Pagi itu, buru-buru Abu bakar ra
Keluar dari rumahnya, sambil membawa
Beberapa potongan kain yang akan
Dibawanya ke pasar untuk dijual saat itu.
Sepintas hal yang dilakukannya
Tidak ada yang aneh, itu layak
Dilakukan oleh siapa saja…
Namun,,,,
Itu menjadi “aneh” dimata beberapa sahabat
Terutama Umar bin khattab ra
Apa masalahnya…?
Ternyata, ini masalah mendasar bagi umar
Karena baru saja kemarin
Usai sholat jum’at dimasjid Nabawi
Abu bakar diambil sumpahnya
Untuk menjadi Khalifah pertama Rasulillah SAW
Sebuah amanah besar sudah diamanahkan
Dipundak beliau, untuk melanjutkan
Fungsi dan tugas kepemimpinan Agama dan Negara
Sepeninggalan Rasulullah SAW
Dan itu sudah jelas akan menyita semua
Waktu dan tenaga seorang Abu bakar ra.
Karena itu adalah “suksesi” pertama
Dalam sejarah pemerintahan Islam,
Maka itu merupakan “masa transisi”,
Dalam sejarah bernegara kaum muslimin.
Umar bin Khattab ra, berjumpa dengan khalifah
Tanpa sengaja di depan kepintu pasar,,,,
Dengan nada bertanya, beliau mengatakan :
“ wahai, khalifah Rasulillah
Apa yang engkau lakukan dengan
Kain-kain itu..?”
Dengan santai, Khalifah Abu bakar berkata :
“wahai umar,dirumahku ada beberapa tanggunganku
Yang harus kuberi makan setiap harinya, dan saya harus berjualan hari ini agar bisa mendapatkan uang Untuk menafkahi mereka”.
Perasaan sedih muncul dalam diri Umar
karena rasa cintanya terhadap diri Abu bakar
“Pulanglah,,wahai khalifah dan uruslah ummatmu”
Bagi Umar,,ini adalah masalah harus segera diselesaikan
Ini bukan hanya masalah “administrasi Negara”, namun
Juga masalah “fokus kerja dan harga diri seorang khalifah”
Segera beliau membentuk tim yanglangsung beliau pimpin
Dan segera mendatangi rumah Abu bakar,
Ternyata ada hal yang luput mereka
Pikirkan, setelah “menyelesaikan pengangkatan Khalifah”
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, yaitu “gaji seorang khalifah”.
Pertanyaan tanpa sungkan dan ragu kemudian keluar dari
Sahabat Umar bin Khattab ra:
“berapa kebutuhan keluargamu wahai Khalifah Rasulillah ..?”
Kemudian Abu bakar, menjawab :
“Sehari pengeluaranku sebesar harga 1/4 ekor kambing”
Sejak itu, baitul maal menetapkan gaji untuk beliau
Agar bisa konsentrasi sepenuhnya untuk ummat dan
Tidak lagi disibukkan untuk keperluan dapur rumah tangganya.
Gaji itu bukan untuk dialokasikan untuk “keperluan tambahan”,
Sang khalifah , namun ternyata untuk menjaga kestabilan
“keperluan dasar”.
Khalifahnya adalah orang yang ‘Iffahnya sangat tinggi
Pantang “meminta uang” atas kompensasi status jabatannya dan
Dan disana juga ada tipe pendamping dari kalangan
Pengambil kebijakan yang “sensitif” membaca semua
Ruang kehidupan yang tak terlihat dalam pergaulan
Sampai kemasalah “dapur” rumah tangga sang khalifah.
Alangkah indahnya jika kita bergaul dan mengelola
Kehidupan berjama’ah ini dengan “manusia-manusia” yang
Memiliki ketinggian ‘Iffah dan kedalaman rasa simpati.
Dua kutub yang akan bertemu, jika dirajut dengan kebenaran iman
Balikpapan, gang Depag
Gelisah, teringat sebait nasyid,”…ambilah dia sebatas yang engkau perlukan”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar