"Aku tidak akan berdiri untuknya !", demikian ibunda 'Aisyah ra menjawab ajakan ayahnya yang tak lain adalah sahabat Abu bakar ra atas turunnya rangkaian ayat dalam surat an nuur sebagai klarifikasi atas fitnah yang menimpa beliau pada peristiwa haditsul 'ifki.
Rasulullah saw kala itu baru saja menerima turunnya wahyu didepan pintu saat mau keluar rumah, sangking beratnya beliau memegang pintu tersebut dgn kedua tangannya & butiran keringat tampak keluar diwajah beliau.
Apa pasal hampir sebulan tidak turun wahyu yang selalu dinantikan Rasulullah saw, padahal gosip tersebut sudah melanda Madinah akibat provokasi kaum Munafik.
Walhasil 'Aisyah ra minta pulang ke rumah orang tuanya karena tidak kuatnya beliau mendenga fitnah tersebut. Bahkan tak pelak lagi saat orang yang paling di cintainya yaitu baginda nabi saw turut bertanya kepadanya setelah mendapat beberapa masukan dari beberapa sahabat .
Atas pertanyaan nabi saw, beliau menjawab, "Demi Allah , jika aku katakan bahwa aku melakukannya maka kalian akan mempercayainya dan jika aku bersumpah tak melakukannya, maka kalian juga tak akan mempercayainya, lebih baik aku bersabar sebagaimana sabarnya Nabi Yusuf as".
Lantas tumpahlah air mata beliau sejadi-jadinya, karena pertanyaan Rasulullah tersebut, bagi Aisyah itu bukanlah sekedar pertanyaan saja, tapi juga seperti "terkesan berpihak ", sampai beliau mengatakan matanya jadi sembab kehabisan air mata atas peristiwa tersebut.
Dituturkan sendiri oleh beliau bahwa kondisi ini membuat nabi saw "berubah" tak seperti biasanya, "Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi saw seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,"Bagaimana keadaanmu," kemudian pergi," kata 'Aisyah ra yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.
"Laa aquumu ilaihi !", saya tidak akan berdiri untuknya karena turunnya wahyu itu , tapi aku hanya memuji semata-mata untuk Allah atas keterangan dari Rabbku tentang kebenaran diriku.
Penggalan surah ini terlalu dalam dan nyaris sulit saya pahami. Bahwa Allah swt "sengaja" melambatkan turunnya wahyu kepada Rasulullah saw ditengah masalah yang terjadi. Justru di tengah masa " menunggu, spasi atau fatrah tersebut " ada banyak pihak yang sedang ingin di Tarbiyah langsung oleh Allah swt termasuk sang junjungan tercinta.
Syaikh Munir ghadban dalam fiqussirahnya sudah membagi para sahabat menjadi 4 kelompok atas menyikapi fitnah tersebut, paling sedikit adalah para sahabat yang menolak mentah-mentah fitnah tersebut seperti Abu Ayyub ra bersama istrinya, ungkapan mereka di abadikan Allah dgn kalimat, " Haadza buhtaanun ' adziim,," ini adalah dusta yang benar-benar besar!.
Yang paling berat adala tiga orang sahabat yang justru langsung percaya dan aktif menyebarkan gosip tersebut , mereka di cambuk 80 kali, diantaranya adalah Hamnah bintu Jahsy yang merupakan ipar Rasulullah saw.
Masa "fatrah" amat penting bagi nabi kala itu, untuk mengetahui sikap semua orang atas peristiwa tersebut. Boleh jadi "berita dusta" ini buruk bagi kalian, tapi bagi Allah adalah kebaikan,demikian dalam penggalan arti dari rangkaian 15 ayat dalam surat an nuur.
Mengelola perasaan saat itu yang paling sulit bagi beliau, betapa tidak fitnah ini melanda ring satu Nabi saw yaitu Isteri beliau. Konflik batin terjadi dan itu terekam dalam sirah sampai nabi minta pendapat beberapa sahabatnya seperti Umar ra dan Ali bin Abi Thalib ra.
Mekanisme menjaga keseimbangan dalam masa jeda yang luput kita lihat, bahwa risalah adalah milik Allah swt, baginda adalah manusia ma'shum atau dipelihara Allah swt , kendati beliau tetaplah manusia biasa.
Sisi sifat "kemanusiaan" itu bekerja atas peristiwa tersebut di tengah didikan Allah swt, munculah ittikad beliau bertanya langsung untuk memecah kebuntuan tanpa keterangan wahyu yang tak kunjung datang.
'Aisyah ra tidak salah sebagaimana Rasulullah saw juga tak mungkin salah, ini tentang fragmen kemanusiaan dalam bingkai Risalah yang agung.
'Aisyah satu-satunya isteri yang meriwayatkan hampir 2200 hadits, bahkan Rasulullah selalu merindu " untuk masuk jadual" menginap di rumah Aisyah, sebab wahyu tidak pernah turun di rumah isteri beliau yang lain, bahkan beberapa tafsir ayat mutlak di memiliki oleh beliau, sebab beliau kadang sambil bertanya di atas ranjang bersama nabi saw. Begitulah beliau terkenal dengan sikapnya yang kritis, cerdas dan sekaligus manja kepada Rasulullah saw yang membuat Rasulullah saw sangat mencintainya.
Ya Allah....jauhkan kami dari prasangka dan lindungi kami semua dari kelemahan diri atas semua peristiwa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar