napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Rabu, 03 Desember 2014

Akibat 3 darah yang tumpah...(bagian 1)

(sebuah tinjauan sejarah awal penyimpangan syiah)

 

Tiga orang itu.
    Tiga darah yang telah tumpah dari pribadi yang agung ini telah menjadi titik simpang sejarah Islam dari dulu sampai hari ini, yaitu ;
1. Darah khalifah Utsman bin Affan ra.
2. Darah khalifah Ali bin Abi thalib ra.
3. Darah Husain bin Ali ra.
Semua literatur akan membahasnya dari sudut yang berbeda tergantung dari intrepretasi yang diberikan kepada fakta sejarah itu dan  hal itu adalah  sah-sah saja,  apatah lagi dengan sudut pandang  kaum Syi’ah yang tak mungkin terlepas dari pembahasan tiga tokoh tersebut. Perlu kita tegaskan kembali bahwa sejak awal sebenarnya  Syiah itu murni merupakan gerakan politik yang menyokong utama kepemimpinan  Ali bin Abi thalib ra, sebelum dia kemudian bergeser menjadi penyimpangan gerakan akidah dan lain-lain.
            Bagi kaum muslimin khususnya yang berasal dari keluarga bani Umayyah , salah satu tugas besar khalifah Ali bin Abi Thalib ra yang pertama kali harus dilakukan saat menjabat khalifah adalah  sesegera mungkin menegakkan hukum Qishas kepada para pembunuh khalifah Utsman ra, namun  sampai wafatnya khalifah Ali bin Abi Thalib ra ,beliau belum sempat menegakkan hukum tersebut.  Hal itu yang menyebabkan luka bagi bani Umayyah atau klan dari keluarga Ustman bin Affan ra. Tidak mengherankan sejak wafatnya beliau bermunculah tuduhan dan cacian kepada beliau, seakan-akan melindungi pembunuh khalifah Utsman ra. Siapakah yang membunuh beliau ?, mengapa mereka membunuh Utsman ra ?, dan mengapa khalifah Ali ra tidak menegakkan hukum Qishas kepada para pembunuh Utsman ra ?, semua tentu ada jawabannya.
          Saat khalifah Ali bin Abi Thalib ra dibunuh di Kuffah, itu juga menjadi titik krusial dalam semua literatur yang membahasnya tentang motif dan latar belakangnya, namun kubu yang kecewa terhadap khalifah Ali bin Abi thalib ra bukan saja dari keluarga Utsman bin Affan ra  yaitu bani Umayyah, melainkan juga muncul dari mantan pendukung setianya, yaitu mereka yang dinamakan dengan kaum Khawarij, setelah mereka  resmi keluar dari kubu Ali bin Abi Thalib ra saat perang Siffin tahun 37 H. Kaum khawarij kemudian menyalahkan pihak Ali bin Abi Thalib ra dan juga pihak Muawiyah ra , bahkan mereka mengkafirkan keduanya  .Perang Siffin berujung pada proses arbritase atau Tahkim diantara keduabelah pihak.  Dinamakan kaum  Khawarij yang berarti “ keluar “ , secara istilah mereka yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib ra saat itu.
      Khawarij tidak menerima keputusan tersebut, mereka menyesalkan mengapa khalifah Ali ra mau menyetujui proses Tahkim dan akhirnya mereka membuat madzhab politik sendiri dengan semboyan utamanya  adalah "laa hukmu illallah " yang artinya adalah  tidak ada hukum melainkan hukumnya Allah swt. Referensi yang paling kuat  tentang siapa  pembunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib ra adalah seorang yang berfiliasi pada kaum Khawarij.

Kondisi dilematis.
   Sampai disini , saya ingin membawa pikiran dan perasaan kita semua tentang kondisi politik yang sulit kala itu, bisa kita bayangkan bagaimana khalifah Ali bin Abu thalib ra berada pada posisi yang dilematis karena beberapa alasan sebagai berikut:
1.     Pertama tuntutan dari bani Umayyah diawal beliau menjabat adalah menuntut darah Utsman ra yang "para pembunuhnya" berada dan berlindung dibalik  Ali bin Abi Thalib ra. Karena fakta yang terjadi adalah ribuan orang yang mengepung rumah khalifah Utsman ra selama berhari-hari sehingga berujung kepada terbunuhnya beliau. Setelah itu berbondong-bondong mereka segera mendatangi Ali ra dan langsung membaiatnya. Sejak awal beliau sadar kondisi ini akan menjadi fitnah besar, seakan-akan beliau melindungi pembunuh Utsman ra atau memang itu strategi yang dipakai oleh para pembunuh khalifah Utsman ra untuk "cuci tangan" dibalik Ali bin Abu Thalib ra.

2.     Para gubernur yang tergolong senior kala itu adalah Muawiyyah bin Abi Sufyan ra, beliau adalah sahabat Rasulullah saw kendati masuk Islamnya dibelakang. Faktanya adalah beliau telah menjadi gubernur Syam atau Damaskus sejak zaman khalifah Abu bakar ra, jadi walaupun khalifah sudah 3 kali berganti namun posisinya sebagai gubernur Syam tak tergantikan.
Kebijakannya saat memimpin disana sangat disukai oleh warga Syam, itu yg menjadi salah satu motif juga mengapa Khalifah  Umar bin Khattab ra dan Utsman bin Affan ra. tak menggantikan posisinya, sehingga bisa kita katakan bahwa wilayah Syam atau Damaskus menjadi basis utama dukungan politik bagi Muawiyyah bin Abu Sufyan ra dan masalah menuntut darah Utsman ra sudah  melebar menjadu isu politik di kota Syam, bukan lagi sekedar masalah nasab bani Umayyah saja, tapi menjadi isu politik terhadap khalifah yang dianggap tidak menegakkan hukum Qishas sehingga melahirkan ancaman delegitimasi terhadap khalifah.

3.   Isu  mengenai darah Utsman bin Affan ra membuat para sahabat juga terbelah tentang ijtihad dalam menyikapinya. Termasuk Ummul Mukminin bunda ‘Aisyah ra  yang berijtihad bahwa Ali bin Abi Thalib ra wajib menghukum pembunuh utsman bin Affan ra  dan mengertilah kita suatu saat mengapa meletus perang Jamal atau perang Unta antara beliau dengan Ali bin Abi Thalib ra adalah disebabkan sikap beliau tentang masalah ini. Namun beberapa sahabat juga ada yang mendukung kebijakan Ali ra, bahwa integritas khilafah harus diatas segala-galanya, pemerintah harus jalan tanpa perlu di dikte, seperti sahabat 'Ammar bin yasir ra , jadi masalah ini menyeret beberapa sahabat dalam perbedaan pendapat.
Meletusnya perang Siffin harus kita terima secara akal sehat dikarenakan karena perbedaan ijtihad ini. Kubu Muawiyyah ra merasa khalifah tidak menegakkan hukum qisas atas kematian Utsman ra dan pihak Ali ra menggap institusi khilafah harus tegak dan terhindar dari rongrongan internal dan semua ancaman bughot kepada pemerintaan yang sah harus dilawan. Itulah perang yang menyedihkan dalam sejarah peradaban Islam, saya tak jarang menangis baca kisah ini, betapa tidak korban yang meninggal mengalahkan jumlah total pasukan kafir selama berperang di jaman Rasulullah saw masih hidup. Ini justru korban sahabat dikedua belah pihak banyak yang terbunuh.

4.   Munculnya faksi politik baru yaitu kaum Khawarij, membuat barisan Ali ra sedikit melemah dan terguncang. Mereka kecewa dengan khalifah  Ali  bin Abu Thalib ra yang dianggap “mau menyerah” kepada pihak Muawiyah  ra. Akhirnya mereka membangun kekuatan di daerah Bashrah,  dengan alasan memurnikan agama mereka mengkafirkan semuanya dan tidak segan-segan membunuh yang bukan segolongan dengan paham mereka.

Masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib ra hanya bertahan 5 tahun lebih, beliau terbunuh di bulan Ramadhan pada tahun 40 Hijriah di kota Kuffah. Paska wafatnya beliau, kondisi politik yang kita telah bahas belum berubah.  Warga Kuffah langsung membaiat cucu Rasulullah saw yaitu Hassan bin Ali ra sebagai khalifah  di Kuffah saat itu, sedangkan warga kota Syam  juga membaiat Muawiyyah bin Abu Sufyan ra sebagai khalifah.
Dan itu adalah sejarah pertama kaum muslimin memiliki dua orang khalifah bersamaan, bagaimana dengan kota Madinah dan Makkah saat itu?. Dua kota suci memang setelah wafatnya Rasulullah saw, beberapa sahabat ada yang memilih menetap di Madinah dan Makkah, namun ada juga yang pindah juga dibeberapa daerah diluar kota tersebut.  Di Makkah ada sahabat Abdullah bin Zubair ra yang juga didorong untuk menjadi khalifah. Disana juga tinggal bunda Aisyah ra, tapi dua kota suci relatif gejolak politiknya tidak sedinamis kota Kuffah dan Syam. Beberapa sahabat memilih pindah dari Madinah, karena mereka melihat " pembunuh " Utsman ra dominan bahkan mereka sholat di Masjid Nabi saw.

Dualisme Khalifah.
Atas pembaiatan dua khalifah tersebut turut menuai konflik perbedaan prndapat dikalangan beberapa sahabat, beberapa diantaranya pro ke Muawiyyah ra dan lainnya mendukung Hassan ra. Namun dalam penguasaan komunikasi politik, Muawiyyah ra jauh lebih handal dari Hassan ra, ini terbukti Muawwiyah ra jauh lebih dahulu mendatangi Madinah dan meminta para sahabat Rasulullah saw yang tinggal disana untuk membaiatnya. Muawiyyah ra jauh lebih menguasai kekuatan militer ketimbang Hassan ra yang lebih didukung karena dorongan emosianal warga Kuffah, namun belum tentu dengan militernya yang kalah jauh dengan Muawiyyah.
Selama 6 bulan lamanya kaum Muslimin hidup dengan dua orang khalifah sekaligus, Muawiyah ra dan Hassan ra, maka selama itu pula suasana politik semakin tegang dan dikuatirkan bermuara ke pertumpahan darah sesama muslimin. Ditahun 41 H, akhirnya Hassan bin Ali ra cucu Rasulullah saw mengundurkan diri sebagai khalifah setelah beliau mengajukan syarat kepada Muawiyah, diantaranya adalah beliau memilih kembali tinggal di Madinah dan jangan ada yang mencaci ayahnya, karena dikeduabelah pihak tak terhindar saling mengejek baik lewat khutbah atau ceramah.
Kendati Hussen ra kecewa dengan keputusan saudaranya, namun Hassan ra berijtihad dengan akal sehatnya karena melihat kedepan konflik ini bisa menumpahkan darah lebih banyak lagi dari perang Siffin dan Jamal. Dikemudian hari, orang baru memuji sikap ini dikarenakan maslahat yang diperoleh secara umum. Inilah yang pernah dijanjikan Rasulullah saw :
“Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang sayyid, mudah-mudahan dengannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin yang bertikai.” (HR. Al Bukhari)
Dalam hadits di atas juga bisa dimaknai bahwa baik kelompok Ali ra. maupun kelompok Mu'awiyah ra. pada masa itu adalah sama-sama Muslim.
Maka tahun 41 H disebut sebagai 'aam jama’ah disebabkan tahun itu sebagai tahun persatan dan berjamaah sehingga kaum muslimin hidup kembali dalam satu naungan khalifah. Walau demikian warga Kuffah yang menjadi sentral pendukung Ali ra tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan tersebut, kendati Hassan ra dan Hussen ra pada akhirnya meninggalkan Kuffah dan memilih kembali tinggal di kota Madinah, tetapi tetap saja warga kuffah masih selalu melakukan korespondensi dengan beliau. Kaum Khawaarij tetap saja dengan agenda mereka, membagun kekuatannya dan tidak peduli dengan khalifah yang terpilih, bagi mereka tetap saja bathil dan yang lebih layak adalah mereka.

Masa Khilafah Rasulullah saw.
Hassan bin Ali ra hanya menjabat sekitar 6 bulan saja menjadi khalifah dan memilih mundur dari dunia politik kala itu. Sampai disini sebelum kita lanjutkan, ada hal yang perlu kita ambil benang merah sebagai berikut :
Dari Sa'id bin Jamhan, dari Safinah ra , Rasulullah saw bersabda : " sesungguhnya Khilafah Kenabian itu 30 tahun, dan kemudian Allah akan berikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki". Safinah berkata kepadaku, "Abu Bakar 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun, dan sisanya Ali". Aku berkata kepada Safinah, "Sesungguhnya mereka bilang kalau Ali bukanlah Khalifah". Safinah berkata, "Bani Zarqa' (Bani Marwan) telah berbohong", (HR. Ahmad).
Jadi sejak zaman khalifah Abu bakar ra sd Ali bin Abi Thalib ra jumlah total masa pemerintahan mereka adalah 30 tahun kurang 6 bulan, lalu beberapa ulama mencatat masa 6 bulan Hassan ra masuk dalam kategori khalifah Rasulullah saw. Jika kita hitung sejak Rasulullah saw wafat dan Abu bakar ra diangkat jadi khalifah pada awal tahun 11 Hijriah sampai terjadinya tahun jama'ah pada 41 Hijriah, maka tepat 30 tahun jaraknya, ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw tersebut, Subhanallah.
Setelah berhasil menyatukan kaum muslimin dalam satu naungan kekhilafan, maka Muawiyyah ra mulai melakukan berbagai kebijakan politiknya, tidak sedikit kebijakannya yang dikritisi oleh publik saat itu. Diantara kebijakan yang kontroversial saat itu adalah tiba-tiba beliau mendeklarasikan kandidat khalifah setelahnya yang tidak lain adalah anak kandungnya Yazid bin Muawwiyah.
Membuat para sahabat bereaksi keras, bagaimana mungkin masih ada khalifah lantas sudah ada khalifah berikutnya yang harus di baiat. Apalagi salah satu komitmen Muawiyyah ra saat itu adalah ketika beliau jadi khalifah dan setelahnya beliau menyerahkan urusan kepada publik untuk menentukan khalifah setelah dirinya. Maka sejak itulah fase baru dalam politik Islam khilafah dalam bentuk sistem kerajaan dimulai dan itulah awal dinasti bani Umayyah berdiri, ini sesuai dengan hadits diatas tadi, setelah nubuwwah, khilafah kemudian kerajaan.
Yazid bukanlah kategori sahabat Rasulullah saw, masih ada sahabat senior yang masih hidup kala itu, seperti Abdullah bin Umar di Madinah, Abdullah bin Zubair di Makkah yang menurut publik lebih layak dari seorang Yazid bin Muawiyyah. Inilah yang juga menjadi potensi konflik dikemudian hari, kendati beberapa literatur mengungkap apa alasan Muawiyyah mengambil sikap seperti itu.
Muawiyah ra sadar bahwa langkah politiknya akan dikecam banyak oleh sahabat, namun dia berkeyakinan bahwa suatu saat kelak mereka akan bisa menerimanya. Saat Muawiyyah ra wafat pada tahun 60 H, maka anaknya Yazid bin Muawiyah menggantikannya sebagai khalifah. Yazid memang memiliki catatan buruk, namun beberapa ulama berusaha obyektif memasukannya berdasarkan hadits Rasulullah saw :
أول جيش من امتي يغزو مدينة قيصر مغفور لهم
Pasukan pertama dari ummatku yang menyerang Konstantinopel itu diampuni dosanya (HR Bukhari).
Yazid bin Muawiyah  adalah panglima dalam perang tersebut yang dikirim ke Konstantinopel dan menariknya Hassan dan  Hussen ra juga ada dalam pasukan yang dipimpin oleh Yazid tersebut. Saat Yazid menjadi khalifah, suhu perpolitikan di tiga kota khususnya menjadi memanas. Apatah lagi masih ada tiga figur utama yang menurut sebagian besar publik masih lebih layak untuk menjadi khalifah. Abdullah bin umar ra, Abdullah bin Zubair ra yang sejak awal lebih memilih oposisi dari awal dan Hussen bin Ali ra cucu Rasulullah saw.
Gubernur Madinah Marwan bin al hakam yang terkenal lembut secara khusus mendatangi Hussen ra agar memintanya segera membaiat Yazid. Sedangkan Abdullah bin Umar ra adalah bukan orang "politik" sehingga beliau lebih memilih membaiat Yazid dan setelah itu berkonsentrasi beribadah dan mengajarkan ilmu.
Hussen ra meminta waktu dan akhirnya beliau pindah tempat dari Madinah ke Makkah dan disana sudah ada Abdullah bin zubair ra yang memang bersebrangan ijtihad politik sejak awal dengan Muawiyah. Mendengar Hussen ra pindah ke Makkah, orang-orang Kuffah yang sejak awal adalah pendukung setia Ali bin Abi thalib ra merasa senang dan menganggapnya sebagai peluang untuk meminta menjadi khalifah dan warga Kuffah akan siap membaiatnya.Pendek kata warga Kuffah merasa ada peluang untuk mengangkat beliau sebagai khalifah dan korespondensi warga Kuffah sering melalui surat-surat mereka ke Hussen ra di Makkah.

