Dalam dekapan Demokrasi
Makhluk Politik & diskon Syariah
Setidaknya apa yang dibutuhkan oleh
umat Islam kini sebagai subyek pewaris peradaban , kemudian kembali
mewarisinya dan pada akhirnya melanjutkan karya besar peradaban dunia dulu dan
yang akan datang adalah melengkapi seluruh kualifikasi syarat-syaratnya
baik pada skala sebagai pribadi muslim , maupun juga sebagai entitas
sebuah pergerakan. Menang dan memimpin peradaban ini memang adalah janji
Allah swt kepada mereka yang beriman dan beramal sholeh, namun bagaimana
cara meraih kemenangan tersebut adalah wilayah kita sebagai manusia,
sehingga itu semua bermuara pada bertemunya ruang usaha kita dengan takdir.
Dalam al Quran kita dikatakan sebagai makhluk
politik disebabkan sebuah alasan Allah swt hadirkan kita diatas bumi ini
adalah sebagai " wakil-Nya " atau sebagai khalifah-Nya
untuk mengatur dan memakmurkan bumi ini. Kita terlahir dengan titipan misi
langit nan agung yang harus kita semaikan diatas muka bumi ini agar tumbuh
pohon kehidupan, agar siapapun ummat manusia akan merasakan indahnya kehidupan
ini dengan menjalankan kehendak-kehendak Allah swt.
Adakah makna tertinggi lagi dari fungsi politik yang diwakilkan dengan
kata Khalifah ?, itulah kata yang merangkum semua derivat kata politik dan
fungsinya diatas muka bumi ini. Jadi memisahkan Islam dari kegiatan politik
adalah hanyalah kesia-siaan, seperti sulitnya memisahkan rasa dingin dari zat
saljunya dan memisahkan rasa panas dari mataharinya. Islam secara tegas
menyuruh ummatnya memiliki salah satu kualifikasi manusia peradaban adalah
sebagai manusia politik, yaitu politik yang berketuhanan atau dalam istilah
yang sudah kita bahas as siyasah asy syar'iyah.
Allah swt adalah Maha sempurna dan agama ini adalah nilai kesempurnaan sebagai
panduan dari langit untuk hidup di bumi, namun disitulah letak masalahnya
adalah kita bukan makhluk yang sempurna, kita bukanlah perangkat yang selalu
stabil dengan tujuan dan agenda itu sendiri. " Wakhuliqol insaanu
dhoiifaa.." , demikian bahasa alquran tentang kita bahwa Allah swt
telah menciptakan kita dalam keadaan penuh kelemahan. Tapi kita tidak kuatir
dengan masalah itu, karena Allah swt sendirilah yang sudah membuat jalan
keluanya dengan firman-Nya dalam surat at taghaabun ayat 16, "
Fattaqullaha mastatho'tum..." , maka bertakwalah kalian sesuai dengan
kesanggupan kalian.
Bagi pejuang politik Islam ini menjadi penting karena kita akan mengkondisikan
ummat agar apa yang diinginkan Allah swt itupula yang menjadi keinginan
manusia, hukum yang Allah swt perintahkan juga menjadi hukum yang diterapkan
manusia, namun disitulah ruang yang penting untuk kita pahami, karena
prakteknya dalam kehidupan ini tidak seideal itu. Saat agama ini berisikan
daftar perintah dan larangan dari Allah swt dan ketika turun ke bumi mengalami
dua aspek "diskon" dalam aplikasinya, yang pertama adalah saat
Islam berhadapan dengan realitas atau kenyataan lapangan (waqi' ) dan yang kedua saat berhadapan dengan kelemahan manusia
itu sendiri.
Saat berbenturan dengan kondisi realitas , sebagai syariat yang memiliki sifat
kelenturan dan keluwesan, Islam
menghadapinya dengan baik, itulah sebabnya ulama kita membekali salah satu ilmu
alat dengan nama fikih waqi' atau
fikih realitas karena disitu akan berhadapan bagaimana secara teknis
islam membumikan syariatnya agar bisa dijalankan . Aspek diskon yang kedua
adalah saat kumpulan nilai-nilai Islam yang ideal itu tak pernah mengenal
reduksi, masalahnya adalah kadar kita dalam menjalankannya yang selalu
mengalami reduksi karena memang sifat asal kita, itulah sebabnya kita diminta
bertakwa sesuai dengan kadar kesanggupan kita paling maksimal, sebab tiada yang
bisa "sempurna" dalam ketakwaan.
Jadi Islam yang kita amalkan sejak Rasulullah saw wafat yang sepanjang sejarah
penuh dengan fluktuasi peradabannya bukanlah yang sempurna , namun itulah netto
kita dalam beragama ini setelah mengalami dua diskon dalam lapangan kenyataan
dan dalam diri kita , karena itulah jika para pejuang hanya menulis
agenda perjuangannya yang ideal-ideal saja dan bahkan sangat rigit dan
teknis , maka dia bisa terjerumus pada gerakan yang akan menyalahkan semuanya,
baginya semua tidak ada yang ideal dalam kacamatanya.
Saat bersamaan kita sangat paham bahwa adakah benar-benar gerakan Islam yang
ideal dan bahkan sudah membumikan yang ideal itu ?. Sehingga tak satupun
gambaran kesuksesan perjuangan Islam di pentas muka bumi ini untuk diapresiasi,
karena yang ada dalam benak kita adalah kumpulan-kumpulan nilai idealisme yang
rigit dan teknis sebelum mengalami "diskon".
Itulah yang dikatakan oleh ibnu Aqil bahwa jikalau yang anda maksudkan dengan
syariat Islam itu adalah harus sesuai dengan apa yang pernah di contohkan oleh
Rasulullah saw adalah salah, namun jika yang anda maksudkan adalah tidaklah
bertentangan dengan prinsip-prinsip agama dan ajaran Rasulullah saw maka itulah
yang menurutku benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar