napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Selasa, 28 Maret 2017

UNTUKMU TUAN PRESIDEN.

*

Pak Presiden,  sadarkah jika dahulu Umat Islam tak berpolitik maka kita tidak akan menjadi keluarga besar bernama Indonesia ?.

Pak Presiden,  ajakanmu untuk memisahkan  Agama dari politik adalah justru ahistoris dengan para pendahulu kita, sebab saham terbesar kebangkitan dan kemerdekaan ini adalah elemen Agama tuanku.


Pak Presiden, sadarkah engkau bahwa usia Agama lebih lama dari pada usia negara kita,  dahulu Imam Bonjol, pangeran Dipenogoro, Teuku Umar, Cut Nyak Din, Panglima Polim, Pangeran Badaruddin, Sultan Hasanuddin dll belum mengenal bendera Merah Putih, lagu Indonesia Raya dan Panca Sila . Mereka angkat senjata  usir para penjajah karena perintah Agama tuanku, belum ada pemilu apalagi pilkada kala itu tuanku.

Pak Presiden, pernyataanmu pisahkan Agama dan politik agar rakyat tahu mana agama dan mana politik ? itu bermakna banyak tuan presiden. Pertama Agama dianggap "sumber masalah ",  ketika dia masuk ke politik, kedua menganggap agama terlalu sakral dan suci dan tidak pantas masuk ke politk yang kotor, artinya agama adalah untuk orang suci dan politik adalah untuk orang kotor, jadi politisi itu kotor tuanku


Pak Presiden, yang ketiga menuduh agama hanya mengatur masalah selain politik, padahal politik adalah pintu kekuasaan yang denganya anda bisa atur semuanya, termasuk khatib jumat pun anda akan akreditasi.

Pak Presiden, anda letakkan agama jauh dari politik, tapi saat minta dukungan politik anda masuk ke basis pemilih agama dan tak sungkan anda bersurban, pimpin sholat jamaah dan dalam pembukaan pidato kampanye dengan bumbu kalimat Arab biar kesan Islami dan ibu negara berjilbab, apakah itu yang namanya memisahkan agama dari politik?.

Pak Presiden, Agama terlalu prifat bagi pemeluknya melebihi negara sekalipun, dia masuk mengatur kehidupan seorang mulai  masuk WC, cara tidur, cara potong kuku saja diatur, apalagi politik sebagai alat yang mengatur kekuasaan.

Tuanku Presiden , berhentilah membuat jarak antara agama dengan politik, karena itu semakin menyakitkanmu sendiri, nanti saat pilpres kau akan angkat isu-isu simpatik beragama.

Pak Presiden , politik itu benda netral dan yang membuatnya menjadi berwarna adalah siapa yang mengendarakannya. Agama adalah moralitas tapi politik kekuasaan adalah legalitas, salahkan orang beragama hanya ingin mempertemukan antara moralitas dengan legalitas?.

Jika kau pisahkan agama dengan politik, maka bagaimana status partai-partai yang berlandaskan dan bercorak agama?, mau engkau bubarkan?.

Berhentilah menyakiti umat presidenku,  karena kini engkau pimpin mereka semuanya.

Satu pertanyaanku padamu tuanku, " Bisakah engkau pisahkan rasa manis dari gulanya? , rasa dingin dari butiran saljunya? , jika engkau bisa pisahkan, maka baru bisa engkau pisahkan agama dari politik.

SYUKRI WAHID
(Hanya seorang Jamaah dari salah satu Masjid)

Tidak ada komentar: