” Iedul fitri ditangan orang-orang yang menang ”
(Sedikit catatan dari perang Uhud tahun 3 H)
drg.Syukri Wahid
Dua hari sebelum masuknya idul fitri 1 Syawwal tahun 3 H di kota madinah, Nabi Muhammad SAW dikejutkan oleh sebuah kabar yang diperoleh dari ”intelejen” beliau di kota Makkah yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, bahwa kaum musyrikin Quraisy baru saja berangkat meninggalkan Makkah menuju Madinah dengan membawa 3000 pasukan, 3000 unta, 200 penunggang kuda, 700 pasukan berbaju besi serta tidak lupa mereka menyertakan wanita-wanita mereka. Pasukan sebesar itu dimodali oleh seluruh keuntungan kafilah dagang yang dipimpin Abu sufyan ke negeri Syam sebesar 1500 dinar. Satu-satunya alasan mengapa mereka memobilisasi pasukan sebesar itu adalah untuk ”membalas dendam” kekalahan mereka di perang badar tahun lalu, tepatnya bulan Ramadhan tahun 2 H.
Keadaan madinah menjadi siaga satu dimalam menjelang lebaran pada saat itu, bukan karena sahabat, seperti kita ”menyiapkan ketupat” atau makanan untuk jelang lebaran esoknya, melainkan karena Nabi langsung melakukan langkah-langkah taktis dan strategis untuk menghadapi pasukan besar itu dalam waktu secepat mungkin, karena pasukan Makkah diprediksikan akan tiba sekitar tanggal 5 atau 6 syawwal. Idul fitri saat itu dilewati Nabi dan para sahabat dalam keadaan genting, namun tetap syahdu, tetap nampak diwajah-wajah mereka pesona kemenangan, bahkan keadaan tersebut semakin memperkuat keimanan mereka.
Selepas sore hari sabtu tanggal 7 Syawwal 3 H, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat baru saja pulang dari penguburan 70 pahlawan syuhada Uhud setelah berperang seharian penuh dihari itu, nampak kesedihan yang tidak bisa beliau sembunyikan, karena harus kehilangan 70 orang terbaik dari pengikut beliau, lebih khusus gugurnya Hamzah bin Abdul muthalib sang paman dan Mushab bin umair sang duta da’wah pertama yang diutus Nabi ke madinah. Dalam perang uhud ini kaum Muslimin mengalami ”kekalahan”, tapi itu adalah skenario dari Allah SWT supaya sejak awal kaum muslimin memiliki pengalaman pernah menang dan pernah kalah dalam kehidupan peradabannya, bahkan Allah menurunkan kurang lebih 80 ayat disurat ali imran untuk menjelaskan perang yang satu ini, tidak sebanyak ayat yang diturunkan diperang badar ketika kaum muslimin mendapat kemenangan. Allah menghibur sahabat dengan kalimat dalam ayat 140 surat ali imran, ”Kalau kalian hari ini mendapatkan luka (kalah), maka ingatlah mereka juga pernah mendapat luka yang sama pada waktu yang lalu (perang badar), demikianlah hari-hari itu (menang & kalah) kami pergilirkan diantara manusia...”
Ayat ini menjelaskan tentang sebuah siklus dalam kehidupan yang senantiasa akan bergulir, yaitu menang dan kalah, sukses dan gagal dan seterusnya, merupakan sunnah tadawwul atau sunnah pergiliran.
Pertempuran tersebut terjadi diawal bulan syawwal, itu adalah lebaran beliau yang kedua sejak disyariatkannya berpuasa,berbeda dengan lebaran tahun lalunya, dimana para sahabat baru saja pulang dari perang badar dengan membawa kemenangan. Tahun ini mungkin adalah lebaran yang telah kesekian kalinya bagi kita, mungkin kita sedang hangat-hangatnya saling bersilaturahim bersama saudara, kerabat dan tetangga untuk saling bermaaf-maafan, namun berbeda yang terjadi di jaman beliau pada waktu itu, energi yang selama ini mereka kumpul dan dapatkan dibulan ramadhan langsung ”tersalurkan” pada jalan jihad. Bagi para sahabat energi kebaikan tersebut sebanyak mungkin di salurkan dijalan kebaikan, dan puasa telah mengajarkan mereka seperti itu.
Hakikat Kekalahan
Dari sejarah diatas, kalah bukanlah akhir dari segalanya, namun hakikat kekalahan adalah ketika potensi kebaikan kita sudah tidak bisa lagi bangkit untuk mendominasi serta membimbing akal, jiwa dan pikiran kita, agar senantiasa berada pada ”jalur-jalur kebaikan” , dimana iman sudah tidak lagi bisa mencari jalan keluar untuk mendorong seorang pribadi muslim untuk beramal yang baik. Atau kalau dalam dunia ring tinju, seorang petinju dikatakan KO jika dia tidak bisa lagi bangkit dari jatuhnya, dia tidak lagi bisa berdiri, bukan jatuhnya itu sendiri, namun tidak dapat berdiri dari kejatuhan, itulah kekalahan.
Idul fitri harusnya kita sikapi dengan mentalitas sang juara, karena kita baru saja keluar dari padepokan ramadhan, dipinggang kita telah melingkar sabuk takwa yang tidak boleh ada yang merebutnya dari kita, dia adalah simbol sekaligus prestise kita dihadapan Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam surat al hujurat ,” Inna akramakum ’indallahi at qaakum” ,sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang bertakwa.
Renungilah sejarah diatas betapa Rasul dan sahabat-sahabat adalah orang-orang yang menyegerakan perintah Allah SWT, meskipun mengalami kekalahan menurut mereka, namun Allah menilai itu adalah kemenangan, bahkan kalianlah yang paling tinggi jika kalian beriman. Sehingga menjadi penting bagi kita adalah bagaiman kita mengelola kekalahan dengan iman, sebagaimana kitapun mengelola kemenangan dengan iman, bukan dengan nafsu emosi.
Pernah Umar bin khattab ditanya tentang apa itu takwa, beliau malah balik tanya kepada sahabat yang bertanya, ”pernakah dirimu berjalan disebuah jalan yang penuh dengan duri yang tajam? Sahabat tersebut menjawab, ”ya , pernah ”, umar berkata,” bagaimana engkau berjalan ditempat seperti itu ?, sahabat tersebut menjawab, ” Demi Allah aku akan berjalan sangat hati-hati, agar kakiku tidak mengenai duri tersebut”, lantas Umar bin khattab berkata,” Itulah takwa”. Selamat ’iedul fitri, selamat memakai baju takwa, bajunya orang-orang yang langsung menyalurkan energi kebaikannya disetiap lorong kehidupan.
(Sedikit catatan dari perang Uhud tahun 3 H)
drg.Syukri Wahid
Dua hari sebelum masuknya idul fitri 1 Syawwal tahun 3 H di kota madinah, Nabi Muhammad SAW dikejutkan oleh sebuah kabar yang diperoleh dari ”intelejen” beliau di kota Makkah yaitu Abbas bin Abdul Muthalib, bahwa kaum musyrikin Quraisy baru saja berangkat meninggalkan Makkah menuju Madinah dengan membawa 3000 pasukan, 3000 unta, 200 penunggang kuda, 700 pasukan berbaju besi serta tidak lupa mereka menyertakan wanita-wanita mereka. Pasukan sebesar itu dimodali oleh seluruh keuntungan kafilah dagang yang dipimpin Abu sufyan ke negeri Syam sebesar 1500 dinar. Satu-satunya alasan mengapa mereka memobilisasi pasukan sebesar itu adalah untuk ”membalas dendam” kekalahan mereka di perang badar tahun lalu, tepatnya bulan Ramadhan tahun 2 H.
Keadaan madinah menjadi siaga satu dimalam menjelang lebaran pada saat itu, bukan karena sahabat, seperti kita ”menyiapkan ketupat” atau makanan untuk jelang lebaran esoknya, melainkan karena Nabi langsung melakukan langkah-langkah taktis dan strategis untuk menghadapi pasukan besar itu dalam waktu secepat mungkin, karena pasukan Makkah diprediksikan akan tiba sekitar tanggal 5 atau 6 syawwal. Idul fitri saat itu dilewati Nabi dan para sahabat dalam keadaan genting, namun tetap syahdu, tetap nampak diwajah-wajah mereka pesona kemenangan, bahkan keadaan tersebut semakin memperkuat keimanan mereka.
Selepas sore hari sabtu tanggal 7 Syawwal 3 H, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat baru saja pulang dari penguburan 70 pahlawan syuhada Uhud setelah berperang seharian penuh dihari itu, nampak kesedihan yang tidak bisa beliau sembunyikan, karena harus kehilangan 70 orang terbaik dari pengikut beliau, lebih khusus gugurnya Hamzah bin Abdul muthalib sang paman dan Mushab bin umair sang duta da’wah pertama yang diutus Nabi ke madinah. Dalam perang uhud ini kaum Muslimin mengalami ”kekalahan”, tapi itu adalah skenario dari Allah SWT supaya sejak awal kaum muslimin memiliki pengalaman pernah menang dan pernah kalah dalam kehidupan peradabannya, bahkan Allah menurunkan kurang lebih 80 ayat disurat ali imran untuk menjelaskan perang yang satu ini, tidak sebanyak ayat yang diturunkan diperang badar ketika kaum muslimin mendapat kemenangan. Allah menghibur sahabat dengan kalimat dalam ayat 140 surat ali imran, ”Kalau kalian hari ini mendapatkan luka (kalah), maka ingatlah mereka juga pernah mendapat luka yang sama pada waktu yang lalu (perang badar), demikianlah hari-hari itu (menang & kalah) kami pergilirkan diantara manusia...”
Ayat ini menjelaskan tentang sebuah siklus dalam kehidupan yang senantiasa akan bergulir, yaitu menang dan kalah, sukses dan gagal dan seterusnya, merupakan sunnah tadawwul atau sunnah pergiliran.
Pertempuran tersebut terjadi diawal bulan syawwal, itu adalah lebaran beliau yang kedua sejak disyariatkannya berpuasa,berbeda dengan lebaran tahun lalunya, dimana para sahabat baru saja pulang dari perang badar dengan membawa kemenangan. Tahun ini mungkin adalah lebaran yang telah kesekian kalinya bagi kita, mungkin kita sedang hangat-hangatnya saling bersilaturahim bersama saudara, kerabat dan tetangga untuk saling bermaaf-maafan, namun berbeda yang terjadi di jaman beliau pada waktu itu, energi yang selama ini mereka kumpul dan dapatkan dibulan ramadhan langsung ”tersalurkan” pada jalan jihad. Bagi para sahabat energi kebaikan tersebut sebanyak mungkin di salurkan dijalan kebaikan, dan puasa telah mengajarkan mereka seperti itu.
Hakikat Kekalahan
Dari sejarah diatas, kalah bukanlah akhir dari segalanya, namun hakikat kekalahan adalah ketika potensi kebaikan kita sudah tidak bisa lagi bangkit untuk mendominasi serta membimbing akal, jiwa dan pikiran kita, agar senantiasa berada pada ”jalur-jalur kebaikan” , dimana iman sudah tidak lagi bisa mencari jalan keluar untuk mendorong seorang pribadi muslim untuk beramal yang baik. Atau kalau dalam dunia ring tinju, seorang petinju dikatakan KO jika dia tidak bisa lagi bangkit dari jatuhnya, dia tidak lagi bisa berdiri, bukan jatuhnya itu sendiri, namun tidak dapat berdiri dari kejatuhan, itulah kekalahan.
Idul fitri harusnya kita sikapi dengan mentalitas sang juara, karena kita baru saja keluar dari padepokan ramadhan, dipinggang kita telah melingkar sabuk takwa yang tidak boleh ada yang merebutnya dari kita, dia adalah simbol sekaligus prestise kita dihadapan Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam surat al hujurat ,” Inna akramakum ’indallahi at qaakum” ,sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang bertakwa.
Renungilah sejarah diatas betapa Rasul dan sahabat-sahabat adalah orang-orang yang menyegerakan perintah Allah SWT, meskipun mengalami kekalahan menurut mereka, namun Allah menilai itu adalah kemenangan, bahkan kalianlah yang paling tinggi jika kalian beriman. Sehingga menjadi penting bagi kita adalah bagaiman kita mengelola kekalahan dengan iman, sebagaimana kitapun mengelola kemenangan dengan iman, bukan dengan nafsu emosi.
Pernah Umar bin khattab ditanya tentang apa itu takwa, beliau malah balik tanya kepada sahabat yang bertanya, ”pernakah dirimu berjalan disebuah jalan yang penuh dengan duri yang tajam? Sahabat tersebut menjawab, ”ya , pernah ”, umar berkata,” bagaimana engkau berjalan ditempat seperti itu ?, sahabat tersebut menjawab, ” Demi Allah aku akan berjalan sangat hati-hati, agar kakiku tidak mengenai duri tersebut”, lantas Umar bin khattab berkata,” Itulah takwa”. Selamat ’iedul fitri, selamat memakai baju takwa, bajunya orang-orang yang langsung menyalurkan energi kebaikannya disetiap lorong kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar