Sebab Ummat ini harus kembali bangkit dengan cara sebagaimana dahulu Rasulullah saw mengelola para Sahabatnya untuk menjemput kejayaan peradabannya dan pada akhirnya mereka menjadi buah bibir sejarah panjang kehidupan
napak tilas
by Syukri Wahid
Rabu, 19 April 2017
ARTI KEKALAHAN AHOK.
Alhamdulillah semuanya adalah ketetapan dari Allah swt , lewat pertarungan pilkada DKI yang begitu tegang akhirnya pasangan no 3 Anies-Sandy Insya Allah dipastikan menjadi Gubernur baru Jakarta untuk 5 tahun kedepan.
Saya justru tertarik dengan melihat apa arti dibalik kemenangan ini, mencoba mengambil pelajaran berharga pada pilkada ini bukan semata-mata dari tinjauan politik ansich. Kemenangan ini mengirim pesan begitu kuat kepada umat Islam secara umum dan para elit Islam politik di negeri ini.
Beberapa catatan penting yang saya bisa tangkap sebagai berikut :
1.JANGAN TINGGALKAN SUARA UMMAT.
Sudah jamak bagi kita bahwa seringkali Islam politik yang digerakkan oleh partai-partai Islam atau berbasis agama sering dibenturkan dengan kepentingan pragmatisme sesaat. Para elit partai lebih memilih lakukan deal kepentingan singkat daripada memilih menangkap suara dukungan arus bawah umat.
Kita bisa melihat bagaimana kegalauan kubu PPP dan PKB dalam putaran kedua, kendati banyak petinggi partai tersebut turut aksi dalam gelombang aksi bela Islam beberapa jilid kemarin bersama konstituennya, namun umat "terluka" atas keputusan justru petingginya mengalihkan dukungan ke kandidat yang "ditolak" oleh umat itu sendiri.
Mungkin ini pelajaran penting bahwa, seringkali hanya kepentingan politik sesat kita justru tinggalkan basis suara pemilih kita sendiri, jangan salahkan akhirnya jika umat kehilangan selera dan referensi untuk mempercayai Islam politik, kita boleh berkuasa di atas atas mandat mereka, namun jika mereka sudah sakit hati cara mereka menghukum adalah dengan cara tidak memilih mereka.
2. UMAT ISLAM ADALAH BIG MARKET
Demokrasi memaksa meraup suara terbanyak, karena itu pilihan untuk pasar suara tak terelakkan, Indonesia dan umat Islam adalah keniscayaan, memisahkannya adalah anomali sejarah, kendati kita sadar bahwa kaum muslimin baru menjadi pasar saja belum menjadi pemain utama dalam mengatur pasar politik Indonesia, belum menjadi subjek utama ,tapi hanya menjadi obyek saja.
Itulah sebabnya dari berbagai paslon atau partai apapun pasti tak ketinggalan menggarap pasar yang sangat menggoda ini, perang simbol dan teknis mendekati umat menjadi lumrah dalam politik.
Karena itu pelajaran Pilkada DKI ini harusnya jadi pelajaran penting bahwa saatnya mereka bangkit untuk tidak menjadi obyek pasar saja,,tapi kalau perlu menjadi subyek pertama dalam pengarusutamaan politik di negeri ini.
Mungkin bagi tim Ahok dengan bergabungnya sejumlah elemen umat Islam lewat simbol PPP, PKB atau beberpa tokoh elit NU dianggap bisa sederhanakan bahwa pasar umat Islam akan diambil, kenyataannya?
3. KEKUATAN BARU ERA MILENIAL.
Tak dipungkiri demokrasi kita telah memasuki di era yang tak kita temukan di periode-periode yang lalu, yaitu era milenial ditandai dengan jaringan informasi yang begjtu masif dan mudah diakses secara langsung kepada masing-masing person.
Mungkin suatu saat memasang iklan baliho di pinggir jalan disamping biaya besar dan harus dijaga terus akan ditinggalkan, sedangkan dengan sekali postingan di akun media sosial apapun jenisnya , belum lagi lewat broadcast via telegram, WA dan lain sebagainya begitu berdampak masif luar biasa.
Perang di dunia maya jauh lebih seru dan sangat dinamis, tak seperti mungkin dulu pilkada pertama kali di gelar 2005. Kini kita sadar bahwa pilar demokrasi bisa bertambah yaitu media sosial.
Salah satu dampak positifnya adalah efektifnya metode kampanye dan bahkan untuk memblok gerakan lawan, kita lihat betapa blundernya tim Ahok menggelar serangan sembako di hari tenang, tapi peran media secara positif justru mempersepsikan tindakan mereka negatif, mungkin mereka lupa sekarang era digital, ditangan setiap orang ada hp yang bisa bisa langsung dia rekam atau live lewat akun medsosnya dan merangkap sebagai wartawan dan peliput acara dan orang bisa lihat langsung di media sosial.
4. BARANG ITU PENTING.
Secara survey masyarakat jakarta cukup puas dengan kepemimpinan Ahok, tapi apakah akan memilih kembali tenyata dibawah 50% akan memilihnya kembali, apa artinya tenyata Kagum dengan memilih adalah dua hal yang berbeda.
Alasan yang paling utama adalah gaya berkomunikasi Ahok yang jauh dari unsur budaya ketimuran secara umumnya. Bicara yang sopan santun, yang lebih sejuk dan merangkul tidak bisa dipungkiri relatif tak dimiliki Ahok.
Jika barang udah jelek mau dibungkus apapun akan ketahuan jeleknya pada akhirnya, pencitraan hanyalah menjadi beban untuk menutupi wajah asli yang sebenarnya sadar kalau barang tersebut ada cacatnya.
4. BERSATULAH
Ini adalah inti dari kesemuanya, ternyata jika umat itu kompak dan solid maka mereka akan memetik buahnya sendiri. Jika suara yang didengungkan umat juga disambut oleh para elit politik Islam maka itu bertemunya suara bawah dengan suara atas.
Jangan lagi mau dipecah belah, saatnya elit politik Islam tidak memiliki penyakit rendah diri dan dia harus melihat peristiwa gejolak umat ini seakan-akan menegur para elitis, jika kalian tidak becus urus kami maka biarkanlah kami yang bergerak.
Mari kita bercermin, seringkali para elit dihantui oleh penyakit ketakutan yang dia ciptakan sendiri tentang ketidakpastian kedepan, yang akhirnya menyeret mereka untuk memilih jalan pragmatisme.
Sehingga yang terjadi kekuatan politik Islam di negeri ini seringkali dibenturkan dan mau diadu domba dengan sesama elemen umat oleh kepentingan jahat yang ingin menguasai negeri ini.
Lihatlah bagaimana Pilkada DKI membuat umat mengambil perannya sendiri, kekuatan yang selama ini di marginalkan tiba-tiba tampil kedepan menjadi arus utama perjuangan politik untuk selamatkan Jakarta dan indonesia sekaligus.
Ya Allah terimalah amal kami.
Sabtu, 15 April 2017
AHOK.MEMAKSA KAMI SEMUA MENJADI "WARGA JAKARTA".
Tak pelak lagi dari ratusan titik pilkada yang diselenggarakan secara serentak kemarin, mungkin satu-satunya titik yang menjadi magnet perhatian publik adalah pilkada DKI Jakarta, betapa tidak seluruh media cetak elektronik sampai medsos menjadi ajang pertarungan serang menyerang kandidat dan seolah-olah kita semua menjadi warga DKI Jakarta.
Pertarungan pilkada DKI bukanlah pertarungan sederhana antara seorang pasangan Ahok - Djarot vs Anies-Sandy saja, tapi ini pertarungan seluruh elemen kekuatan di negeri ini dan alat ukurnya sederhana, kita semua tiba-tiba menjadi "warga" DKI.
Pertarungan ini telah memaksa setiap orang untuk mengambil posisi, mulai dari rakyat jelata hingga para artis papan atas sekalipun, itulah yang bisa menjelaskan pertarungan pilkada DKI ibarat sedang memilih seorang Presiden di negeri ini.
Apa yang membuat semua orang berkepentingan dengan Pilkada ini ?, ini bukan analisa teori yah, setidaknya ini hanyalah menangkap tentang perasaan apa yang dirasa oleh kita semua, setidaknya saya pribadi.
Ada satu faktor yang paling krusial yang menyebabkan Pilkada DKI menjadi dahsyat, bahwa keterlibatan secara perasaan emosional kolektif umat Islam akibat kasus sambutan Ahok di kepulauan Seribu yang kita kenal Al Maidah : 51. Sehingga Pilkada DKI telah memaksa umat Islam bereaksi, dari situlah awal semua persoalan ini. Kunjungan kerja tentang Ikan tak ada hubungannya dengan kampanye , tapi Ahok menyinggung hal yang paling sakral dalam keyakinan umat Islam.
Semua berawal dari situ dan Ahok telah memaksa seluruh isi republik ini bereaksi, mulailah gelombang aksi bela Islam jilid 1 dst. Jangan salahkan umat bereaksi karena dirimulah yang memulai, tak puas dirimu terus memancing amarah isi negeri ini dan malah kau jadikan bahan candaan kalimat al Maidah :54 dan kafir sebagai password wi-fi di area publik Jakarta.
Ahok telah memaksa semua kita mengambil sikap, baik yang mendukungnya maupun yang melawannya lihatlah di halaman akun berbagai medsos terjadi perang yang luar biasa, mulai Sabang sampai Merauke semua terlibat dalam bagian ini.
Semua sumber daya dukungan partai pendukungpun tak tanggung-tanggung, PDIP sebagai penyokong utama pasangan Ahok Djarot mewajibkan seluruh Alegnya berkontribusi dalam rangka pemenangan , sebagaimana Gerinda, PKS dan Demokrat, tapi begitulah kenyataannya, pilkada DKI menyedot semua anasir kekuatan.
Dalam benak saya , pertarungan ini tidak akan berakhir sampai di Pilkada DKI saja, kini umat Islam dengan seluruh elemennya terlibat dan mereka sudah mendefinisikan sendiri cara memenangkan pertarungan ini, jadi sadarlah Ahok bahwa engkaulah yang telah mengundang dan memaksa semua kami tiba-tiba menjadi "warga DKI semuanya".
Tensi perlawanan ini terus meninggi sejak november tahun lalu, seolah-olah semua isi negeri ini terbelah menjadi dua kutub politik saja, tapi itu faktanya. Apatah lagi dalam perjalanan ini seringkali umat "mencurigai" kekuatan negara ikut mensupport Ahok dan itu kelihatan jelas didepan mata dipertontonkan, sampai kasus terakhir dari pihak jaksa dengan alasan belum selesai mengetik atas tuntutan yang akan diberikan kepada sang terdakwa, sebelumnya lewat Kapolda DKI meminta sidang di tunda.
Wajar saja semakin dekat hari pencoblosan semakin tinggi tensi perlawanan, dari warung kopi, pasar hingga gereja dan masjid sekalipun menjadi panggung pertarungan. Beberapa pengamat mengatakan bahwa sampai 2019 akan terjadi hard game atau permaianan yang keras dalam politik, sebab DKI ini adalah miniatur Indonesia , sebab jabatan gubernur DKI juga bisa menjadi batu loncatan untuk menjadi presiden.
Jadi mari manfaatkan sisa hari ini untuk mengajak seluruh teman, keluarga dan kerabat yang punya hak pilih di DKI untuk mengambil bagian dalam saham menyelamatkan negeri ini, bagaimana mungkin ada terdakwa penista agama akan memimpin ibukota negara ini, maka lawanlah dengan cara tidak memilihnya, Oke oce ! .
SW, warga Balikpapan yg ingin Ahok kalah.
APA JADINYA...?
APA JADINYA..?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang lemah dan orang buruk yang kuat ?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yang diam dan orang buruk yang mengatur ?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yg hanya rajin ingin merubah hanya berdoa, dan orang buruk yang selalu rajin dengan bekerja.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yg hanya mengumpat di balik dinding dan orang buruk yang bergerak di luar sana.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang takut dan orang jahat yang semakin berani.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang tak peduli dan orang jahat yang beringas berbuat.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang bodoh dan orang jahat yang licik.
Apa jadinya...?
Menjadi apa kita..?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang lemah dan orang buruk yang kuat ?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yang diam dan orang buruk yang mengatur ?
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yg hanya rajin ingin merubah hanya berdoa, dan orang buruk yang selalu rajin dengan bekerja.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
Orang baik yg hanya mengumpat di balik dinding dan orang buruk yang bergerak di luar sana.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang takut dan orang jahat yang semakin berani.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang tak peduli dan orang jahat yang beringas berbuat.
Apa jadinya jika dunia hanya di isi oleh
orang baik yang bodoh dan orang jahat yang licik.
Apa jadinya...?
Menjadi apa kita..?
Jumat, 14 April 2017
SARA atau KEADILAN?
SARA atau KEADILAN ?
Saat Referendum Timor Timur lepas dari pangkuan pertiwi, apakah faktor SARA penyebabnya ?. Saat propinsi Papua minta Otonomi khusus, apakah faktor SARA penyebabnya ?.
Apakah DI Aceh meminta hal khusus ttg daerahnya dan direstui pusat, bahkan partai lokal hanya ada disana, apakah SARA penyebabnya ?
itu tentang KEADILAN, jika kita bernegara sudah tak lagi menemukan keadilan atau negara tak lagi bisa menegakkan hukum & keadilan , maka marilah kita mulai hitung mundur umur integrasi kita..
Wahai negara,,,jangan kau perlakukan hukum ini pada banyak orang, tapi kau istimewakan yang lain.
Berapa banyak lagi kau biarkan orang yang meludahi kain persatuan negeri ini kemudian dengan kata maaf semuanya seolah-olah tenang.
Jangan kau biarkan kata toleransi menjadi alat perayu kepada mereka yang sudah di injak harga dirinya untuk diam.
Jangan kau jadikan kata sakti kebhinekaan untuk melindungi sikap intoleransi mereka yang merusaknya.
Rakyatmu hanya minta kau Adil menerjemahkan dan menegakkan siapa yang merusak itu !
Begitu mudah kau tangkap pembawa bendera merah putih bertuliskan kalimat suci syahadat yg karena mungkin ketidaktahuan yang bersangkutan, tapi begitu sulit kau cari seorang Iwan bopeng di negeri ini.
Begitu mudah kau tersangkakan seorang yang statusnya dianggap pemicu keretakan NKRI seperti buniyani tapi begitu sulitnya kau selesaikan ketikan tuntutan sang penista.
Saat Referendum Timor Timur lepas dari pangkuan pertiwi, apakah faktor SARA penyebabnya ?. Saat propinsi Papua minta Otonomi khusus, apakah faktor SARA penyebabnya ?.
Apakah DI Aceh meminta hal khusus ttg daerahnya dan direstui pusat, bahkan partai lokal hanya ada disana, apakah SARA penyebabnya ?
itu tentang KEADILAN, jika kita bernegara sudah tak lagi menemukan keadilan atau negara tak lagi bisa menegakkan hukum & keadilan , maka marilah kita mulai hitung mundur umur integrasi kita..
Wahai negara,,,jangan kau perlakukan hukum ini pada banyak orang, tapi kau istimewakan yang lain.
Berapa banyak lagi kau biarkan orang yang meludahi kain persatuan negeri ini kemudian dengan kata maaf semuanya seolah-olah tenang.
Jangan kau biarkan kata toleransi menjadi alat perayu kepada mereka yang sudah di injak harga dirinya untuk diam.
Jangan kau jadikan kata sakti kebhinekaan untuk melindungi sikap intoleransi mereka yang merusaknya.
Rakyatmu hanya minta kau Adil menerjemahkan dan menegakkan siapa yang merusak itu !
Begitu mudah kau tangkap pembawa bendera merah putih bertuliskan kalimat suci syahadat yg karena mungkin ketidaktahuan yang bersangkutan, tapi begitu sulit kau cari seorang Iwan bopeng di negeri ini.
Begitu mudah kau tersangkakan seorang yang statusnya dianggap pemicu keretakan NKRI seperti buniyani tapi begitu sulitnya kau selesaikan ketikan tuntutan sang penista.
UMAT DULU & SEKARANG.
Dahulu itu, orang yang makmurkan masjid, itu juga orangnya yang menggerakkan pasar, seperti Abdurahman bin Auf.
Orang yang saban hari isi shaf sholat di masjid, itu juga orangnya yang selalu terdepan berkuda saat perang membela Agama dan negaranya, seperti miqdad bin amir.
Orang yang tiap hari hadir di Masjid, itu juga orangnya yang piawai berdiplomasi, seperti Amru bin Ash
Orang yang dahulu hidupkan masjid, itu juga yang hadir menebar kebijakannya dengan mempimpin rakyatnya, seperti Abu bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi thalib.
Orang yang dahulu hadir di masjid, sama juga orangnya yang selalu kerja keras menanam kurma dan merawatnya, seperti Salman al farisi.
Orang yang dahulu ke masjid, itu juga orangnya yang menyusun strategi dalam perang, seperti Hubbab bin Mundzir
Dulu yang di masjid ada di pasar
Dulu yang di masjid ada di pusat pemerintahan
Dulu yang di masjdi ada di pasukan
Dulu yang di masjid ada di lapangan.
Kini...
Yang di masjid tak kau temui lagi di pasar
Yang di masjid tak lagi kau temukan ia di tempat strategis.
Yang di masjid cukuplah engkau di masjid
dan biarlah pasar di isi orang-orang pasar.
Yang di Masjid biarlah di Masjid,
dan biarlah politik di isi orang-orang politik
Yang di masjid biarlah engkau di masjid,
dan biarlah urusan duniamu di urus orang2nya.
Lantas Muhammad saw, ikut dagang, punya pengalaman militer di usia dini, punya organisasi hilful fudhul saat 15 tahun, pebisnis handal, menikah, bertetangga, sampaiakan wahyu, buat negara, urus rakyat dan ummat, buat perdamaian dengan pihak Yahudi, korespondensi dengan para negara tetangga, angkat senjata bela negara, urus keluarga, jadi hakim dll,,,,,apa hanya iseng ?.
Rabu, 12 April 2017
Jiwa-Jiwa Badar.
Padahal saat itu perang sudah didepan mata,
Antar Pasukan sudah saling menatap,
Aroma kesombongan musuh sudah tercium dekat.
Saat itu cuma ada 2 pilihan bagi para sahabat
Maju berperang untuk melawan atau
Mundur teratur mencari aman.
Ini bukan inti dari peperangan,
Namun cuplikan diatas adalah satu wilayah
Bertempur dalam cerita besar perang Badar.
Yaitu bertempur dimedan jiwa,
Yaitu bertempur melawan diri mereka sendiri.
Saat itu mereka sudah mendefinisikan kemenangan mereka,
Bahwa pulang ke madinah dengan jumlah lengkap adalah kemenangan.
Mereka sangat beralasan, karena pasukan ini tadinya bukan
Diniatkan untuk berperang, cuma ingin ''menakut-nakuti''.
Kelompok dagang abu sufyan agar bisa merebut 1000 unta.
Pasukan sejumlah 314 orang, hanya berbekal 2 ekor kuda perang
& 70 pasukan pemanah, belum pernah menyandang gelar menang
apa harus nekat berperang...?
''Apakah kita ingin menyetor nyawa kita ke sana,wahai Rasul ?''.
Kekalahan sudah di depan mata.
Gelar kalah sudah jelas menanti kita.
Beberapa sahabat sampai bertanya demikian.
Saudaraku,,,,
Ini tentang bunga jiwa yang memilih layu sebelum mekar
Ini tentang mentalitas jiwa yang terlalu
Mematerialkan sebab-sebab kemenangan.
''Berikan pendapat kalian, wahai sahabatku !?''
Rasulullah saw cuma ingin memecah suasana jiwa 314 sahabatnya.
Setiap kali Nabi mendengar jawaban sahabat,
Maka beliau selau mengulangi pertanyaan tersebut.
Ternyata nabi membaca isi jiwa beberapa sahabat, bahwa mereka
Belum satu frekuensi dalam jawaban.
''Sepertinya kami yang engkau minta menjawabnya, wahai Rasulullah?''
Tiba-tiba Saad bin Muadz berbicara, salah seorang petinggi Anshar.
''Benar, kalianlah yang aku tunggu''.
Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan jawaban seperti ini :
''Wahai Rasulullah berperanglah, maka kami akan menyertaimu,
Kami bukanlah pengikut Musa as yang mengatakan kepadanya,
Berangkatlah menuju Tuhan-Mu & berperanglah kalian yang
mengusulkan dan biarkan kami hanya duduk di sini,
jika engkau berperang ke dasar lautan maka kamipun akan
Menyertaimu''
terang wajah Rasul, gembira ria
Karena ini bukan sekedar jawaban lisan,
Namun ini adalah gelora iman di dalam jiwa.
Saudaraku...mengalahkan musuh didalam hati
Jauh lebih sulit daripada musuh yang kita lihat dialam fisik.
Bahwa memenangkan rasa optimismu dari rasa pesimismu
Bahwa memenangkan rasa percaya dirimu dari rasa takberdayamu
Adalah pertarungannya di medan jiwamu sendiri,
Itulah medan pertarungan tanpa batas,
Seluas ketidakterbatasanmu dalam bermimpi.
Sebab ...
menang & kalah,
Sukses & gagal
hanya bisa kita rasakan
Jika kita BERTEMPUR
Antar Pasukan sudah saling menatap,
Aroma kesombongan musuh sudah tercium dekat.
Saat itu cuma ada 2 pilihan bagi para sahabat
Maju berperang untuk melawan atau
Mundur teratur mencari aman.
Ini bukan inti dari peperangan,
Namun cuplikan diatas adalah satu wilayah
Bertempur dalam cerita besar perang Badar.
Yaitu bertempur dimedan jiwa,
Yaitu bertempur melawan diri mereka sendiri.
Saat itu mereka sudah mendefinisikan kemenangan mereka,
Bahwa pulang ke madinah dengan jumlah lengkap adalah kemenangan.
Mereka sangat beralasan, karena pasukan ini tadinya bukan
Diniatkan untuk berperang, cuma ingin ''menakut-nakuti''.
Kelompok dagang abu sufyan agar bisa merebut 1000 unta.
Pasukan sejumlah 314 orang, hanya berbekal 2 ekor kuda perang
& 70 pasukan pemanah, belum pernah menyandang gelar menang
apa harus nekat berperang...?
''Apakah kita ingin menyetor nyawa kita ke sana,wahai Rasul ?''.
Kekalahan sudah di depan mata.
Gelar kalah sudah jelas menanti kita.
Beberapa sahabat sampai bertanya demikian.
Saudaraku,,,,
Ini tentang bunga jiwa yang memilih layu sebelum mekar
Ini tentang mentalitas jiwa yang terlalu
Mematerialkan sebab-sebab kemenangan.
''Berikan pendapat kalian, wahai sahabatku !?''
Rasulullah saw cuma ingin memecah suasana jiwa 314 sahabatnya.
Setiap kali Nabi mendengar jawaban sahabat,
Maka beliau selau mengulangi pertanyaan tersebut.
Ternyata nabi membaca isi jiwa beberapa sahabat, bahwa mereka
Belum satu frekuensi dalam jawaban.
''Sepertinya kami yang engkau minta menjawabnya, wahai Rasulullah?''
Tiba-tiba Saad bin Muadz berbicara, salah seorang petinggi Anshar.
''Benar, kalianlah yang aku tunggu''.
Dalam situasi seperti ini, kita membutuhkan jawaban seperti ini :
''Wahai Rasulullah berperanglah, maka kami akan menyertaimu,
Kami bukanlah pengikut Musa as yang mengatakan kepadanya,
Berangkatlah menuju Tuhan-Mu & berperanglah kalian yang
mengusulkan dan biarkan kami hanya duduk di sini,
jika engkau berperang ke dasar lautan maka kamipun akan
Menyertaimu''
terang wajah Rasul, gembira ria
Karena ini bukan sekedar jawaban lisan,
Namun ini adalah gelora iman di dalam jiwa.
Saudaraku...mengalahkan musuh didalam hati
Jauh lebih sulit daripada musuh yang kita lihat dialam fisik.
Bahwa memenangkan rasa optimismu dari rasa pesimismu
Bahwa memenangkan rasa percaya dirimu dari rasa takberdayamu
Adalah pertarungannya di medan jiwamu sendiri,
Itulah medan pertarungan tanpa batas,
Seluas ketidakterbatasanmu dalam bermimpi.
Sebab ...
menang & kalah,
Sukses & gagal
hanya bisa kita rasakan
Jika kita BERTEMPUR
Kemana jiwa itu !
Oh.... jiwaku dan jiwamu yang dulu bergelora, mengapa kini kau terlihat tenang, apakah engkau sudah tak mengharap ombak itu bisa membadai ?.
Oh... kemana ragaku dan ragamu yang dahulu tak pernah berhenti mengejar asa dihujung sana, apakah engkau sudah kehilangan tenaga jiwa untuk mengangkat wajah ?.
Oh.... dimana kafilah itu, yang dahulu telah pensiun dari rasa malas, apakah musuhmu terlalu besar telah membuatmu menjadi kafilah yang pemalu ?.
Oh ..... mimpiku dan mimpimu yang dahulu selalu menghiasi tidur jiwa kita, mimpi yang membuat kita selalu yakin mengetuk pintu hati manusia?, mengapa kini mulai raib dari relung hatiku...aku berdamai dengan rasa kantuk itu.
Oh ......dimana dirimu, dimana jiwaku...
jiwa yang selalu menuntun ragaku untuk merajut mimpi yang nyata.
Oh mimpiku,,kembalilah kau hiasi malam-malamku yang kini terasa makin sunyi.
Aku selalu berdiri disini, sampai angin tak sanggup lagi untuk berhembus.
Oh... kemana ragaku dan ragamu yang dahulu tak pernah berhenti mengejar asa dihujung sana, apakah engkau sudah kehilangan tenaga jiwa untuk mengangkat wajah ?.
Oh.... dimana kafilah itu, yang dahulu telah pensiun dari rasa malas, apakah musuhmu terlalu besar telah membuatmu menjadi kafilah yang pemalu ?.
Oh ..... mimpiku dan mimpimu yang dahulu selalu menghiasi tidur jiwa kita, mimpi yang membuat kita selalu yakin mengetuk pintu hati manusia?, mengapa kini mulai raib dari relung hatiku...aku berdamai dengan rasa kantuk itu.
Oh ......dimana dirimu, dimana jiwaku...
jiwa yang selalu menuntun ragaku untuk merajut mimpi yang nyata.
Oh mimpiku,,kembalilah kau hiasi malam-malamku yang kini terasa makin sunyi.
Aku selalu berdiri disini, sampai angin tak sanggup lagi untuk berhembus.
Minggu, 09 April 2017
Bukalah Topengmu !
Lihatkan wajah aslimu, jangan kau pakai topeng kebhinnekaan untuk merusak keberagaman yang memang sudah ada.
Bukalah topengmu !, kau ajak orang menjadi santun setelah kau ludahi keyakinan mereka.
Jelaskan siapa dirimu, kau buat stigma muslim berpeci anti minoritas dan ganyang Cina dalam video kampanyemu, dan secara sadar pula kaulah yang melepas simpul persatuan yang sudah ada.
#kampanyemuJahat.
Bukalah topengmu !, kau ajak orang menjadi santun setelah kau ludahi keyakinan mereka.
Jelaskan siapa dirimu, kau buat stigma muslim berpeci anti minoritas dan ganyang Cina dalam video kampanyemu, dan secara sadar pula kaulah yang melepas simpul persatuan yang sudah ada.
#kampanyemuJahat.
Kamis, 06 April 2017
'Aisyah ra, perasaaan & kebenaran .
"Aku tidak akan berdiri untuknya !", demikian ibunda 'Aisyah ra menjawab ajakan ayahnya yang tak lain adalah sahabat Abu bakar ra atas turunnya rangkaian ayat dalam surat an nuur sebagai klarifikasi atas fitnah yang menimpa beliau pada peristiwa haditsul 'ifki.
Rasulullah saw kala itu baru saja menerima turunnya wahyu didepan pintu saat mau keluar rumah, sangking beratnya beliau memegang pintu tersebut dgn kedua tangannya & butiran keringat tampak keluar diwajah beliau.
Apa pasal hampir sebulan tidak turun wahyu yang selalu dinantikan Rasulullah saw, padahal gosip tersebut sudah melanda Madinah akibat provokasi kaum Munafik.
Walhasil 'Aisyah ra minta pulang ke rumah orang tuanya karena tidak kuatnya beliau mendenga fitnah tersebut. Bahkan tak pelak lagi saat orang yang paling di cintainya yaitu baginda nabi saw turut bertanya kepadanya setelah mendapat beberapa masukan dari beberapa sahabat .
Atas pertanyaan nabi saw, beliau menjawab, "Demi Allah , jika aku katakan bahwa aku melakukannya maka kalian akan mempercayainya dan jika aku bersumpah tak melakukannya, maka kalian juga tak akan mempercayainya, lebih baik aku bersabar sebagaimana sabarnya Nabi Yusuf as".
Lantas tumpahlah air mata beliau sejadi-jadinya, karena pertanyaan Rasulullah tersebut, bagi Aisyah itu bukanlah sekedar pertanyaan saja, tapi juga seperti "terkesan berpihak ", sampai beliau mengatakan matanya jadi sembab kehabisan air mata atas peristiwa tersebut.
Dituturkan sendiri oleh beliau bahwa kondisi ini membuat nabi saw "berubah" tak seperti biasanya, "Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi saw seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,"Bagaimana keadaanmu," kemudian pergi," kata 'Aisyah ra yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.
"Laa aquumu ilaihi !", saya tidak akan berdiri untuknya karena turunnya wahyu itu , tapi aku hanya memuji semata-mata untuk Allah atas keterangan dari Rabbku tentang kebenaran diriku.
Penggalan surah ini terlalu dalam dan nyaris sulit saya pahami. Bahwa Allah swt "sengaja" melambatkan turunnya wahyu kepada Rasulullah saw ditengah masalah yang terjadi. Justru di tengah masa " menunggu, spasi atau fatrah tersebut " ada banyak pihak yang sedang ingin di Tarbiyah langsung oleh Allah swt termasuk sang junjungan tercinta.
Syaikh Munir ghadban dalam fiqussirahnya sudah membagi para sahabat menjadi 4 kelompok atas menyikapi fitnah tersebut, paling sedikit adalah para sahabat yang menolak mentah-mentah fitnah tersebut seperti Abu Ayyub ra bersama istrinya, ungkapan mereka di abadikan Allah dgn kalimat, " Haadza buhtaanun ' adziim,," ini adalah dusta yang benar-benar besar!.
Yang paling berat adala tiga orang sahabat yang justru langsung percaya dan aktif menyebarkan gosip tersebut , mereka di cambuk 80 kali, diantaranya adalah Hamnah bintu Jahsy yang merupakan ipar Rasulullah saw.
Masa "fatrah" amat penting bagi nabi kala itu, untuk mengetahui sikap semua orang atas peristiwa tersebut. Boleh jadi "berita dusta" ini buruk bagi kalian, tapi bagi Allah adalah kebaikan,demikian dalam penggalan arti dari rangkaian 15 ayat dalam surat an nuur.
Mengelola perasaan saat itu yang paling sulit bagi beliau, betapa tidak fitnah ini melanda ring satu Nabi saw yaitu Isteri beliau. Konflik batin terjadi dan itu terekam dalam sirah sampai nabi minta pendapat beberapa sahabatnya seperti Umar ra dan Ali bin Abi Thalib ra.
Mekanisme menjaga keseimbangan dalam masa jeda yang luput kita lihat, bahwa risalah adalah milik Allah swt, baginda adalah manusia ma'shum atau dipelihara Allah swt , kendati beliau tetaplah manusia biasa.
Sisi sifat "kemanusiaan" itu bekerja atas peristiwa tersebut di tengah didikan Allah swt, munculah ittikad beliau bertanya langsung untuk memecah kebuntuan tanpa keterangan wahyu yang tak kunjung datang.
'Aisyah ra tidak salah sebagaimana Rasulullah saw juga tak mungkin salah, ini tentang fragmen kemanusiaan dalam bingkai Risalah yang agung.
'Aisyah satu-satunya isteri yang meriwayatkan hampir 2200 hadits, bahkan Rasulullah selalu merindu " untuk masuk jadual" menginap di rumah Aisyah, sebab wahyu tidak pernah turun di rumah isteri beliau yang lain, bahkan beberapa tafsir ayat mutlak di memiliki oleh beliau, sebab beliau kadang sambil bertanya di atas ranjang bersama nabi saw. Begitulah beliau terkenal dengan sikapnya yang kritis, cerdas dan sekaligus manja kepada Rasulullah saw yang membuat Rasulullah saw sangat mencintainya.
Ya Allah....jauhkan kami dari prasangka dan lindungi kami semua dari kelemahan diri atas semua peristiwa.
Rasulullah saw kala itu baru saja menerima turunnya wahyu didepan pintu saat mau keluar rumah, sangking beratnya beliau memegang pintu tersebut dgn kedua tangannya & butiran keringat tampak keluar diwajah beliau.
Apa pasal hampir sebulan tidak turun wahyu yang selalu dinantikan Rasulullah saw, padahal gosip tersebut sudah melanda Madinah akibat provokasi kaum Munafik.
Walhasil 'Aisyah ra minta pulang ke rumah orang tuanya karena tidak kuatnya beliau mendenga fitnah tersebut. Bahkan tak pelak lagi saat orang yang paling di cintainya yaitu baginda nabi saw turut bertanya kepadanya setelah mendapat beberapa masukan dari beberapa sahabat .
Atas pertanyaan nabi saw, beliau menjawab, "Demi Allah , jika aku katakan bahwa aku melakukannya maka kalian akan mempercayainya dan jika aku bersumpah tak melakukannya, maka kalian juga tak akan mempercayainya, lebih baik aku bersabar sebagaimana sabarnya Nabi Yusuf as".
Lantas tumpahlah air mata beliau sejadi-jadinya, karena pertanyaan Rasulullah tersebut, bagi Aisyah itu bukanlah sekedar pertanyaan saja, tapi juga seperti "terkesan berpihak ", sampai beliau mengatakan matanya jadi sembab kehabisan air mata atas peristiwa tersebut.
Dituturkan sendiri oleh beliau bahwa kondisi ini membuat nabi saw "berubah" tak seperti biasanya, "Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi saw seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,"Bagaimana keadaanmu," kemudian pergi," kata 'Aisyah ra yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.
"Laa aquumu ilaihi !", saya tidak akan berdiri untuknya karena turunnya wahyu itu , tapi aku hanya memuji semata-mata untuk Allah atas keterangan dari Rabbku tentang kebenaran diriku.
Penggalan surah ini terlalu dalam dan nyaris sulit saya pahami. Bahwa Allah swt "sengaja" melambatkan turunnya wahyu kepada Rasulullah saw ditengah masalah yang terjadi. Justru di tengah masa " menunggu, spasi atau fatrah tersebut " ada banyak pihak yang sedang ingin di Tarbiyah langsung oleh Allah swt termasuk sang junjungan tercinta.
Syaikh Munir ghadban dalam fiqussirahnya sudah membagi para sahabat menjadi 4 kelompok atas menyikapi fitnah tersebut, paling sedikit adalah para sahabat yang menolak mentah-mentah fitnah tersebut seperti Abu Ayyub ra bersama istrinya, ungkapan mereka di abadikan Allah dgn kalimat, " Haadza buhtaanun ' adziim,," ini adalah dusta yang benar-benar besar!.
Yang paling berat adala tiga orang sahabat yang justru langsung percaya dan aktif menyebarkan gosip tersebut , mereka di cambuk 80 kali, diantaranya adalah Hamnah bintu Jahsy yang merupakan ipar Rasulullah saw.
Masa "fatrah" amat penting bagi nabi kala itu, untuk mengetahui sikap semua orang atas peristiwa tersebut. Boleh jadi "berita dusta" ini buruk bagi kalian, tapi bagi Allah adalah kebaikan,demikian dalam penggalan arti dari rangkaian 15 ayat dalam surat an nuur.
Mengelola perasaan saat itu yang paling sulit bagi beliau, betapa tidak fitnah ini melanda ring satu Nabi saw yaitu Isteri beliau. Konflik batin terjadi dan itu terekam dalam sirah sampai nabi minta pendapat beberapa sahabatnya seperti Umar ra dan Ali bin Abi Thalib ra.
Mekanisme menjaga keseimbangan dalam masa jeda yang luput kita lihat, bahwa risalah adalah milik Allah swt, baginda adalah manusia ma'shum atau dipelihara Allah swt , kendati beliau tetaplah manusia biasa.
Sisi sifat "kemanusiaan" itu bekerja atas peristiwa tersebut di tengah didikan Allah swt, munculah ittikad beliau bertanya langsung untuk memecah kebuntuan tanpa keterangan wahyu yang tak kunjung datang.
'Aisyah ra tidak salah sebagaimana Rasulullah saw juga tak mungkin salah, ini tentang fragmen kemanusiaan dalam bingkai Risalah yang agung.
'Aisyah satu-satunya isteri yang meriwayatkan hampir 2200 hadits, bahkan Rasulullah selalu merindu " untuk masuk jadual" menginap di rumah Aisyah, sebab wahyu tidak pernah turun di rumah isteri beliau yang lain, bahkan beberapa tafsir ayat mutlak di memiliki oleh beliau, sebab beliau kadang sambil bertanya di atas ranjang bersama nabi saw. Begitulah beliau terkenal dengan sikapnya yang kritis, cerdas dan sekaligus manja kepada Rasulullah saw yang membuat Rasulullah saw sangat mencintainya.
Ya Allah....jauhkan kami dari prasangka dan lindungi kami semua dari kelemahan diri atas semua peristiwa.
Rabu, 05 April 2017
Berdamai dengan hati (1).
Sekitar 80an orang-orang
sudah berkumpul dan tengah
memadati masjid Nabawi di Madinah
tahun 9 Hijriah saat itu,,,
mereka sedang menunggu
kedatangan Rasulullah SAW dan
para sahabat dari episode
perang Tabuk.
Menunggu bukan karena sedang
ingin menghibur kedatangan pasukan,
namun,,,untuk sesuatu alasan.
Yaitu untuk menjelaskan apa
alasan yang menyebabkan
mereka tidak turut serta dalam
perang tersebut.
Ada tiga orang yang "gelisah" dari
kerumunan manusia tersebut,,wajah
mereka tampak lain dari yang lain,
wajah mereka tidak bisa menyembunyikan
apa yang sedang terjadi didalam hatinya.
Ka'ab bin Malik,Murarah bin Rabi' & Hilal bin Umayyah
3 lelaki yang tidak pernah absen dalam
semua pertempuran bersama Nabi,,
bahkan Ka'ab mengatakan,"dari semua perang,
tidak ada persiapan yang paling layak aku siapi,
kecuali diperang Tabuk, aku membeli 2 ekor kuda",
namun kenyataannya beliau tertinggal.
"Apa alasanmu,wahai Ka'ab..kenapa
engkau tidak menyertai kami ??,
pertanyaan Nabi memecah keheningan dalam jiwa Ka'ab.
Apa yang terjadi saat itu adalah "pertarungan batin"
dalam hati seorang Ka'ab,,setidaknya itu bisa
kita lihat dari jawaban beliau.
Ya Rasulallah,,sekiranya dihadapanku sekarang
ini adalah salah penduduk bumi selain dirimu,,maka
aku bisa berdusta kepadanya. Engkau telah
mengetahui diriku adalah orang yang paling bisa
merangkai kata untuk meyakinkan siapapun.
Namun itu itu semua tidak mungkin kulakukan,,
jika aku berdusta kepadamu dan engkau pasti yakin
dengan alasaku,,maka aku kuatir suara dari langit
datang membisikanmu akan kedustaan yang aku
lakukan,,maka pasti engkau murka kepadaku.
Dan jika aku berkata jujur dan benar atas alasan
kenapa aku tidak ikut,,maka engkaupun pasti
akan marah kepadaku.Demi Allah aku rela
atas apa yang kau berikan kepadaku".
"Pergilah...Ka'ab,biarkan nanti Allah yang akan
memutuskan masalahmu",,,,.itulah ucapan Nabi
kepada Ka'ab.
Diluar sana Ka'ab melihat barisan
mereka yang antri,,mulai menetes
air mata beliau,,khususnya ketika
dia mengatakan,,,hari itu sulit bagiku
karena semua yang kulihat bersama diriku
untuk menyampaikan alasan kepada Rasul
adalah mereka dari kalangan Orang tua
dan orang-orang yang sudah kami kenal dengan kemunafikannya.
Namun dilubuk hatinya yang dalam
ada "kemerdekaan jiwa" setelah
beliau mampu berdamai dengan hatinya
sendiri,,,
Setidaknya ada kelapangan yang
beliau dapatkan disituasi kesempitan jiwanya saat
itu,, bahwa tidak ikut perang adalah sebuah
kelalaian besar baginya,,namun atas kejujuran
memberikan alasan kepada Nabi adalah
prestasi jiwa yang layak diacungi jempol.
Bahwa kejujuran menyampaikan apa adanya
lebih baik dari mereka yang datang dengan
proposal jiwa berupa "seni mencari alasan".
karena mereka adalah orang handal
dalam urusan yang satu ini,bagi mereka
yang kecil bisa menjadi besar
yang biasa bisa jadi fantastis
yang tidak punya uzur bisa seolah-olah
jadi memiliki alasan untuk tidak terlibat
dalam proyek kebajikan.
(bersambung)
Balikpapan
sudah berkumpul dan tengah
memadati masjid Nabawi di Madinah
tahun 9 Hijriah saat itu,,,
mereka sedang menunggu
kedatangan Rasulullah SAW dan
para sahabat dari episode
perang Tabuk.
Menunggu bukan karena sedang
ingin menghibur kedatangan pasukan,
namun,,,untuk sesuatu alasan.
Yaitu untuk menjelaskan apa
alasan yang menyebabkan
mereka tidak turut serta dalam
perang tersebut.
Ada tiga orang yang "gelisah" dari
kerumunan manusia tersebut,,wajah
mereka tampak lain dari yang lain,
wajah mereka tidak bisa menyembunyikan
apa yang sedang terjadi didalam hatinya.
Ka'ab bin Malik,Murarah bin Rabi' & Hilal bin Umayyah
3 lelaki yang tidak pernah absen dalam
semua pertempuran bersama Nabi,,
bahkan Ka'ab mengatakan,"dari semua perang,
tidak ada persiapan yang paling layak aku siapi,
kecuali diperang Tabuk, aku membeli 2 ekor kuda",
namun kenyataannya beliau tertinggal.
"Apa alasanmu,wahai Ka'ab..kenapa
engkau tidak menyertai kami ??,
pertanyaan Nabi memecah keheningan dalam jiwa Ka'ab.
Apa yang terjadi saat itu adalah "pertarungan batin"
dalam hati seorang Ka'ab,,setidaknya itu bisa
kita lihat dari jawaban beliau.
Ya Rasulallah,,sekiranya dihadapanku sekarang
ini adalah salah penduduk bumi selain dirimu,,maka
aku bisa berdusta kepadanya. Engkau telah
mengetahui diriku adalah orang yang paling bisa
merangkai kata untuk meyakinkan siapapun.
Namun itu itu semua tidak mungkin kulakukan,,
jika aku berdusta kepadamu dan engkau pasti yakin
dengan alasaku,,maka aku kuatir suara dari langit
datang membisikanmu akan kedustaan yang aku
lakukan,,maka pasti engkau murka kepadaku.
Dan jika aku berkata jujur dan benar atas alasan
kenapa aku tidak ikut,,maka engkaupun pasti
akan marah kepadaku.Demi Allah aku rela
atas apa yang kau berikan kepadaku".
"Pergilah...Ka'ab,biarkan nanti Allah yang akan
memutuskan masalahmu",,,,.itulah ucapan Nabi
kepada Ka'ab.
Diluar sana Ka'ab melihat barisan
mereka yang antri,,mulai menetes
air mata beliau,,khususnya ketika
dia mengatakan,,,hari itu sulit bagiku
karena semua yang kulihat bersama diriku
untuk menyampaikan alasan kepada Rasul
adalah mereka dari kalangan Orang tua
dan orang-orang yang sudah kami kenal dengan kemunafikannya.
Namun dilubuk hatinya yang dalam
ada "kemerdekaan jiwa" setelah
beliau mampu berdamai dengan hatinya
sendiri,,,
Setidaknya ada kelapangan yang
beliau dapatkan disituasi kesempitan jiwanya saat
itu,, bahwa tidak ikut perang adalah sebuah
kelalaian besar baginya,,namun atas kejujuran
memberikan alasan kepada Nabi adalah
prestasi jiwa yang layak diacungi jempol.
Bahwa kejujuran menyampaikan apa adanya
lebih baik dari mereka yang datang dengan
proposal jiwa berupa "seni mencari alasan".
karena mereka adalah orang handal
dalam urusan yang satu ini,bagi mereka
yang kecil bisa menjadi besar
yang biasa bisa jadi fantastis
yang tidak punya uzur bisa seolah-olah
jadi memiliki alasan untuk tidak terlibat
dalam proyek kebajikan.
(bersambung)
Balikpapan
Jumat, 31 Maret 2017
SULAIMAN & FIR'AUN
Mereka berdua memang hidup tidak sezaman, tapi keduanya menjadi model percontohan dalam al Quran bagaimana jika kekuasaan itu bertemu dengan dua jenis tipe manusia. Satu adalah seorang Nabi Allah dan yang satu adalah seorang raja besar penguasa Mesir.
Tidak banyak Rasul yang diberikan kekuasaan, karenanya nabi Sulaiman as adalah cerita tentang risalah kenabian yang bertemu dengan kekuasaan. Sedangkan Fir'aun adalah manusia yang juga diberikan kekuasaan cukup besar dengan berbagai daya dukungnya, seperti Qorun pemilik modal, Haaman pemegang kekuatan militer serta Samiri seorang akademisi yang berpengaruh.
Kekuasaan itu benda netral, tapi akan berdampak kepada kehidupan tergantung ditangan siapa dia dikelola.
Kekuasaan datang pada Sulaiman jadiilah kedamaian , tetapi kekuasaan datang pada Fir'aun menjadikan sebuah Tirani.
Kekuasaan datang kepada Sulaiman membuatnya semakin tunduk dan banyak bersyukur pada Rabbnya, tetapi kekuasaan datang pada Fir'aun menjadikannya dia semakin sombong dan lupa diri.
Kekuasaan datang pada Sulaiman menjadikannya pemimpin penebar kasih sayang, sebagaimana kekuatiran Ratu Bilqis yang diabadikan dalam al Quran, " Sungguh setiap Raja apabila memasuki sebuah kota akan melakukan kerusakan dan menjadikan penduduknya terhina", ternyata lewat surat nabi Sulaiman yang lembut mengantarkan Bilqis menaruh hormat kepadanya tentang bagaimana mengelola kekuasaan.
Sedangkan kekuasaan datang pada Firaun justru menjadikan Istananya sebagai produsen ketakutan dan mendistribusikan ketakutan-ketakutan tersebut pada setiap rumah warganya, rakyat hidup dalam kegelisahan bahwa siapapun wanita yang hamil jika melahirkan anak laki-laki akan di bunuh.
Jika Sulaiman as tidak melihat pada ratu Bilqis sebagai kompetitornya apalagi menuduhnya lakukan makar pada kekuasaannya, maka Fir'aun justru melihat semua bayi laki-laki sebagai musuh yang harus dibunuh sejak lahir.
Sulaiman as itu konsepnya sinergi tapi Fir'aun itu kompetisi. Jika Sulaiman kekuasaanya itu merangkul , maka Fir'aun imkekuasaannya itu memukul.
Jika kekuasaan yang besar pada diri nabi Sulaiman menjadikan dirinya semakin menghambakan diri pada Rabbnya, maka kekuasaan yang besar pada diri Fir'aun membuat dirinya memiliki Sifat Tuhan dan dia tantang nabi Musa as, "ana Rabbukumul a'la !, artinya sayalah Tuhanmu yang paling tinggi ".
Kekuasaan itu sumber daya.
Kekuasaan itu mata pedang.
Tapi apakah ia akan menjadi sumber malapetaka atau menjadi alat pembuat kemakmuran?.
Tapi apakah ia akan menjadi pedang penjaga keadilan atau justru penyembelih rakyatnya sendiri,?
Jawabannya tergantung dia bertemu dengan siapa?, mau model Sulaiman atau model Fir'aun.
Tidak banyak Rasul yang diberikan kekuasaan, karenanya nabi Sulaiman as adalah cerita tentang risalah kenabian yang bertemu dengan kekuasaan. Sedangkan Fir'aun adalah manusia yang juga diberikan kekuasaan cukup besar dengan berbagai daya dukungnya, seperti Qorun pemilik modal, Haaman pemegang kekuatan militer serta Samiri seorang akademisi yang berpengaruh.
Kekuasaan itu benda netral, tapi akan berdampak kepada kehidupan tergantung ditangan siapa dia dikelola.
Kekuasaan datang pada Sulaiman jadiilah kedamaian , tetapi kekuasaan datang pada Fir'aun menjadikan sebuah Tirani.
Kekuasaan datang kepada Sulaiman membuatnya semakin tunduk dan banyak bersyukur pada Rabbnya, tetapi kekuasaan datang pada Fir'aun menjadikannya dia semakin sombong dan lupa diri.
Kekuasaan datang pada Sulaiman menjadikannya pemimpin penebar kasih sayang, sebagaimana kekuatiran Ratu Bilqis yang diabadikan dalam al Quran, " Sungguh setiap Raja apabila memasuki sebuah kota akan melakukan kerusakan dan menjadikan penduduknya terhina", ternyata lewat surat nabi Sulaiman yang lembut mengantarkan Bilqis menaruh hormat kepadanya tentang bagaimana mengelola kekuasaan.
Sedangkan kekuasaan datang pada Firaun justru menjadikan Istananya sebagai produsen ketakutan dan mendistribusikan ketakutan-ketakutan tersebut pada setiap rumah warganya, rakyat hidup dalam kegelisahan bahwa siapapun wanita yang hamil jika melahirkan anak laki-laki akan di bunuh.
Jika Sulaiman as tidak melihat pada ratu Bilqis sebagai kompetitornya apalagi menuduhnya lakukan makar pada kekuasaannya, maka Fir'aun justru melihat semua bayi laki-laki sebagai musuh yang harus dibunuh sejak lahir.
Sulaiman as itu konsepnya sinergi tapi Fir'aun itu kompetisi. Jika Sulaiman kekuasaanya itu merangkul , maka Fir'aun imkekuasaannya itu memukul.
Jika kekuasaan yang besar pada diri nabi Sulaiman menjadikan dirinya semakin menghambakan diri pada Rabbnya, maka kekuasaan yang besar pada diri Fir'aun membuat dirinya memiliki Sifat Tuhan dan dia tantang nabi Musa as, "ana Rabbukumul a'la !, artinya sayalah Tuhanmu yang paling tinggi ".
Kekuasaan itu sumber daya.
Kekuasaan itu mata pedang.
Tapi apakah ia akan menjadi sumber malapetaka atau menjadi alat pembuat kemakmuran?.
Tapi apakah ia akan menjadi pedang penjaga keadilan atau justru penyembelih rakyatnya sendiri,?
Jawabannya tergantung dia bertemu dengan siapa?, mau model Sulaiman atau model Fir'aun.
Rabu, 29 Maret 2017
MISI LANGIT DALAM AGENDA POLITIK KITA.
1. Politik itu adalah alat netral, yang membuatnya bernilai adalah ruh yang mengendarainya.
2. Politik adalah kendaraannya, namun yang mengendalikannya adalah misi pengendaranya.
3. Politik itu adalah tentang kepentingan, tapi lebih penting lagi untuk menjawab apa kepentingan kita untuk politik itu.
4. Politik itu memang tentang menggapai otoritas kekuasaan, tapi lebih penting jika kita tanya untuk apa kekuasaan itu?
5. Mengawinkan kepentingan kedalam politik itulah membuat politik ini penuh warna warni.
6. Diatas manusia yang memiliki kepentingan terhadap kehidupan ini, Allah swt jualah pemilik kepentingan hakiki.
7. Semua daftar keinginan Allah swt ada dituangkan-Nya dalam al Quran, itulah yang menjadi daftar pekerjaan kita yg menjadi Khalifah-Nya.
8. Selain syariat berisi daftar keinginan Allah, maka dia juga berisi daftar larangan-Nya, itulah yang membatasi kita.
9. Semua keinginan dan larangan-Nya harus kita realisir dalam kehidupan ini agar tercipta kebaikan dan Ridho Allah swt.
10. Dan dari semua alat yang kita butuhkan, tidak ada yang lebih besar perannya seperti Kekuasaan atau "otoritas".
11. Dan pintu masuk untuk mendapatkan kekuasaan atau otoritas itu adalah dengan menggunakan kunci politik.
12. Sejatinya para pejuang dakwah politik adalah mereka yang lahir dengan misi langit.
13. Kaki mereka memang di bumi tapi jiwa, akal dan ruuhnya adalah nuansa langit.
14. Mereka masuk ke istana untuk membawa proposal langit, itu alasan mereka hadir.
15. Apa dahulu yang membuat Ratu Balqis penguasa di Yaman terkaget-kaget dengan surat politik dari nabi
Sulaiman as?
16. Dia khawatir dengan cara politik nabi Sulaiman as, karena dalam referensinya politik dan kekuasaan jika bertemu adalah kehancuran.
17. Seperti yang diabadikan Allah dalam al quran tentang statmennya : "Innal Muluuka idzaa dakhalal qaryah afsaduuha"
18. "Sesungguhnya jika para penguasa itu memasuki suatu daerah atau negeri maka akan membuat kerusakkan."
19. Namun Sulaiman as bukanlah tipe penguasa politik seperti yang dipersepsikannya, beliau menjadi "anomali politik" saat itu.
20. Saat Nabi Sulaiman bertemu dgn kekuasaan maka lahirlah kedamaian, bukan seperti Firaun yg bertemu kekuasaan menghasilkan tirani.
21. Apa yang membedakannya, adalah misi kepentingannya, Sulaiman as penguasa bumi dengan misi langit.
22. Sedangkan Firaun adalah penguasa bumi tapi misi hawa nafsunya.
23. Politik dengan agenda-agenda langit adalah misi suci, dia adalah misi yang hadir sebagai alasan mengapa kita hidup.
24. Para pejuang misi langit hanya memiliki satu agenda penting agar suara langit juga menjadi suara bumi.
25. Agar apa yang diinginkan Allah swt juga menjadi keinginan penduduk bumi ini dan sebaliknya.
26. Politik hanya ingin mempertemukan keinginan Allah swt menjadi keinginan publik untuk itu mereka berjuang di politik.
27. Karena mereka sadar Keinginan Allah swt tak memiliki "tangan dan kaki" berjalan turun dari langit menuju bumi lalu diikuti semua orang.
28. Dia butuh orang yang membawa dan menghidupkannya di bumi ini, itulah misi pejuang langit.
29. Para pejuang yang menyembunyikan keberaniannya dibalik kelemahlembutannya.
30. Karena jauh sebelum mereka tegakkan Islam di negerinya, mereka sudah dahulu menegakkan dalam dirinya.
Selasa, 28 Maret 2017
UNTUKMU TUAN PRESIDEN.
*
Pak Presiden, sadarkah jika dahulu Umat Islam tak berpolitik maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia ?.
Pak Presiden, ajakanmu untuk memisahkan Agama dari politik adalah justru ahistoris dengan para pendahulu kita, sebab saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan ini adalah elemen Agama tuanku.
Pak Presiden, sadarkah engkau bahwa usia Agama lebih lama dari pada usia negara kita, dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin dll belum mengenal bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya dan Panca Sila . Mereka angkat senjata usir para penjajah karena perintah Agama tuanku, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu tuanku.
Pak Presiden, pernyataanmu pisahkan Agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik ? itu bermakna banyak tuan presiden. Pertama Agama dianggap "sumber masalah ", ketika dia masuk ke politik, kedua menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor, artinya agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor tuanku
Pak Presiden, yang ketiga menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang denganya anda bisa atur semuanya, termasuk khatib jumat pun anda akan akreditasi.
Pak Presiden, anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik anda masuk ke basis pemilih agama dan tak sungkan anda bersurban, pimpin sholat jamaah dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar kesan Islami dan ibu negara berjilbab, apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?.
Pak Presiden, Agama terlalu prifat bagi pemeluknya melebihi negara sekalipun, dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur, apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan.
Tuanku Presiden , berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri, nanti saat pilpres kau akan angkat isu-isu simpatik beragama.
Pak Presiden , politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan adalah legalitas, salahkan orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?.
Jika kau pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama?, mau engkau bubarkan?.
Berhentilah menyakiti umat presidenku, karena kini engkau pimpin mereka semuanya.
Satu pertanyaanku padamu tuanku, " Bisakah engkau pisahkan rasa manis dari gulanya? , rasa dingin dari butiran saljunya? , jika engkau bisa pisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik.
SYUKRI WAHID
(Hanya seorang Jamaah dari salah satu Masjid)
Pak Presiden, sadarkah jika dahulu Umat Islam tak berpolitik maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia ?.
Pak Presiden, ajakanmu untuk memisahkan Agama dari politik adalah justru ahistoris dengan para pendahulu kita, sebab saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan ini adalah elemen Agama tuanku.
Pak Presiden, sadarkah engkau bahwa usia Agama lebih lama dari pada usia negara kita, dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin dll belum mengenal bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya dan Panca Sila . Mereka angkat senjata usir para penjajah karena perintah Agama tuanku, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu tuanku.
Pak Presiden, pernyataanmu pisahkan Agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik ? itu bermakna banyak tuan presiden. Pertama Agama dianggap "sumber masalah ", ketika dia masuk ke politik, kedua menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor, artinya agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor tuanku
Pak Presiden, yang ketiga menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang denganya anda bisa atur semuanya, termasuk khatib jumat pun anda akan akreditasi.
Pak Presiden, anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik anda masuk ke basis pemilih agama dan tak sungkan anda bersurban, pimpin sholat jamaah dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar kesan Islami dan ibu negara berjilbab, apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?.
Pak Presiden, Agama terlalu prifat bagi pemeluknya melebihi negara sekalipun, dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur, apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan.
Tuanku Presiden , berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri, nanti saat pilpres kau akan angkat isu-isu simpatik beragama.
Pak Presiden , politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan adalah legalitas, salahkan orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?.
Jika kau pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama?, mau engkau bubarkan?.
Berhentilah menyakiti umat presidenku, karena kini engkau pimpin mereka semuanya.
Satu pertanyaanku padamu tuanku, " Bisakah engkau pisahkan rasa manis dari gulanya? , rasa dingin dari butiran saljunya? , jika engkau bisa pisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik.
SYUKRI WAHID
(Hanya seorang Jamaah dari salah satu Masjid)
Sabtu, 25 Maret 2017
SAAT TAKDIR BUTUHKAN SEBAB.
HANTAMKAN KAKIMU !.
Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83).
Dikatakan kepadanya, “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shad: 42).
Jika pertolongan Allah itu harus kita ukur dengan logika akal, maka sudah tentu Nabi Ayyub as bisa saja "protes" setelah beliau 18 tahun sakit dengan sekujur tubuh rusak dan lumpuh.
Kenapa justru perintahnya "hentakan kaki", padahal beliau sakit ?, bukankah ini seperti tidak sesuai dgn kondisi beliau?.
Aduhai akal yang terbatas ini, sebab Allah bisa saja langsung sembuhkan beliau jika mau, tapi Allah ingin melihat respon hamba tehadap perintah dan juga memberikan alasan takdir juga membutuhkan sebuah sebab.
GOYANGKAN POHON ITU !.
Rasa sakit (karena akan melahirkan) memaksa Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma. Maryam berkata, ‘Aduhai, sekiranya aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan’.” (Maryam: 23)
”Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (QS 19/Maryam : 25),
Apa yang bisa menjelaskan bahwa di tengah menahan rasa sakit jelang melahirkan ditengah kesunyian, beliau merintih sakit tuk mengadu kepada Rabbnya atas kelemahan yang dirasa.
Namun perintah Allah swt justru kepadanya adalah " goyangkan " pohon disampingmu. Jika akal yang kita pakai, sudah barang tentu kita akan bilang sepertinya Allah tidak melihat kondisi beliau yang sudah sakit, kenapa justru perintah keluarkan tenaga, apa mungkin sekedar goyang pohon yang kokoh itu akan jatuh buah-buahnya.
Ya Allah hanya butuh sebab pada kita, supaya usaha dan berbaik sangka kepada Allah akan bertemu takdirnya.
Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (Al-Anbiya’: 83).
Dikatakan kepadanya, “Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” (Shad: 42).
Jika pertolongan Allah itu harus kita ukur dengan logika akal, maka sudah tentu Nabi Ayyub as bisa saja "protes" setelah beliau 18 tahun sakit dengan sekujur tubuh rusak dan lumpuh.
Kenapa justru perintahnya "hentakan kaki", padahal beliau sakit ?, bukankah ini seperti tidak sesuai dgn kondisi beliau?.
Aduhai akal yang terbatas ini, sebab Allah bisa saja langsung sembuhkan beliau jika mau, tapi Allah ingin melihat respon hamba tehadap perintah dan juga memberikan alasan takdir juga membutuhkan sebuah sebab.
GOYANGKAN POHON ITU !.
Rasa sakit (karena akan melahirkan) memaksa Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma. Maryam berkata, ‘Aduhai, sekiranya aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan’.” (Maryam: 23)
”Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu kearahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”. (QS 19/Maryam : 25),
Apa yang bisa menjelaskan bahwa di tengah menahan rasa sakit jelang melahirkan ditengah kesunyian, beliau merintih sakit tuk mengadu kepada Rabbnya atas kelemahan yang dirasa.
Namun perintah Allah swt justru kepadanya adalah " goyangkan " pohon disampingmu. Jika akal yang kita pakai, sudah barang tentu kita akan bilang sepertinya Allah tidak melihat kondisi beliau yang sudah sakit, kenapa justru perintah keluarkan tenaga, apa mungkin sekedar goyang pohon yang kokoh itu akan jatuh buah-buahnya.
Ya Allah hanya butuh sebab pada kita, supaya usaha dan berbaik sangka kepada Allah akan bertemu takdirnya.
Jumat, 10 Maret 2017
KEPEMIMPINAN NUBUWWAH
Salah satu faktor yang mampu mengasah kepribadian beliau sejak dini untuk di persiapkan menjadi seorang pemimpin Risalah dan ummat adalah lewat fase-fase umur beliau yang sarat dengan pembelajaran kehidupan, semua ini adalah persiapan menuju kenabian.
Di usia 8 tahun sampai 13 tahun, beliau sudah mandiri dengan status sebagai pekerja/employ, bergaji rutin dari pekerjaan mengembalakan kambing milik saudagar kaya di Makkah. "Aku dahulu mengembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (HR Bukhari no 2262, dalam kitab al ijarah).
Jadi sederhananya saya menyebutkan beliau sudah memiliki penghasilan tetap saat usia dimana sebagian besar kita berjibaku dengan dunia belajar formal di SD.
Mengembalakan kambing mengajarkan 5 hal tentang fungsi dan prinsip dasar yang mutlak dimiliki oleh seorang leader atau pemimpin dalam diri beliau :
1. Path finding atau Mencari
Peran ini tidak mudah karena seorang pengembala harus berpikir cerdas mencari titik lembah atau kawasan yang produktif dan kondusif untuk kawanan kambingnya, dia harus berpikir luas menembus batas wilayah bahkan tak jarang sangat sering berbenturan dengan batas suku-suku saat itu, dari sini sudah melatih jiwa ma'rifatul maidan (mengenal daerah) dengan baik. Saya pernah melihat kawanan kambing di lembah gua tsuur saat menunaikan ibadah haji waktu itu, saya bingung melihat rumput hijaupun tak ada, namun darimana seseorang pengembala tahu suatu kawasan memiliki itu layak untuk kambingnya. Jadi Nabi saw telah memiliki kemampuan mencari yg luar biasa, menjelajah jauh diluar kota Makkah dengan usia sekecil itu.
2. Directing atau Mengarahkan
Seorang pemimpin itu adalah juga seorang direktur yang mengarahkan seluruh stafnya ke arah tujuan. Nabi saw telah dilatih untuk menjadi direktur yang baik, tidaklah mudah setelah mendapatkan titik lokasi yang dituju, maka tugas berikutnya adalah mengarahkan seluruh kawanan ternak menuju kesana, terkadang beliau di depan, terkadang beliau di samping dan juga di belakang, semua itu dalam rangka mengarahkan kambingnya menuju padang gembalaan.
3. Controlling atau Mengawasi
Skill berikutnya yang tak kalah penting dalam pembelajaran pengembala kambing adalah mengawasi. Pandangan helikopter dalam istilah manajemen, kemampuan mengawasi dari satu titik menuju semua wilayah pantauan, bisa kita bayangkan jika ada ratusan kambing yang harus di awasi agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok. Itulah sebabnya kita mengetahu dalam perang Tabuk ada sekitar 18 ribu pasukan, tapi beliau sampai tahu dan bertanya kenapa Ka'ab bin Malik tidak ikut.
4. Protecting atau Melindungi
Kemampuan untuk menjaga dan melindungi kawanan kambing dari hewan pemangsa liar dan para pencuri juga adalah tanggung jawab seorang leader. Selama 5 tahun berprofesi ini nabi saw benar-benar diajar untuk mendapatkan kemampuan menjadi pelindung yang baik. Mengertilah kita diatas tahun 6 Hijriah berbagai suku bergabung dengan beliau kendati masih musyrik, seperti bani Khuza'ah yang benar-benar merasakan manfaat perlindungan Rasulullah saw saat bani Bakr sekutu Quraisy menyerang mereka sehingga batallah perjanjian Hudaibiyah yang bermuara kepada penakulukkan Kota Makkah.
5. Reflecting atau Perenungan
Yang tak kalah penting juga adalah mengembalakan kambing melatih kemampuan perenungan dalam diri beliau, setelah memastikan kawanan kambing sedang menikmati ladangnya, maka itulah saatnya beliau duduk rehat sejenak sambil berinteraksi dengan alam dan kehidupan, kemampuan recoverynya yang sangat tinggi membuat beliau survive dengan dakwah ini.
Nubuwwah itulah adalah wilayah otoritas Allah swt dalam menentukan manusia pilihan-Nya, namun semuanya tetap menempuh cara-cara pencapaian alamaiyah, Kenabian itu pemberian namun kepemimpinan itu perolehan, jika pemberian dan perolehan ini bertemu pada akhirnya dia Sempurna.
Wallahu 'alam
Syukri wahid
maraji'
sirah ibnu Hisyam
Muhammad super leader
Di usia 8 tahun sampai 13 tahun, beliau sudah mandiri dengan status sebagai pekerja/employ, bergaji rutin dari pekerjaan mengembalakan kambing milik saudagar kaya di Makkah. "Aku dahulu mengembalakan kambing penduduk Makkah dengan upah beberapa qirath (HR Bukhari no 2262, dalam kitab al ijarah).
Jadi sederhananya saya menyebutkan beliau sudah memiliki penghasilan tetap saat usia dimana sebagian besar kita berjibaku dengan dunia belajar formal di SD.
Mengembalakan kambing mengajarkan 5 hal tentang fungsi dan prinsip dasar yang mutlak dimiliki oleh seorang leader atau pemimpin dalam diri beliau :
1. Path finding atau Mencari
Peran ini tidak mudah karena seorang pengembala harus berpikir cerdas mencari titik lembah atau kawasan yang produktif dan kondusif untuk kawanan kambingnya, dia harus berpikir luas menembus batas wilayah bahkan tak jarang sangat sering berbenturan dengan batas suku-suku saat itu, dari sini sudah melatih jiwa ma'rifatul maidan (mengenal daerah) dengan baik. Saya pernah melihat kawanan kambing di lembah gua tsuur saat menunaikan ibadah haji waktu itu, saya bingung melihat rumput hijaupun tak ada, namun darimana seseorang pengembala tahu suatu kawasan memiliki itu layak untuk kambingnya. Jadi Nabi saw telah memiliki kemampuan mencari yg luar biasa, menjelajah jauh diluar kota Makkah dengan usia sekecil itu.
2. Directing atau Mengarahkan
Seorang pemimpin itu adalah juga seorang direktur yang mengarahkan seluruh stafnya ke arah tujuan. Nabi saw telah dilatih untuk menjadi direktur yang baik, tidaklah mudah setelah mendapatkan titik lokasi yang dituju, maka tugas berikutnya adalah mengarahkan seluruh kawanan ternak menuju kesana, terkadang beliau di depan, terkadang beliau di samping dan juga di belakang, semua itu dalam rangka mengarahkan kambingnya menuju padang gembalaan.
3. Controlling atau Mengawasi
Skill berikutnya yang tak kalah penting dalam pembelajaran pengembala kambing adalah mengawasi. Pandangan helikopter dalam istilah manajemen, kemampuan mengawasi dari satu titik menuju semua wilayah pantauan, bisa kita bayangkan jika ada ratusan kambing yang harus di awasi agar tidak tersesat atau terpisah dari kelompok. Itulah sebabnya kita mengetahu dalam perang Tabuk ada sekitar 18 ribu pasukan, tapi beliau sampai tahu dan bertanya kenapa Ka'ab bin Malik tidak ikut.
4. Protecting atau Melindungi
Kemampuan untuk menjaga dan melindungi kawanan kambing dari hewan pemangsa liar dan para pencuri juga adalah tanggung jawab seorang leader. Selama 5 tahun berprofesi ini nabi saw benar-benar diajar untuk mendapatkan kemampuan menjadi pelindung yang baik. Mengertilah kita diatas tahun 6 Hijriah berbagai suku bergabung dengan beliau kendati masih musyrik, seperti bani Khuza'ah yang benar-benar merasakan manfaat perlindungan Rasulullah saw saat bani Bakr sekutu Quraisy menyerang mereka sehingga batallah perjanjian Hudaibiyah yang bermuara kepada penakulukkan Kota Makkah.
5. Reflecting atau Perenungan
Yang tak kalah penting juga adalah mengembalakan kambing melatih kemampuan perenungan dalam diri beliau, setelah memastikan kawanan kambing sedang menikmati ladangnya, maka itulah saatnya beliau duduk rehat sejenak sambil berinteraksi dengan alam dan kehidupan, kemampuan recoverynya yang sangat tinggi membuat beliau survive dengan dakwah ini.
Nubuwwah itulah adalah wilayah otoritas Allah swt dalam menentukan manusia pilihan-Nya, namun semuanya tetap menempuh cara-cara pencapaian alamaiyah, Kenabian itu pemberian namun kepemimpinan itu perolehan, jika pemberian dan perolehan ini bertemu pada akhirnya dia Sempurna.
Wallahu 'alam
Syukri wahid
maraji'
sirah ibnu Hisyam
Muhammad super leader
Langganan:
Postingan (Atom)













