napak tilas

napak tilas
by Syukri Wahid

Sabtu, 04 Oktober 2008

Mau apa setelah puasa...?

Mau apa setelah Ramadhan...?
drg.Syukri Wahid (ketua DPD PKS Balikpapan)


Siap ataupun tidak siap, bulan ramadhan yang penuh dengan pesona keberkahannya telah meninggalkan kita. Penyesalan memang selalu ada diakhir bukan diawal, kini mulailah setiap kita memutar pita rekaman ramadhan, ternyata barulah kita sadar bahwa tidak banyak yang terekam disana, masih banyak yang kosong dalam “pita rekaman” ibadah, infak, do’a, dzikir, berbuat baik dan lain-lain, mengapa kemarin tidak kita penuhi semua isi “pita waktu” ini dengan amal yang berkualitas & berkuantitas.
Kurikulum pendidikan ramadhan selama sebulan penuh diharapkan dapat memberi bekas dalam kepribadian kita, agar semua target-target ibadah menjadi karakter yang kuat dalam struktur kepribadian kita, yaitu takwa. Nabi SAW pernah menunjuk dada beliau sebanyak tiga kali sambil berkata,”at takwa haa hunaa”, takwa itu disini. Hal ini sekaligus memberikan sebuah efenisi sederhana bahwa takwa adalah kumpulan nilai-nilai kebaikan yang melembaga dalam diri kita.
Suatu saat Umar bin khattab ditanya oleh sahabatnya tentang apa itu takwa?, beliau tidak langsung menjawab, namun balik bertanya kepada sahabat tersebut, ”pernakah dirimu berjalan disebuah jalan yang penuh dengan duri ?, sahabat tersebut menjawab, ”ya, pernah”. Bagaimana caramu berjalan ditempat seperti itu, tanya Umar bin khattab. Sahabat tersebur menjawab:” Demi Allah aku akan sangat berhati-hati, agar kakiku tidak mengenai duri tersebut”, Umar berkata:” itulah takwa sahabatku. Sebuah analogi sederhana tentang takwa, dia adalah ma’rifah (pemahaman) dan juga kehati-hatian, dia adalah semangat menjalankan ketentuan Allah dan juga semangat untuk tidak tergelincir kedalam lembah kemaksiatan.
Setidaknya ada 3 komitmen untuk mempertahankan stabilitas takwa kita, agar kita mampu merawat pesona takwa kita, agar ia mampu menghiasi kepribadian kita.

pertama Komitmen moral atau spiritual
Ini adalah sebagai dasar gerak kita, dia adalah pemicu sekaligus pemacu amal kita, tidak ada yang mendorong kita melakukan aktivitas kehidupan kecuali dia lahir dari semangat dan bimbingan iman. Sudah barang tentu dengan iman yang dinamis, yaitu iman yang menggelora dalam hati kita, iman yang menggelombang dalam kepribadian kita, yang mendorong seseorang untuk senantiasa bearada dalam koridor amal saleh. Betapa tidak selama ramadhan kita melihat setiap orang, keluarga dan masyarakat tiba-tiba menjadi masyarakat yang moralis dekat dengan agama, rumah-rumah Muslim terdengar bacaan qur’an, Masjid-masjid padat dengan jama’ah, pendek kata kita jadi masyarakat religius. Salah satu ciri masyarakat moralis itu adalah mereka merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan mereka. Selama puasa kita berkomitmen untuk tidak menyentuh makanan & minuman mulai fajar hingga magrib, padahal itu semua kita peroleh dengan halal, istripun telah menjadi halal milik kita. Namun apa yang membuat kita tidak melanggarnya, walau mungkin ditempat itu cuma ada kita sendiri, jawabnya adalah karena kita tahu ada Allah yang lihat kita. Alangkah baiknya jika semangat Maiyyatullah atau merasa dipantau Allah selalu ada dalam setiap aktivitas kehidupan kita, maka mustahil akan ada pencurian apalagi Korupsi . Karena puasa mengajarkan kepada kita sebuah kaidah sederhana bahwa yang halal saja yang kita punya kita tidak berani memakannya, maka apalagi yang haram.
Coba kita bayangkan jika semangat ini tertanam kuat dalam pribadi masyarakat, apakah dia rakyat biasa apalagi pejabat Negara, sudah barang tentu akan menjadikan Negeri ini sejahetra Insya Allah. Tidak salah memang ketika salah seorang ekonom Indonesia mengatakan bahwa,” tidak ada lagi teori-teori ekonomi yang bisa menjelaskan permasalahan ekonomi Indonesia”. Kalau hanya sekedar membangkrutkan negara, kita tidak perlu seorang Doktor atau Profesor di Negeri ini. Ketinggian ilmu tanpa adanya ketinggian moralitas akan menuju kepada kerusakan.
kedua, adalah komitmen amal ibadah.
Bulan Ramadhan telah berhasil memicu sekaligus memacu kita untuk beramal ibadah, mulai dari kita sholat tarwih, tahajjud, membaca Al quran, dzikir, doa, bersedekah dan lain-lain. Kurikulum ibadah puasa begitu padat, namun kita begitu menikmatinya, karena dibalik kepadatan itu Allah memberikan ganjaran pahala yang sangat besar. Setiap amal sunnah diganjar wajib, yang wajib akan dilipatgandakan 70 kali samapi 700 lipat dan masih banyak lagi. Setelah Ramadhan seharusnya kebiasaan amal ibadah tersebut tetap kita jaga dan dipertahankan, jangan sampai Al quran yang selalu kita baca selama ramadhan , mulai kita masukan dia kedalam lemari lagi, jangan sampai masjid-masjid kita kembali kosong , jangan sampai malam-malam kita sudah tidak ada lagi yang menegakkan sholat tahajjud & tidak terdengar lagi lantunan doa-doa panjang kepada Allah. Jangan sampai tangan yang sudah ringan mengeluarkann infak dan sedekah selama Ramadhan sudah mulai berat lagi untuk memberi.

Komitmen Ketiga adalah komitmen Sosial.
Ibadah ramadhan tidak menginginkan kita menjadi orang yang menikmati kesalehannya sendiri saja, tapi kita juga harus bisa menularkan kesalehan kita bagi orang lain. Betapa puasa mengajarkan kita untuk peduli dengan nasib orang lain, kalau menahan lapar 12 jam saja kadang membuat fisik kita gemeteran, bagaimana dengan saudara kita yang tidak makan 1 atau 2 hari, untuk makan hari ini saja mereka tidak jelas apalagi untuk besok harinya. Alangkah celakanya mereka yang berpuasa tetapi justru tidak dapat mengambil pelajaran ini. Dan mengertilah kita mengapa ibadah puasa kita disempurnakan dengan membayar Zakat didalamnya. Ini pertanda kesalehan pribadi kita tidak akan sempurna sampai kita juga memiliki kesalehan sosial. Karena dengan zakat selain kita membersihkan harta kita dari hak orang lain, juga dengan harta zakat itu dapat membantu saudara-saudara kita yang tidak mampu untuk berbahagia pada hari ini. Sebagaimana Sabda Rasulullah ” Khairunnas anfa’ahum linnas” artimya sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia yang lain.
Mudah-mudahan tiga langkah sederhana ini dapat menjaga nilai-nilai iman & ketakwaan kita, agar langkah komitmen ini bagaikan air yang memberikan kesejukan pada iman dan dia juga seperti sinar cahaya matahari yang memberikan gelora pada iman kita. Allahumma amiin, taqobbalallahu minna wamingkum.

Tidak ada komentar: