napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Senin, 17 Oktober 2016

ISLAM & POLITIK KEINDONESIAAN KITA



AGAMA & POLITIK KEINDONESIAAN KITA


          Indonesia  adalah cerita panjang tentang polarisasi budaya, kesamaan beban sejarah, gerakan agama dan ideologi. Berangkat dari kemajemukan bangsa saat  itu,  membuat para  pendiri bangsa berpikir kritis tentang  alasan  apa yang paling bisa mengikat keberagaman itu, apa yang bisa mengikat seluruh gugusan pulau, suku, budaya,  agama dan aliran yang ada menjadi satu keluarga besar bernama Indonesia. Itulah karya terbesar dari pendiri bangsa ini , yaitu  menyatukaan perbedaan itu semua kedalam  wadah besar bernama Indonesia.
Mereka merumuskan Pancasila sebagai  nilai  pengikat dasar  keragaman itu, karenanya dia menjadi unsur perekat & falsafah   dasar negara ini. Sudah barang tentu kita tidak bisa begitu saja menghapus  rekam jejak sejarah bangsa ini, saat  elit bangsa ini  berdebat dalam sidang-sidang  Majelis Konstituante yang seluruh anggotanya juga adalah mewakili wajah Indonesia yang majemuk, semua aliran politik ada disana.  Melalui pemilu perdana tahun 1955 rakyat Indonesia telah memilih perwakilan mereka yang duduk di lembaga  DPR dan menjadi anggota konstituante, sebab Soekarno meyakinkan para anggota PPKI bahwa, “ Biarlah kita merdeka terlebih dahulu dan UUD 45 ini sebagai konstitusi sementara dan akan kita revisi melalui hasil pemilu nanti”.
Pada akhirnya lewat dekritnya ditahun 1959, Presiden  Soekarno memerintahkan untuk kembali kepada UUD 1945, karena melihat alotnya perdebatan dan  deadlock pembahasan mengenai dasar negara kala itu, suara ummat Islam lebih menginginkan agar  Piagam Jakarta masuk kedalam UUD 1945 seperti yang awalnya, bagi politisi Islam kala itu adalah kesempatan legal untuk memperjuangkannya kembali. Dekrit tersebut telah memupus harapan mereka untuk memperjuangkan piagam jakarta, tak pelak beberapa tokoh-tokoh Islam mulai bermusuhan dengan bung Karno karena dianggap melanggar komitmennya saat mengawali kemerdekaan dulu. 
Pada tahun 1945, bung Hatta salah seorang anggota tim 9 kala itu membawa hasil lobi atas nama perwakilan golongan Nasionalis dan perwakilan suara Indonesia timur dengan membawa 4 poin perubahan dalam struktur konstitusi diantaranya menghilangkan 7 kata dalam piagam Jakarta dan bisa diterima oleh perwakilan tokoh Islam saat itu. Jadi memang sejak dahulu isu tentang relasai agama dan negara sudah masuk ranah sensitif di negeri ini.
 Beberapa sejarawan menyebutkan itulah “pajak politik” yang dibayar oleh umat Islam lewat kekuatan politiknya kala itu untuk menerima bahwa biarlah Pancasila menjadi wadah bersama yang menampung seluruh kebhinekaan Indonesia. Biarlah Pancasila menjadi taman besar Indonesia, tempat dimana seluruh komponen anak bangsa dengan keberagaman warnanya menghiasi taman Indoenesia menjadi tempat tinggal bersama dan rukun didalamnya.

AGAMA & BENIH KEINDONESIAAN.
          Gerakan agama lebih dahulu masuk ke bumi Nusantara  sebelum kita menjadi Indonesia , bahkan saham besar terbentuknya Indonesia ini adalah peranan Agama Islam  dan penganutnya . Nusantara ini telah berabad-abad berjaya dengan Kerajaannya masing-masing, Agama datang ke Nusantara dengan berbagai caranya, namun intinya dia masuk secara damai. Tidak ada satu agama yang masuk kemudian menindas agama yang lain. Islam datang dengan pendekatan dakwah yang humanis oleh para Da’i , membuat para Raja dan penguasa kala itu berpindah keyakinan menjadi Muslim dan diikuti rakyatnya, semua masuk secara aman dan damai tanpa pertumpahan darah dan jadilah Islam sebagai agama mayoritas nusantara ini. Cerita panjang Agama di Nusantara menjadi saksi bahwa sejatinya Indonesia adalah tanah subur untuk menanam benih keimanan semua agama.
          Nusantara memikul beban sejarah yang sama, bahwa dijajah dan ditindas oleh bangsa lain  itu tidak ada yang enak, bukan saja negeri ini di eksploitasi oleh kolonial, tapi membuat wajah bangsa ini  menjadi terhina dan berpecah belah. Lantas apakah faktor dominan yang membuat seluruh Nusantara bisa mengangkat senjata melawan penjajah ketika itu ?, Siapakah yang memimpin gerakan perlawanan  tersebut ?. Jawabannya adalah  Agama, yah dari agama kita diajarkan untuk membela tanah yang kita pijak, dari agama kita diajarkan mempertahankannya dan itu semua terjadi sebelum kita menjadi Indonesia. Kenalilah para pahlawan masa pra  kemerdekaan, mereka semua lahir dari Masjid-Masjid, dari surau-surau,  juga muncul  dari Gereja-gereja.
Tempat Ibadah melahirkan mereka semua, sekaligus bukti Agama telah mengambil peran pentingnya melahirkan spirit kemerdekaan. Mereka yang lahir dari rumah Ibadah tersebut sekaligus memimpin perjuangan mengusir para penjajah, jadi janganlah kita memperkosa sejarah Indonesia ini  dengan cara “mencoba-coba” mengkerdilkan peranan agama atau bahkan menghilangkannya. Bahkan saat SMA dulu ada mata pelajaran PSPB (pendidikan sejarah perjuangan bangsa), sebuah cover buku tersebut dengan melukiskan Pangeran Dipenogoro sedang di atas Kuda mempimpin perang dengan membawa bendera Merah Putih, padahal itu tahun 1825 beliau sendiri belum tahu ada Negara Indonesia apalagi benderanya. Maksud saya kita harus jujur bahwa dulu nilai apa yang mendasari beliau berjuang kala itu, pasti untuk Agama.
Kesamaan sejarah dijajah sekian lama  oleh penjajah yang sama telah membuat ikatan emosional bangsa di Nusantara ini menjadi sama, mereka merasakan pahit yang sama, di tindas bersama, suka duka bersama, kendati tidak ada media sosial kala itu, namun cerita perlawanan di berbagai pulau di Nusantara ini telah merajut benih-benih keindonesiaan mereka. Generasi berganti namun sejarah terwariskan dalam relung hati mereka untuk membangkitkan kesadaran untuk bersatu melawan musuh dengan satu ikatan yang lebih luas, lebih besar lagi, yang bisa menyatukan seluruh ego kedaerahan atau bahkan agama, yaitu semangat Keindonesiaan.

DEMOKRASI KITA
          Kita sudah melampaui semua era dalam ujian bernegara dan semua jenis ujian telah bangsa ini lalui. Semua negara secara sunnatullah akan melalui titik-titik krusial dalam ujian menjaga integritas negaranya, apalagi kemajemukan adalah salah satu potensi adanya disintegrasi itu sendiri.
Kita telah memilih demokrasi sebagai jalan politik mengelola kedaulatan negeri ini. Kekuasaan dapat berpindah tangan dari satu kepada yang lain secara legal melalui demokrasi. Prinsipnya  demokrasi adalah pasar bebas bagi semua aliran politik untuk mencari legalitas rakyat  secara konstitusional. Demokrasi sudah melalui banyak era di negeri ini dan di terjemahkan masing-masing oleh rezim yang ada.  
Kita sudah meninggalkan era demokrasi orde baru yang hanya menjadikan lip service, suara aspirasi rakyat sebagai hak asasi manusia di kerangkeng, Negara atas nama demokrasi mengatur ketat warganya, isu SARA dimainkan agar negara bisa menertibkan , pokoknya hanya negara yang memiliki tafsir tunggal tentang berbicara, berkelempok, keadilan dsb
          Generasi Indonesia baru yang hidup di era reformasi kini tetap saja memiliki pijakan ailran ideologi yang pernah ada di bumi pertiwi ini jika memang kita tak menyebutkannya dengan sama. Pasar demokrasi selalu ramai dengan memberikan kesempatan yang sama, tak ada yang melarang berbagai partai politik dari berbagai latar belakang ideologinya. 
Indonesia masa kini adalah Indonesia yang sejatinya tidak melupakan akar sejarah kelahirannya, keberagaman yang menyatu, perbadaaan yang harmoni. Nilai-nilai luhur bangsa ini harus terwariskan kepada generasi masa depan, kita adalah jembatan untuk mereka. Demokrasi yang menghargai perbedaan, tidak kasar dan senantiasa menyakiti atas nama keberagaman untuk mengambil manfaat.
Sistem demokrasi yang ada sekarang tidaklah mungkin mengkerdilkan simpul-simpul ideologi hanya  menjadi satu atau dua saja, karena itu belum tentu mewakili keindonesiaan kita, namun kita juga bukan penganut demokrasi liberal, karena terlalu banyak  maka kita tidak efektif mengelola negara .
Politik aliran sampai sekarang masih diyakini keberadaanya, bahwa secara kasar semua kekuatan politik di Indonesia  bisa disederhanakan menjadi Nasionalis, Islam dan Marxisme (soekarno,1964)  atau seperti juga yang dikutip dalam buku pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, bahwa ada  5 aliran politik Indonesia (1) Nasionalisme radikal, (2) Tradisionalisme, (3) Islam, (4) Sosialisme demokratis dan (5) Komunisme, (Feith dan Castles 1988,LIV).
Kita bahkan bisa melihat sejarah pemilu Presiden 2014 yang lalu , dimana kontalasi politik saat itu memaksa negeri   hanya menjadi dua blok saja, dimana semua politik aliran akan memilih muaranya. Kubu Islam sebagian besar lebih memilih Prabowo
Sekarang bukan lagi era membentur-benturkan ideologi tersebut, kembali persoalkan korelasi nasionalisme dan Islam, karena kita mendiami bumi yang sama, bahkan partai yang paling kiri sudah mulai cendrung masuk ke tengah dan sebaliknya, jika nasionalisme menyebut “rakyat”, maka kubu Islam menyebut “Ummat” , padahal membela rakyat sama saja membela ummat. Dulu teriakan yang lantang di Surabaya adalah kalimat “ Allahu Akbar dan Merdeka !”,  tidak mereka dikotomikan kalimat itu karena saling menguatkan.
Adalah satu kekerdilan kita, jika hanya memandang Indonesia dengan kacamata tunggal kita, sehingga tidak menganggap adanya komponen politik di negeri ini yang sudah kokoh. Adalah cermin kedangkalan hati menurut saya  dalam melihat perilaku pemilih di Indonesia, dimana agama adalah satu variabel yang secara ilmu elektoral menjadi pasar, wajar jika ada yang menginginkannya.  Itulah sebabnya jika mendekati pemilu apapun simbol-simbol untuk menarik simpati ummat Islam selalu menggoda.
Ummat Islam sejak awal sudah mengambil kiprahnya di Nusantara ini sampai pada akhirnya menjelma menjadi kekuatan politik di negeri ini, saya pikir mengesampingkan Islam dari sudut ini, sama saja anda tidak utuh memandang Indonesia itu sendiri.


Rabu, 08 April 2015

Sikap ambigu politik (dalam dekapan demokrasi)



Dalam dekapan Demokrasi
Sikap ambigu politik

          Pembahasan sebelumnya adalah tentang cara kita memahami persoalan idealitas Islam sebagai sistem nilai yang sempurna dan bagaimana cara kita bersikap ketika nilai-nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan. Sistem politik dalam kehidupan ini adalah sistem yang dinamis dan senantiasa terjadi perubahan , namun karena  sifatnya yang tidak kaku membuat Islam selalu bisa mengendalikan perubahan zaman. Sebab tujuan & prinsip politik  syariat itu yang diabadikan Allah swt, sedangkan sarana dan alat adalah instrumen yang fleksibel
Salah satu persoalan yang akan timbul pada problematika diatas  adalah lahirnya sifat bias atau ambigu dalam menyikapi ijtihad politik Islam. Kita ambil  contoh apa yang melatarbelakangi ijtihad Muawiyah bin Abu Sufyan ra menetapkan putranya sebagai putra mahkota untuk melanjutkan estafet Khaifah berikutnya, bahkan ijtihad ini menyeret para sahabat untuk bersikap pro dan kontra. Putra Abu bakar ra mengatakan “ Sungguh ini bukanlah sunnah pendahulu kita, namun ini sunnah Kaisar Romawi !”, sedangkan Abdullah ibnu Umar ra justru setuju menerima dan  membaiat  putra Muawiyyah ra sebagai pewaris tahta, kendati semua ada jawabannya, tapi itulah fakta yang terjadi dalam sejarah politik Islam.
Sifat ambigu ini akan menyeret kita pada logika kerja dakwah yang tidak produktif, karena kita selalu menghukum apa yang sedang terjadi dengan “gambaran ilustrasi” sistem politik yang ideal dalam cita-cita politik kita. Ini bukan tentang politik yang ideal, namun tentang politik apa yang tepat dibutuhkan saat itu ”. Adakah yang berani mengatakan itu salah dan menyelisihi sunnah ?. Jika itu bentuk pratek yang tidak benar, tapi janji Rasulullah saw bahwa sebaik-baik panglima dan pasukan perang adalah yang menaklukkan Konstantinopel, dalam bentuk pemerintahan politik seperti apa kala itu ?, Muhammad al fatih murad adalah produk pemerintahan kerajaan,beliaulah sang penakluk itu.
Atau kondisi saat ini sebagai contoh ketika Erdogan membantu rakyat Gaza dengan berbagai caranya, lantas kita menghukumi bahwa ijtihad politiknya tidak benar ?, karena negaranya sendiri sekuler, negaranya mengadopsi sistem tagut dan lain sebagainya. Tapi pada saat Arab Saudi terlepas dari kepentingan yang melatarbelakangi menyerang rezim baru Syiah Houthi di Yaman, beresihlah dulu urusan internalmu wahai Saudi karena musuhmu  bukan itu, atau coba kalian deklarasikan sebagai khilafah !, kemudian kita katakan kenapa tidak menyerang Israel dan membantu Gaza,  jadi akan selalu ambigu kita dalam menyikapinya, sehingga terjebaklah kita dalam perdebatan wacana-wacana.
Saat Sultan Brunei mengumumkan pemberlakuan hukum Islam di negaranya khususnya penegakkan hukum hudud, kemudian kita sontak sorai mengatakan itulah negara yang “Islami” , kemudian kita lupa kendati pemerintahan mereka bukan khilafah, tapi sekedar negara Bangsa saja tapi toh bisa menegakkan hukum itu.  
Itulah sebabnya para pemikir-pemikir muslim saat mereka membahas tentang siyasah dalam Islam, mereka selalu menghadirkan variabel-variabel dinamis dalam kehidupan ini, karena mereka tak ingin terjebak dalam bentuk-bentuk politik , tapi mereka justru fokus pada fungsi-fungsi politik karena itulah yang membuat mereka lebih mengetahui apa yang dibutuhkan dijamannya. Mereka sadar kekuasaan itu penting, tapi mereka menganggap lebih penting lagiadalah menjawab pertanyaan untuk apa kekuasaan itu ?.


Makhluk Politik & Diskon Syariah (dalam dekapan demokrasi)



                                                        
Dalam dekapan Demokrasi
Makhluk Politik & diskon Syariah

                   Setidaknya apa yang dibutuhkan oleh umat Islam kini sebagai subyek pewaris peradaban , kemudian  kembali mewarisinya dan pada akhirnya melanjutkan karya besar peradaban dunia dulu dan yang akan datang  adalah melengkapi seluruh kualifikasi syarat-syaratnya baik pada skala sebagai pribadi muslim , maupun juga sebagai entitas sebuah  pergerakan. Menang dan memimpin peradaban ini memang adalah janji Allah swt kepada mereka yang beriman dan beramal sholeh, namun bagaimana cara  meraih kemenangan tersebut adalah wilayah kita sebagai manusia, sehingga itu semua bermuara pada bertemunya ruang usaha kita dengan takdir.
 Dalam al Quran kita dikatakan sebagai makhluk politik disebabkan sebuah  alasan Allah swt hadirkan kita diatas bumi ini adalah sebagai " wakil-Nya " atau sebagai  khalifah-Nya  untuk mengatur dan memakmurkan bumi ini. Kita terlahir dengan titipan misi langit nan agung yang harus kita semaikan diatas muka bumi ini agar tumbuh pohon kehidupan, agar siapapun ummat manusia akan merasakan indahnya kehidupan ini dengan menjalankan kehendak-kehendak Allah swt.
           Adakah makna tertinggi lagi  dari fungsi politik yang diwakilkan dengan kata Khalifah ?, itulah kata yang merangkum semua derivat kata politik dan fungsinya diatas muka bumi ini. Jadi memisahkan Islam dari kegiatan politik adalah hanyalah kesia-siaan, seperti sulitnya memisahkan rasa dingin dari zat saljunya dan memisahkan rasa panas dari mataharinya. Islam secara tegas menyuruh ummatnya memiliki salah satu kualifikasi manusia peradaban adalah sebagai manusia politik, yaitu politik yang berketuhanan atau dalam istilah yang sudah kita bahas as siyasah asy syar'iyah.
           Allah swt adalah Maha sempurna dan agama ini adalah nilai kesempurnaan sebagai panduan dari langit untuk hidup di bumi, namun disitulah letak masalahnya adalah kita bukan makhluk yang sempurna, kita bukanlah perangkat yang selalu stabil dengan tujuan dan agenda itu sendiri. " Wakhuliqol insaanu dhoiifaa.." , demikian bahasa alquran tentang kita bahwa Allah swt telah menciptakan kita dalam keadaan penuh kelemahan. Tapi kita tidak kuatir dengan masalah itu, karena Allah swt sendirilah yang sudah membuat jalan keluanya dengan firman-Nya dalam surat at taghaabun ayat 16, " Fattaqullaha mastatho'tum..." , maka bertakwalah kalian sesuai dengan kesanggupan kalian.
            Bagi pejuang politik Islam ini menjadi penting karena kita akan mengkondisikan ummat agar apa yang diinginkan Allah swt itupula yang menjadi keinginan manusia, hukum yang Allah swt perintahkan juga menjadi hukum yang diterapkan manusia, namun disitulah ruang yang penting untuk kita pahami, karena prakteknya dalam kehidupan ini tidak seideal itu. Saat agama ini berisikan daftar perintah dan larangan dari Allah swt dan ketika turun ke bumi mengalami dua aspek  "diskon" dalam aplikasinya, yang pertama adalah saat Islam berhadapan dengan realitas atau kenyataan lapangan (waqi' ) dan yang kedua saat berhadapan dengan kelemahan manusia itu sendiri.
            Saat berbenturan dengan kondisi realitas , sebagai syariat yang memiliki sifat kelenturan dan keluwesan,  Islam menghadapinya dengan baik, itulah sebabnya ulama kita membekali salah satu ilmu alat dengan nama fikih waqi' atau fikih realitas karena disitu akan berhadapan bagaimana secara teknis  islam membumikan syariatnya agar bisa dijalankan . Aspek diskon yang kedua adalah saat kumpulan nilai-nilai Islam yang ideal itu tak pernah mengenal reduksi, masalahnya adalah kadar kita dalam menjalankannya yang selalu mengalami reduksi karena memang sifat asal kita, itulah sebabnya kita diminta bertakwa sesuai dengan kadar kesanggupan kita paling maksimal, sebab tiada yang bisa "sempurna" dalam ketakwaan.
           Jadi Islam yang kita amalkan sejak Rasulullah saw wafat yang sepanjang sejarah penuh dengan fluktuasi peradabannya bukanlah yang sempurna , namun itulah netto kita dalam beragama ini setelah mengalami dua diskon dalam lapangan kenyataan dan dalam  diri kita ,  karena itulah jika para pejuang hanya menulis agenda perjuangannya  yang  ideal-ideal saja dan bahkan sangat rigit dan teknis , maka dia bisa terjerumus pada gerakan yang akan menyalahkan semuanya, baginya semua tidak ada yang ideal dalam kacamatanya.
           Saat bersamaan kita sangat paham bahwa adakah benar-benar gerakan Islam yang ideal dan bahkan sudah membumikan yang ideal itu ?. Sehingga tak satupun gambaran kesuksesan perjuangan Islam di pentas muka bumi ini untuk diapresiasi, karena yang ada dalam benak kita adalah kumpulan-kumpulan nilai idealisme yang rigit dan teknis sebelum mengalami "diskon".
         Itulah yang dikatakan oleh ibnu Aqil bahwa jikalau yang anda maksudkan dengan syariat Islam itu adalah harus sesuai dengan apa yang pernah di contohkan oleh Rasulullah saw adalah salah, namun jika yang anda maksudkan adalah tidaklah bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan ajaran Rasulullah saw maka itulah yang menurutku benar.