tumpangi setiap saat.
Kita adalah “taman kehidupan”
Tempat disana aneka bunga tumbuh menghiasinya
Kita adalah “penjaga taman” itu
Simpanlah bunga-bunga itu pada tempatnya agar dia kelihatan indah,,,,
Ada yang bisa disimpan ditaman, karena disitu tempatnya
Kita adalah “pemilik rumah”
Karena memang bunga-bunga itu tumbuh diteras da’wah kita
Jika engkau pandai mengaturnya,
Semua orang yang melewati “rumahmu” akan kagum kepadamu,
Namun, jika “taman kita” tidak elok dipandang
Mereka tidak pernah menyalahkan bunga-bunga itu.
Namun kita pemiliknyalah yang disalahkan
Mungkin ada yang salah “kita menempatkan” dan menatanya
Mungkin “telinga” kita menjadi asing
Mulai mendengar “ocehan” penumpang-penumpang baru
Yang berkendaraan bersama kita, ada suara-suara bising
Jika ada tikungan tajam, merekalah yang paling
Keras berteriak, namun “segelintir” orang itu
Hanya memastikan agar semuanya sampai tujuan dengan selamat
dengan mobil da’wah yang sudah kita rawat sejak dulu.
Itulah yang dirasakan dalam pasukan Hunain
12 ribu pasukan sedang parade kekuatan
Menuju bani hawazin,,,,
Pasukan sudah mulai ada yang bercengkerama
Wah,,,kalau jumlah ini pasti kita menang
Ditengah perjalanan, seluruh pasukan beristirahat
Diantantara mereka “ tiba-tiba” meminta dibuatkan
Sebuah pohon yang bisa digantungkan senjata-senjata mereka dibawahnya
Itu adalah tradisi bangsa jahiliyah, agar bisa menang.
Nabi berkata kepada mereka,
“kalian tidak ada ubahnya seperti pengikutnya Nabi Musa as
Yang minta dibuatkan patung agar bisa disembah”.
Dan ketika perang terjadi
Semuanya lari,, kecuali para sabiquunal awwalun
Merekalah urat nadi da’wah ini
Merekalah denyut jantung yang memompa darah perubahan mengalir kesekujur tubuh
Merekalah inti roda yang memutar semua lingkaran terluarnya
Balikpapan, lapangan merdeka
Kegelisahan sekitar kampanye
generasi da’wah pertama “sabiquunal awwaluun”
ketika gerakan da’wah mereka sudah
memasuki tahun keduapuluh saat itu…
Saat da’wah mereka sudah “menguasai” negara
Saat dimana jumlah kaum muslimin sudah 120 ribuan
Saat orang “berbondong-bondong” masuk kedalam barisan da’wah
Ada yang karena sadar atas dorongan ilmu,
Ada yang karena “kagum” dengan jumlah kaum muslimin
Ada yang ingin “mendapatkan” cipratan ganimah harta
atau mereka yang terpaksa karena tidak punya pilihan lain
Kader awal terbaik Rasulullah SAW
Kini menjadi “minoritas” diantara kaum muslimin
Kini mereka “segelintir” dari yang banyak itu
Dimanakah……kira-kira??
83 sahabat Muhajirin
314 sahabat ahlu Badar
700 sahabat ahlu Uhud,,,, diantara ratusan ribu itu..?
Kini “siapa yang mempengaruhi siapa”!!
Apa yang ada dibenak kita ,,,,sekarang
Dimanakah kita berada sekarang?
Sekarang wajah siapa yang banyak kita lihat
Apa wajah “mereka yang bersama kita dari dahulu”
Atau wajah baru, yang barusan saja menaiki kereta Da’wah ini,,,”
Apakah kita hanya “menginginkan kamar”
Sedang mereka melihat kita membangun “istana yang besar”
Apakah kita hanya “membuat teras kecil”
Sedang mereka melihat kita sedang membangun “ taman besar”
Apakah kita hanya “menaiki kendaraan kecil”
Sedang mereka melihat kita “menaiki kereta api nan panjang”
Yang bisa mereka tumpangi setiap saat.
Kita adalah “taman kehidupan”
Tempat disana aneka bunga tumbuh menghiasinya
Kita adalah “penjaga taman” itu
Simpanlah bunga-bunga itu pada tempatnya agar dia kelihatan indah,,,,
Ada yang bisa disimpan ditaman, karena disitu tempatnya
Kita adalah “pemilik rumah”
Karena memang bunga-bunga itu tumbuh diteras da’wah kita
Jika engkau pandai mengaturnya,
Semua orang yang melewati “rumahmu” akan kagum kepadamu,
Namun, jika “taman kita” tidak elok dipandang
Mereka tidak pernah menyalahkan bunga-bunga itu.
Namun kita pemiliknyalah yang disalahkan
Mungkin ada yang salah “kita menempatkan” dan menatanya
Mungkin “telinga” kita menjadi asing
Mulai mendengar “ocehan” penumpang-penumpang baru
Yang berkendaraan bersama kita, ada suara-suara bising
Jika ada tikungan tajam, merekalah yang paling
Keras berteriak, namun “segelintir” orang itu
Hanya memastikan agar semuanya sampai tujuan dengan selamat
dengan mobil da’wah yang sudah kita rawat sejak dulu.
Itulah yang dirasakan dalam pasukan Hunain
12 ribu pasukan sedang parade kekuatan
Menuju bani hawazin,,,,
Pasukan sudah mulai ada yang bercengkerama
Wah,,,kalau jumlah ini pasti kita menang
Ditengah perjalanan, seluruh pasukan beristirahat
Diantantara mereka “ tiba-tiba” meminta dibuatkan
Sebuah pohon yang bisa digantungkan senjata-senjata mereka dibawahnya
Itu adalah tradisi bangsa jahiliyah, agar bisa menang.
Nabi berkata kepada mereka,
“kalian tidak ada ubahnya seperti pengikutnya Nabi Musa as
Yang minta dibuatkan patung agar bisa disembah”.
Dan ketika perang terjadi
Semuanya lari,, kecuali para sabiquunal awwalun
Merekalah urat nadi da’wah ini
Merekalah denyut jantung yang memompa darah perubahan mengalir kesekujur tubuh
Merekalah inti roda yang memutar semua lingkaran terluarnya
Balikpapan, lapangan merdeka
Kegelisahan sekitar kampanye
Karena panggilan Risalah!!!
Tiba-tiba saja Rasulullah SAW
Berteriak dari atas kudanya
Teriakan yang sangat keras,
Sampai-sampai terdengar ke ujung pasukan yang
Sudah mundur & melarikan diri dari kancah peperangan.
Situasi menjadi kacau, diluar dugaan
Pasukan panah bani Hawazin berhasil
Menyergap kaum muslimin disela-sela bukit
dan menghujani mereka dengan panah
jelang terbitnya fajar.
Karuan saja,12 ribu pasukan kocar-kacir
Masing-masing lari mencari rasa aman sendiri
Wajah-wajah yang tadinya berangkat dengan penuh
Rasa percaya diri akan jumlah mereka yang banyak
Tiba-tiba saja hilang dari peredaran orbit pasukan
Kini wajah mereka semua memerah.
Memerah bukan karena “sedang seru” berperang mengayunkan pedangnya
Namun “memerah” karena sedang mengayuhkan kakinya
sekuat-kuat berlari meninggalkan medan tempur
Kini mereka sedang mempertontonkan kadar iman mereka
Seberapa “baik, benar, jujur dan iklhas kah” mereka dengan imannya.
“Aku adalah Muhammad bin Abdullah”
“Aku adalah Rasul Allah SWT”
“Aku tidak pernah berdusta, wahai kaum muslimin !!!
“Kemana kalian yang telah bersumpah setia (baiat)
kepadaku dibawah sebuah pohon kala itu…?
Kali ini teriakan beliau bukan hanya keras dalam arti kuatnya kekuatan
Suara yang keluar dari pita suara beliau, namun…
keras kepada siapa suara itu ditujukan.
Bagi orang yang baru masuk Islam dalam pasukan itu
Nabi berharap dengan menyebutkan nama nasabnya
Mereka akan kembali kekancah peperangankembali
Serta bagi para “senior” mereka, Nabi perlu menyentil
Mereka dengan sebutan “Rasulullah”.
Itulah yang kita sebut dengan
“panggilan Biologis” & “panggilan ideologis”
“panggilan nasab & panggilan risalah”
Kemanakah gerangan kalian yang telah
Bersumpah setia menyebutkan nama Allah SWT & Rasul-Nya
Bersumpah akan membela da’wah baik dalam
Keadaan apapun, Mudah maupun sulit, ringan maupun berat.
Kemanakah orang yang sudah betransaksi bisnis dengan Allah ?
Pembeli mana yang tidak akan kecewa, jika“barang” yang dibelinya
Ternyata manis di luar, namun pahit di dalamnya
Bagus bungkusnya, namun kosong isinya
Kemanakah,,,,energimu
Kemanakah,,,,langkahmu
Dimanakah….dirimu…..
Jihad mencarimu…..
Syahid menunggumu….
Mereka menunggumu di pintu jihad, namun
Kenapa nyaris tidak Kumencium aroma dirimu
Balikpapan, gang depag
Kegelisahan,”kenapa tidak semua kita bekerja”
Berteriak dari atas kudanya
Teriakan yang sangat keras,
Sampai-sampai terdengar ke ujung pasukan yang
Sudah mundur & melarikan diri dari kancah peperangan.
Situasi menjadi kacau, diluar dugaan
Pasukan panah bani Hawazin berhasil
Menyergap kaum muslimin disela-sela bukit
dan menghujani mereka dengan panah
jelang terbitnya fajar.
Karuan saja,12 ribu pasukan kocar-kacir
Masing-masing lari mencari rasa aman sendiri
Wajah-wajah yang tadinya berangkat dengan penuh
Rasa percaya diri akan jumlah mereka yang banyak
Tiba-tiba saja hilang dari peredaran orbit pasukan
Kini wajah mereka semua memerah.
Memerah bukan karena “sedang seru” berperang mengayunkan pedangnya
Namun “memerah” karena sedang mengayuhkan kakinya
sekuat-kuat berlari meninggalkan medan tempur
Kini mereka sedang mempertontonkan kadar iman mereka
Seberapa “baik, benar, jujur dan iklhas kah” mereka dengan imannya.
“Aku adalah Muhammad bin Abdullah”
“Aku adalah Rasul Allah SWT”
“Aku tidak pernah berdusta, wahai kaum muslimin !!!
“Kemana kalian yang telah bersumpah setia (baiat)
kepadaku dibawah sebuah pohon kala itu…?
Kali ini teriakan beliau bukan hanya keras dalam arti kuatnya kekuatan
Suara yang keluar dari pita suara beliau, namun…
keras kepada siapa suara itu ditujukan.
Bagi orang yang baru masuk Islam dalam pasukan itu
Nabi berharap dengan menyebutkan nama nasabnya
Mereka akan kembali kekancah peperangankembali
Serta bagi para “senior” mereka, Nabi perlu menyentil
Mereka dengan sebutan “Rasulullah”.
Itulah yang kita sebut dengan
“panggilan Biologis” & “panggilan ideologis”
“panggilan nasab & panggilan risalah”
Kemanakah gerangan kalian yang telah
Bersumpah setia menyebutkan nama Allah SWT & Rasul-Nya
Bersumpah akan membela da’wah baik dalam
Keadaan apapun, Mudah maupun sulit, ringan maupun berat.
Kemanakah orang yang sudah betransaksi bisnis dengan Allah ?
Pembeli mana yang tidak akan kecewa, jika“barang” yang dibelinya
Ternyata manis di luar, namun pahit di dalamnya
Bagus bungkusnya, namun kosong isinya
Kemanakah,,,,energimu
Kemanakah,,,,langkahmu
Dimanakah….dirimu…..
Jihad mencarimu…..
Syahid menunggumu….
Mereka menunggumu di pintu jihad, namun
Kenapa nyaris tidak Kumencium aroma dirimu
Balikpapan, gang depag
Kegelisahan,”kenapa tidak semua kita bekerja”
Selasa, 24 Maret 2009
Orang-orang besar itu…!!
Aneh, heran dan menakjubkan, setidaknya
Itulah dirasakan oleh seorang utusan Raja Persia
Ketika dia memasuki kota Madinah dan ingin
Bertemu dengan seorang khalifah yang namanya
Sudah “mendunia” kala itu, Umar bin Khattab.
Ketika dia tiba dipintu gerbang kota Madinah
Tiba-tiba saja semua bangunan didalam pikirannya
Tentang kaum muslimin runtuh berantakan.
Sulit dia terima kenyataan itu, bahwa kaum muslimin
yang telah mengalahkan “negaranya” itu
dan juga telah menaklukkan negera sebesar Romawi,
membuka Mesir sebagai pintu gerbang benua Afrika dan sebagainya itu,
Pasti berasal dari “kota” yang bagus infrastrukturnya.
Pasti memiliki istana yang megah dan mahkota sang rajanya terbuat dari emas berlapis-lapis dan terbungkus oleh pakaian indah sang raja.
Pasti bagus bangunan-bangunan rumahnya.
Pasti canggih sisitem pengamanan berlapisnya
Pasti amat sulit dan birokratif menemui “sang Rajanya”
Dan sudah pasti para pasukannya memiliki “barak-barak” militer yang kuat.
Itu…semua menjadi sirna,iya…semuanya sirna
Semua kesan itu menjadi paradoks dalam benak pikirannya.
Sedikit berguman dia didalam hatinya…seranya bertanya.
Apa betul….ini adalah Madinah yang bisa mengalahkan Roma itu…?
Apa iya….ini adalah Madinah yang menaklukkan Persia itu..?
Dimana wajah-wajah prajurit yang sangat sangar kala itu..?
Kemana para pasukan yang pernah mengatakan kepada kami
Ketika perang Qadhisiyyah itu terjadi :
“wahai Rustuum, kami datang kepada kalian
dengan para tentara, yang sangat mencintai kematian
sebagaimana kalian mencintai kehidupan”
Semuanya itu menjadi pertanyaan dalam dirinya.
Ketika dengan pakaian kemewahan sang utusan itu
Dia ingin menemui sang khalifah Umar bin khattab
Tidak ada protokoleran yang dilaluinya
Tidak ada sambutan yang melambungkan hati
Tidak ada tepuk tangan yang menyambutnya.
Seraya dia bertanya,,,”bagaimana caranya aku bisa
Bertemu dengan raja kalian?
Diantara sahabat ada yang menjawabnya,
“jika engkau ingin bertemu khalifah Umar
dia ada di bawah pohon kurma disamping masjid sana !”.
Sang utusan itu, terdiam, hening, dan seribu bahasa
Kini dia sedang berhadapan dengan seseorang
Yang sedang tertidur pulas dalam dan damai
Tidak ada tanda-tanda masalah besar dalam raut wajah tidurnya,
berbantalkan tangan kanan yang dilipat
Diatas permadani padang pasir, ditiup angin sepoi-sepoi
Dibawah rindangnya pelepah kurma.
Inikah,,,orang itu yang menaklukkan
Persia dan Romawi itu?, bagaiman bisa orang seperti
Ini tidur nyaman tanpa ada yang mengawalnya.
Kini dia sadar, bahwa sedang berhadapan dengan
Sebuah peradaban besar yang berisi orang-orang besar
Dia sedang melihat pemandangan di Madinah
Bahwa mereka adalah orang-orang pilihan
Yaitu, mereka adalah orang-orang
yang menyembuniyikan keberaniannya dibalik kelemahlembutannya
yang menyembunyikan kecerdasannya dibalik ketawadhuannya
yang menyembunyikan keperkasaannya dibalik kerendahandirinya
yang menyembunyikan Izzahnya dibalik kebersahajaannya.
Balikpapan, Gang Depag
“paradox kejiwaan”
Aneh, heran dan menakjubkan, setidaknya
Itulah dirasakan oleh seorang utusan Raja Persia
Ketika dia memasuki kota Madinah dan ingin
Bertemu dengan seorang khalifah yang namanya
Sudah “mendunia” kala itu, Umar bin Khattab.
Ketika dia tiba dipintu gerbang kota Madinah
Tiba-tiba saja semua bangunan didalam pikirannya
Tentang kaum muslimin runtuh berantakan.
Sulit dia terima kenyataan itu, bahwa kaum muslimin
yang telah mengalahkan “negaranya” itu
dan juga telah menaklukkan negera sebesar Romawi,
membuka Mesir sebagai pintu gerbang benua Afrika dan sebagainya itu,
Pasti berasal dari “kota” yang bagus infrastrukturnya.
Pasti memiliki istana yang megah dan mahkota sang rajanya terbuat dari emas berlapis-lapis dan terbungkus oleh pakaian indah sang raja.
Pasti bagus bangunan-bangunan rumahnya.
Pasti canggih sisitem pengamanan berlapisnya
Pasti amat sulit dan birokratif menemui “sang Rajanya”
Dan sudah pasti para pasukannya memiliki “barak-barak” militer yang kuat.
Itu…semua menjadi sirna,iya…semuanya sirna
Semua kesan itu menjadi paradoks dalam benak pikirannya.
Sedikit berguman dia didalam hatinya…seranya bertanya.
Apa betul….ini adalah Madinah yang bisa mengalahkan Roma itu…?
Apa iya….ini adalah Madinah yang menaklukkan Persia itu..?
Dimana wajah-wajah prajurit yang sangat sangar kala itu..?
Kemana para pasukan yang pernah mengatakan kepada kami
Ketika perang Qadhisiyyah itu terjadi :
“wahai Rustuum, kami datang kepada kalian
dengan para tentara, yang sangat mencintai kematian
sebagaimana kalian mencintai kehidupan”
Semuanya itu menjadi pertanyaan dalam dirinya.
Ketika dengan pakaian kemewahan sang utusan itu
Dia ingin menemui sang khalifah Umar bin khattab
Tidak ada protokoleran yang dilaluinya
Tidak ada sambutan yang melambungkan hati
Tidak ada tepuk tangan yang menyambutnya.
Seraya dia bertanya,,,”bagaimana caranya aku bisa
Bertemu dengan raja kalian?
Diantara sahabat ada yang menjawabnya,
“jika engkau ingin bertemu khalifah Umar
dia ada di bawah pohon kurma disamping masjid sana !”.
Sang utusan itu, terdiam, hening, dan seribu bahasa
Kini dia sedang berhadapan dengan seseorang
Yang sedang tertidur pulas dalam dan damai
Tidak ada tanda-tanda masalah besar dalam raut wajah tidurnya,
berbantalkan tangan kanan yang dilipat
Diatas permadani padang pasir, ditiup angin sepoi-sepoi
Dibawah rindangnya pelepah kurma.
Inikah,,,orang itu yang menaklukkan
Persia dan Romawi itu?, bagaiman bisa orang seperti
Ini tidur nyaman tanpa ada yang mengawalnya.
Kini dia sadar, bahwa sedang berhadapan dengan
Sebuah peradaban besar yang berisi orang-orang besar
Dia sedang melihat pemandangan di Madinah
Bahwa mereka adalah orang-orang pilihan
Yaitu, mereka adalah orang-orang
yang menyembuniyikan keberaniannya dibalik kelemahlembutannya
yang menyembunyikan kecerdasannya dibalik ketawadhuannya
yang menyembunyikan keperkasaannya dibalik kerendahandirinya
yang menyembunyikan Izzahnya dibalik kebersahajaannya.
Balikpapan, Gang Depag
“paradox kejiwaan”
Minggu, 22 Maret 2009
Pribadi-pribadi yang gelisah...
Semua yang ada didepan kita akan berubah
Yah,,,akan berubah semuanya,
kecuali perubahan itu sendiri.
Perubahan adalah benda netral
Tergantung ditangan siapa dia berada
Skala perubahannya bisa kecil, sedang ataupun besar
Pengaruhnya bisa singkat terlupakan
atau lama yang membekas
Sekali lagi,,,semuanya itu tergantung
ditangan siapa perubahan itu berada
Perubahan selalu memiliki yang namanya “jadual perubahan”
Dan tidak semua orang bisa mengambil jadual perubahannya
Perubahan selalu membutuhkan orang-orangnya.
Ada orang-orang yang bersama dengannya
Mereka semuanya berjalan diatas waktu.
Siapakah orang yang dilirik oleh perubahan..?
Mereka adalah orang-orang yang sedang gelisah.
Tidak banyak memang orang seperti mereka
Namun mereka tetap ada ditengah komunitasnya.
Kegelisahan mereka lahir dari fitrah dan ilmu.
Semakin besar kadar kegelisahannya
Maka akan semakin dekat jaraknya dengan perubahan.
Apa yang mendorong Rasulullah SAW
Melakukan aktivitas unik “tahannuts” atau
Menyendiri diatas gua Hira. Apa yang mendorong
Beliau melakukannya selama hampir 5 tahun,
bolak balik dari rumah menuju Gua Hira bermalam disana?
Gelisah,,,,iya,, kegelisahanlah yang mendorong beliau melakukannya.
Gelisahnya beliau terhadap kenyataan masyarakatnya yang
Jauh dari nilai-nilai fitrah kebaikan, mereka menyembah berhala
Penindasan, mereka larut dalam kehidupan sosial yang amburadul
Beliau gelisah melihat itu semuanya.
Dari atas ketinggian gua hira, beliau menatap pasti dibawah sana
Masyarakat jahiliyyah kota Makkah.
Banyak laki-laki disana
Banyak anak muda disana
Banyak orang kuat disana
Banyak orang pintar disana
Banyak orang kaya disana
Namun sedikit orang yang gelisah
Sedikit orang yang meratapi keadaan
Sedikit orang yang melihat ada jarak terbentang
antara realitas kehidupan dan idealitas kehidupan.
Ditengah masyarakat Arab Jahiliyyah
hanya ada seorang Muhammad bin Abdullah
Adalah seorang lelaki yang terpilih untuk memperbaiki
Keadaan masyarakatnya.
Karena sebuah kegelisahan yang tinggi dalam dirinya.
Kini perubahan telah menemukan orangnya,
Orang yang layak memikulnya yaitu Nabi Muhammad SAW .
Maka mari kita mengukur sejauhmana
Barang kegelisahan itu ada dirongga hati kita,
Dimana dia kita tempatkan dalam jiwa kita.
Bergelisahlah sebagaimana gelisahnya Rasulullah SAW.
Karena kegelisahan adalah rahim perubahan.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh
Malik bin Nabi “alhumuum bidayati kulli syaiin harokah”
“kegelisahan adalah awal dari semua pergerakan”.
Selamat bergelisah.
Balikpapan,
Gang Depag
Karena sebuah kegelisahan
Yah,,,akan berubah semuanya,
kecuali perubahan itu sendiri.
Perubahan adalah benda netral
Tergantung ditangan siapa dia berada
Skala perubahannya bisa kecil, sedang ataupun besar
Pengaruhnya bisa singkat terlupakan
atau lama yang membekas
Sekali lagi,,,semuanya itu tergantung
ditangan siapa perubahan itu berada
Perubahan selalu memiliki yang namanya “jadual perubahan”
Dan tidak semua orang bisa mengambil jadual perubahannya
Perubahan selalu membutuhkan orang-orangnya.
Ada orang-orang yang bersama dengannya
Mereka semuanya berjalan diatas waktu.
Siapakah orang yang dilirik oleh perubahan..?
Mereka adalah orang-orang yang sedang gelisah.
Tidak banyak memang orang seperti mereka
Namun mereka tetap ada ditengah komunitasnya.
Kegelisahan mereka lahir dari fitrah dan ilmu.
Semakin besar kadar kegelisahannya
Maka akan semakin dekat jaraknya dengan perubahan.
Apa yang mendorong Rasulullah SAW
Melakukan aktivitas unik “tahannuts” atau
Menyendiri diatas gua Hira. Apa yang mendorong
Beliau melakukannya selama hampir 5 tahun,
bolak balik dari rumah menuju Gua Hira bermalam disana?
Gelisah,,,,iya,, kegelisahanlah yang mendorong beliau melakukannya.
Gelisahnya beliau terhadap kenyataan masyarakatnya yang
Jauh dari nilai-nilai fitrah kebaikan, mereka menyembah berhala
Penindasan, mereka larut dalam kehidupan sosial yang amburadul
Beliau gelisah melihat itu semuanya.
Dari atas ketinggian gua hira, beliau menatap pasti dibawah sana
Masyarakat jahiliyyah kota Makkah.
Banyak laki-laki disana
Banyak anak muda disana
Banyak orang kuat disana
Banyak orang pintar disana
Banyak orang kaya disana
Namun sedikit orang yang gelisah
Sedikit orang yang meratapi keadaan
Sedikit orang yang melihat ada jarak terbentang
antara realitas kehidupan dan idealitas kehidupan.
Ditengah masyarakat Arab Jahiliyyah
hanya ada seorang Muhammad bin Abdullah
Adalah seorang lelaki yang terpilih untuk memperbaiki
Keadaan masyarakatnya.
Karena sebuah kegelisahan yang tinggi dalam dirinya.
Kini perubahan telah menemukan orangnya,
Orang yang layak memikulnya yaitu Nabi Muhammad SAW .
Maka mari kita mengukur sejauhmana
Barang kegelisahan itu ada dirongga hati kita,
Dimana dia kita tempatkan dalam jiwa kita.
Bergelisahlah sebagaimana gelisahnya Rasulullah SAW.
Karena kegelisahan adalah rahim perubahan.
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh
Malik bin Nabi “alhumuum bidayati kulli syaiin harokah”
“kegelisahan adalah awal dari semua pergerakan”.
Selamat bergelisah.
Balikpapan,
Gang Depag
Karena sebuah kegelisahan
Rabu, 18 Maret 2009
"Beginilah para mujahid bermimpi"
Beginilah para mujahid bermimpi…
Jika ada orang yang sangat berambisi meraih cita-citanya, itulah para mujahid.
Cita-cita mereka besar. Yah,,,sebesar jiwa-jiwa mereka.
Mereka bekerja untuk mimpi-mimpi besarnya. Mimpi yang lahir dari rahim iman.
Mereka adalah “para pemimpi”,
Namun mereka bisa menjembatani mimpinya menjadi kenyataan.
Azam yang kuat adalah “Jembatan mimpi” yang mereka bangun
untuk mengubah mempinya menjadi kenyataan, merubah sesuatu yang mereka pikirkan
menjadi sesuatu yang mereka rasakan.
semua ‘amal mereka seberat apapun, mampu berjalan diatas “jembatan mimpi” ,
karena pondasinya terbuat dari campuran pemahaman & keikhlasan.
Cita-cita mereka telah menguras semua yang ada dalam dirinya,,,
Bagi mereka, tidak ada keringat yang menetes dari tubuhnya, walaupun hanya setetes
Kecuali itu dalam rangka meraih mimpinya.
Mimpi mereka dapat dibaca oleh siapapun , itu dapat dilihat dari raut wajahnya,
Dari pikiran-pikiran yang keluar dari kepalanya dan dari perbuatan yang keluar dari badannya.
Mereka adalah orang yang tidak tidur seluas kelopak matanya, tidaklah makan seluas mulutnya
Dan tidaklah ketawa seluas bibirnya.
Kaki mereka kokoh menapaktilasi jalan cita-citanya
Waktu-waktu mereka sangat efektif & berkualitas
Pandangannya jauh kedepan, dan tidak mau disibukkan dengan
Ocehan-ocehan orang dipinggir jalan .
Mereka tidak pernah merasa puas dengan kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan.
Karena itu musuh yang utama bagi mereka adalah “merasa puas” dalam beramal.
Jika kalian bertanya kepadanya, mengapa kalian tidak pernah merasa puas !?
Maka mereka menjawab, “ karena , kami tidak tahu kebaikan kami yang manakah akan mengantarkan
Kami menuju surga”.Mereka sadar…bahwa surga terlalu luas untuk menampung kebaikan-kebaikan
mereka, yah…seluas ketidakterbatasan mereka dalam beramal saleh.
Mereka bukan tipe orang spekulatif dalam kebaikan, bagi mereka menanam saham kebaikan
Disemua proyek “amal-amal surga” diatas bumi ini. sadar bahwa kebaikan mereka belum layak untuk mengetuk pintu Syurga.
Balikpapan,jelang dhuhur
Gang Depag, “kegelisahan disaat bermimpi”
Selasa, 27 Januari 2009
sepucuk surat dari Gaza

Untuk saudaraku di Indonesia
Saya tidak tahu, mengapa saya harus
menulis dan mengirim surat ini untuk
kalian di Indonesia,,???
namun , jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa…?
Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki
Adalah karena Negeri kalian berpenduduk muslim
Terbanyak di punggung bumi ini,,,,bukan demikian saudaraku???
disaat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah
Saya sempat berkenalan dengan salah seorang “aktivis da’wah” dari
Jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku,”setiap tahun musim haji, ada sekitar
205 ribu jama’ah haji ber asal dari Indonesia datang ke Baitullah ini…!!!”.
Wah,,,,sungguh jumlah angka yang sangat fantastis & membuat saya berdecak kagum,
Lalu saya mengatakan kepadanya, “sauadaraku,,,,jika jumlah jama’ah Haji asal GAZA sejak tahun 1987
Sampai sekarang di gabung,,itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji
Dari negeri kalian dalam satu musim haji saja”.
Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat di banding kalian yah…
Wah….wah…pasti uang kalian sangat banyak yah, apalagi menurut sahabatku itu ada 5 % dari rombongan tersebut yang menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya,,,Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia
Pernah saya berkhayal dalam hati,,kenapa saya & kami yang ada di GAZA ini
Tidak dilahirkan di negeri kalian saja. Wah….pasti sangat indah dan mengagumkan yah.
Negeri kalian aman, kaya dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui
Tentang negeri kalian. Pasti para ibu-ibu disana amat mudah
Menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian
dapatkan di toko-toko & para wanita hamil kalian mungkin dengan
mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
Ini…yang membuatku iri kepadamu saudaraku
Tidak seperti di negeri kami ini….saudaraku,
anak-anak bayi kami lahir di tenda-tenda pengungsian.
Bahkan tidak jarang tentara
Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami
Melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah,
Sehingga istri-istri kami terpaksa melahirkan diatas mobil,,,,yah diatas mobil saudaraku!!
Susu formula bayi adalah barang yang langka di GAZA sejak kami di blokade 2 tahun lalu,
Namun isteri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga dua tahun lamanya
Walau, terkadang untuk memperlancar ASI mereka, isteri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun,,,mengapa di negeri kalian , katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah & ibunya , terkadang ditemukan mati di parit-parit, di selokan-selokan dan di tempat sampah,,,,itu yang kami dapat dari informasi televisi. Dan yang membuat saya terkejut dan merinding,,,,, ternyata negeri kalian adalah negeri yang tertinggi kasus Abortusnya untuk wilayah ASIA,,,,Astaghfirullah.
Ada apa dengan kalian..???
Apakah karena di negeri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina tersebut….!!!, sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami di sini.
Memang hampir setiap hari di GAZA sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati,
Namun, bukanlah diselokan-selokan ,,,,atau got-got apalagi ditempat sampah…saudaraku!!!,
Mereka mati syahid,,,saudaraku…
mati syahid karena serangan roket tentara Israel !!!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi dipangkuan ibunya ,di bawah puing-puing bangunan
rumah kami yang hancur oleh serangan roket tentara Zionis Israel,
Saudaraku,,,,bagi kami nilai seorang bayi adalah
Aset perjuangan perlawanan kami terhadap penjajah Yahudi
Mereka adala mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan Negeri ini
Perlu kalian ketahui,,,sejak serangan Israel tanggal 27 desember kemarin
Saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 diantaranya adalah anak-anak kami
Namun,,,,sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru
Dijalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan
banyak yang kembar,,,Allahu Akbar!!!
Wahai saudaraku di Indonesia
Negeri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah,
Namun kenapa di negeri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi ,menderita busung lapar,,,,
Apa karena kalian sulit mencari rezki disana..? apa negeri kalian sedang di blokade juga..?
Perlu kalian ketahui,,,saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita
kekurangan gizi apalagi sampai mati kelaparan,,,walau sudah lama kami di blokade.
Kalian terlalu manja…!?
Saya adalah pegawai Tata usaha di kantor pemerintahan Hamas
Sudah 7 bulan ini, gaji bulanan belum saya terima, tapi Allah SWT yang akan mencukupkan rezki untuk kami. Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda
Baru saja melangsungkan pernikahan,,,yah,,,mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel,
Mereka mengucapkan akad nikah,,,,diantara bunyi letupan bom dan peluru saudaraku.
Dan Perdana menteri kami, yaitu ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan
Bagi semua keluarga baru tersebut .
Wahai Saudaraku di Indonesia
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan “pengajian” atau halaqoh pembinaan
Di Negeri antum, seperti yang diceritakan teman saya tersebut,,,,
Program pengajian kalian pasti bagus bukan, banyak kitab mungkin yang telah kalian baca, dan
Buku-buku pasti kalian telah lahap,,,kalian pun sangat bersemangat bukan, itu karna kalian punya waktu
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini wahai saudaraku…
Satu jam,,,yah satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqoh
Setelah itu kami harus terjun langsung ke lapanagn jihad, sesuai dengan tugas yang
Telah diberikan kepada kami. Kami disini sangat menanti-nantikan hari halaqoh tersebut
Walau Cuma satu jam saudaraku,,,,
Tentu kalian lebih bersyukur, kalian lebih punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqoh,
Seperti ta’aruf, tafahum dan takaful di sana.
Hafalan antum pasti lebih banyak dari kami,,,
Semua pegawai dan pejuang Hamas di sini wajib menghapal surat al anfaal sebagai
“nyanyian perang” kami, saya menghapal di sela-sela waktu istirahat perang ,,, bagaimana
Dengan kalian…?
Akhir desember kemarin, saya menghadiri acara wisuda penamatan hafalan 30 juz anakku yang pertama, ia diantara 1000 anak yang tahun ini menghapal al qur’an, umurnya baru 10 tahun ,
Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal al quran ketimbang anak-anak kami disini, di Gaza tidak ada SDIT seperti di tempat kalian, yang menyebar seperti jamur sekarang.
Mereka belajar di antara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tyanahnya sudah
Diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun pohon kurma,,,, yah ditempat itulah mereka belajar
Saudaraku…., bunyi suara setoran hafalan al quran mereka bergemuruh diantara bunyi-bunyi senapan tentara Israel…
Ayat-ayat Jihad paling cepat mereka hafal,,,karena memang didepan mereka “tafsirnya” langsung
Mereka rasakan.
Wahai Saudaraku di Indonesia
Oh…iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat aksi solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia, kami menyaksikan demo-demo kalian disini. Subhanallah,,,,,kami sangat terhibur, karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini , termasuk kalian di Indonesia
Namun,,,bukan tangisan kalianj yang kami butuhkan saudaraku
Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti nanti di akhirat yang dicatat Allah sebagai
Bukti ukhuwah kalian kepada kami.
Doa-doa kalian dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.
Kami lah yang berterima kasih,,parta kami yaitu Hamas sejak berjuang melalui demokrasi
Sejak tahun 2006, terinspirasi oleh kemenangan partai da’wah kalian di Indonesia, yah,,, temanku
Itu adalah aktivis PKS, kalian lah yang mengajarkan kepada kami, karena kalian yang lebih dahulu
Berjuang lewat pintu ini, kami baca semua tentang kalian. SUngguh kalianlah yang mengajarkan bagaimana mengelola partai yang baik, dekat dengan masyarakat, melayani mereka, mulai baksos sampai dengan DS, murni kami jiplak dari kalian semua.
Dan hasilnya saudaraku…. Kami menang dengan angkan 67 % suara..Allahu Akbar!!!
Tahun 2010 kami juga akan pemilu disini,,,kami tetap mengurus partai seperti yang kami belajar dari kalian, tetap membina para kader kami, dengan dengan masyarakat dan satu lagi kami juga tetap mengangkat senjata untuk mengusir tentara Israel dari bumi palestina.
Saya dengar bulan April ini kalian akan pemilu, dan katanya targetnya 20 % saja
Sebenarnya sebagai seorang “murid” kami malu, kenapa? Karena angka tersebut terlalu kecil untuk seorang “guru” seperti kalian.
Kalian tidak sedang mengangkat senjata , seperti kami disini, kader kalian banyak,,,,,
Apalagi yang kurang dari kalian.
Saya Cuma bisa berdoa semoga kalian bisa memenangkan pemilu nanti,,,,
Oh,,,iya hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya
Untuk menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telepon dan fax yang masuk
Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi
Salam untuk semua pejuang-pejuang islam di Indonesia.
Akhhuka…..di Gaza
(Balikpapan, gang depag , jelang azan Maghrib :”sebuah kegelisahan dialam pikiran”)
"Karena engkaulah yang di pilih"

"Karena Engkaulah yang di pilih"
Jika sedikit yang engkau lihat
karena memang dirimulah yang dipanggil
engkau datang sebelum
teriakanku berakhir,,,,
kupanggil engkau dengan Syurga
kau datang memebawa harta dan jiwa
ketika kutanya,,,mengapa engkau datang...?!!
kau jawab,,,karena Syurga balasannya
Jika sedikit yang mau memikul
karena memang dirimulah yang dipilih
engkau tiba sebelum beban diberikan
Tidak perlu melihat kesana kemari
karena cuman engkau yang ada disini
ketika kubertanya,,,mengapa engkau yang dipilih...??!!
kau jawab,,karena aku adalah orang yang sedikit itu.
kau kutip doa lelaki terbaik setelah Rasulullah SAW
Abu bakar as siddiq,"Allahummaj 'alni minal qaliil"
"Ya Tuhanku jadikanlah aku dari golongan orang yang sedikit"
Jika banyak yang engkau lihat terduduk
karena memang permadani dunia terlalu empuk untuk di duduki
namun engkau berdiri diantara kerumunan orang-orang yang duduk
engkau buang permadani empukmu, ketika kutanya
mengapa engkau membuangnya..??!!
Lalu kau jawab, "karena aku ingin permadani yang terbuat dari sutera emas
dikelilingi batu intan permata, yang dibentang ditepi telaga Al kautsar di taman
firdaus nanti dan ingin duduk bersama Rasulullah SAW dipermadani tersebut"
kini kusadari
Aku berada diantara orang-orang yang sedikit
diantara mereka yang berdiri
mereka adalah orang-orang yang terpilih
engkau lihat mereka bekerja seperti air laut yang luas
tenang diatasnya memang, namun didasarnya mereka sangat keras bergerak
engkau lihat orang ini bekerja seperti angin
memang engkau sulit melihatnya, namun engkau rasakan
dahsyat pengaruhnya
Merekalah air terjun, yang terus menerus bekerja
tanpa henti, deras, kencang, laju dan menerobos apa yang ada didepannya
mereka adalah halilintar, keras ditengah keheningan, menggentarkan
namun membawa kesejukan
mereka adalah permadani yang selalu siap untuk di duduk siapa saja
napas mereka adalah Jihad
Umur mereka adalah da'wah
Obsesinya adalah Syahid
yang dikejar adalah syurga
Inilah jiwa yang dirindukan syurga
mereka adalah pilihan-pilihan langit
kaki mereka dibumi, namun hati mereka dilangit
Tidak banyak yang memang menjadi seperti mereka
sebagaimana mereka yang terjun dilapangan jihad
mengirimkan surat-suratnya kepada ahli ibadah
seperti abu Abdurahman kepada Abdullah ibnu mubarak
"Wahai para ahli ibadah di al haramain
kalau kalian menyaksikan kami,
maka kamu akan mengetahui
bahwa sesungguhnya kamu
sedang bermain-main dalam ibadah!!!
Kalau orang-orang membasahi pipinya dengan air mata yang mengalir deras
maka dengan pengorbanan kami
kami mengucurkan darah yang lebih deras
kalau kuda-kuda kalian penat dalam melakukan perkara-perkara duniawi
maka sungguh kuda-kuda kami penat dalam melakukan
penyerbuan dan peperangan sepanjang hari.
Bau wewangian menjadi milikmu sedangkau bau wewangian kami adalah debu-debu jalanan dan debu-debu ini lebih wangi bagi kami
telah datang kepada kami Sabda
Nabi kami, Sabda yang benar, jujur dan tiada dusta
"tidaklah sama debu-debu kuda Allah dihidung seseorang dengan asap yang menyala-nyala, Inilah kitab Allah yang berbicara kepada kami, bahwa
Orang yang mati syahid tidak diragukan lagi tidak sama dengan orang yang mati biasa"
Allahu Akbar!!!
Balikpapan, "jelang Isya"
Gang Depag
Jumat, 28 November 2008
Melihat Kasih Sayang Rasulullah SAW

Drg.Syukri Wahid
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri
berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan & keselamatan) bagimu, amat belas asihan
lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”
(at taubah : 128)
Menjelang tanggal 14 Februari memang sebagian besar para remaja dan anak muda di dunia tidak terkecuali di Indonesia sedang dilanda wabah “penyakit merah jambu”, yah... sebuah penyakit yang datang menjelang hari Valentine, mereka menyebutnya dengan hari kasih sayang. Fenomena tersebut adalah sebuah gambaran suramnya potret para remaja kita saat ini, dan sebagian besar yang menyiapkan diri dan merayakannya adalah para generasi muda Islam kita, selera mereka belum sejalan dengan Islam. Tanpa sadar mereka telah menghidupkan syiar yang tidak berdasar dalam literatur ajaran Islam dan yang kedua mereka sedang mengambil contoh tauladan dari orang selain al qudwah Rasulillah SAW.
Jika kita ingin membandingkan makna cinta dan kasih sayang Nabi SAW yang diajarkan oleh beliau, adalah cinta yang bagaikan sinaran mentari yang memberikan gelora pada bunga & tumbuhan, dan sekaligus cinta beliau bagaikan siraman air yang memberikan kesejukan pada bunga. Yah, itulah ..cinta beliau, cinta yang menumbuh kembangkan sekaligus cinta yang melindungi dan menjaga kefitrahan. Begitu amat sangat cinta beliau kepada da’wah & ummatnya, sehingga beliau telah mewakafkan seluruh hidup dan matinya untuk da’wah dan ummat, disaat sakratul maut ucapan terakhir yang keluar dari lisan beliau meurut hadits ’Aisyah adalah beliau mengucapkan ummatii, ummatii, ummatii (ummatku 3 kali) mungkin inilah yang membuat Nabi Musa as cemburu ketika Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW, beliau berkata,” aku cemburu, karena setelah diriku ada seorang Nabi yang lebih mencintai ummatnya dan ummatnya paling banyak masuk kedalam surga dibandingkan dengan ummatku”.
Semua kehidupan beliau senantiasa ditabur dengan rasa cinta (mahabbah), sehingga siapapun yang berinteraksi dengan beliau akan dapat meresapi aura cinta tersebut, pada tulisan singkat ini saya menyebutkan beberapa rasa cinta beliau dalam interaksi kehidupan.
a. Cinta & Kasih sayang seorang Suami, Ayah dan kakek
Orang yang mungkin mendapatkan langsung cinta Nabi Muhammad SAW adalah anggota keluarga beliau. Beliau adalah sosok seorang suami, ayah dan kakek yang paling sukses, bagaimana peran-peran cinta tersebut terdistribusi dengan proposional oleh seluruh anggota keluarganya. Istri beliau yang bernama Khadijah binti khuwailid yang paling bersyukur karena menemani bahtera rumah tangga Rasul selama 25 tahun, yah.. setara dengan ”:pernikahan perak” kalau kita, namun kualitasnya berlian. Betapa cintanya Nabi kepada khadijah dapat dilihat dari sebuah catatan siroh ar rahiiqul makhtum, ketika itu khadijah telah wafat, dan khadijah memiliki saudara perempuan yang mirip dengannya, suatu hari saudara khadijah ini datang ke rumah Rasul, dan ketika itu beliau sedang bersantai bersama ’Aisyah, ketika mendengar bunyi slop sepatu saudaranya khadijah, beliau langsung berdiri dan langsung mengingat khadijah yang cara jalannya mirip dengan saudaranya tersebut”, saya tidak tahu apa kita sekarang dapat mendeteksi istri kita dari bunyi sepatunya? dan dapat juga kita lihat betapa beliau sering memberikan infak dan sedekah bagi keluarga-keluarga khadijah setelah wafatnya khadijah.
Semua istri beliau pernah ”berdemo” dihadapan Beliau, apa pasal? Ternyata masalah cinta para pembaca sekalian, semua istri beliau merasa yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad SAW, jadi ini masalah klaim siapa yang paling dicintai oleh Nabi diantara kita?, saya tidak yakin sejarah yang satu ini akan kembali terulang,namun coba anda perhatikan bagaimana beliau menyelesaikannya, beliau menyuruh semua istrinya kembali ke bilik rumah masing-masing, dan mengatakan kepada mereka nanti 3 hari lagi saya umumkan siapa yang paling saya cintai diantara kalian?. Karena ini masa “seleksi” semua istri beliau menampilkan penampilan yang paling aduhai. Nabi satu persatu mendatangi mereka dan berbicara sangat lembut, dan mengatakan,” wahai istriku, kepadamu kuberikan sebuah cincin dan tolong jangan sekali-kali engkau bicarakan pemberianku ini kepada istriku yang lainna”, istri beliau tentu pede saat itu, namun bukan Hafsah saja yang dibuat begitu, semua istri beliau mendapat perlakuan hal yang sama, dan tibalah hari pengumuman, beliau mengumumkan dihadapan isteri-isterinya,”yang paling aku cinta diantara kalian adalah yang kuberikan cincin”, bagaimana bayangan anda semua, yah..isteri-isteri Nabi diam menyembunyikan seyum sipu kegembiraan dihati mereka masing-masing, mereka tidak tahu kalau ternyata Nabi mampu mendistribusikan cintanya 100% kesemua isterinya.
Terhadap anak-anak dan cucu beliau, kasih cintanya tiada tandingannya, ketika anak laki-laki beliau yang bernama Qasim meninggal beliau menangis tersedu-sedu sebagai perlambang betapa belahan hatinya sangat dicintainya, dan ada yang menegur beliau dengan menangis seperti itu, dan beliau mencela orang yang menegur beliau. Beliau suka main bersama cucu-cucunya bahkan di dalak sholat sekalipun beliau membiarkan cucunya tersebut untuk menikmati bermainnya.
Ada sahabat yang memiliki banyak anak, dan ketika sahabat ini melihat Nabi mencium pipi cucu beliau Hasan dan Husain, sahabat ini mengatakan, ”Ya..Rasulallah, aku memiliki banyak anak, namun aku belum pernah mencium mereka sekalipun”. Apa reaksi Nabi, beliau memerah wajahnya, dan menegur sahabat yang satu ini dengan kalimat, ”barang siapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan sayang kepadanya”, sejak itu sahabat ini menjadi orang yang selalu mencium dan menyayangi anak-anaknya.
b. Cinta & kasih sayang sebagai Da’i
Ayat diatas sudah cukup jelas dan tegas bahwa jalan hidup da’wah beliau berdiri diatas prinsip cinta dan kasih sayang, beliau sadar kehadirannya dibumi ini bukan saja untuk manusia namun juga untuk menjadi ”rahmat bagi seluruh alam”. Aura pesona cinta dan kasih sayang terpancar dari wajah beliau, senyumnya, sapanya, diamnya dan marahnya semua adalah cinta, semuanya adalah kasih sayang. Ditengah penderitaannya sebagai Nabipun tetap sayang kepada ”lawan-lawannya”.
Saya ingin menceritakan bagaimana gambaran cintanya beliau kepada ummat, walaupun beliau mendapatkan tekanan fidsik dan mental, yaitu pada saat beliau hijrah ke kota thaif bersama Zaid bin hariitsah untuk berda’wah dan meminta perlindungan bani tsaqiifah pada tahun ke Sepuluh kenabian. Selama sepuluh hari disana berda’wah menemui petinggi bani tsaqifah dan para tokoh-tokohnya, namun semuanya menolak bahkan yang paling menyedihkan beliau dilempar batu oleh penduduk thaif, darah mengucur segar dari kepala hingga kaki beliau. Ketika beliau berhenti disebuah tempat antara makkah dan thaif, datanglah malaikat Jibril membawa malaikat penjaga bukit, seraya berkata, ” Wahai Muhammad jika engkau mau, maka aku akan menimpakan dua bukit ini kepada penduduk kota thaif ?” Apa gerangan jawaban beliau, ketika ada fasilitas pamungkas seperti ini, hampir semua Nabi terdahulu ketika sudah di tolak mentah-mentah kaumnya dan ketika ada tawaran ”fasilitas” seperti itu maka diambil semuanya, namun jawaban Nabi SAW,” Tidak, jangan sesungguhnya mereka lakukan itu semuanya karena tidak mengetahui siapa sebenarnya diriku, sungguh aku sangat berharap kelak dari keturunan mereka nanti ada yang mengucapkan kalimat syahadat”.
Jumlah sahabat yang berinteraksi dengan beliau menurut imam ibnul qayyim ada sekitar 120 ribu orang, tentu dengan berbagai level derajat sahabat yang beragam, tidaklah sama sahabat yang as saabiqunal awwalun dengan at tulaqaa (masuk ketika fathuh makkah), semua sahabat merasa yang paling dicintai oleh Nabi, pernah Muadz bin Jabal ra memberanikan diri untuk bertanya kepada Nabi ,” man uhibbuuka ilaika ya Rasulallah ? siapa orang yang paling engkau cintai wahai Rasul? Pertanyaan ini lahir karena setiap kali Rasul memberikan ceramahnya, seolah-olah kata Muadz pandangan Nabi dan perkataan nahi hanya untuk diriku. Jadi cinta Nabi mengalir ke hati-hati sahabatnya, cinta beliau tertampat dipelabuhan jiwa sahabat-sahabats semuanya.
Ketika Nabi marahpun itu adalah bagian dari cinta, Kaab bin Malik tidak ikut perang karena lalai, ketika beliau jujur dihadapan Nabi dan terus terang mengatakan tidak ada alasan bagiku untuk tidak berangkat, maka Nabi mengatakan,”keluarlah engkau kaab, tunggu sampai Allah memutuskan perkara bagimu”, Dua sahabat lainnya menangis terus-menerus karen tidak tahan di isolasi, namun kaab tetap sholat di Masjid, beliau bercerita ,”ketika aku sholat, aku memperhatikan bahwa pandangan Nabi menuju kearahku, begitu setelah aku sholat, maka aku melihat Nabi, namun Nabi langsung memalingkan wajahnya dariku”. Marahnya Nabi adalah potongan cinta yang diberikan kepada sahabat, tiada marah nabi yang membekas menjadi luka, tiada kata beliau yang menggores dinding jiwa sahabat. Itulah sang pencinta sejati, jadi kenapa harus valentine.
Langganan:
Postingan (Atom)