Tragedi Karbala
Hussen ra berpindah ke Makkah beserta keluarganya, setelah beliau meminta waktu atas permintaan gubernur Madinah untuk membaiat Yazid. Adalah satu hal yang bisa kita pahami beliau melakukan itu. Bahwa kesepakatan antara Muawiyah ra dengan Hassan ra terdahulu adalah jika nanti Muawiyah turun tahta karena berhalangan menjadi khalifah maka akan diserahkan kepada Hassan ra, dan atas pertimbangan lebih jauh lagi agar darah muslimin tidak tumpah, maka secara sukarela Hassan ra mengundurkan diri dan menyerahkan kepada Muawiyah ra.
Namun dalam perjalanannya Hassan ra lebih dahulu meninggal dunia di Madinah, kemudian Muawiyah mengangkat Yazid sebagai putra mahkota yang harus dibaiat sebagai penggantinya kelak dikemudian hari. Atas kebijakan itu banyak yang menolaknya, namun tidak sedikit pula yang menerimanya. Bahkan putra Abu bakar ra yaitu Abdur Rahman bin Abu bakar ra mengatakan kepada Muawiyah :
“Itu bukan sunnah Abu Bakar dan Umar, ini adalah sunnah kaisar!, Karena Abu Bakar dan Umar tidak pernah mewariskan khilafah kepada anak-anaknya, bahkan tidak pula kepada salah seorang keluarganya.”

Keengganan Hussen ra untuk tidak membaiat Yazid janganlah buru-buru kita cap sebagai pembangkang, karena biar bagaimanapun juga Hussen ra tidak bisa dilupakan dari  sejarah politik ayahnya yang pernah konflik dengan Muawiyah ayah Yazid dalam perang Siffin. Bukankah saat itu Ali adalah khalifah yang resmi?, dan bisa saja kita mengatakan Muawiyah melakukan bughat terhadap khalifah Ali ra ?. Sikap Hussen ra tersebut merupakan reaksi tanggung jawab moral beliau terhadap persoalan politik saat itu, Hussen ra berada dalam pusaran utama politik yang tidak mungkin beliau menanggalkan tanggung jawab tersebut.
Dua bulan beliau menetap di Makkah, ratusan surat dari warga Kuffah datang kepada Hussen ra yang intinya bisa kita simpulkan dari semua litetatur baik yg ditulis oleh Sunni dan Syiah sekalipun adalah warga Kuffah siap membaiat Hussen ra dan mendukung sepenuhnya menjadi khalifah, karena itu mereka meminta Hussen ra untuk datang ke Kuffah.
Tahun 61 H, akhirnya Hussen memutuskan dirinya untuk mendatangi warga Kuffah, padahal sahabat senior seperti ibnu Umar ra sampai menasihati Hussen ra, dengan ucapannya yang terekam dalam sejarah, " mereka memang secara haqiqi mencintaimu , tapi tangan mereka memegang pedang untuk bersama bani umayyah !". Ibnu umar ra sampai menangis dan memeluk Hussen ra karena sudah membayangkan situasi terburuk yang terjadi kala itu.
Apatah lagi setelah Hussen ra mengirimkan utusannya Muslim bin aqil ke Kuffah untuk melihat langsung apakah benar warga Kuffah siap membaiatnya. Dan Muslim bin Aqil mengirim surat ke Hussen ra bahwa Kuffah siap mendukungnya dan memintanya segera datang ke Kuffah.
Gubernur  yang membawahi wilayah Kuffah saat itu adalah Ubaidillah bin Ziyad, seorang pemuda berusia 28 tahun, pemberani dan cerdik dan dia adalah politisi yang handal.
Atas perintah Yazid bin Muawiyah yang telah mencium aroma pembelotan warga Kuffah untuk membaiat Hussen ra, itu artinya mendelegitimasi dirinya dan dia sadar persis institusi khilafah yang dipimpinnya tidak boleh pecah karena ada dualisme khalifah. Karenanya Ubaidilah dengan pasukannya diawal pagi masuk ke Kuffah dengan pakian hitam menutupi wajah mereka agar tak dikenal, ternyata memang warga Kuffah sudah  menanti-nanti kedatangan Hussen ra, rombongan Ubaidillah mereka sangka adalah rombongan Hussen ra.
Ubaidillah bin Ziyad masih belum puas mengenai informasi yang dia peroleh mengenai pembelotan warga Kuffah, dia ingin mencari tahu siapa otak dibalik semua rencana ini. Ibnu Ziyad kendati berpasukan hanya 17 oranga kala itu, namun mampu membuat gentar warga Kuffah.
Ibnu Ziyad menebar para spionase untuk mencari tahu semua itu dan menebar "teror emosional" kepada warga Kuffah apa yang kelak mereka dapatkan jika membaiat Hussen ra, ancaman akan dibunuh dan sebagainya yang membuat mereka ketakutan.
Hani' bin Urwa adalah tokoh dibalik rencana ini semua, dia adalah tokoh Kuffah yang sangat loyal kepada pemerintahan bani Umayyah namun dia juga sangat menginginkan Hussen jadi khalifah, dari sinilah istilah taqiyah itu muncul , walau sebenarnya sikap dualisme atau menyembunyikan keyakinan yang sebenarnya adalah praktek yang juga sudah ada dijaman Rasulullah saw.
Dalam waktu singkat Ibnu Ziyad bisa menundukkan warga Kuffah berbelok arah untuk menolak pembaiatan Hussen ra. Muslim bin Aqil utusan Hussen ra akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh ibnu Ziyad, padahal keyakinan Hussen ra mendatangi Kuffah atas konfirmasi beliau.
Warga Kuffah yang tadinya menggebu-gebu datangkan Hussen ra untuk membaiat beliau menjadi "kalem" ketakutan. Apalagi Ibnu Ziyad sudah mengunci semua akses mereka. Kepada Yazid sang khalifah, ibnu Ziyad melaporkan semua dan meminta pengiriman bantuan pasukan perang untuk menghadapi rombongan Hussen ra yang sudah berangkat dari Makkah.
Maka khalifah Yazid mengirim pasukan dibawah kepemimpinan Umar bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dia adalah putra sahabat Rasulullah saw yaitu Sa'ad yang terkenal sangat pemberani. Bersama 4000an pasukannya dia membawa misi khalifah Yazid untuk menahan Hussen ra untuk tidak masuk Kuffah.
Rombongan Hussen ra saat itu hanya terdiri dari 170an orang saja, yang lebih tepat disebut bukan pasukan perang. Seluduh ahlul bait ikut dalam kafilah tersebut. Mulai dari isteri beliau, anak-anak serta saudara-saudaranya. Sebab memang pada zaman bani Umayyah ahlul bait menjadi komponen yang termarginalkan dan mereka memilih tinggal di pelosok kota dan ada yang sampai ke Yaman dan generasi setelahnya sampai ke Indonesia juga.
Bertemulah pasukan Umar bin Sa'ad dengan Hussen pada bulan Muharram di daerah karbala. Umar bin Sa'ad tetap menaruh hormat yang tinggi pada cucu Rasulullah saw tersebut. Terjadilah dialog diantara keduanya, saat ditanya untuk apa beliau masuk ke Kuffah, maka Hussen ra menjelaskan secara gamblang yang pokoknya adalah warga Kuffah yang memintaku datang dan akan memberikan dukungannya padaku.

Dalam beberapa sumber juga beliau menjelaskan, bahwa aku hanya ingin mendatangi mereka dikarenakan banyaknya surat yang mereka kirim padaku. Umar bin Sa'ad juga mendapat perintah untuk menghadang beliu agar tidak masuk ke Kuffah.
Sa'ad menwarkan agar Hussen ra mau membaiat khalifah Yazid melalui dirinya, karena deadlock akhirny Hussen mengajukan 3 permintaan sebagai berikut :
a. Membiarkan dirinya pulang kembali ke Makkah.
b. Menemui dan berdialog langsung dengan Yazid dan biarlah Yazid memutuskan langsung diantara mereka berdua dan sesuai  apa-apa yang dikehendaknya.
c. Mengasingkan dirinya dan pengikutnya di daerah terasing dan membiarkan mereka beribadah saja tanpa terlibat politik.
Tawaran itu disambut  gembira oleh Umar bin Sa’ad, dia pikir misinya akan selesai. Akhirnya  U mengirim utusan kepada ibnu Ziyad menyampaikan permintaan Hussen ra tsb. Sambil menunggu jawaban dari ibnu Ziyad , Sa'ad pun sholat dibelakang Hussen ra karena segan dan hormatnya pada Hussen ra.
Umar bin Sa'ad beserta pasukannya masih bersiaga di karbala menunggu balasan surat dari Ibnu Ziyad atas opsi yang ditawarkan oleh Hussen ra, dan dalam masa penantian tersebut Umar sangat menaruh hormat yang tinggi pada beliau dan  menjadi makmum dari Hussen ra selama menegakkan sholat disana. Dapat kita lihat bahwa sama sekali tidak ada keinginan untuk berperang atau memerangi rombongan Hussen ra, namun dalam situasi lapangan seperti itu tetap saja kondisi terburuk bisa terjadi, dan memang kenyataannya itulah yang terjadi.
Saat Ubaidillah bin ziyad di Kuffah menerima surat dari karbala atas tawaran Hussen ra kepadanya, sebenarnya sudah setuju dengan opsi tersebut. Ibnu Ziyad membaca suratnya dan mengatakan :
" Ini adalah sebuah surat dari seorang pemberi nasehat bagi pimpinannya dan seorang yang sayang dengan kaumnya". Ini adalah sebuah isyarat yang jelas bahwa niatan mereka awalnya tidak ingin menyulutkan api fitnah dan perselisihan.
Namun tetap saja ada oknum yang tidak nyaman dengan kondisi ini. Beberapa provokator yang terekam dalam sejarah dan syaikhul islam ibnu Taimiyah dalam majmua fatawanya juga membahas tentang tokoh provokator yang bernama Syamr bin Jusyan atau ada yang memakai redaksi Amir bin Dzi Jusyan mengatakan pada ibnu Ziyad.
" Apakah engkau ingin terima tawaran ini, padahal dia telah memasuki wilayahmu dan sudah berhadapan di hadapanmu ?. Demi Allah, bila dia (Hussen ra) pergi meninggalkan negerimu dalam keadaan tidak meletakkan tangannya di tanganmu (berbaiat), maka dia adalah orang yang lebih berhak untuk mendapatkan kedudukan dan kekuatan, sedangkan engkau adalah orang yang lemah. Jangan kamu berikan kedudukan ini padanya, hendaklah engkau memutuskan sesuai dengan keputusanmu. Bila engkau hukum mereka maka engkaulah penguasanya dan bila engkau mengampuni mereka maka yang demikian itu adalah hakmu ".

Singkatnya Ibnu Ziyad terpengaruh, kita bisa bayangkan pengaruh itu bisa satang dari orang-orang terdekatnya. Mereka berpikir Ibnu Ziyad adalah wakil khalifah artinya institusi negara diwakilkan kepadanya dan jika tawaran itu diterima begitu saja, maka sebenarnya merekalah yang diatur oleh Hussen ra, seharusnya negaralah yang memberikan hukuman, apalagi status Huseen ra dianggap melakukan bughat terhadap khilafah.
Apatah lagi pemerintahan baru Yazid bin Muawiyah tidak ingin dipersepsikan dimata publik menjadi " mengalah " atas gerakan dari seorang pribadi. Walhasil surat balasan Ibnu Ziyad kepada Umar bin Sa'ad pada tanggal 9 Muharram secara tegas meminta Hussen ra dengan dua pilihan : Segera membaiat Yazid bin Muawiyah sekarang atau Perang.

Situasi menjadi panas dikarenakan opsi yang di ultimatum oleh Ibnu Ziyad kepada Husen ra, harus membaiat Yazid bin Muawiyah atau Perang. Sedangkan bisa kita bayangkan bahwa sebenarnya 3 permintaan Hussen ra yang telah kita uraikan mengandung maslahat, adalah wajar jika Hussen ra langsung ingin bertemu dengan Yazid bin Muawiyah untuk membahas & memutuskan masalah yang terjadi diantara mereka.
Apatah lagi dengan posisi beliau sebagai salah satu sahabat Rasulullah saw yang senior saat itu dan sekaligus sebagai  cucu baginda Nabi saw, adalah kurang beretika jika hanya diputuskan dengan setingkat gubernur dan panglima perang. Terhadap Yazid bin Muawiyyah saja tentunya beliau lebih afdhal dikarenakan status tadi,  sedangkan Yazid bin Muawiyah hanyalah putra sahabat Rasulullah saw, bukanlah sahabat.
Namun ini masalah ijtihad politik yang berpandangan bahwa bagaimanapun juga Yazid telah diakui sebagai khalifah & beberapa sahabat senior seperti Ibnu Umar telah mengambil baiat. Sedangkan Hussen ra belumlah dibaiat oleh siapapun, beliau justru menuju Kuffah karena baru ingin dibaiat oleh mayoritas warga Kuffah, itu yang dipahami sebagian besar para penulis sejarah dari sunni. Sehingga upaya Hussen ra dianggap beberapa penulis sebagai delegitimasi khilafah yang resmi kala itu.
Hussen ra tetap bersisikukuh untuk tidak memilih opsi yang ditawarkan oleh Ibnu Ziyad, beliau tetap teguh memegang prinsipnya. Terjadilah situasi tegang di Karbala saat itu dan dikubu Umar bin Saad juga telah dirasuki provokasi untuk memerangi Hussen ra yang sebenarnya tidak mungkin melawan secara militer.
Hussen ra bahkan meminta kepada pengikutnya yang ikut kala itu untuk meninggalkan dirinya di sana, namun mereka tetap ingin bersamanya. Akibatnya pertempuran tak seimbang itupun terjadi atau lebih tepatnya kita sebutkan pembantaian. Dalam situasi terjepit tersebut beliau masih gigih melawan, bahkan beliau syahid terakhir. Dari pihak pasukan Umar bin Saad jatuh korban 48 jiwa dan dari pihak Hussen ra yang selamat hanyalah 2 atau 3 orang saja, seluruh ahlu bait gugur terbunuh dalam perang tersebut tinggal beberapa  wanita dan seorang putra Hussen ra yang bernama Ali bin Hussen ra atau yang lebih di kenala dengan panggilan Ali Zainal Abidin dan beberapa mazhab syiah menjadikannya sebagai satu dari 12 imam Syiah.
Karbala menjadi saksi bisu atas tragedi sejarah yang begitu pahit dalam pentas kehidupan Islam. Darah Hussen ra yang telah tumpah pada akhirnya menjadi titik bangkit dan lahirnya mazhab politik syiah. Darahnya hingga kini selalu menjadi titik peebedaan dan tidak jarang menumpahkan darah-darah berikutnya.


Minggu, 02 Januari 2011

Jiwa-Jiwa Badar itu..

Padahal saat itu perang sudah didepan mata,
Antar Pasukan sudah saling menatap,
Aroma kesombongan musuh sudah tercium dekat.
Saat itu cuma ada 2 pilihan bagi para sahabat
Maju berperang untuk melawan atau
Mundur teratur mencari aman.

Ini bukan inti dari peperangan,
Namun cuplikan diatas adalah satu wilayah
Bertempur dalam cerita besar perang Badar.
Yaitu bertempur dimedan jiwa,
Yaitu bertempur melawan diri mereka sendiri.

Saat itu mereka sudah mendefinisikan kemenangan mereka,
Bahwa pulang ke madinah dengan jumlah lengkap adalah kemenangan.
Mereka sangat beralasan, karena pasukan ini tadinya bukan
Diniatkan untuk berperang, cuma ingin ''menakut-nakuti''.
Kelompok dagang abu sufyan agar bisa merebut 1000 unta.
Pasukan sejumlah 314 orang, hanya berbekal 2 ekor kuda perang
& 70 pasukan pemanah, belum pernah menyandang gelar menang
apa harus nekat berperang...?

''Apakah kita ingin menyetor nyawa kita ke sana,wahai Rasul ?''.
Kekalahan sudah di depan mata.
Gelar kalah sudah jelas menanti kita.
Beberapa sahabat sampai bertanya demikian.

Saudaraku,,,,
Ini tentang bunga jiwa yang memilih layu sebelum mekar
Ini tentang mentalitas jiwa yang terlalu
Mematerialkan sebab-sebab kemenangan.

''Berikan pendapat kalian, wahai sahabatku !?''
Rasulullah saw cuma ingin memecah suasana jiwa 314 sahabatnya.
Setiap kali Nabi mendengar jawaban sahabat,
Maka beliau selau mengulangi pertanyaan tersebut.
Ternyata nabi membaca isi jiwa beberapa sahabat, bahwa mereka
Belum satu frekuensi dalam jawaban.

''Sepertinya kami yang engkau minta menjawabnya, wahai Rasulullah?''
Tiba-tiba Saad bin Muadz berbicara, salah seorang petinggi Anshar.
''Benar, kalianlah yang aku tunggu''.

Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan jawaban seperti ini :
''Wahai Rasulullah berperanglah, maka kami akan menyertaimu,
Kami bukanlah pengikut Musa as yang mengatakan kepadanya,
Berangkatlah menuju Tuhan-Mu & berperanglah kalian yang
mengusulkan dan biarkan kami hanya duduk di sini,
jika engkau berperang ke dasar lautan maka kamipun akan
Menyertaimu''

terang wajah Rasul, gembira ria
Karena ini bukan sekedar jawaban lisan,
Namun ini adalah gelora iman di dalam jiwa.

Saudaraku...mengalahkan musuh didalam hati
Jauh lebih sulit daripada musuh yang kita lihat dialam fisik.
Bahwa memenangkan rasa optimismu dari rasa pesimismu
Bahwa memenangkan rasa percaya dirimu dari rasa takberdayamu
Adalah pertarungannya di medan jiwamu sendiri,
Itulah medan pertarungan tanpa batas,
Seluas ketidakterbatasanmu dalam bermimpi.
Sebab ...
menang & kalah,
Sukses & gagal
hanya bisa kita rasakan
Jika kita BERTEMPUR


Balikpapan, gang depag
Gelisah,''bangkitlah saudaraku....aku memiliki 1000 jiwa untukmu''

Nyanyian Jiwa para Pahlawan....

Nyanyian jiwa para pahlawan...

oleh Syukri Wahid pada 05 Oktober 2010 jam 14:43
Berita jatuh sakitnya menyebar begitu cepat
Keseluruh sudut kota dan wilayah di jazirah Arab.
Secepat angin yang berhembus  & bertiup mengisi seluruh ruang dalam kehidupan ini.
Tubuh tegar dan perkasanya kini harus mengalah dengan sakit.
Melemas dan lunglai terbaring di atas pembaringan.
Kini wajah segarnya sudah harus pamit dari raut wajahnya.
Otot perkasanya yang terbentuk dalam jawara kepahlawanan
Sudah kehilangan kekuatannya, hanya menggantung ditulangnya.

Namun ada yang tidak berubah dalam dirinya,
Dia masih tetap seperti yang dulu.
Tenaga jiwanya masih terlalu kuat bertengger di jiwanya.
Tubuh badannya sakit, namun tidak menular ke tubuh jiwanya.
Aroma kepahlawanannya masih bisa tercium darinya,
Sorot mata tajamnya masih bisa menggambarkan gelora jiwanya.

Hatinya selalu gelisah,
Karena ada satu cita-citanya yang belum tercapai
Yaitu mati syahid dalam laga tempur di medan jihad.
Begitulah Khalid bin Walid salah seeorang dari
Laki-laki spesial dalam sejarah Islam.
Nyanyian kepahlawanannya mengantarkan dirinya
Mendapat gelar langsung dari rasulullah saw, “si pedang Allah”.

“Hampir hari-hariku kulalui dengan pedang dan perang,
Baik dahulu aku dalam keadaan jahiliyyah dan dalam keadaan Islam,
Dan aku tidak pernah kalah. Kini yang aku kuatirkan dari diriku
Adalah justru meninggal di atas pembaringan ini”.

Inilah jiwa penggelisah,
Bahwa karya-karya besar kepahlawannya yang dibangun
sepanjang usianya justru tidak ditutup dalam syahid dimedan tempur.
Bagi jiwanya pantang seeorang pahlawan meninggal bukan dimedan tempur.
Laksana prajurit perang yang memang sudah menggadaikan jiwanya
Dalam setiap episode perang.

Ini tentang jiwa yang kuat
Ini cerita tentang jiwa penggelisah,
Ditengah sakitnya beliau mengatakan,
“Seandainyapun malam ini aku berada ditengah isteri cantik yang baru aku nikahi,
Maka aku lebih menyukai melewati dengan suatu malam yang sangat dingin ditengah
Barisan pasukan perang dalam sebuah kancah pertempuran.”
Begitulah jiwa sang penggelisah
Yang tak bisa dikalahkan oleh zaman
Tidak mudah takluk dengan umurnya sendiri.
Tekadnya selalui mendahului amalnya.


Gelisah


Balikpapan,”menakar ulang jiwa-jiwa kepahlawan kita”

Selasa, 11 Mei 2010

pesona sejarah: Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!

pesona sejarah: Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!: "jalasatuna
http://pksejahtera.multiply.com Blogger: Create your free blog"

Ijinkan aku ikut dalan perang ini wahai Rasulullah...!

“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”

Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.

Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,

“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.

Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.

Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…

Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”
Ijinkan aku ikut wahai Rasulullah..

“ Kalau dia bisa ikut perang ini, maka engkau harus ijinkan aku ikut pula
dalam perang ini, karena aku bisa mengalahkan dia !!”

Ini tentang cerita dua remaja yang sedang gelisah akan kepahlawannya.
Dalam sebuah episode perang Uhud, sebelum meninggalkan Tsaniyatul wada’
Rasulullah saw menyeleksi “siapa yang layak” untuk bergabung dalam pasukan.
Beberapa rombongan pulang kembali ke Madinah karena belum layak perang,
namun itu tidak berlaku dalam kamus jiwa seorang Rafi’ bin Khudaij dan Samurrah b in jundub.

Mereka berdua adalah orang yang “harus pulang” ke Madinah
Karena menurut Nabi belum cukup umur untuk ikut sebuah perang.
“Ya Rasulallah,,aku jago dalam memanah ijinkan aku dalam perang Uhud ini”
Setelah memperlihatkan kehebatannya, Nabi akhirnya tergoda untuk menyertakannya
Dalam pasukan dan bukan main girangnya dirinya.
Melihat itu,,Samurrah menjadi gelisah,
“ Wahai Rasulullah,,sungguh aku bisa membanting Rafi’..!”.
Kemudian Rasulullah saw mengatakan kepada mereka berdua
“Kalau begitu, silahkan kalian bertarung didepanku,,”
Dan benar saja, Samurrah bisa membanti Rafi dalam pertarungan itu.
Nabi tersenyum dan mengatakan kepadanya untuk bisa bergabung dalam perang Uhud.

Ini adalah nyayian jiwa seorang pahlawan remaja saat itu,
Usia mereka memang baru belasan tahun, namun voltase jihadnya tidak diragukan.
Yang ruang jiwanya sudah terpenuhi oleh “libido jihad”
Ini bukan keangkuhan, bukan kesombongan, namun ini adalah thumuhat yang ambisius.
Sebuah cita-cita yang hanya bisa dilukis dengan tinta darah dan pengorbanan .
Ini bukan iri, ini bukan dengki, namun ini adalah kemauan baja dengan bingkai iman.

Sekarang kita hadir dipentas bumi ini dengan kekosongan lagu-lagu peradaban
Pita rekaman dan memori kaset peradaban kita sekarang, belum bisa melantunkan
Nyanyian-nyayian jiwa dan dilagukan oleh mereka yang suaranya merdu dengan
Suara-suara langit. Karena kita butuh itu,,supaya kita tidak terlalu rindu untuk tinggal ditanah ini…

Makassar,,,
Gelisah,” menunggu nyanyian jiwa para pahlawan”

Saldo kebaikan kita

Begitulah memang yang akan menimpa
Para pejuang kebenaran dan kebaikan
Bahwa kebaikan yang selama ini mereka
Lakukan tidak serta merta menjadi saldo
Dalam tabungan hati manusia.

Hari itu…
Dua belas algojo para perwakilan suku
Dari kabilah Quraisy sudah siap dengan
Pedang tajam yang terhunus.
Mereka sedang menggarap sebuah proyek sadis
Yaitu ingin membunuh seorang pribadi yang bersih
Jujur dan baik di Kotta Makkah

Mereka sadar bahwa , mereka tidak bisa menghadirkan satu alasanpun
Untuk membunuh Nabi Muhammad SAW
Dalam peristiwa episode Hijrah yang kita kenal.
Namun demikianlah rekayasa..
Bukan karena ada atau tidak ada alasan untuk membunuh beliau …
Karena tidaklah penting bagi mereka
apa alasan membunuh Muhammad bin Abdullah SAW
Jika ditanyakan oleh masyarakat Makkah nanti….

“ Biarkan darah Muhammad dan bani Hasyim
Tercecer disemua pedang-pedang kita,,,
Agar ahli warisnya tidak berani menuntu kita…”
Itulah jawaban yang paling ilmiah
Yang dikemukakan oleh Abu Jahal untuk meyakinkan para petinggi
Kabilah di parlemen darun nadwah saat itu.

Lelaki suci itu ditolong oleh Rabb-Nya
Dalam proses Hijrah dari Makkah ke Madinah
Sedih dan pilu,,bercampur jadi Satu dalam jiwa beliau
bahwa penduduk kota suci
Makkah telah memaksa beliau keluar dari
Kota yang sangat di cintainya

Lupakah mereka dengan kebaikan Rasulullah SAW?
Dimana akal sehat mereka semuanya,,,,!!
Lupakah mereka peristiwa 18 tahun yang silam
Bahwa nyaris terjadi “pertumpahan darah” besar di kota Makkah
Yang melibatkan semua suku kala itu
Tentang sengketa peletakan hajar aswad ketika
Mereka melakukan renovasi ka’bah.

Semua suku merasa paling berhak
Dua belas suku itu sudah mengasah pedangya
Bersiap untuk berperang demi Hajar aswad tersebut.
Siapakah pribadi yang menyelamtkan mereka saat itu..?
Siapakah pribadi yang berhasil menyarungkan pedang-pedang mereka..?
Siapakah lelaki yang berhasil mendamaikan mereka semua..?
Siapakah pribadi yang menyelamatkan nyawa-nyawa mereka..?
Yang nyaris melayang demi kesombongan Jahiliyah.

Yah…Rasulullah SAW
Beliaulah yang mereka ingin bunuh
Dengan pedang-pedang mereka sendiri.
Dahulu dimana Rasulullah menyelamatkan dua belas suku tersebut,
Namun kini mereka kehilangan akal sehat, justru
Dua belas suku tersebut datang untuk membunuh beliau.


Balikpapan, gedung rakyat


Gelisah,” menabung kebaikan di rekening ummat,,,ada saat kau memetiknya ??kita lihat nanti

Sang bunga mekar di taman jiwa...

Apa yang kurang pada mereka berdua,,,
Sang suami adalah salah seorang yang
Telah dijamin masuk ke dalam syurga,
Orang ke tiga yang masuk ke dalam Islam,
Seorang yang tinggal dan tumbuh dalam asuhan
Rumah tangga yang paling mulia Rasulullah SAW.

Sang istri adalah seorang wanita suci
Wanita yang terbaik di nasabnya
Selalu menjaga ‘iffahnya dalam pergaulan
Termasuk wanita-wanita awal yang
Mengimani da’wah Rasulullah SAW.

Namun begitulah adanya,
Diluar dugaan semuanya,
Rumah tangga mereke berujung pada perceraian,
Bagaimana tidak, sang suami adalah Zaid bin Tsabit
Dan sang istri adalah Zainab bint jahsy
Pernikahan mereka adalah rekomendasi dari Rasulullah SAW

Keduanya bukanlah orang biasa
Keduanya adalah manusia hebat
Keduanya adalah rujukan dalam keteladanan
Keduanya adalah pembela da’wah
Keduanya sama-sama memiliki kedekatan
Dengan Rasulullah SAW

Namun demikianlah cara kerja cinta
Tidak sederhana yang kita bayangkan
Rasulullah SAW sampai menasehati keduanya
Agar tetap mempertahankan rumah tangganya,
Namun tetap, perpisahan adalah jalan yang mereka putuskan

Ini balada bunga cinta rumah tangga sang sahabat
Yang gagal bunganya tumbuh mekar menjadi bunga
Belum sempat ia berkembang, namun sudah layu
Sulit dijelaskan dengan alasan apapun
Bukan karena kita adalah “saleh” maka rumah tangga akan bertahan

Cinta itu seperti bunga yang ingin tumbuh
Dan mekar di taman hati,
Bunga cinta tak akan mungkin tumbuh
Di kegersangan tanah jiwa
Kalaupun dia tumbuh di atas tanah jiwa yang gembur
Namun tetap saja ia membutuhkan air
Yang akan memberikan kesejukan padanya,
Sebagaimana ia juga membutuhkan cahaya
Yang akan memberikan gelora padanya.

kita para suami bukanlah orang yang
Lebih baik dari seorang Zaid bin tsabit
Dan para isteri kita pula bukanlah yang
Lebih baik dari seorang Zainab bintu Jahsy

Karena itulah…
Balada cinta kita akan berbeda
Tergantung dari situasi lapangan jiwa kita
Sekufu di awal belum tentu sekufu di akhir
Namun alangkah baiknya., semua kita berdoa
“Ya Allah aku telah ikhlas menikahi isteriku
Jadikanlah ia sebagai pasanganku di dunia
Dan juga pasanganku di akhirat”,

Seperti Jibril as yang datang kepada Rasulullah SAW
Atas pernikahan beliau dengan ‘Aisyah ra
“Ya Muhammad,, Hadzihi zaujuka fid dunya wal akhirah..”
Wahai Muhammad,,inilah pasanganmu di dunia dan di akhirat..”


Balikpapan, gang Depag

Gelisah,” ijinkan aku,,merawat dirimu…wahai bungaku”

Tunggui kami suatu saat nanti...!

Badan gagah itu berjalan kokoh
Memasuki perkampungan sukunya bani ‘Ady
Pandangan sinis tertuju matanya,
Padahal tadinya mereka melepas
Dengan senyuman harapan kepadanya.

Namun tetap saja,,,
Langkahnya pasti
Tatapannya tetap tajam
Semburat gelora jiwanya
Terpancar dari raut wajahnya
Ada kegembiraan yang
Tak mampu ia sembunyikan.

Umar bin Khattab baru saja
Menyatakan keislamannya,
Padahal tadi pagi ia berangkat dengan
Sebilah pedang yang tajam untuk
Mencari satu nama untuk menangkapnya
Hidup-hidup, yaitu Muhammad bin Abdullah SAW.

“Wahai Umar,,!!sihir apa gerangan yang mengenaimu”
“Wahai Umar,, Kenapa engkau permalukan keturunan kami”.
Kritikan tajam datang kepadanya,
Namun tetap dia adalah seorang Umar bin khattab
Seorang jawara Quraisy yang tak tertandingi.
Namanya selalu menjadi langganan di gantung di dinding ka’bah
Untuk menghargai para pemenang adu kuda dan perang
Yang diadakan setiap musim pasar tahunan.

“ Sebelum aku berangkat, Muhammad adalah orang yang paling aku benci
Namun kini setelah aku datang kepada kalian,
Tidak ada orang yang paling akun cintai diatas bumi ini
Kecuali Muhammad SAW “.
Demikian jawaban sederhana beliau
Namun cukup bertenaga untuk mengatakan
Kepada mereka semuanya.

Hari esoknya adalah hari yang pahit bagi beliau
Spontan semua laki-laki dari kampong Bani ‘Ady
Memukul dan mengeroyok beliau, mulai pagi hingga siang
Dan dari siang sampai sore giliran Umar yang memukul mereka.
Walhasil jasilnya seri…., namun diatas napas lelah
Umar bin Khattab mengatakan kepada mereka,
“Tunggu kalian, kalian jumlah kami sudah mencapai 300 orang”.
Ini bukan mengancam
Ini bukan terror,
Namun ini adalah kekuatan jiwa yang berselimut tekad yang tinggi.
Yah itulah Umar,,,selalu keindahan yang kita temukan
Dalam pesona dirinya.

Sabtu, 08 Agustus 2009

Ada apa dengan hatimu,,,wahai sahabat Ansar??



"Sepertinya Rasulullah SAW sudah kembali menemukan kaumnya...",,ini cerita tentang suasana jiwa, sebuah situasi perasaan yang sedang dilanda ujian cinta dan harta pada sebagian sahabat senior, yaitu sahabat ansar di akhir episode perang Hunain & bani hawazin tahun 8 Hijriah.Tidak ada ganimah yang tersisa disisi Rasulullah SAW kecuali semuanya habis dibagikan kepada hampir 2000 para muallaf dari penduduk Makkah yang ikut dalam perang tersebut, yang usia keislamannya baru seumur jagung.240.000 ekor unta dibagikan kepada mereka semuanya, bahkan Abu sufyan mendapatkan 100 unta,dan ketika dia meminta jatah juga untuk anaknya muawiyyah, maka Nabipun memberikan 100 unta . Semuanya berebut, Sampai-sampai mereka mengerumuni Nabi dan beliau terdesak sampai menyandar diuntanya, dan beliau mengucapkan tidak akan ada yang aku sisakan kecuali akan kuberikan kepada kalian semua.Mulailah 'penyakit hati' itu datang, pelan, cepat dan berhembus sangat dahsyat menghinggapi relung jiwa sahabat Ansar. Mereka merasa Nabi telah melupakan "jasa" mereka selama ini, sepertinya Nabi telah condong kepada kaumnya Quraisy di Makkah, hingga tak satupun harta ganimah itu dibagikan kepada sahabat Ansar,,,tak satupun.kasak kusukpun terjadi, para sahabat Ansar berkumpul dikemah mereka, membicarakan pemandangan yang membuat hati mereka teriris sembilu. Kabar itupun sampai ketelinga Rasulullah SAW, dan beliau mendatangi tokoh sahabat Ansar Sa'ad bin Mua'dz,,terjadillah dialog pertanyaan antara beliau dgn Sa'ad."Wahai Sa'ad aku mendengar perihal diriku oleh kaummu tentang begini dan begini,,,apa betul itu wahai Sa'ad?", betul, Ya Rasulullah. "Lantas, bagaimana menurut pendapatmu?",,,terdiam Sa'ad dan kembali menjawab,"Aku tidak mungkin menyalahi kaumku,aku sependapat dengan mereka".Bagi Nabi jawaban Sa'ad sudahlah cukup mewakili yang lain,,betapa sedihnya Nabi mendengar jawaban Sa'ad.Kemudian beliau bersabda,,"Wahai Sa'ad setelah sholat Isya kumpulkanlah semua sahabat Ansar dibelakang kandang kambig ini".Wajah mereka semuanya dinginditambah tiupan angin malam,,yang menepis tipiswajah dan badan mereka ditengah kegelapan malam.Kemudian nabi muncul ditengah mereka,,,beliau menatap semua sahabat ansar yang ada saat itu.Mereka diam seribu bahasa tidak ada yang mau mulai bicara. Kemudia Rasulullah SAW berkata dengan suaranya yang khas:"Dengarkanlah semua wahai sahabat Ansar, jika kalian bisa mengatakan sekarang kepadaku, maka kalian bisa saja mengatakan seperti ini kepadaku, "wahai Muhammad disaat engkau diusir dari Makkah, kamilah yang menerimamu, disaat engkau diingkari oleh kaummu, maka kamilah yang mengimanimu, disaat engkau dimusuhi kaummu maka kamilah yang menolongmu !",,Subhanallah,,,Allah Akbar,,betapa beliau memulai dengan bahasa komunikasi yang seolah-olah orang Ansar yang bicara,,mulai air mata sahabat Ansar bercucuran..,.Wahai Sahabat Ansar!!! aku telah ridho atas keimanan kalian, aku tidak pernah ragu kepada kalian, apakah kalian rela melihat mereka pulang ke Makkah membawa unta dan harta,padahal dengan harta itu aku ingin menjinakkan mereka, sedangkan kalian pulang ke Madinah membawa Allah dan Rasul-NYa!!"suara tangisan semakin keras,, sahabat Muhajirin dari kejauhan hanya mendengar seperti suara lebah yang bergemuruh."Ya Allah muliakanlah orang Ansar,,sekiranya ada satu golongan yang berjalan melewati sebuah bukit dan satu golongan ansar melewati bukit yang lain,maka demi Allah,,aku akan mengikuti jalannya orang Ansar".Sa'ad bin Mu'adz menangis air matanya mengalir deras membasahi janggutnya, betapa mereka telah berburuk sangka dengan Rasulullah SAW,,betapa tertipunya mereka dengan harta disaat da'wah sudah memperlihatkan buahnya...Balipapan,,tempat praktekgelisah,"karena mungkin senior memiliki penyakit senioritas"

Rabu, 08 Juli 2009

Menatap masa depan da'wah pasca Pilpres 2009


Dari sini kita memandang,,, dari da’wah
Alhamdulillah, tanpa bermaksud mendahului ketetapan Allah SWT, sepertinya aura kemenangan pasangan SBY-Budiono sudah tercium, setidaknya itu yang bisa kita lihat dari hasil perhitungan cepat disemua stasiun TV, semuanya diatas 50%, itu semua adalah Ni’mat dari Allah SWT kepada kita, dan keinginan untuk menyudahi pilpres ini dengan satu putaran akan terwujid Insya Allah. Ikhwah fillah akhirnya kita mampu menyelesaikan sebuah tahapan yang sulit dan krusial dalam kehidupan kita berpolitik secara khusus dan kehidupan berjama’ah didalam da’wah secara umum melalui musyarakah siyasiyah pada PILPRES 2009 ini. Kita selalu memandangnya seperti itu, bukan semata-mata sebagai hubungan saling membutuhkan antara politik dan da’wah, namun diatas segalanya kita lebih memandang bahwa “as siyasah juz’um minadda’wah”, politik adalah cabang dari da’wah , bahkan sebagian masyaikh da’wah kita mengatakannya dengan istilah , “as siyasah khadiimatud da’wah” atau politik itu adalah sebagai “pembantunya da’wah”. Itulah filosofi yang menyebabkan partai ini hadir dengan literatur baru sebagai partai da’wah, bukan semata-mata sebagai partai politik dalam arti an sich, sehingga ikhwatifillah semua sepak terjang kebijakan parta ini, membuat kita selalu harus memandangnya dari kaca mata da’wah yang bersifat integral dan sempurna, menyeluruh dengan kaidah-kaidah islam yang luas dan luwes dan ada ruang dalam nilainya yang bersifat ats tsaabit dan mutaghayyiraat atau (kokoh dan bisa berubah), bukanlah darikaca mata politik yang terlalu spesifik dan khusus yang hanya diukur dari kacamata kepentingan jangka pendek dan bersifat teknis.

Politik dan kepentingan
Memang politik itu diantara perilakunya adalah kepentingan, apatahlagi dalam praktek musyarakah siyasiyah atau koalisi politik, dimana unsur perekatnya adalah “kepentingan”, maka kitapun masuk dan ikut terlibat didalamnya dengan membawa paket “agenda kepentingan”, namun yang kita bawa dan perjuangkan adalah kepentingan da’wah kita bukan kepentingan pribadi atau elit, sebagaimana itu yang umum dilakukan oleh yang lain, memang tipis batas antara keduanya. Namun agar bisa membedakannya, maka partai kita membuat sebuah alat kontrol internal, apakah keputusan yang keluar itu adalah kepentingan pribadi atau da’wah, yaitu lewat sebuah alat yang bernama musyawarah atau syura, itulah alat yang bisa mejamin dan menjaga orisinalitas kepentingan da’wah kita. Dan sudah barang tentu mereka yang ada didalamnya adalah orang-orang yang memiliki kapasitas mumpuni, karena mereka juga sadar bahwa “pikiran dan suara” yang keluar dalam forum itu adalah perwakilian semua kader. Mereka yang duduk dalam forum itu, lebih tepat jika kita menyebutnya sebagai “ahlu halli wal ‘aqdi” dalam terminologi politik Islam, dari istilahnya saja sudah memberikan arti adalah mereka yang diserahkan untuk melonggarkan dan mengikat suatu urusan , itu makna bahasanya.
Merekalah yang merumuskan kepentingan da’wah kita untuk dititipkan melalui perjuangan politik. Jadi politik itu semacam pintu masuk bagi da’wah untuk nanti dimana dia bisa masuk kedalam rumah besar kekuasaan dan bisa berbuat banyak disitu untuk menjalankan agendanya membenahi ummat ini. Jadi jangan terlalu takut dengan istilah “kepentingan politil”, substansinya bukan disitu, namun lebih subtantif untuk menyoal adalah “apa kepentingan da’wah kita sekarang”. Sama sajalah dengan istilah kekuasaan, kekuasaan itu benda netral, yang paling penting adalah untuk apa kekuasaan itu, bukan berarti kita mengejar kekuasaan an sich, namun kita justru sudah memiliki jawaban yang lebih jauh yaitu, untuk apa kekuasaan itu? Kalau kekuasaan jatuh ke tangan orang buruk, kira-kira untuk apa kekuasaannya itu, tergantung apa kepentingannya terhadap kekuasaannya itu, kira-kira seperti itulah sederhananya.

Investasi itu bernama waktu
Pepatah Arab mengatakan al waqtu juz’un minal ‘ilaaj atau waktu adalah bagian dari proses perbaikan. Kita selalu sadar bahwa semua agenda da’wah kita berjalan diatas waktu. Sejak memutuskan diri masuk kedalam pintu politik tahun 1998, maka sejak itu kita memiliki “umur politik” dan kita sangat paham betul ma’na umur itu bagi kita, sehingga sebelum mendirikan partai, kita justru menguatkan keyakinan kita, “apa alasan kita untuk hidup sebagai sebuah partai?”, ini makna umur yang paling dalam, semua umur punya ajalnya, jadi kekuatan misi kita dan karya dari kesadaran itulah yang akan memperpanjang umur politik kita, jika itu semuanya tidak ada, visi,misi dan sebagainya tidak ada,,maka inilah mulai saatnya kita menghitung umur politik kita.
Sudah tiga pemilu legislatif dan dua pemilihan presiden kita lewati dalam rentang umur kita yang baru 11 tahun. Tanpa bermaksud memuji diri sendiri, saya kira hampir semua pengamat mengatakan kita adalah sebuah fenomena baru dalam kehidupan berpolitik di Tanah air, dengan usia belia dan kini menginjak masa remaja sudah cukup meberikan saham politik di Indonesia ini. Performa politik kita dari tiga musim pemilu memberikan tren naik, kendati dipemilu april lalu naik sangat kecil, namun perolehan kursi da’wah meningkat di DPR-RI. Kita masih memiliki peluang waktu yang lebih panjang Insya Allah, anggaplah sejak masa reformasi dan sekaligus memasuki masa transisinya sampai sekarang, mudah-mudahan di tahun 2014 Bangsa ini sudah menumkan formula yang tepat baginya untuk berdemokrasi. Dimasa transisi itulah kita banyak seali belajar, belajar apa saja dengan cepat, pembiakan tokoh-tokoh da’wah sudah kita lakukan dimasa tersebut. Ustad Anis Matta mengatakan di rentang waktu tahun 1998 sampai dengan sekarang setidaknya kita menyaksikan banyak musim gugur para tokoh politik dan partai politik, karena memang mereka mengalah dengan tantangan zamannya dan yang pasti ditengah musim gugur tersebut ada sekelompok generasi baru sedang tekun belajar kuat untuk menyiapkan dirinya nanti kelak, sehingga pada akhirnya kita bisa melampaui masalah kita, keluar dari rasa tidak percaya diri, dan biarlah nanti Indonesia mengatakan , “sepertinya memang andalah yang kami tunggu selama ini”.

Kemenangan ini untuk da’wah masa depan
Pilpres tahun 2009 ini menjadi hal yang strategis dimata da’wah kita sekarang, secara historis sebenarnya SBY dengan kita sudah lama bekerja sama, setidaknya dari putaran kedua ketika pilpres tahun 2004. Kita pun sadar setelah angka 8% yang kita peroleh dari legislatif kemarin, menjadi sinyal bagi posisi da’wah kita dalam politik tanah air. Mungkin jika kita berguman dalam hati, seperti inilah ungkapan menggambarkan psikis angka itu, “Kita ini baik namun belum banyak pengikut, kita mungkin sholeh namun kesholehan kita belum bisa menggoda orang untuk menjatuhkan pilihannya kepada kita, seperti ungkapan Arab, “ thayyib walakin miskiin “,atau juga ungkapan seperti ini,” kalau sholeh okelah, tapi kalau ngurusin Negara nanti dululah”, atau kita hanya diposisikan sebagai pembaca doa dalam sebuah kepanitiaan besar, belum saatnyalah menjadi pembicara utama”.
Ketika da’wah Nabi Muhammad SAW telah memasuki tahun ke-10 kenabian, berapa pengkiut beliau, berapa masyarakat kota Arab yang bergabung? Apakah mereka tidak kenal dengan pribadi Muhammad SAW, lupakah mereka dengan jasa beliau ketika konflik hajar aswad membuat nyaris perang suku-suku di Arab dan beliaulah yang memberikan solusinya dan menghindarkan mereka dari konflik berdarah tersebut. Pelajaran sirah memberikan kita satu pesan mendasar, bahwa memang beliau telah mendapat “misdaqiyyah ijtima’iyyah” atau pengakuan publik bahwa beliau adalah orang yang jujur,adil dan lurus . Tapi apakah beliau bisa mendapatkan payung politik bernama Negara di Makkah? Justru beliau bernegara ketika di Madinah. Ternyata kita membutuhkan modal tambahan lain diluar modal nilai tersebut, yaitu kekuatan.
Setelah itu rasulullah SAW “diprogramkan” oleh Allah SWT dengan Isra’ mi’raj ditahun sepuluh kenabiannya, karena ada gejala dari Nabi ketika gagal di Thaif beliau menangis, karena kondisi da’wah yang stagnan dan tidak memberikan hasil yang memuaskan, dan itu direkam Allah SWT dalam surat al kahfi ayat ke 6 :
6. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, Sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).

Demikian suasana jiwa Rasulullah SAW, merasa sedih dan tidak berdaya karena program da’wah yang dilaksanakan selama ini tidak berujung kepada dukungan masyarakat kepada nilai kebenaran. Jadi Isra’ mi’raj adalah terapi fisik dan mental atas diri Nabi agar jangan terjadi disorientasi dalam nilai dan semangat perjuangan, karenanya Alah memperlihatkan Syurga dan neraka, supaya beliau menjadi yakin terhadap perjuangan selama ini. Beberapa Mufassirin ketika mentafsirkan kalimat ,” Subahalladzii asroo bi ‘abdihii…..” , adalah kemauan Allah agar jangan “berdiam diri dengan realitas yang ada saat itu”, karena itu kalimatnya , “Maha suci Allah yang telah menjalankan…”, jadi harus bergerak, jalan, terus jangan meratapi kondisi saat itu, da’wah harus bergerak.
Mungkin kita dan termasuk saya, sedikit terpana memandang perolehan suara kita di legislatif kemarin, ada ikhwah yang terdiam dan kecewa. Setelah itu kita langsung Ria’yah tarbawiyyah,para asaatidz kita turun ke lapangan untuk memberikan taujih penyegaran, yah anggaplah proses “isra mi’raj” dalam versi kita. Dimana disana dibangun kembali nilai-nilai dasar perjuangan kita, hubungan dengan Allah SWT diperbaiki dengan memperbanyak amal yaumiyan dsb. Ikhwatifillah, apa yang terjadi setelah isra’ mi’rajnya Rasulullah SAW, adalah gelora iman dan semangat beliau kembali muncul, menatap masa depan yang lebih baik, gelora iman membakar semangat, da’wah beliau menjadi kencang, walhasil tahun kesepulu sampai ke tigabelas kenabian, beliau mendapatkan cikal bakal kekuatan dimadinah dengan masuknya orang-orang yastrib dalam musim Haji tahun itu dan puncaknya adalah Hijrah, sebagai sebuah metamorphosis gerakan da’wah beliau menjadi gerakan Negara.
Saya berkumpul dengan beberapa ikhwah ditempat tabulasi suara di salah satu DPC, setiap sms dan telpon yang masuk, spontan kami bertakbir, karena suara pasangan SBY-Budiono menang, bahkan menang telak. Seyum dan wajah ceria begitu menghiasi para kader, beda ketika kami menatap hasil suara legislative kemarin (he..he…). Saya berfikir “kemenangan” ini adalah sinyal yang Allah berikan kepada kita Insya Allah, boleh jadi ini awal hijrah. Dan yang saya maksudkan disini adalah “hijrah performa politik da’wah” kita,, selangkah lagi kita bernegara bung,,,tahun 2014 adalah masanya. Anggap saja “kemenangan SBY” ini adalah payung da’wah kita, sebagimana Rasulullah SAW ketika pulang dari Thaif, tidak berani karena masyrakat Arab telah mengusirnya, antum tahun dengan apa beliau masuk. Yaitu dengan menggunakan “payung jiwar”, atau memakai perlindungan salah seorang petinggi Quraisy yang masih musyrik yaitu bernama Muth’im bin ‘Ady, yang memiliki pasukan dan dukungan sukunya saat itu, dan ketika Rasulullah SAW datang ke Makkah, Muth’im bin Ady berteriak di depan Ka’bah,” wahai Quraisy, sungguh Muhammad berada dalam jaminanku, maka barang siapa yang menyentuhnya maka dia berarti menyentuhku, memerangi dirinya berarti memerangi diriku.
Tanpa bermaksud mendramatisir penggalan sejarah diatas, ketika Golkar dan PDIP ingin bergabung dengan SBY saat itu, mereka katakan, kami mau bergabung asal PKS dikeluarkan dari koalisi, namun SBY mengatakan, “ PKS bagi saya adalh tulang punggunya”, kita 8 % namun seharga dengan 30 % (PDIPdan GOLKAR), untuk sementara pemerintahan SBY adalah “payung” untuk melindungi da’wah kita. Setidaknya tirani Golkar dan PDIP berakhir disini, Insya Allah.Allahu Akbar,,sabar ikhawtifillah sebentar lagi kita hijrah,,sebentar lagi kita menuju “Negara”.

Balikpapan,gang Depag
17 Rajab 1430 H/8 Juli 2009

Kini tidak gelisah,,akhirnya kau tersenyum