napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Minggu, 02 Januari 2011

Nyanyian Jiwa para Pahlawan....

Nyanyian jiwa para pahlawan...

oleh Syukri Wahid pada 05 Oktober 2010 jam 14:43
Berita jatuh sakitnya menyebar begitu cepat
Keseluruh sudut kota dan wilayah di jazirah Arab.
Secepat angin yang berhembus  & bertiup mengisi seluruh ruang dalam kehidupan ini.
Tubuh tegar dan perkasanya kini harus mengalah dengan sakit.
Melemas dan lunglai terbaring di atas pembaringan.
Kini wajah segarnya sudah harus pamit dari raut wajahnya.
Otot perkasanya yang terbentuk dalam jawara kepahlawanan
Sudah kehilangan kekuatannya, hanya menggantung ditulangnya.

Namun ada yang tidak berubah dalam dirinya,
Dia masih tetap seperti yang dulu.
Tenaga jiwanya masih terlalu kuat bertengger di jiwanya.
Tubuh badannya sakit, namun tidak menular ke tubuh jiwanya.
Aroma kepahlawanannya masih bisa tercium darinya,
Sorot mata tajamnya masih bisa menggambarkan gelora jiwanya.

Hatinya selalu gelisah,
Karena ada satu cita-citanya yang belum tercapai
Yaitu mati syahid dalam laga tempur di medan jihad.
Begitulah Khalid bin Walid salah seeorang dari
Laki-laki spesial dalam sejarah Islam.
Nyanyian kepahlawanannya mengantarkan dirinya
Mendapat gelar langsung dari rasulullah saw, “si pedang Allah”.

“Hampir hari-hariku kulalui dengan pedang dan perang,
Baik dahulu aku dalam keadaan jahiliyyah dan dalam keadaan Islam,
Dan aku tidak pernah kalah. Kini yang aku kuatirkan dari diriku
Adalah justru meninggal di atas pembaringan ini”.

Inilah jiwa penggelisah,
Bahwa karya-karya besar kepahlawannya yang dibangun
sepanjang usianya justru tidak ditutup dalam syahid dimedan tempur.
Bagi jiwanya pantang seeorang pahlawan meninggal bukan dimedan tempur.
Laksana prajurit perang yang memang sudah menggadaikan jiwanya
Dalam setiap episode perang.

Ini tentang jiwa yang kuat
Ini cerita tentang jiwa penggelisah,
Ditengah sakitnya beliau mengatakan,
“Seandainyapun malam ini aku berada ditengah isteri cantik yang baru aku nikahi,
Maka aku lebih menyukai melewati dengan suatu malam yang sangat dingin ditengah
Barisan pasukan perang dalam sebuah kancah pertempuran.”
Begitulah jiwa sang penggelisah
Yang tak bisa dikalahkan oleh zaman
Tidak mudah takluk dengan umurnya sendiri.
Tekadnya selalui mendahului amalnya.


Gelisah


Balikpapan,”menakar ulang jiwa-jiwa kepahlawan kita”

Tidak ada komentar: