napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Kamis, 16 April 2009

Jabatan...oh....jabatan


Bagi para prajurit-prajurit perang,
Tidak ada amanah dan Sekaligus
godaan yang paling berat menantang mereka
Kecuali menjadi seorang “panglima” perang.
Mungkin bagi seorang “prajurit karir”
Rangkaian prestasi perang demi perang
Adalah “anak tangga” yang satu demi Satu
Mereka susun untuk sampai kepuncaknya
Yaitu menjadi seorang Panglima.

Tahun 16 Hijriah,
Sepucuk surat sampai ketangan
Seorang Panglima besar Islam, Khalid ibnu Walid
Nama besarnya lahir dari rahim prestasi-prestasi
Heroik dilapangang tempur
tidak pernah mengalami kekalahan dalam
Setiap peperangan yang dipimpinnya
Ketika dia dalam keadaan muslim maupun dalam
Keadaan masih musyrik.
“kalah” adalah kosa kata yang tidak dia kenal
Dalam kamus kepribadiannya

“Jika surat ini telah sampai ke tanganmu, maka
Jabatannmu aku turunkan menjadi prajurit biasa
Dan segera kembali ke Madinah sekarang juga!”

Isi surat itu sangat singkat dan jelas dari khalifah Umar bin Khattab
Tidak ada logika ilmiah manajemen kepemimpinan
Yang bisa menjelaskan, kenapa justru dipuncak karir
Seseorang dalam menunaikan amanah, justru malah ia dicopot
dari jabatnnya.

Ketika Umar ra ditanya, apa yang mendorong
Sang khalifah mengganti panglima perang Khalid bin walid
Disaat Negara sedang butuh pertahanan miter yang kuat.
Khalifah tawadhu’ itu cuma memberikan jawaban :
“Aku justru ingin menyelamatkan dirinya dari kehancuran,
Diriku khawatir dengan prestasinya tersebut membuat
Banyak orang yang memujinya dan kelak bisa memujanya.
Kelak jabatannya akan memenjarakan dirinya
Sehingga dia bisa menjadi lupa diri dengan jabatannya.
Semoga Allah SWT merahmati dirinya”.

Masalah dan godaan
Adalah dua hal yang selalu datang kepada para pemimpin
Masalah datang dengan rentetan persoalan kecil sampai besar
Dia datang Menyerang akal cerdasnya
Apakah masalah itu jauh lebih cerdas dari akalnya
Sehingga masalah itu mampu menaklukkan pikiran-pikiran cerdasnya
Namun,,,,
Jabatan datang dengan sejuta rayuan manis dan indah
Dia berusaha menggoda dan mencuri hatinya
Apakah godaan harta dan tahta itu jauh menariknya meninggalkan “hati sehatnya”

Kalau dulu kita menerima amanah itu dengan “senyuman”
Kenapa kini ketika kita tinggalkan amanah itu dengan “tangisan”
Kalau dulu kita menerima jabatan itu dengan kalimat “selamat”
Kenapa kini kita tinggalkan jabatan itu dengan kalimat “kasihan”

Maka ada baiknya kita merenungi yang diucapkan
Oleh sang panglima yang baru melepaskan jabatannya
Setelah beberapa prajurit memprovokasinya untuk
Mempertanyakan apa alasan dia diturunkan…
“saya ini adalah mujahid, saya berperang dan bertempur
Bukan untuk Umar, namun saya berjuang di jalan Allah SWT
Untuk Tuhannya Umar bin Khattab,,,,
Saya menerima amanah itu dahulu dengan tangisan,,,,
Khawatir jika diriku tidak bisa amanah,,,dan kini aku lepaskan
Jabatanku dengan hati yang gembira,,,setidaknya bebanku
diakhirat akan berkurang,,,”.


Balikpapan,gang Depag


Gelisah,”lantas kenapa harus kita bersedih…?”

Tidak ada komentar: